9. Pengakuan Cinta
Perlahan dedaunan luruh satu per satu, membuat pepohonan semakin gundul. Henri duduk melamun di Tapgol Park menyaksikan beberapa turis yang asyik berfoto dengan latar sebuah pagoda bernama Wongaksa. Pikirannya melayang seraya memainkan sebotol minuman ringan. Ada perasaan sakit di hatinya seiring bayangan Ha Neul yang semakin luruh. Ya, sudah seminggu ini Kim Ha Neul menghilang. Entah karena sibuk dengan pekerjaan barunya atau mulai tergoda lagi oleh Song Ji Hwan. Perasaan lelaki itu bercampur aduk tidak karuan membuatnya tak mampu mendeskripsikan dengan pasti apa tepatnya yang ia inginkan darinya. Saat mereka bersama, rasanya semua berjalan seperti biasa. Namun, saat perempuan itu berlalu, ia merasa kehilangan luar biasa.
Kadang Henri bertanya dalam hatinya, bagaimana bisa Ji Hwan datang kembali ke dalam kehidupan Ha Neul? Tidak cukupkah rasa sakit yang dia berikan pada gadis itu? Sedangkan Ha Neul sendiri dengan bodohnya mau menerima ajakan Ji Hwan bekerja di kafe Wonderland. Memangnya dia pikir dirinya wonder woman yang mampu bertahan setelah berkali-kali disakiti? Lelaki itu tertawa sendiri, tanpa sadar menyebut lirik sebuah lagu yang sempat popular di Indonesia.
Aku tinggal di Seoul. Bukan berarti hidupku seindah drama Korea yang bertabur pesona dan kemewahan. Aku hanya seorang Kim Ha Neul, perempuan yang berusaha bertahan hidup meski harus kukorbankan segalanya, termasuk menerima tawaran pekerjaan dari orang yang kubenci.
Lelaki itu menyeringai. Masih banyak jalan menuju Roma. Kenapa harus memilih jalan yang penuh lumpur?
Namun, bagaimanapun Henri sangat merindukannya. Terlalu kejam Ha Neul memperlakukannya seperti ini. Seolah semua tentang Henri Samuel menjadi buram di matanya. Padahal, jelas sekali ia perlihatkan hasratnya lewat isyarat mata. Apa Ha Neul terlalu bodoh untuk memahaminya?
Henri tidak bisa diam begitu saja. Malam ini ia harus menemui Ha Neul. Perempuan itu harus tahu bagaimana perasaannya. Diraihnya ponsel dan bersiap menghubungi perempuan itu—meski tahu ini masih jam kerjanya. Henri berharap Ha Neul menggenggam ponselnya.
“Yeoboseyo[1]?” terdengar suara lembut di ujung sana. Syukurlah perempuan itu yang mengangkatnya.
“Ha Neul Ssi, ini aku!”
“Halo, Henri! Tumben kamu menghubungiku? Biasanya aku yang telepon duluan,” canda Ha Neul.
“Ya, aku sekedar mengujimu. Apa kamu masih peduli padaku?” timpalnya. “Kamu pulang jam berapa? Boleh aku menjemputmu?”
“Baiklah. Aku pulang jam enam. Kamu tahu di mana tempat kerjaku?”
“Sebutkan saja tempatnya, biar nanti kucari tahu,” Henri merelakan diri tersesat demi mengejar perempuan yang seolah tidak peduli padanya.
“Lokasinya di Kafe Wonderland, daerah Hongdae. Kamu bisa naik subway lalu turun di Stasiun Hongik. Nanti di sana ada Universitas Hongik, kamu jalan ke luar stasiun sekitar 15 menit. Tunggu saja di gedung besar itu. Nanti aku ke sana,” dari nada suara Ha Neul, bisa ditebak ia senang Henri menjemputnya. Setidaknya itu yang lelaki itu harapkan.
Bergegas Henri meninggalkan Tapgol Park. Namun, belum sempat kaki melangkah, dari saku kanan ponselnya berdering. Tertulis satu nama, Harry. Sudah beberapa hari ini dia menanyakan jadwal kepulangan Henri ke Indonesia. Sungguh, satu bulan terasa pendek sekali. Jauh dalam hati Henri mengakui, ia malu pekerjaannya terbengkalai karena masalah pribadi. Namun, bagaimanapun juga, ia harus menyampaikan semua ini kepada Harry.
“Hen, bagaimana kabarmu? Kamu sudah berkemas?”
“Harry, sepertinya aku belum bisa pulang untuk saat ini,” lirihnya.
“Hah? Lalu sampai kapan kamu tinggal di sana?”
“Entahlah, dua minggu atau satu bulan lagi. Mungkin…” Henri bisa kapan saja memutuskan pulang karena sesuai visa yang berlaku, batas tinggalnya di Korea Selatan maksimal 90 hari.
“Enak saja! Lalu kapan kamu bisa merampungkan tulisanmu kalau kamu masih bersenang-senang di sana?” suara pekikan Harry yang menggelegar di ujung sana membuatnya menjauhkan ponsel dari telinga kanan. “Kamu tahu sendiri, bukan? Jatahmu hanya satu bulan. Lewat dari waktu itu, kamu yang harus menanggung biayanya sendiri!”
“Please, Harry! Aku benar-benar butuh waktu untuk merampungkan novel ini. Kalau soal biaya tidak jadi masalah. Aku bisa menghidupi diriku sendiri.”
Harry terdiam. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan permintaan anak asuhnya. “Baiklah, kuberi perpanjangan waktu selama dua minggu. Lebih dari itu, Rainbow tidak akan memberimu toleransi lagi!”
“Thanks, Harry!” Henri menghela napas lega.
“Oh ya, jangan lupa bawa oleh-oleh. Kawan-kawan di kantor sudah tidak sabar menunggu oleh-olehmu,” seketika senyum Henri mereda. Ah, siapa pula yang bakal bawa oleh-oleh?
“Oke…” tak perlu dibahas panjang lebar. Segera Henri mengakhiri percakapan itu. Sepertinya dua minggu ini ia harus berkonsentrasi dengan novelnya. Walau kenyataannya ia sulit membagi waktu antara pekerjaan dengan persoalan Ha Neul.
***
Akhirnya Henri tiba di Stasiun Hongik setelah sebelumnya berdesak-desakan di dalam subway line 2. Konon, kawasan Hongdae adalah surganya anak muda Korea Selatan. Segala aktivitas dunia malam berpusat di sini. Setelah berjalan beberapa menit dari Universitas Hongik, langkah kaki Henri terhenti di sebuah gedung perbelanjaan yang sangat besar. Sepertinya kafe tempat Ha Neul bekerja ada di dalam. Akhirnya ia menunggu di depan Seokyo Elementary School—tepat di seberang gedung Coco Girl.
Waktu merayap perlahan hingga akhirnya senja mulai meredup. Hongdae menggeliat lagi sebagai pusat hiburan malam. Nampak kilau lampu mewarnai gedung di sepanjang jalan, seolah menari dengan berbagai gradasi warna, siap menggoda siapa saja yang melihatnya.
Selang beberapa lama, nampak Ha Neul keluar dari Coco Girl. Tak perlu menunggu lama, Henri bergegas melintasi jalan dan bersiap menyambutnya. Namun, kali ini justru pemandangan buruk yang ia dapatkan. Ji Hwan ada di sana! Langkahnya sempat terhenti, menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan. Ah, aku tidak peduli, batinnya. Segera ia melangkahkan kaki mendekatinya, meski tahu pasti akan ada kecanggungan di antara mereka.
“Henri, kamu sudah menunggu lama ya?” rupanya Ha Neul bisa menangkap bayangan lelaki itu dari jarak sepuluh meter. Bukan main senangnya Henri saat melihat raut wajahnya yang ceria seperti itu. Perempuan itu tidak terlihat kelelahan meski baru pulang bekerja.
Henri mengangguk senang. “Ya, berkat petunjukmu,” tanpa sengaja ia bertatapan langsung dengan lelaki yang ada di samping Ha Neul. Seperti yang diperkirakan, keduanya seolah tersekat kata. Bingung dengan apa yang akan mereka bicarakan.
“Anyeong hasimnikka. Je ireumeun Song Ji Hwan imnida[2],” lelaki itu mengangguk sopan.
Henri membalas anggukkannya. “Henri imnida. Mannaseo bangapseumnida[3],” timpalnya seraya menyunggingkan sedikit senyuman.
Henri tahu Ha Neul canggung dengan pertemuan mereka bertiga. Perempuan itu seperti memendam rasa bersalah. Entah ditujukan kepada siapa rasa bersalahnya.
“Sebenarnya Ji Hwan bisa berbahasa Indonesia,” celoteh Ha Neul membuyarkan keheningan di antara mereka bertiga.
“Oh ya?” ujar Henri seraya menatap Ji Hwan dengan mata berbinar-binar, pura-pura terkejut.
“Benar. Aku pernah berada di Indonesia selama dua tahun, bekerja di sebuah perusahaan tekstil,” papar Song Ji Hwan.
“Ya sudah, mari kita pulang!” Henri sepertinya sudah tak mau berbasa-basi lagi. Malam ini ia harus habiskan berdua saja dengan Ha Neul. Tanpa ragu ia meraih pergelangan tangan perempuan itu, jelas membuatnya terkejut. Sementara Ji Hwan hanya terpaku dengan binar cemburu di sudut matanya. Dan Henri seolah tidak peduli.
Setelah berjalan beberapa meter dari gedung Coco Girl, Henri melepas pergelangan tangan Ha Neul. Perempuan itu terlihat jengkel dengan kelakukannya yang pergi tanpa basa-basi yang berarti. “Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Henri seolah tak mengerti.
“Lupakan saja!” perempun itu mengibaskan tangannya setelah memandang Henri dengan tatapan kesal. Ha Neul melangkah mendahuluinya seraya bergumam dalam bahasa Korea.
Henri melangkahkan kakinya lebih cepat, “Kita jalan-jalan dulu yuk! Aku ingin minum di bar daerah Hongdae. Meriah sekali sepertinya,” tanpa segan ia raih jemarinya lagi.
“Lepaskan tanganmu!” perempuan itu melotot. Tidak ada jalan lain selain melepaskannya. Akhirnya, mereka tak pergi ke mana-mana, suasana hati perempuan itu terlanjur memburuk. Padahal Henri telah berusaha untuk bersikap sebaik mungkin.
***
Di dalam subway, keduanya tidak banyak bicara. Berharap Ha Neul bercerita tentang kabar dan pekerjaannya selama seminggu ini. Kenyataannya ia malah bersikap dingin, bahkan menatap Henri saja dia tak mau.
“Di stasiun nanti, kita cari makan yuk! Kamu pasti lapar,” mau tak mau Henri yang harus memulai percakapan.
“Hmm… aku tadi sudah makan,” masih dengan tatapan ke arah lain.
“Dengan Song Ji Hwan?” sengaja Henri beri tekanan saat menyebut nama lelaki itu. Tak perlu lagi ia sembunyikan rasa cemburunya. Dalam sekejap, Ji Hwan mampu mengubah sikap manis Ha Neul padanya.
“Kenapa? Kok kayaknya kamu gak suka?” perempuan itu mendongak dengan tatapan tajam, seolah menantang dengan jawaban yang layak untuk Henri timpali. Sialnya, Henri tidak bisa menemukan jawaban selain kata cemburu. Henri tahu pasti, tak mungkin mengungkapkannya sekarang.
“Ji Hwan baru saja bercerai dengan istrinya. Saat ini dia pasti butuh teman untuk melewati duka. Kamu gak usah cemburu kayak gitu!” tanpa dijawab sepertinya Ha Neul mengerti dengan apa yang ia rasakan.
Henri membelalak. “Hah? Cemburu?” sangkalnya.
Ha Neul tersenyum melihat reaksinya yang mungkin berlebihan. Sial! Aku terperangkap dalam permainannya, gumam Henri. Tak lama, Henri meniru bentuk lengkungan bibir itu. Ah, wajah cantik itu meredakan kerinduannya.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal Ha Neul. Tak banyak interaksi, perempuan itu hanya berjalan tenang dengan tatapan lurus ke depan, seolah tak ada seorang pun di sampingnya. Dia Kim Ha Neul, bukan? Perempuan cerewet yang selalu mengoceh tentang seputar Kota Seoul? Atau yang selalu marah-marah tidak jelas supaya membuatku kesal? Astaga! Dia seperti orang asing! Jengkel rasanya Henri diperlakukan seperti ini. “Kamu tahu? Dedaunan yang berserakan di sepanjang jalan ini mengingatkanku pada drama Winter Sonata,” Henri kembali mengoceh.
Seketika dia menoleh. “Astaga! Kamu benar-benar pecinta drama Korea ternyata,” Ha Neul tertawa kecil.
“Lho, kenapa heran? Bukannya aku pernah bilang waktu pertama kali kita bertemu?”
“Tentu, aku masih mengingatnya. Kupikir hanya gurauanmu sekedar ingin mencuri perhatianku,” Perlahan tawanya mereda. “Bagian cerita yang mana yang kamu suka?”
“Hmm… apa ya?” Henri berpikir sejenak, mengingat-ingat adegan apa yang membuatnya terkesan. “Oh iya, adegan saat Jun Sang bersepeda membonceng Yoo Jin di tengah dedaunan yang berguguran. Hutan itu seolah surga milik mereka berdua,” komentar Henri.
“Ada bagian seru juga saat Yoo Jin dan Jun Sang dihukum dan harus membersihkan taman belakang sekolah dari dedaunan kering yang berserakan. Tetapi yang terjadi mereka malah bermain-main saling melempar dedaunan ke wajah masing-masing. Romantis sekali,” tambah Ha Neul. Kemudian untuk ke sekian kalinya mereka terdiam.
“Kapan-kapan kita main ke Pulau Nami[4] yuk!” ajak Henri diikuti anggukan lembut dari Ha Neul. “Kamu sudah memaafkan Ji Hwan?” ia mengganti topik dengan pertanyaan yang sejak tadi menderanya, walau sebenarnya tak berani menanyakan hal itu.
“Aku sedang mencoba memaafkannya,” lirih Ha Neul.
“Kenapa? Apa karena dia sudah bercerai dan kamu berkesempatan mendapatkannya kembali?” Astaga! Kenapa ia bertanya sampai sejauh itu? Babo![5]
Sontak perempuan itu terkejut. Langkahnya terhenti. Ia lalu menatap lelaki di hadapannya dengan kesal. “Pentingkah aku menjawab pertanyaanmu?” tanyanya gusar.
Henri gelisah melihat Ha Neul yang mulai diselimuti amarah. “Miahn, bukan maksudku ikut campur urusanmu. Tapi…” ia menghentikan kalimatnya.
Ha Neul menyipitkan mata. “Apa? Karena kamu membencinya?”
“Bukan. Karena aku takut kehilanganmu,” lirihnya. Angin berhembus membelai wajah seperti tahu hawa panas yang mendera hatinya. Kali ini Henri tak mampu memandang wajahnya. Grogi, takut, dan gelisah bercampur menjadi satu. “Aku…” ia mencoba mengangkat wajah, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. “Nan neol saranghae[6],” kalimat itu akhirnya terucap dengan indahnya.
Ha Neul terkesiap dengan pernyataannya barusan. Mulai terlihat rona gelisah di wajahnya. Ia belum siap untuk mendapat serangan cinta dari lelaki itu. “Aku… aku…”
Henri menyentuh bibir lembut itu dengan telunjuknya. “Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Aku belum siap mendapatkan penolakan darimu. Mungkin nanti, kamu bisa melihat sendiri dan mulai memahaminya. Biarkan waktu saja yang menjawab,” perlahan ia raih jemari Ha Neul. Perempuan itu tak kuasa menolak meski sebenarnya ia ingin segera melepaskan genggaman tangan Henri.
Dedaunan yang luruh di antara mereka menambah suasana malam yang romantis. Sebuah musim gugur yang sempurna untuk menyatakan cinta, walaupun Henri tak tahu ke manakah akhirnya hati perempuan itu berlabuh.
***
Di teras hostel, Henri terdiam. Iseng ia mengintip mulut pintu lobi. Di sana bisa terlihat langsung hingga ke bagian dalam—tepatnya ruang tengah tempat para tamu biasa bersantai. Beberapa hari lalu, tempat itu selalu menjadi favorit teman-temannya dari Kanada. Namun, semenjak mereka pulang, suasananya menjadi hening sekali. Padahal, Tae Joon juga ada di dalam sedang menjalani shift malamnya. Sepertinya Tae Joon merasakan hal yang sama. Dia belum menemukan tamu hostel lain yang bisa diajak bersenang-senang di ruang tengah. Mereka berdua kehilangan Bryan, Ethan, dan Alice.
Lagi-lagi Henri memainkan gitar, menyanyikan lagu apa saja yang terlintas di benaknya. Tiba-tiba Tae Joon menghampiri. Di tangannya tergenggam dua kaleng bir.
“Membosankan ya?” tanya Tae Joon. Ia ikut duduk di kursi besi ini.
Henri membuka kaleng bir yang Tae Joon sodorkan. “Hmm…” ia menganggukkan wajahnya.
“Apa kabar Kim Ha Neul? Beberapa hari ini aku tak pernah melihatnya.”
Henri menghela napas panjang lalu meneguk sekali lagi birnya. “Dia mendapat pekerjaan di Hongdae. Baru saja aku menjemputnya pulang.”
“Benarkah?” sesaat lelaki itu memperhatikan Henri dengan seksama, seolah mencoba membaca perasaannya. “Sepertinya kamu jatuh cinta padanya,” tebak Tae Joon.
Henri malah tertawa hambar. “Memangnya tampangku seperti orang kasmaran?”
“Sobat, kamu kira aku buta? Sikapmu menunjukkan hal itu. Sejak perempuan itu membatalkan janji pergi ke Seoraksan, air mukamu berubah drastis. Apalagi saat kamu jarang berada di hostel dan berkeliaran tidak karuan. Tahu-tahu kamu pulang dalam keadaan mabuk. Kamu pasti tidak sadar, waktu itu kamu sempat mengigau dan menyebut namanya.”
Henri tersipu. Sepertinya memang tak perlu ia rahasiakan lagi. “Tadi saat mengantarnya pulang, aku telah mengungkapkan perasaanku.”
“Benarkah? Lalu bagaimana tanggapannya?”
Lagi-lagi Henri tersenyum seraya mengusap tengkuk. “Entahlah, aku memintanya untuk tak langsung menjawab.”
“Hmm.. bukankah sebentar lagi kamu kembali ke Indonesia? Memangnya kamu sanggup pacaran jarak jauh?”
Henri telah memikirkan masak-masak soal pertanyaan itu. “Kalau Ha Neul bersedia, aku bisa berkunjung ke Seoul sebulan sekali. Syukur-syukur Ha Neul mau pindah ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana.”
Tae Joon menggelengkan kepala. “Pilihanmu terlalu beresiko, Bung. Kalaupun benar Ha Neul mencintaimu, pasti akan ada banyak masalah menanti kalian.”
“Cinta memang tak selalu mudah. Namun, bagaimanapun semua terasa ringan saat kita meyakininya. Jarak sama sekali tidak akan menciutkanku untuk mencintainya.”
Gemerisik suara pin wheel menemani keheningan malam saat angin berhembus lembut menerpa wajah mereka berdua. Jemarinya kembali memetik gitar.
[1] Halo?
[2] Halo, nama saya Song Ji Hwan
[3] Saya henri. Senang bertemu denganmu
[4] Pulau tempat syuting drama Winter Sonata
[5] Bodoh
[6] Aku mencintaimu
Other Stories
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...