18. Special Day
Tresa menikmati es kelapa muda di kantin Mawar dan Aksan langsung duduk di sebelahnya memandang lekat dan tersenyum.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Ow ow galaknya, mau dong,” tanpa basa-basi Aksan merebut es kelapa muda yang lagi dinikmati Tresa.
“Ihh dasar!” Tresa pura-pura kesal.
“Jadi ending-nya kamu nggak perlu dong susah-susah menolak Mas Wisnu kan?”
“Ya gitu deh kalau berpikir praktisnya, tapi nggak enak juga aku dan dia jadi perang dingin.”
“Yah sudahlah, kan juga bukan salahmu kan? Memang kamu mau juga punya mertua yang meributkan apa tuh bebek, babat, botak ? Haloooo hari gini?”
“Ha ha ha ngaco kamu bibit, bebet, bobot… Sableeeeng!” Tresa menoyor kepala Aksan yang disambut ketawa ngakak Aksan.
“Menagih janji ni, besok kan special day... ow... ow... ada yang tambah tua nih! Apalagi kalau lagi manyun dua kali lipat lho tambah tuanya,” Aksan meledek Tresa.
“Ihh iye, janji apaan?”
“Sepertinya ada yang berjanji di ulang tahunnya akan menghabiskan waktunya buat sang pacar dan itu aku.”
“Kamu? Pacar siapa? Aku? Salah kali!” balas Tresa sok acuh.
“Iyeee, putus nih! Putus?” Aksan melotot memajukan wajahnya hingga dekat hanya beberapa centi meter dari wajah Tresa.
“Ups, nggak-nggak! Iya aku ingat kok janjiku, jadi apa yang harus kita lakukan di ulang tahunku?” tanya Tresa mengalah.
“Gini… besok aku kan jadi band pengiring grop Dewa 19 di lapangan Mandala Krida. Dan aku tampil sebagai vokalis sekaligus memegang bass. Soalnya pemegang bass Zeus lagi sakit.”
“Terus apa hubungannya dengan aku? Jangan suruh aku main bass atau vokalis ya. Bisa-bisa penonton lari mendekat ha ha ha ha,” tawa Tresa meledak.
“Biasanya kalau orang ulang tahun mendapat bunga kan? Tapi untuk kali ini yang ulang tahun kasih bunga satu tangkai saja mawar merah setengah kuncup buat orang yang paling disayangi. Dan tentu saja aku.”
“Ih norak! Narsis kamu ah! Ogah!” Tresa ngebayangin dia ngasih bunga.
“Sttt ... pppstttt ...” Aksan meletakkan telunjuk jarinya di bibir Tresa untuk isyarat diam.
“Bunga diberikan saat aku menyanyikan lagu andalan band Zeus yang berjudul ‘Kekasih Hati’. Saat itu kamu maju ke depan dan memberikan bunga padaku. Tidak boleh menolak! Karena aku juga akan memberikan sesuatu yang special dan it’s secreet!” Aksan mengedipkan matanya.
“Kamu yakin San?” Tresa tampak ragu.
“Yakin dong, 100 %.”
“Baiklah sepertinya aku tidak ada pilihan. Siapa takut!” Tresa mengerlingkan matanya.
***
Lapangan Mandala Krida penuh sesak dengan penonton pencinta band Dewa 19. Tapi semua berjalan cukup tertib. Bersyukur karena Tresa dianggap orang dekat vokalis band Zeus dapat tempat VIP untuk menonton selama pertunjukan.
Lagu demi lagu dinyanyikan band favorit anak muda dengan antusias. Penampilan mereka sungguh luar biasa. Penonton bagai terhanyut dengan satu per satu hit andalan mereka.
Setengah main saatnya band-band pilihan pendamping mulai beraksi, dan kesempatan pertama adalah band Zeus yang cukup punya nama di Yogyakarta tampil memikat.
Tresa resah dengan bunga mawar di genggamannya. Dari lagu awal sudah banyak gadis-gadis maju memberikan bunga pada Aksan dan selalu ada suit-suit. Saatnya lagu ‘Kekasih Hati’ Tresa dengan anggun melangkah ke panggung dan membawakan sekuntum bunga mawar merah.
Tresa maju dan akan menyerahkan bunga, tapi pas Aksan memainkan bass gitarnya jadi tidak mungkin menerimanya, sementara Tresa merasa jengah karena tidak terbiasa di pusat perhatian jadi kebingnungan.
“Tres, sini bunganya taruh di mulutku aja.”
Tresa sempat bingung tapi dia ikuti juga kemauan Aksan, jadilah pemandangan yang unik, sambil bermain gitar di bibir vokalis idola cewek-cewek ada setangkai mawar digigit.
Kembali ke tempat Tresa senyum-senyum masih menyaksikan bunga mawarnya di mulut Aksan yang asyik bermain gitar, dan tiba-tiba diambilnya bunga mawar dan dia mulai kembali ke mix meneruskan lagunya.
Penampilan band Zeus tidak kalah hebat dieluk-eluk seperti Dewa 19 selesai penampilan.
***
“Sayang bangun, udah sampai ...” Aksan tetap tenang di motornya tidak bergerak karena sadar Tresa tengah tertidur di punggungnya.
“Udah sampai ya, uhhh jam satu pagi. Ok aku masuk dulu ya.”
“Bisa?”
“Bisa, aku dibawain kunci serep ama ibu asrama. Aku izin kok pasti pulang pagi karena nonton musik Dewa19.”
“Hmm dan band Zeus juga, uups tunggu nih buat kamu,” Aksan mengeluarkan sebuah kotak mungil berbentuk hati dari jalinan rotan dan aksesori bunga kering kecil-kecil.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
“Wow!” sebuah kalung berbandul hati perak saat di buka ada foto dirinya dan Aksan.
“Sini aku pakein,” Aksan turun dari motornya dan memakaikan kalung ke leher Tresa.
“Siip, Met Ulang Tahun Tresa sayang… I love you… always…” Aksan mencium kening Tresa dan menstater motornya setelah Tresa masuk ke dalam asramanya.
Other Stories
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...