Tiada Cinta Tertinggal

Reads
4.4K
Votes
0
Parts
23
Vote
Report
tiada cinta tertinggal
Tiada Cinta Tertinggal
Penulis Nenny Makmun

8. I\'m So Lonely

“Tres, kita makan malam sekalian yuk, aku anter ke asrama dulu nanti aku jemput deh abis maghrib. Makan di nasi angkringan di Ring Road Utara Condong Catur ada nasi kucing Mbok Rus, enak banget!”
“Wow sega kucing. Wah maknyus tuh, iya aku pernah beli tapi nggak nongkrong, dibungkus sama Niken,” terbayang sate usus, sate telur puyuh, sate kerang, tempe tahu bakar, teri ikan, dan kering tempe. Menurut Tresa makanan ini mengingatkannya saat di rumah, semacam nasi rames.
“Hmm Aksan, aku udah ngiler nih ngebayangin, hehehe.” Tresa turun dari boncengan motor Ninja-nya.
“Iyaa udah mandi dulu Nona, nanti aku jemput ya. Yang wangi…” Aksan mengucak rambut Tresa.
“Ngapain wangi-wangi, nanti juga bau asap,” balas Tresa.
“Sip, aku cabut dulu ya. Udah sana masuk gih!”
Tresa berlari kecil memasuki halaman asramanya, sore yang indah kembali. Lebih indah saat harus bersama Mas Wisnu, itulah yang Tresa rasakan. Ternyata jatuh cinta memang berjuta rasanya.
Tresa mandi sambil bersenandung.
“Harus wangi…” terngiang permintaan Aksan barusan.
Tresa sempatin memakai lulur sekujur tubuhnya dan memakai sabun cair lebih banyak dari biasanya, juga mengeramas rambutnya yang ikal sebahu.
“Hmm pakai baju apa ya?”
Tresa memilih kaos Hello Kitty gombrang dan celana jeans tiga perempat yang akan dipadukan dengan sandal treples model jepit.
Tresa tersenyum geli, padahal cuma mau makan sega kucing di angkiran tapi bingung buat penampilan. Semua gara-gara suka dengan Aksan, jadi ingin memperlihatkan tampilan yang chick aja.
Tiba-tiba nada dering handphone-nya bernyanyi nyaring lagu Jimmy Cliff, “I can see clear now the rain is gone, I can see all obstacles in my way, gona are the dark clouds that had me down, it’s gonna be a bright bright bright bright sun shiny day.”
“My Home” – tertera dalam layar telepon genggam nya.
“Wah pasti penting nih sore-sore ada telepon dari rumah,” batin Tresa.
Setiap ada telepon masuk dari rumah, Tresa membayangkan kengerian kalau ibunya kenapa-kenapa. Sebulan lalu pas malam Minggu ibu telepon karena kesakitan habis dipukuli ayah.
Ingin rasanya Tresa langsung pulang ke Jombang untuk mengobati dan memeluk ibunya. Tapi ibu
melarangnya, dengan meyakinkan dirinya tidak apa-apa, hanya luka biasa seperti waktu lalu.
“Hallo, Ibu… Ibu… Ibu…” Tresa menyapa terlebih dahulu.
Diam.
Tresa menjadi panik, bayangan yang tidak-tidak muncul dari benaknya. Sedang gelisah karena suara di seberang telepon diam saja, Tresa tambah kaget karena tiba-tiba Angela, kucing Anggora peliharaannya menerkam dan minta dipangku.
“Angela hus hus, bentar ya …” Tresa mengusir kucing kesayangannya yang tampaknya lapar.
“Tresa ….”
“Ibu, Ibu baik-baik saja kan? Ibu jawab! jangan buat Tresa takut! Ibu!”
“Tresa, Ibu baik hanya… aduh… seperti biasa ayahmu mengamuk lagi. Sepertinya kita memang sudah tidak ada kecocokan. Ibu mau bercerai dengan Ayah, Tresa …” pasti ibu tengah kesakitan.
Diam sesaat.
Apa yang dikatakan ibunya membuat Tresa bingung. Bercerai dan dirinya akan menjadi anak broken home. Tidak terlintas sedikitpun akhirnya ibu menyerah dengan perkawinan yang terbina hampir 21 tahun.
Memang seharusnya mereka sudah bercerai setelah ayah suka memukuli ibu menurut Tresa. Tresa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ibunya harus kesakitan setiap bertengkar. Pertengkaran diawali semenjak meninggalnya Kak Antasena.
Ayahlah yang paling terpukul saat Kak Antasena meninggal dunia. Ayah sangat mendukung Kak Antasena dengan olahraga balapnya. Secara tidak langsung ayah merasa ambil andil penyebab kematian putra kesayangannya.
Tresa merasa ayah semakin berubah terhadap ibu juga terhadap dirinya. Ayah tidak suka dengan anak cewek. Tresa semakin tidak dianggap posisinya sebagai anak.
Sungguh rasa sepi dan kurang kasih sayang membuatnya sangat tertekan, bahkan kadang membuatnya menangis malam-malam.
“Tresa kamu jangan sedih ya, perceraian ini memang menyakitkan kamu. Tapi Nak inilah yang terbaik, kalau tidak Ibu bisa mati. Ibu sudah tidak kuat dengan siksaan fisik dan batin ayahmu. Kamu jaga diri ya Nak! Jangan pikirkan kami mendalam, kamu bisa sakit,” suara ibu memohon pada Tresa.
Ibu tidak tahu air mata sudah mengalir deras dari mata Tresa, apa yang ditakutkan akhirnya menjadi kenyataan.
Semenjak mereka selalu bertengkar berbagai macam sebab Tresa tahu sepertinya sulit diperbaiki, ditambah ayah suka main tangan pada ibunya.
“Tresa merasa sebatang kara, Bu…” sedu Tresa.
“Tresa, dengar Ibu. Kamu harus kuat dan mandiri! Kamu harus yakin tidak ada bekas Ayah atau Ibu! Walau kami berpisah kamu tetap putri kami, hanya saja memang Ibu mengalah untuk meninggalkan rumah. Tresa kamu harus sabar dan tabah, ada kalanya apa yang menjadi harapan kita tidak terkabul. Tresa ini adalah perjalanan hidup Ibu. Ibu yang gagal mempertahankan perkawinan. Tresa kamu harus yakin semua baik-baik saja dan tidak akan berubah walau kamu menjadi anak broken home.”
“Ibu, Tresa ngerti. Ibu apa pun yang menjadi keputusan, memang ini jalan terbaik. Tresa akan berusaha bersabar...” walau sebenarnya hati Tresa hancur.
Handphone-nya bernyanyi nyaring lagi lagu Jimmy Cliff, “I can see clear now the rain is gone, I can see all obstacles in my way, gona are the dark clouds that had me down, it’s gonna be a bright bright bright bright sun shiny day.”
Muncul nama Aksan Zeus, “Hi Non ayo keluar jadi makan nggak?”
“Hmmm iya aku turun. Bentar ya aku kasih makan Angela.”
“Hai kamu kenapa? Siapa tuh Angela? Aku masuk aja ya izin ke ibu asrama!”
“Iya, Angela itu kucingku. Bentar ya dia lapar.”
“Ampuuun kucing? Kamu pelihara kucing! Tresaaa kamu memang unik. Ok jangan lama-lama ya, kucing ganteng di bawah ini juga sudah kelaparan butuh ditemanin! Ha ha ha,” Aksan mencandai Tresa. Dan berhasil membuat Tresa tersenyum tipis.
“Angela kamu jangan kelayapan ya, aku juga mau makan dulu ama Aksan. Nanti lain waktu aku kenalin deh sama Aksan,” Tresa mengelus sayang bulu putih Angela yang lembut dan mekar.

Other Stories
Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Kk

jjj ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Download Titik & Koma