16. Cinta, Pelarian Dan Jebakan
Boy menyetir mobil jeep-nya membelah bilangan Sudirman menuju café Orange tempat acara press conference Vicky permana host, foto model, bintang iklan dan sinetron yang sedang naik daun.
Ini kedua kalinya Gadis bertemu dengan Vicky yang pernah di wawancara beberapa bulan lalu.
Jam menunjukan pukul 20.30 dan Susana café Orange sesak dengan para kuli tinta dan host entertainment media televisi yang mewawancarai Vicky.
Gadis memilih duduk di tengah agak memojok, rasa lelah mulai menjalar tapi berkumpul dengan teman-teman sesama kuli tinta membawa keasikan tersendiri. Gadis asik mengikuti tanya jawab dua arah, Vicky semakin percaya diri dan matang. Diam-diam Gadis memperhatikan gesture dan tatap mata Vicky yang bersinar setiap menjawab berbagai pertanyaan. Masih muda dan berprestasi.
Vicky Permana juga meraih karirnya dari bawah, sejak SMP sudah banyak ikut berbagai casting dari yang tidak dibayar, dibayar murah dan terus mencari kesempatan sampai sekarang mudah untuk menjadi apa yang diinginkan.
Tidak ada rasa lelah terpancar mengingat aktivitas entertainment nya yang sangat padat. Beberapa pemain sinetron muda juga sempat digosipkan dekat tetapi kemudian putus begitu saja. Gadis kadang heran dengan mereka yang mudah dan cepat bergonta-ganti pasangan di dunia hiburan.
“Dis … Vicky tambah cakap aja ya, kamu jangan terpesona gitu dong! Cakepan mana ama Mas Prasmu hehehehe,” Boy menggoda Gadis yang ketahuan sedang memperhatikan Vicky.
“Aduh apaan sih, please deh Mas Pras jelas berbeda dengan yang lain, dia sangat special dalam hatiku,” Gadis jadi teringat mas Pras kembali, lelaki bermata teduh yang membuat hatinya selalu berdegup.
“Aduuh special pakai telor Neng! Yuuk kita ke meja Vicky. Tadi dia sudah minta aku menemaninya.” Boy menarik tangan Gadis yang tampak ogah-ogah dan ragu.
***
“Hai Boy aduh terima kasih ya datang di acaraku juga Gadis lama kita tidak bertemu. Gadis tambah cantik saja,” Tanpa perasaan canggung Vicky menyanjung wartawati muda yang telah membuat hancur hati sahabatnya berkeping-keping.
Sesuai janji persahabatan Vicky dan Boy, Vicky akan membalas sakit hati yang telah ditorehkan Gadis atas penolakannya terhadap Boy dan membuat perhitungan pada Prakasa Aditya yang secara tidak langsung membuat harga diri Boy jatuh. Bagaimana bisa lelaki cacat itu mengalahkan sahabatnya.
“Dis kata Boy kamu habis promosi, wah selamat ya! Wah Boy gimana sih sahabat juga partner kerja promosi kok kamu gak ada acara sih? Payah kamu Boy!” Vicky mengejek-ejek Boy yang hanya geleng-geleng kepala dan senyum-senyum malu.
“Kapan-kapan aku mau ada acara pesta kecil, hanya teman-teman dekat. Aku undang kalian ya … ini special buat kamu juga Dis, tanpa bantuan publikasi kamu dan Boy di awal-awal aku berkarir, aku tidak akan menjadi terkenal seperti sekarang.”
Pembawaan Vicky yang hangat, sejenak membuat Gadis melupakan kesuntukan hubungan dirinya dengan Pras. Boy sengaja bersikap mesra kembali pada Gadis seperti saat dia dekat dan bersahabat sebelum ada Pras.
Boy tahu ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka bertiga, sepasang mata teduh yang sedang penasaran dengan keakraban mereka. Boy sadar kamera karena semua dia yang atur.
Boy sengaja mengirim SMS No Name pada hp Pras sedari sore.
SMS Boy:
“Kalau kamu mau tahu siapa cowok yang dicintai Gadis sebenarnya, datang ke café Oranye malam ini 20.30”
***
Pras sengaja mencari tempat yang gelap dan memojok, betapa ingin sekali menyapa Gadis dan memeluknya. Rasa rindu pilu tertahan teringat dua hari ini dia begitu lelah berdebat dengan papa dan mamanya yang tetap menentang hubungan dia dengannya.
“Gadis andai kamu tahu, aku tidak pernah memperdulikan masa lalu kamu termasuk affair kamu dengan papaku. Aku yakin kamu telah berubah, setiap orang punya kesalahan masa lalu.”
“Pras kalau kamu mau tetap menikahi gadis murahan itu jangan anggap lagi kami orang tuamu! Pergi kamu dari rumah ini. Jangan bawa apa pun! Kecuali barang-barang hasil keringatmu. Silakan angkat kaki!” Mama Shinta tegas-tegas tega mengusir Pras yang memohon untuk direstui hubungannya dengan Gadis.
Pras tidak tega menjawab beberapa WA Gadis, dirinya sedang mencoba berjuang meminta restu.
Papa juga tidak berdaya karena, dalam hatinya ada rasa malu bila mengingat perilakunya yang tua-tua keladi. Walau Gadis tidak pernah mengungkapkan atau memojokan sepatah katapun saat keributan kemarin.
Saat mama membanting pintu kamar, papa hanya menepuk bahu Pras mencoba sabar dan paham akan situasi yang serba tidak mengenakan. Papa Ranu sadar, apa yang dilihat Pras akan Gadis tidak salah, Gadis dalam kerapuhannya, kelembutannya tetap berusaha tegar. Sosok wanita yang kuat dan mempesona dengan kecantikan dan kecerdasannya terkombinasi sifat licik karena dituntut keadaan yang menjadikan dia tumpuan hidup keluarganya.
***
Pras tidak menduga, Gadis begitu mudah melupakannya. Sekarang dia tengah menikmati kebebasannya bahkan terlihat sangat mesra dengan Boy yang di awal-awal sempat membuat Pras sangat cemburu.
Setiap saat Boy selalu ada disampingnya, menemani kemanapun Gadis pergi. Jujur Pras merasa lega karena sudah seminggu Gadis berganti partner. Tapi sekarang apa yang disaksikan sungguh membuat hati Pras terbakar api cemburu.
Boy sangat tahu siapa sepasang mata yang tengah terbakar hatinya berada pada keremangan, Boy sengaja mendekatkan duduknya dan sesekali merengkuh pundak Gadis kemudian bertiga tertawa meriah.
“Gadis akan menjadi milikku fotografer yang juga bisa setenar Prakasa Aditya yang cacat! Pras sekarang rasakan satu persatu pembalasanku! Gadis mulai masuk ke dalam perangkapku.” Semakin Boy bersikap mesra, Gadis tidak tahu Mas Pras yang terluka.
***
Jam sudah menunjukan pukul 23.30 saat Boy mengantar Gadis dari café Oranye acara press reales Vicky. Boy membangunkan Gadis yang terlelap, tampak Gadis yang kecapaian.
Boy memandang sepuasnya, “Kamu akan jadi milikku, walau sekarang bukan cinta yang ada di hatiku Dis! Tapi hanya rasa sakit hati karena kamu telah membuatku menjadi laki-laki gagal! Kamu jelas-jelas berubah setelah memilih Pras! Kamu egois Dis, kamu bahagia dan sukses tanpa perdulikan aku.”
“Boy, kita sudah sampai ya…” Gadis agak kaget karena wajah Boy amat dekat dengan wajahnya. Tapi Gadis cepat mencairkan suasana yang dengan pura-pura mengucak matanya.
“Dasar tukang molor! Nggak ngeliput! Nggak di dalam mobil! Huuh,” Boy mengacak rambut Gadis.
“Ihh apaan sih, udah aku masuk ya. Besok pagi kita ada meeting lho Boy! Kamu jangan datang terlambat ya biar Pak Santo nggak marah-marah lagi. Aku kasihan kalau kamu di kasih SP terus.”
Gadis sudah keluar mobil dan melambaikan tangan.
“Ok!” Boy menjawab pendek.
“Dasar cewek munafik! Sok perhatian!” Boy menggerutu setelah mobil dijalankan. Ada rasa puas malam ini membuat si fotografer cacat hancur berkeping-keping.
***
Gadis menatap kaca rias kamarnya setelah mandi dan berganti baju tidur, “Ada yang salah, kenapa aku tadi berdebar saat Boy memandangku lekat? Jelas ini bukan usaha aku untuk berlari karena penolakan keluarga Mas Pras, bukan juga cinta karena tidak ada perasaan cinta. Ah apakah memang pelarian dan aku bisa terjebak?”
Gadis membenamkan kepalanya di balik selimut hangat Snoopy yang dibelikan Mas Pras waktu jalan-jalan ke Mal ITC.
“Kalau memakai selimut ini maka kamu akan merasakan aku sangat dekat, biar kamu hangat nggak kedinginan saat AC di kamarmu menyala,” kata Pras.
“Mas Prasss aku rindu kamu,” Gadis kecewa tidak ada WA atau telepon dari Mas Pras.
***
“Praangggggggggg!” sebuah botol minuman keras jatuh berkeping-keping.
Mang Seno kaget, ketika membuka pintu ternyata Pras yang diasuh sejak kecil pulang dalam kondisi mabuk. Ini pertama kalinya Pras mabok dan membuat Mang Seno sangat prihatin. Selama ini mas Pras selalu tenang, tapi gara-gara perjumpaan yang tidak pernah disangka kalau Gadis pernah menjadi wanita selingkuhan papanya dan berujung tidak disetujuinya hubungan mereka membuatnya sangat tertekan.
Apalagi ancaman yang diberikan mamanya sungguh membuat dia bingung dengan pilihan yang sulit. Mang Seno tahu kalau Gadis lah yang telah membuat hatinya jatuh cinta dan membuat hidupnya bersemangat tetapi di sisi lain Pras pasti juga memilih orang tuanya sebagai anak berbakti. Dua pilihan yang sulit.
Sementara hanya itu yang ada dalam pikiran Mang Seno, Mang Seno tidak tahu kalau tuannya terbakar cemburu karena melihat kemesraan yang dilihatnya antara Gadis dan Boy juga Vicky yang terus mencoba memikat Gadis mungkin tanpa Gadis sadari. Apa yang Pras lihat seperti ada cinta segitiga antara mereka.
Pras tidak menyangka kalau Gadis cepat melupakan masalah mereka dan cenderung lari dari masalah. Dengan mudahnya Gadis sudah bisa tertawa riang di depan Boy dan Vicky bintang muda yang bersinar. Gadis tidak tahu bagaimana dia sedang berusaha meyakinkan papa dan mama.
Pras terus meneguk minuman dan beruntung taksi yang yang mengantarnya pulang masih berbaik hati menurunkan setelah melihat alamat di KTP.
“Mas Pras … Mas Pras, kasihan sekali kamu tho Le …” Mang Seno dengan telaten melepas pakaian dan menyeka dengan air hangat lalu memakaikan baju yang bersih.
Setelah sempat muntah di kamar mandi Pras bisa tertidur, sesekali memanggil nama Gadis.
Other Stories
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...