Bad Close Friend

Reads
487
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Nidhom

3. Taruhan

Bu Hamidah masuk untuk mengisi mata pelajaran ketiga, tepat pukul 11 siang. Belum juga duduk, ia langsung menyuruh sang ketua kelas untuk membagikan kertas soal latihan kepada anak-anak. Katanya, nilai dari hasil mengerjakan tugas hari itu sebagai nilai ulangan mingguan.
Semua murid protes dengan ujian dadakan tersebut, namun mereka tidak bisa membantah ketika sang guru berkata, “Yang tidak mau ikut ujian ini dipersilakan keluar. Tapi resikonya kalian akan kehilangan poin!”
Mendengar ancaman itu membuat semua anak langsung terdiam. Tidak bisa membantah. Suka atau pun tidak, setiap kata-kata yang keluar dari mulut Bu Hamidah itu seumpama karma yang benar-benar akan terjadi. Tidak diragukan lagi.
Sang ketua kelas mulai berkeliling untuk membagikan kertas soal ujian. Bu Hamidah berdiri di depan kelas. Sepasang matanya sendu namun begitu tajam menyisiri setiap wajah murid-muridnya. Ia memerintahkan sang ketua kelas untuk kembali ke mejanya selepas tugasnya.
“Kalian punya waktu tujuh puluh menit untuk mengerjakan sepuluh soal itu,” begitu kata Bu Hamidah.
“Jangan pernah berani mencontek di kelas saya. Kalau kalian ketahuan mencontek, resiko ditanggung sendiri! Paham?”
“Iya, Bu,” jawab murid-murid, kompak.
“Waktu pengerjaan dimulai dari… sekarang!”
Setelah mendengar aba-aba, para murid mulai menekuni soal-soal akutansi yang diberikan Bu Hamidah. Wajah mereka terlihat serius membaca, termasuk Denta. Sekalipun ia tidak menyukai guru itu, namun soal ujian agaknya persoalan yang serius dan tidak main-main. Mau tidak mau pada akhirnya dikerjakannya juga.
***
Seusai pelajaran akutansi, Denta memutuskan untuk meninggalkan kelas. Kepalanya terasa berat. Soal-soal dari Bu Hamidah sukses membuat dirinya senewen. Dari sepuluh nomor yang ada, ia hanya bisa mengerjakan lima pertanyaan. Itu juga agak ragu-ragu manakala menulisnya. Apapun hasilnya nanti, dirinya hanya bisa pasrah. Setidaknya sudah mencoba menyelesaikan pekerjaan sesuai kemampuannya tanpa mencontek.
Semula Denta berniat ingin ke kantin, namun urung dilakukan karena tiba-tiba perutnya mules. Jadi aja berbelok ke kamar mandi. Buru-buru ia masuk ke dalam bilik deretan ketiga—cuma ada tiga bilik di sana. Yang dua tertutup rapat, mungkin sudah dihuni orang lain.
Setelah urusan hajatnya selesai, Denta keluar bilik. Berjalan menuju washtafel untuk mencuci tangan. Di depannya ada sebuah cermin cukup besar menempel di dinding. Sekilas ditatapnya cermin itu seraya memperhatikan diri. Di saat fokus dengan pantulan bayangannya sendiri, dua murid cowok masuk dengan gelakan tawa. Ia sedikit terkejut.
“Cantik juga cewek yang tadi pagi lo bonceng,” puji cowok bertubuh berisi. Dia kini tengah berdiri di tempat pembuangan air seni.
Cowok yang satu lagi berdiri di samping Denta. Tubuhnya lebih tinggi 2-3 senti dari dirinya. Rambutnya mohak dan tubuhnya wangi. Dengan santai ia menyahut, “Kalau dia gak cantik, mana mau gue sama dia.”
“Emang siapa nama tuh cewek?” tanya cowok itu. Masih sibuk dengan hajat kecilnya.
Denta melihat nama yang tertera di name badge cowok yang ada di dekatnya lewat pantulan cermin. Tertulis deretan huruf yang terbaca di sana, yaitu Braga Wisnu. Ia tahu jika Braga adalah murid kelas XI. Itu artinya dia adalah senior Denta.
“Namanya Aira,” sebut Braga seraya menoleh ke temannya.
Tangan Denta sekejap berhenti dari gerakan kecil yang sedari tadi dilakukannya di bawah air. Mulutnya terbuka sedikit. Ia mematung.
“Aira?!”
“Yoi, Aira Palupi namanya. Anak kelas X-1,” Braga memperjelas.
Setelah mencuci tangan, Braga tampak membenahi penampilan rambutnya. Ditatapnya diri pada cermin. Dia bergeser sedikit ke samping Denta manakala temannya hendak mencuci tangan.
“Menurut gue, dia itu smart, cantik, dan lugu. Dia memiliki daya tarik yang kuat. Maka dari itu, gue ingin menjadikannya pacar,” Braga tersenyum cerah di depan cermin.
“Lo yakin dia mau?” kata cowok di samping Braga.
“Dia pasti mau.”
Mendengar obrolan itu membuat Denta panas. Dikiranya cowok yang tertarik dengan Aira cukup hanya dirinya, namun ternyata ada pengincar lain. Kata-kata Braga terdengar sangat percaya diri dan penuh semangat. Berbeda dengan Denta yang masih ragu dengan perasaannya sendiri. Ditambah lagi tidak ada keberanian untuk mendekati cewek itu.
“Liat aja nanti. Gue bakal naklukin hati Aira. Segera!” Braga menajamkan matanya di cermin. Denta dan cowok itu menangkapnya nyaris bersamaan.
Denta buru-buru mematikan keran air. Mengibas-kibaskan tangannya ke bawah. Ia melirik ke Braga dengan sorot mata ketidaksukaan. Mulai saat ini, bukan hanya dirinya saja yang ingin memiliki Aira. Melainkan ada orang lain yang menginginkannya. Itu yang membuatnya kesal.
Secepatnya Denta meninggalkan Braga dan temannya. Saking marahnya, ia sampai membanting pintu kamar mandi ketika keluar. Keras. Tidak disadarinya, orang-orang di dalam toilet nampak terlonjak kaget.
Sekeluarnya dari toilet, Denta berjalan cepat. Niatnya ingin mencari tempat bersembunyi untuk menenangkan hati. Langkahnya mengarah ke pekarangan belakang sekolah. Dia akan berada di sana untuk beberapa saat.
***
Nika sedari tadi berkeliling sekolah, mencari di mana keberadaan Denta. Nyaris semua sudut telah didatanginya. Mulai dari kelas X-3, lapangan, kantin, sampai mushola. Akan tetapi tetap saja tidak ditemukannya.
“Lo kabur ke mana sih, Ta?” gumam Nika bingung.
Tidak biasanya Denta menghilang begitu saja. Telepon Nika pun tak digubris. WA gak dibalas. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi sehingga dia menghilang bak ditelan bumi, begitu dugaannya dengan raut wajah nyaris putus asa.
“Jangan-jangan, dia ada di….?” Nika seakan tersadar. Buru-buru ia berjalan menuju pekarangan belakang sekolah. Dia baru teringat jika ada tempat yang biasa didatengi temannya itu, yakni pekarangan belakang. Jadi, ia buru-buru ke sana. Pasti Denta ada.
Benar saja tebakannya. Denta berhasil ditemukan tengah duduk lesu di pekarangan belakang sekolah. Dari kejauhan ia tampak gak bergairah. Sorot matanya lusuh. Kepala dan tubuhnya bersandar di tiang yang catnya sudah mulai kusam. Nika yang melihatnya merasa terheran dengan diri Denta.
“Ta…” tegur Nika setelah jongkok beberapa senti dari cowok itu.
Jelas keterkejutan melukis perairan wajah Denta. Tak lama sikap acuh ditunjukkannya. Dingin.
“Gue cari-cariin dari tadi juga, ternyata lo ada di sini.”
Denta melakukan aksi tutup mulut. Tak sedikit pun kata-kata keluar dari bibirnya. Sikapnya yang acuh membuat Nika semakin bingung. Ada apa dengan diri Denta?
“Lo kenapa sih diem aja gue tanya. Sakit?” Nika menaruh punggung tangannya di kening Denta.
Baru juga beberapa detik tangan Nika menempel di keningnya, Denta menepisnya keras. Sorot matanya kian bertambah runcing. Dengan agak membentak, ia berkata, “Apa-apaan sih, lo? Rese’ banget!”
Sikap Denta membuat Nika kebingungan. Tiba-tiba aja Denta marah-marah gak jelas.
“Ada juga lo yang kenapa? Kok jadi sewot?”
Denta kembali membuang matanya ke tumpukan meja dan kursi bekas yang tak jauh darinya. Ia malas bicara kepada siapapun, termasuk Nika. Diam adalah cara terbaik untuk mengobati rasa kesalnya. Daripada berantem sebagai pelampiasan.
“Lo ada masalah?” Nika menatap Denta, sekalipun diacuhkan.
“Lo bisa kok cerita sama gue kalo lo mau. Mungkin gue bisa bantu. Atau setidaknya, bisa mengurangi beban lo.”
Denta masih melakukan aksi tutup mulut. Butuh kesabaran ekstra untuk bisa meyakinkan cowok itu agar berani berbicara. Memaksa pun rasanya tidak etis. Nika sadar kalau persoalan pribadi itu sangat sulit untuk dibicarakan, sekalipun itu kepada temannya sendiri.
“Oke, gini saja,” kata Nika seraya merogoh sesuatu di saku bajunya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ditunjukkanlah kepada Denta. Dan itu adalah sebuah koin pecahan 500 berwarna perak.
“Gue akan lempar koin ini. Jika nanti yang terbuka adalah melati, berarti lo harus mau cerita sama gue tentang masalah lo itu. Tapi kalo burung garuda yang terbuka, lo boleh diem dan merahasiakannya dari gue sampai kiamat,” Nika membuat perjanjian.
Kali ini Denta melirik Nika. Agaknya permainan itu terkesan serius. Itu ditunjukkan dari cara Nika menatap dirinya.
“Deal?” lanjut Nika.
Denta masih diam. Bola matanya bergerak-gerak. Namun tak lama kepalanya mengangguk.
Setelah melakukan hitungan sampai angka ketiga, koin pun dilempar ke udara. Setelah melakukan maneuver beberapa kali, koin pun terjatuh di lantai. Berputar kembali untuk beberapa saat. Hingga akhirnya yang terbuka adalah gambar… melati.
“Sesuai perjanjian, jika yang terbuka itu melati, maka lo harus cerita!”
Dengan sendu—Denta menatap koin itu, dalam. Semenit kemudian ia mengangkat kembali kepalanya, dan menemukan Nika tengah memperhatikannya. Ia merasa menyesal, kenapa juga tadi harus mengangguk segala. Niat ingin tutup mulut jadi batal. Sialnya lagi dipaksa untuk bercerita. Ah… berat.
Pasti Nika akan menertawakannya lagi seperti kemarin. Dan Denta tidak mau itu terjadi untuk kedua kali. Tapi, bagaimana dengan janjinya tadi? Keterpaksaan pada akhirnya membuat ia menceritakan kembali apa yang didengarnya di kamar mandi. Semuanya tentang Aira dan Braga.
***

Other Stories
People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Download Titik & Koma