9. Angkringan Bu Rus
“Hai, hai… kamu kenapa kok mata sembap gitu?” Aksan mengamati lekat wajah Tresa yang merona merah karena tangisan yang baru saja mengguyur.
“Kamu sepertinya baru ada masalah, tadi baik-baik saja?” Aksan memastikan sambil menstarter motornya.
“Nanti aku ceritain San, aku baru saja dikabari orang tuaku akan bercerai San,” suara Tresa lemah.
“Bercerai?”
“Iya, aku tahu ini pasti terjadi.”
“Tres kamu pegangan pinggangku ya, aku akan ngebut.”
Tanpa menunggu jawaban Tresa, Aksan mengegas motornya lebih kencang. Mau tidak mau Tresa segera memeluk pinggang Aksan dan menjatuhkan tubuhnya lekat ke punggung Aksan yang bidang.
Bau wangi maskulin merebak dari tubuh Aksan, rambutnya yang basah dan panjang menerpa wajahnya menghadirkan sensasi yang akhir-akhir ini terasa mendebarkan setelah mengenal cowok macho dan bersuara berat.
Aksan mengakui rasanya nyaman sekali ketika Tresa memeluk tubuhnya, hal yang tidak ditemukan pada Quin. Mana mungkin Quin mau berangin-angin atau berpanas-panas ria dengan motor.
Hal mustahil yang akan dilakukan bersama Quin bermotor dan makan di pinggiran jalan. Quin selalu memilih bermobil, meskipun dia harus rela yang memegang setir karena Aksan kadang malas harus bermacet-macet ria dengan mobilnya.
Aksan lebih asyik bermotor karena bisa menyalip dengan leluasa. Dan makan di nasi kucing? Sampai kiamat mana mungkin Quin yang terbiasa glamour dengan dunia modelnya tidak akan mau dengan sejuta alasan, yang kotorlah, baulah, tidak elite yang ujungnya sih gengsi menurut pendapat Aksan.
Asyik sekali bersama cewek yang cuek apa adanya dan tidak terlalu ribet dengan berbagai aksesori. Walau wajah Tresa tidak dipoles dengan bedak tebal dan lipstick merah merona seperti yang biasa Quin pakai, tapi Aksan suka menatapnya lama-lama.
Aksan tersenyum geli semalam dia menatap wajahnya yang lugu di pelukannya dalam potret jepretan Bara. Aksan akui foto jepretan Bara sangat keren, bukan karena dia modelnya juga, tapi lebih natural.
***
Setengah tujuh angkringan Bu Rus masih tampak lengang, “Ayo kita duduk di ujung sana aja, biar kamu bisa bercerita apa pun padaku,” Aksan menuntun Tresa yang dingin tangannya.
“Kamu kedinginan ya tadi? Atau kamu kelaparan?” Aksan mencoba menghibur Tresa yang masih sembap.
“Dua-duanya San,” jawab Tresa pendek.
Tresa menggosok tangannya setelah memilih tempat duduk, melepaskan dari pegangan Aksan yang erat.
Tapi Aksan memaksa memegangnya erat. Sampai duduk Aksan tetap menggenggamnya. Tresa membiarkan aliran hangat menjalari perlahan tubuhnya.
Teh hangat manis yang dibuat bukan dengan kompor gas atau minyak, melainkan arang yang dibakar pada tungku tanah liat. Rasanya lebih nikmat. Juga tempe tahu bakar, sate telur puyuh dan ati ampal yang dibakar tersaji hangat.
“Yuk makan! Kamu bisa kok mengeluarkan kesedihanmu Tresa kalau mau. Aku akan mendengarkan.”
Tresa menatap ada kesungguhan di mata Aksan. Mata elang yang selalu membuatnya berdebar dan menghangat.
“Aku sebenarnya belum siap jadi anak korban broken home San, sungguh ini membuat aku bingung. Aku menyayangi mereka berdua bagaimanapun. Sekarang aku seperti di persimpangan harus memilih ikut dan memilih siapa?” mata Tresa mulai tergenang air kembali.
“Hmm, aku ikut sedih Tres.”
Diam dalam pikiran masing-masing.
“Tresa, kamu harus sabar, aku tahu ini berat buat kamu.”
Ingin rasanya Aksan memeluknya tapi tidak mungkin dilakukan di warung angkringan Bu Rus yang mulai ramai dengan mahasiswa yang tengah mencari makan malam murah meriah dan enak.
Nasi angkringan sega kucing merupakan makanan khas Yogyakarta yang selalu ramai dikunjungi mahasiswa-mahasiswi. Selain murah meriah, mereka bisa nongkrong lama-lama, ngobrol ngalor ngidul.
“Iya, aku takut saja melangkah, tidak semua orang bisa menerima kondisi aku dengan keluarga berantakan San.”
“Maksud kamu apa Tres? Pacar? Pasangan hidup?” Aksan mencoba meraba ketakutan Tresa.
“Iya, semacam itulah.”
“Tresa jangan terlalu berpikir picik dan terlalu jauhlah, percayalah seseorang yang mencintai kamu sepenuhnya maka dia akan terima keadaan keluarga kamu apa adanya. Dan tidak ada kutukan kok kalau orang tua kita bercerai maka akan menurun pada anaknya.”
“Tres, setidaknya kamu lebih beruntung bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibu, sedangkan aku? Aku tidak pernah merasakan kasih sayang Ibuku karena beliau meninggal dunia sesaat melahirkan aku,” Aksan menerawang masa lalunya.
“Aksan? Maaf ya, aku membuat kamu sedih.”
Tresa merasa tidak enak hati.
“Tidak apa-apa Non, tehnya enak banget ya? Aku mau nambah,” Aksan bangkit dan mengulurkan gelas kosongnya pada Bu Rus.
“San makasih ya,” Tresa tersenyum tulus.
“Terima kasih karena cuma bisa aku traktir di warung angkringan? Nggak salah Tres?”
“Hmmm… buat traktiran di warung angkringan, buat kelegaan kamu mendengarkan curhatan aku dan.. buat apa lagi ya…?” Tresa pura-pura berpikir keras, walau hatinya berteriak, “Buat perhatian yang sangat!”
“Tresa kamu nggak malu nongkrong di tempat seperti ini?” Aksan mengendarai motornya lambat, angin dingin menusuk. Aksan menghentikan motor dan memakaikan jaket jeans-nya pada Tresa.
“Kalau masih merasa dingin, kamu boleh kok peluk aku seperti tadi aku ngebut,” kata Aksan lembut.
Dan malam itu Tresa merasakan ketenangan saat memasrahkan dalam pelukan melingkarkan tangannya di pinggang Aksan, menyandarkan tubuhnya dalam punggungnya saat perjalanan pulang ke asramanya.
“Istirahat ya Tres, besok aku boleh kan ketemu kamu di sekretariat Kopma?”
“Ya San, see you… San, terima kasih banyak ya buat semuanya,” Tresa menatap lembut.
“Hmm iya.”
Aksan menyusupkan kembali kepalanya dengan helm full dan membuka kaca depannya, riak-riak rambut gondrongnya keluar sedikit.
Other Stories
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...