18. Smile On Heaven
Rasa nyeri selepas melahirkan masih terasa, tapi tak sepedih hatinya sekarang. Zita tidak percaya bisa melewati persalinannya dengan normal. Sedih sekali Fikri tidak ada di sampingnya. Bahkan untuk selamanya.
Ingin rasanya Zita memprotes pada Tuhan, di saat dia mulai mencintai Fikri tapi mengapa Tuhan mengambilnya dari sisi dirinya dan Arka.
Setelah menyusui Arka yang baru berumur tiga hari, Zita memberanikan diri untuk membuka buku rahasia hati Fikri selama ini.
Fikri yang diabaikan dan hadir menerangi dan menghangatkan saat gelap dingin menyelimutinya.
Saat Fauzi yang memilih melarikan diri dengan kondisinya yang tengah terpuruk dengan dalih untuk tidak memperkeruh rumah tangganya. Ada keyakinan Fauzi tengah menyusun acara lain dengan wanita lain. Tapi sudahlah, semua itu sudah tidak ada artinya lagi.
Dengan berdebar Zita membaca buku harian Fikri yang ditulis di masa hidupnya. Tidak terlalu jelas waktu dan kapan Fikri menulisnya, mungkin dia sengaja untuk tidak terlalu mengingat detik demi detik dan masa yang sewaktu-waktu merongrongnya untuk meninggalkan semua yang dicintai. Dia menuliskan bagai novelet.
Novelet by: Fikri Saputra
Hanya Tentang Zita Maharani
Gadis itu bernama Zita Maharani
Aku menyukai gadis kecil ini, gadis kecil putih yang bisa berubah merah jambu kalau matahari menyengat kulitnya. Aku ingin dia bersahabat denganku, tapi sepertinya gadis ini sangat jutek dan tidak mau bersahabat denganku, padahal kita bertetangga.
Sementara Tante Ratih sangat bersahabat dengan mamaku. Kenapa sih… dia begitu jutek padaku? Memang salah ya walau usia kita masih kecil tapi aku sudah merasakan suka. Kalau dia tidak suka padaku, ya jangan galak-galak dong.
Ternyata putri Tante Ratih itu bernama Zita Maharani, aku sudah menyukainya sedari pertama bertemu. Ini kali ya yang namanya first love-nya monkey… eh maksudnya masih SD tapi udah naksir, kan kalo kecil dibilangnya “cinta monyet”.
Aneh juga baru tahu namanya saat sekelas bareng, habis dia kerjaannya belajar mulu. Padahal aku ingin mengajak main di rumah tapi aku takut kalau dia akan memarahi aku. Jangankan di rumah, di sekolah saja dia tidak mau mengenal aku.
Karena kegalakan dia maka aku ingin mengganggunya, biar dia terkenang aku seumur hidupnya.
‘Salah’ memang caraku agar dia mengingat akan diriku dengan cara melempar ular-ularan dari papa ke dia, ah dia ternyata gadis yang sangat penakut. Aku nggak menyangka, sangat berbeda dengan fisiknya yang tomboi, cantik.
Lain hari aku mencuri buku-buku HC Andersen yang dia bawa-bawa ke sekolah. Lagian pakai acara dipemer-pamerin sih bukunya. Giliran aku yang pinjam nggak dibolehin, malah segera dimasuk-masukin ke dalam tas. Sementara Rudi, Tonny boleh meminjam. Memang apa bedanya aku dengan mereka?
Selanjutnya kenakalan terus aku lancarkan agar dia semakin kesal dan kesal padaku dan semakin mengingat diriku walau aku diingat dalam hal kebencian, aku tidak peduli. Sungguh sulit membuatmu percaya kalau aku juga bisa baik. Malah kamu terus saja menjauhi aku dan semakin menganggap aku musuh bebuyutan.
Kali ini aku melancarkan kenakalan yang yakin akan membuat kamu kesal luar biasa. Aku akan taruh bekas permen karet di bangku kamu. Biar kamu merasa malu dengan baju yang kotor, apalagi kamu kan anaknya yang serba bersih maunya.
Dan aku dengar kamu menangis karena bajumu yang lengket, bu guru Sri langsung berteriak agar kami mengaku.
Dan ternyata Arman mengatakan kalau akulah pelakunya, Arman melihat saat aku beraksi menaruh bekas permen karet yang sudah pahit rasanya saat semua sedang beristirahat.
Jadilah pelajaran matematika bu guru Sri menjadi gaduh karena aku, Zita tidak jadi maju ke depan gara-gara banyak permen karet yang lengket di bajunya.
Aku mendapat hukuman untuk piket membersihkan kelas dan yang membuat aku sedih tatapan kebencian di matamu semakin membara.
Yah aku maklum kamu sangat kesal setelah sekian kali aku jahilin. Habis kamu cantik sih, jadi aku ingin menggodamu selalu. Dan sombong juga…
___
Di lain waktu aku curi topi upacaranya, ah kasian dia jadi kena hukuman membersihkan kelas. Aku nggak tega jadi aku temani saja meski Zita marah-marah.
Tapi kejahilan aku tidak bisa aku lancarkan lagi, bahkan yang ada aku menyesal karena tidak mempunyai kesempatan meninggalkan kesan yang baik padanya.
Aku harus pindah rumah walaupun masih di Yogyakarta dan mama berkata lewat telepon saat sudah menempati rumah baru dengan Tante Ratih.
“Nggak apa-apa Jeng, kita masih tetap ketemuan buat arisan dan pokoknya persahabatan kita nggak akan pernah berakhir, lha wong cuma pindah di sini aja. Ibaratnya sekali naik bus sampai toh Jeng.” Yah biasalah mamaku dan ibumu asyik ngobrol, namanya juga emak-emak.
Selanjutnya aku mengerti cerita kamu dari mamaku yang selalu mendapat informasi secara tidak langsung dari cerita-cerita Tante Ratih. Kamu selalu dibandingkan dengan aku yang ternyata tidak sepintar dirimu.
Sejak pindah rumah aku juga mencari Sekolah Dasar yang terdekat dengan rumah, yah maklum aku juga anak tunggal dan suka saik-sakitan jadi mama lebih mudah mengawasi aku.
Selanjutnya aku mendengar cerita kamu hanya dari mama bila habis ketemuan dengan Tante Ratih. Aduh aku kangen dengan kamu Zit! Nggak ada lagi yang aku gangguin setelah dirimu.
Setiap cerita yang aku dapat selalu aku tuangkan, sepertinya buku diary ini bukan buku harian. Aku lebih menyukai sebuah novelet teruntuk dirimu. Dan khusus dirimu. Karena aku hanya akan menulis kalau ini tentang kamu, sisanya aku tidak berminat menuliskan layaknya buku harian yang normal.
Mamaku saja jatuh cinta denganmu, kamu kebanggaan Tante Ratih, berprestasi dan melejit sampai menjadi murid teladan dan memasuki SMP favorit. Aku tetap menjadi Fikri yang biasa-biasa saja.
Bila mama mulai bercerita tentangmu, aku sangat antusias dan mama paham kalau anak bujangnya suka denganmu sedari kecil.
Tapi mama tidak menyangka kalau aku sampai menuliskan kamu dalam buku ini sepertinya, aku juga tidak mungkinlah bercerita kalau aku punya buku cerita tentangmu, aku bisa dikatain kaya cewek yang identik dengan diary.
Hhmmm meskipun aku tidak pernah berhubungan dengan Zita, jadi berita tetap up to date tentangnya, gadis yang kelak jadi pendampingku (hmmm ngarep.com). Harapan sekaligus doa. Entah kenapa aku begitu terobsesi denganmu Zita Maharani. Mungkin aku gila kalau mendahului takdir Tuhan kalau kamu adalah jodohku pada saatnya.
Untung mama gak curiga kalau aku diam-diam naksir banget, coba kalau mama tau, yang ada aku disuruh maju sendiri untuk mendekatimu. Mana mungkin aku bisa dan berani.
___
Bahkan saat kamu mengalami apa yang namanya datang bulan, hahahaha mamaku sampai tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Tante Ratih tentangmu yang ketakutan saat menstruasi pertama. Kamu sampai tidak berani masuk sekolah karena takut tidak ada yang bisa menolong kalau darah akan banyak keluar.
Kamu memutuskan tidak masuk sampai tiga hari dan di rumah cerita Tante Ratih kerjaan kamu hanya bolak-balik ke kamar mandi sampai akhirnya bosan dan hari keempat kamu sudah beraktivitas biasa.
Lain hari kamu sibuk dengan Tante Ratih berbelanja baju dalam karena kamu sudah mulai dewasa. Aduh ternyata jadi wanita itu rumit ya, hmmm belum lagi nanti hamil dan melahirkan.
Aduh kebayang rempongnya kaya apa, pantesan kita harus menyayangi dan menghormati ibu tiga kali lebih dari bapak.
Zita kamu terus meroket dengan prestasi sekolahmu dan aku bahagia karena sampai kamu melangkah tujuh belas tahun, aku tidak mendengar cerita tentang ada cowok yang mendekatimu.
Hingga…
___
Entah kenapa aku sangat sedih, mama bercerita kalau kamu mulai dekat dengan cowok yang satu sekolah. Kalau tidak salah Tante Ratih menyebut namanya dengan Fauzi. Aku ingin menangis dan berharap ini hanyalah mimpi saat aku bangun maka aku hanya akan mendengar cerita kamu tentang prestasi kamu saja.
Tapi tampaknya cerita cinta pertama kamu harus aku dengar dan sesuai janjiku akan aku tulis di buku ini.
Fauzi adalah seorang ketua OSIS dan kalian akrab karena Fauzi mengagumi kamu sebagai Pimpinan Redaksi Majalah Dinding Sekolah SMU Nusantara.
Sesekali aku mencuri-curi melihat dari handphone mama yang habis ketemuan dengan Tante Ratih dan ada kamu di sana. Zita sudah aku duga kalau kamu memang akan menjadi gadis yang cantik, sama dengan masa gadis kecil yang aku kenal.
Kamu tumbuh dengan sempurna, aku sangat iri dengan Fauzi. Iri sekali betapa beruntungnya dia bisa menjadi pacarmu.
Ah aku hanya pecundang… aku hanya secret admirer… dan kamu tidak pernah tahu sama sekali kalau ada hati yang sepenuhnya hanya untukmu. Hanya untukmu sampai maut menjemputku. Bukan aku mendahului takdir Tuhan sekali lagi, tapi keyakinan bahwa kamu adalah untukku.
Kadang aku berpikir dengan teoriku yang irasional, bagaimana aku bisa berpikir kalau kamu hanya untukku. Apakah aku penganut de-ja-vu kalau kamu pernah hidup bersamaku dalam putaran waktu dan partikel yang bermilyar tahun lamanya, entah kapan itu sampai-sampai aku merasa kalau hatiku begitu terpaut denganmu.
Entah Zita, aku hanya mengikuti kata hatiku… dan nyatanya memang aku tidak bisa jatuh hati pada kaum hawa manapun.
Tahukah kamu, mama sampai bingung karena aku hanya sibuk dengan game dan sekolah, tidak ada cewek sesama ABG yang mengusikku. Hanya gadis kecil yang melotot karena baju roknya penuh dengan permen karet yang cokelat.
___
Masih saja seputar hubungan Zita dan Fauzi, bahkan sampai akhirnya aku hanya bisa bertanya-tanya sendiri, apakah yang harus aku tulis lagi? Sudah tamatkah cerita Zita? Berakhir karena Fauzi begitu setia dengan komitmen kalian.
Aku iri! Sisi hatiku sangat iri tapi aku doakan kalau memang Fauzi yang terbaik! Segeralah kalian menikah, toh sudah sama-sama mapan. Kamu sudah menjadi dosen dan demikian juga Fauzi.
Sepertinya aku harus menamatkan cerita novelet ini dengan cepat karena dirimu akhirnya menikah dengan Fauzi dan aku tidak yakin akan memeperoleh cerita tentang kamu lagi dari Tante Ratih yang ber-share dengan mama karena mulai sibuk juga dengan kehadiran cucu. Jadi rasanya sudah tidak ada waktu lagi ngumpul dengan mamaku dan arisan-arisan.
___
Hingga…
Aku berseru riang di atas kepedihan kamu, pastilah kamu sedang sangat terpuruk karena Fauzi memutuskan hubungan kasih dirimu. Padahal terakhir sepertinya pembicaraan ke arah perkawinan antar keluargamu dan Fauzi sudah cukup matang.
Ironis sekali kamu juga yang memergoki Fauzi berselingkuh dengan mahasiswinya, Zita saat itu aku ingin segera terbang ke sampingmu, mendampingimu dan menyeka air matamu untuk tidak menangisi lelaki yang sangat bodoh!
Bagaimana bisa kamu yang sangat sempurna dicampakkan begitu saja oleh Fauzi, sementara aku saja tidak berani menyentuhmu.
Tadi aku juga ikutan bersedih, ketika mama bercerita kesedihan Tante Ratih karena kamu tampaknya sangat terpukul dengan keputusan Fauzi.
Maafkan aku yang hanya bisa ikut prihatin, tapi aku selalu mendoakan kamu yang terbaik.
Selalu Zita… walau kamu tidak pernah tahu.
___
Masih kudengar cerita hari-harimu yang sangat murung, setiap kamu dari pulang mengajar, tersisa air mata.
Aku merasa bersalah juga kalau ternyata novelete ini masih berlanjut, aku ingin segera menuliskan dirimu tidak hanya larut karena broken hearts.
Hatiku juga kosong saat dirimu hampa, aku selalu merasakan apa yang kamu rasakan dan kini aku tahu kau masih sangat terluka setelah hampir delapan tahun kebersamaan kalian hanya berakhir bagai butiran debu tersapu angin.
___
Hai Zita, akhirnya kamu memang harus bersinar lagi my Princess, dari kabar yang barusan aku dengar sebentar lagi kamu akan terbang ke Australia.
Beasiswa kamu diterima dan ohhh… aku semakin salut dengan Zita “My Princess” bodohnya aku! Mana dia tahu ya kalau di negerinya ada seorang pangeran yang mencintainya. Tentu saja pangeran itu aku!
Jujur aku senang mendengarkan mama bercerita dengan berbinar tentang keberhasilan putri sahabatnya, tahukah kamu dianggap seperti anak mamahku juga.
Hebat kamu bisa bangkit dari keterpurukan Princess! Akhirnya beasiswa kamu tembus, walau sedih pastinya juga akan lama tidak akan mendengar cerita kamu sepertinya.
Walau kamu jauh di Australia sementara aku tetap di Yogyakarta pasti tidak akan pernah membuat aku berpaling pada wanita lain. Karena aku yakin hanya kamu jodoh kiriman Tuhan, terdengar absurd tapi indra keenamku berkata aku hanya akan merasa bahagia denganmu.
Harapanku kamu bisa cepat melupakan lelaki yang telah melukai dirimu. Fauzi itu lelaki yang sangat bodoh, menyia-nyiakan dirimu dan memilih wanita lain yang belum tentu sebaik kamu yang telah sabar mendampingi selama delapan tahun.
Semoga ini memang jalan yang terbaik buatmu Princess, berharap suatu saat kita akan bertemu dan menyatu. I wish… always…
___
Mendengar kamu mulai sibuk dengan berbagai mata kuliah dan tugas yang seabrek semoga ini menjadi proses untuk bisa melupakan Fauzi, tapi jujur ada was-was juga kalau kamu kecantol dengan bule? Trus aku mau di kemanain dong Zita? Hahahaha. I love you very much…
Baru tiga bulan kamu terbang ke Australia rasanya udah bertahun-tahun, bersyukur kerjaan kantor papa juga lagi banyak date line, aku bisa melupakan sesaat angan tentangmu dan konsentrasi dengan berbagai masalah yang ada.
Zita gara-gara dirimu aku sampai sekarang tidak bisa dekat dengan wanita. Kamu selalu menjadi parameter wanita-wanita yang aku suka. Dan tidak ada satupun yang sesempurna dirimu.
Jadi semua hanya sekedar teman biasa, untuk bersahabat saja tidak bisa! Karena pasti mereka akan merasa cemburu saat aku bandingkan dengan dirimu. Seperti Laras… kupikir dia bisa menjadi teman yang bisa menjadi teman curhatan dan kembali aku selalu curhat tentang kamu, nyatanya dia malah marah dan menganggap aku pecundang.
Baru kutahu dari Ajeng, sekretarisku di kantor kalau Laras ada hati untukku dan hatiku tertutup hanya untukmu Zita.
Semua berakhir, Laras memutuskan persahabatan dan aku tidak merasa kehilangan karena memang aku tidak bisa dekat dengan wanita.
Nah Zita, sekilas tadi aku ceritakan tentang Laras, wanita yang baru aku tahu kalau dia suka padaku.
You never replace with another… miss to meet you…
___
Akibat aku tidak pernah dekat dengan wanita dari kecil hingga usiaku sekarang dua puluh enam tahun, membuat mama curiga.
Duh malam-malam baru saja aku pulang kantor karena banyak kerjaan, “Fikri anak kesayangan Mama, mana pacar kamu?”
Ya ampun aku dua puluh enam tahun tapi mama memperlakukan aku seperti anak kecil. Mama, mama… oiya mama adalah wanita yang pertama aku sayangi dan setelah itu wanita yang kucintai tetap Zita Maharani.
Berulang mama selalu menanyakan siapa pacar aku? Adakah wanita yang dekat dengan aku? Selalu aku ingin menjawab kalau sampai detik ini hanya Zita, putri Tante Ratih yang telah mencuri hatiku dan menyembunyikannya entah di mana.
Mama ternyata curiga kalau aku tidak tertarik akan wanita! Gila, masa anaknya yang ganteng dikatain sukanya ama cowo! Mama… mama… gimana aku akan berani dekat dengan wanita, kalau setiap ‘teman’ wanita aku cerita sedikit saja tentang mereka mama langsung curiga, terus banyak sekali nasihatnya.
“Fikri pokoknya kuliah selesai dulu…” aduuh baru nganterin Mimi ke toko buku saja pulangnya sudah diceramahi panjang lebar.
”Kalau pergi jangan lama-lama Fik, mama kan sendirian di rumah!” saat menganter Ajeng, sekertaris yang butuh temen mencari kado buat tunangannya.
“Aduuuh gimana juga aku bisa punya pacar?” Kalau mama juga bertaring tajam bila tahu aku jalan dengan wanita.
Tapi di sisi lain mama juga selalu mempertanyakan aku dekat dengan siapa?
Zita selalu tersimpan misterius di hatiku, setiap aku mau dekat dengan yang namanya makhluk ‘hawa’ yang ada di benakku ternyata Zita.
Kadang aku berpikir, jangan-jangan ini “dejavu” di mana milyaran tahun lalu dia memang belahan jiwaku (ih kembali berkhayal.com).
___
Terakhir aku hanya menyaksikan kamu dari kejauhan, aku tidak berani menampakkan diri saat mama, Tante Ratih dan Om Ramadan melepas kamu terbang ke negeri kanguru.
Meskipun dari jauh aku cukup merasa puas dan aku menanti kembalinya kamu di sini. “I knew I loved you before I met you, I think I dreamed you into life, I knew I loved you before I met you, I have been waiting all my life.” Alunan Savage Garden di mobil pas banget melepas dirimu terbang bersama burung besi.
___
Hampa… Tante Ratih masih kerap telepon dan ketemuan dengan mama, tapi cerita tentangmu hanya kesibukan kamu yang berjibun.
Penyesuaian dengan makanan, musim dan bahkan kamu sempat sakit. Untung teman satu asramamu, Angel sangat baik dan care. Bersyukur Zita di negeri orang menemukan sahabat yang respek terhadapmu.
Aku hanya bisa mendoakan dirimu dari jauh Zita, semoga misi kamu melupakan Fauzi bisa terlaksana, karena aku pun berharap hal yang sama.
Hampa…
Mama jarang cerita Zita lagi, kalau lancar dia akan selesai 2,5 – 3 tahun di Austi, mudah-mudahan Princess cepat selesai, Miss U…
___
Menurut hasil laboratorium yang aku ambil siang tadi sepulang kantor. Hasil dari lab Limfoma Agresif (intermediate/derajat keganasan tinggi) cepat tumbuh dan menyebar dalam tubuh dan bila dibiarkan tanpa pengobatan dapat mematikan dalam 6 bulan. Angka harapan hidup rata-rata berkisar 5 tahun dengan sekitar 30-40% sembuh.
Terjawab sudah setelah akhir-akhir ini pembengkakan pangkal paha yang aku alami adalah pembesaran kelenjar getah bening. Pembesaran kelenjar inilah yang menyebabkan berat badan turun, demam dan keringat malam.
Dokter boleh mendiagnosa, tetapi Allah yang berkendak. Sudah aku pasrahkan semua hidupku pada-Mu ya Rabb…
Pintaku, Tuhan beri aku kesempatan bisa bersama Zita walau hanya sekejap, aku ingin meninggalkan kesan terbaik yang bertahun-tahun pasti yang ter-memory hanyalah sikapku yang nakal.
Izinkan sebelum berlalu aku tinggalkan kesan terbaik agar aku bisa tersenyum di surga.
___
Aku sedih melihat mama,
Sudah berulang kali aku bersikeras baik-baik saja, walau jujur aku capek dengan kemoterapi, terapi anti bodi monoclonal, dan radiasi yang berulang-ulang.
Maaf mama aku menolak untuk penyembuhan dengan cangkok sumsum tulang belakang. Biarlah umur tersisa ini aku jalanin dengan takdir yang akan Allah berikan. Doaku hanya satu Ma, aku bisa bersama dengan Zita sebentar saja, Tuhan! Sekali ini izinkan permintaanku.
Aku percaya hanya Engkaulah yang menjadi pengatur hidup kami. Atas izin-Mu ya Allah.
___
Surprised! Zita pulang, hmmm aneh!! Badanku jadi sehat, padahal aku hanya dengar kalau the Princess akan balik ke Indonesia, setelah hampir dua tahun aku tidak mendengar ceritanya, pasti dia semakin cantik? Aku sudah yakin itu…
Kabar kepulanganmu benar-benar membuat tubuhku kembali sehat, aku bersemangat untuk menjalani kehidupan ini.
Aku tidak mempunyai rencana apa-apa, mungkin aku akan uji nyaliku bertemu, meminta maaf dengan mengakui satu per satu dosa masa kecil kita. Setelah itu mungkin kamu bisa menjadikan aku salah satu kenalan, sahabat atau… ah nggak mungkinlah pacar.
Tapi setidaknya aku sudah membersihkan reputasiku yang jelek menjadi baik sebelum kematian menghampiriku.
___
Mama dan Tante Farida menjodohkan aku dengan Zita.
Sungguh! Ini bukan kemauanku semata. Bagaimana bisa kedua orang tua kita berpikiran menyatukan kita.
Dan aku yakin kamu pasti akan menolak mentah-mentah rencana mereka, aku tidak yakin Zita mau menerima aku, tapi ternyata salah… Zita menyetujui, tapi aku sadar diri ini karena dia ‘terpaksa’, agar Tante Ratih sembuh.
Aku sudah bilang Mama untuk ‘merahasiakan’ sakitku dan aku menerima rencana perjodohan ini.
Walau akhirnya kamu menerima dan aku bagai mimpi saja ataukah kebaikan Tuhan mendengar permohonanku yang terakhir? Sungguh aku tidak meminta sampai menikah, hanya saja aku ingin memperbaiki reputasiku saja.
Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kami.
Aku dan Zita.
___
Bagai mimpi akhirnya aku menjadi pendamping hidupnya…
Saya terima nikahnya Zita Maharani binti Ramadan Suseno dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai!” dengan lantang aku, Fikri Saputra mengucap ijab kabul.
Leganya semua mengesahkan.
Love you ever after my Princess.
___
Ya Allah bukan aku menggerutu! Sungguh Zita benar-benar membenciku sangat! Dia menatapku bagai musuh bebuyutan. Tidak sedikitpun ada cinta di matanya untukku.
Ya Allah berikan hamba kekuatan saat semua yang aku harap teraih, aku dihadapkan pada sebuah perang.
Bukan pernikahan penuh amarah tentu saja yang aku cari, selalu salah yang aku lakukan demi membuktikan betapa besar cintaku padanya. Betapa aku ingin memeluknya sekedar membalut luka yang tampaknya masih menganga di hatinya.
Cinta memang tidak bisa dipaksa, aku masih bisa membaca cinta di matanya untuk Fauzi.
Aku tidak berdaya apa-apa, karena aku sadar benar seperti perasaanku yang tidak bisa berpindah ke lain wanita, cinta Zita selamanya dan aku akan memperjuangkan biduk perkawinan ini.
___
Aku tahu Zita mulai bersama lagi dengan mantannya. First love never dies! Walau Fauzi telah mengkhianati cinta mereka sepertinya tidak menghalangi mereka untuk mulai merajut kembali apa yang seharusnya mereka lakukan bila tidak ada pihak ketiga yang hadir.
Istriku tampaknya sangat bahagia sehabis bertemu dengan Fauzi, jujur aku tidak bisa terima, apalagi berulang-ulang mereka bertemu dan aku tidak kuasa menegurnya.
Kalaupun aku menegur, yang ada pasti kemarahan Zita meledak-ledak. Maafkan aku Allah, aku belum bisa menjadi pemimpin tumah tangga yang baik. Seharusnya aku melindungi Zita dari perangkap Fauzi kedua kalinya.
Saat ini aku hanya bisa berusaha berlaku sebagai suami yang bertanggung jawab lahir dan batin. Hanya itu. Aku serahkan apa yang aku dapat hanya untuknya.
Walau aku sadar dia selalu menolak! Aku tidak peduli.
Ya Allah Tuhanku, beri kekuatan aku bersabar. Hanya mukjizat-Mu yang akan menyadarkan Zita. Mudah-mudahan…
___
Pedih…
Masih saja istriku bertemu dengan Fauzi, mau sampai kapankah sandiwara perkawinanku?
Dan bisakah aku bertahan?
Aku harus bertahan karena pernikahan adalah suci dan sudah kuserahkan sepenuhnya diriku untuk pernikahan sandiwaramu Zita. Tapi tidak! Buatku, aku menginginkan kenyataan bukan sandiwara atau bohong putih demi menyelamatkan Tante Ratih eh Ibu Ratih yang sekarang menjadi mertuaku.
Aku sayang semua, biarlah kuhabiskan week end hanya dengan ibu dan bapak sementara kamu asyik dengan Fauzi.
Mungkin sebentar lagi kau pun sanggup dengan kekuatan cinta barumu meminta aku menceraikanmu.
Aku pasrah…
Tuhan
___
Hari ini adalah hari baru bagiku, walau sore kemarin aku hampir tidak bisa menahan emosi setelah mengikuti ke mana Zita pergi.
Aku nekat untuk mengikuti ke mana kalian pergi.
Kembali Zita masih memberikan harapan untuk Fauzi kembali bersama, baru pernah aku rasakan kepedihan ketika aku harus melihat betapa mesranya Zita kepadanya. Kemesraan yang seharusnya untuk aku suami sahnya. Tapi aku hanya menerima caci maki dan kemarahan.
Aku benar-benar merasa tidak ada arti, saat berulang aku berusaha memancing dengan menelepon dirimu agar pulang dan menjauh dari Fauzi. Ternyata hp sengaja kamu matikan. Aku hanya pecundang dalam hidupmu.
Tapi Tuhan terima kasih, akhirnya aku mempunyai keberanian untuk ‘menyentuh’ segenap cinta dan aku semakin mencintainya untuk selamanya.
Love my Princess Zita Maharani... walau sesudahnya kamu tetap meminta kita bercerai.
Tidak akan aku kabulkan! Apalagi setelah malam pertama yang tertunda amarah.
Begitu indah... “I knew I loved you before I met you, I think I dreamed you into life, I knew I loved you before I met you, I have been waiting all my life.”
___
Terima Kasih Tuhan, Zita dan anakku masih diberi kesempatan untuk hidup. Aku sangat bahagia menjadi calon ayah.
Tuhan berikan kesembuhan buat istriku dan calon anakku…
Bukan aku mensyukuri kebutaan Zita tetapi aku yakin ini jalan dari-Mu… aku semakin bisa dekat dengannya, rasanya bahagia dia menjadi tergantung denganku.
Aku bahagia bisa mendandaninya, memeluknya dan menemaninya. Aku berjanji akan menjadi matanya sesaat. Semua yang aku lihat aku deskripsikan sejelas mungkin agar dia tidak merasa buta.
Aku bahagia Zita mulai menyayangi anak dalam kandungannya. Bahkan semakin hari Zita semakin sayang pada kami.
Fauzi sepertinya sudah ditutup menjadi masa lalunya.
Terima kasih Allah…
Walau siang tadi menurut Dokter Bambang yang merawatku selama ini, sakitku sudah stadium IV yang berarti penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru, atau otak.
Meski stadium X aku sudah tidak peduli. Yang aku prioritaskan dengan waktuku adalah kebahagiaan mereka, walau mungkin aku tiada aku bisa melihat mereka bahagia dan aku bisa tersenyum di surga.
___
Aku akan jadi ayah, amazing sekali melihat anakku di foto empat dimensi. Menurut Dokter Toni anak kami laki-laki.
Bersama kita mencari-cari nama yang cocok buat putra kami, akhirnya dua kata yang manis, Zita setuju dengan nama yang aku usulkan: Arkana Putra.
Zita semakin gendut tapi ya ampun dia sangat cantik dengan perutnya yang membuncit. Aku tidak bosan setiap malam bertanya apa yang dia rasakan dan bercanda dengan Arka.
Sudah aku siapkan semua asuransi, tabungan atas nama Zita Maharani. Aku sadar tidak akan lama lagi bisa mendampingi mereka. Semua harus aku jamin dan aman sampai Arka bisa lulus, setidaknya menjadi sarjana.
Aku yakin Zita pasti akan mendidik Arka menjadi anak yang pintar seperti bundanya, yang selalu menjadi kebanggaan orang tuanya.
Aku berjanji sebelum aku meninggalkan semua, aku akan membuat Zita bisa melihat Arka hingga tumbuh dewasa.
Hmmm mungkin juga aku harus tersenyum di surga bila Zita tetap memantapkan kembali ke Fauzi.
Siapapun setelah aku tiada yang akan menjadi ayah Arka, harapanku dia adalah laki-laki yang sayang pada kalian berda.
Zita Sayang, jangan salah pilih...
___
Aku sudah tanda tangani pendonoran kornea mataku untuk istriku tercinta.
Dan bahagianya meski jasad sempurnaku tidak bisa mendampingi Zita dan Arka, tetapi mata ini akan selalu ikut menjaga setiap pertumbuhanmu Nak…
Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku walau sesaat, dari surga aku menanti kalian.
Maybe it’s intuition, but something you just don’t question, like in your eyes, I see my future in an instant and there it goes, I thin I found my best friend, I know that it might sound, more than little crazy, but I believe.
I knew I loved you before I met you, I think I dreamed you into life, I knew I loved you before I met you, I have been waiting all my life.
There’s just no rhyme or reason, only the sense of completion and in your eyes, I see the missing pieces I’m searching for, I think I’ve found my way home, I know that it might sound more than little crazy, but I believe.
I knew I loved you before I met you, I think I dreamed you into life, I knew I loved you before I met you, I have been waiting all my life.
A thousand angel dance around you. I am complete now that’s I found you…
-Savage Garden-
Air mata Zita meleleh, tiba-tiba Arka menangis dan terbangun.
Zita menyusui dengan sayang. Dipandangi wajah Arka yang beberapa bagian mengingatkannya akan Fikri.
“Maafkan Bunda ya Nak, Bunda telah menyakiti Ayahmu, sungguh Bunda baru paham. Betapa besar cinta Ayah Fikri pada Bunda.”
Zita menarik napas, terlalu pendek waktu yang tersedia baginya untuk bisa memahami Fikri. Andai… andai… buku ini bisa Zita baca di waktu lalu atau Fikri jujur bahwa dia tengah sekarat, mungkin dia akan mencoba mencintainya lebih awal.
Tapi mungkin inilah jalan Allah, tidak ada amarah dan dendam sedikitpun yang tersisa, hanya kenangan manis walau sekejap.
“Jangan berkecil hati, mata ini adalah mata Ayahmu Nak. Walau beliau tidak lagi bersama kita, tapi tetap dia selalu dekat, sedekat Bunda yang akan selalu menjagamu,” janji Zita.
Zita tersadar ternyata sebulan sebelum melahirkan, Fikri dengan alasan keluar kota untuk mengurus bisnisnya ternyata tengah sekarat dan Zita melakukan operasi mata karena ada orang yang bersedia mendonorkan kornea matanya, semua telah diatur sebegitu rupa hingga Zita menyadari semuanya setelah kelahiran Arka dan Fikri tidak bisa menemaninya lagi.
Fikri menepati janjinya, kalau dia akan bisa melihat kembali setelah Zita melahirkan. Fikri mendonorkan kedua matanya untuk dirinya.
Pengorbanan terbesar sesaat ajal menjemputnya. Benar-benar perhitungan yang rapi dan matang. Fikri telah memprediksikan semua. Beruntung dr. Bambang yang tahu persis kondisi Fikri telah menangani dia bertahun-tahun sangat kooperatif.
Dr. Bambang sangat terharu saat menjelang ajalnya dia memikirkan bagaimana dia bisa menjadi pendonor mata buat istrinya.
Bahkan beberapa organ apapun yang bisa didonorkan Fikri mempersilakan untuk diambil dari tubuhnya.
Karena itukah Fikri yakin akan tersenyum di surga?
Melihat sikap selama hidupnya setelah kebandelan masa kecilnya terhadap Zita, Fikri tidak lagi berbuat jahat pada siapapun.
Fikri sengaja menyembunyikan kematian sampai dirinya melahirkan, dari cerita Ibu Ratih, Fikri meminta mereka jangan bercerita apa pun, takut Zita tidak kuat menjelang kelahirannya bila mengetahui dirinya tiada.
***
“Aku akan membesarkan titipan terindahmu Fikri, walau mungkin ini akan lebih berat lagi, kenyataan ketika mulai mencintaimu ternyata Tuhan lebih mencintai dirimu. Fikri maafkan atas segala kesombonganku yang lalu. Membaca tulisan dalam novelet tentang aku. Sungguh aku merasa tersanjung, ternyata aku memperoleh cinta sepenuhnya darimu yang tidak pernah terbagi dengan siapa pun, sekalipun aku tidak ada di sampingmu,” Zita berkerudung hitam tengah berdoa khusyuk di perkuburan Fikri Saputra.
“Fikri, semoga kau tersenyum di sana, jujur aku saat ini sangat merindukanmu. Terlambat, tapi sungguh aku mensyukuri kita pernah bersama. Kita hanya manusia biasa dan tempatnya bersalah. Aku berjanji akan merawat dan menjaga Arka sebaik-baiknya.”
Angin senja berdesir hangat, Zita meletakkan buket bunga dan berbisik lembut,” Aku mencintaimu… walau dalam beda dunia…”
A thousand angel dance around you. I am complete now that’s I found you... too…
Other Stories
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...