Chapter 5 Sosok Di Sudut Mata
Sejak kejadian malam itu, Saretha dan Mario mulai hidup dalam ketakutan. Mereka selalu pulang sebelum maghrib ingin memastikan tidak ada lagi suara-suara aneh.
Mereka juga sepakat untuk tidak lagi duduk di kursi goyang itu. Mereka meletakkannya di sudut paling gelap di ruang tamu, berharap bisa melupakan keberadaannya.
Tapi, teror itu tidak semudah dihindari. Semakin mereka mencoba mengabaikan kursi itu, maka sering pula mereka merasakan kehadirannya.
Saretha mulai melihat bayangan di sudut matanya. Saat ia sedang mencuci piring, ia akan melihat bayangan sosok nenek-nenek tua lewat di lorong sedang mengenakan kebaya lusuh dan rambut tergelung.
Setiap kali ia menoleh, bayangan itu langsung lenyap, seolah hanya ilusi. Ia mencoba menceritakan pada Mario, tapi Mario yang juga mengalami hal serupa hanya bisa menenangkan.
"Mungkin kita terlalu capek, Sayang," kata Mario, sambil memijat bahu Saretha, "Kita butuh istirahat."
Namun, Saretha tahu itu bukan kelelahan. Teror itu semakin nyata. Suatu siang, saat ia sedang membersihkan rak buku di ruang tamu, ia merasa ada yang memperhatikannya.
Saretha menoleh perlahan ke arah kursi goyang. Kursi itu kosong, namun di bantalnya, ada cekungan samar seperti baru saja diduduki seseorang. Saretha menelan ludah. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk dari arah kursi itu, seolah-olah ada yang duduk di sana, tak kasat mata sedang menatapnya.
Malam harinya, Mario sedang menyiapkan makan malam di dapur, sementara Saretha duduk di meja makan, membaca buku.
Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang ekstrem di dekatnya. Ia mendongak, dan jantungnya hampir copot.
Di balik jendela ruang tamu, terpantul bayangan samar. Bayangan itu adalah sosok seorang nenek, dengan rambut putih tergerai dan mata yang menyala merah. Saretha mematung tidak bisa bergerak. Bayangan itu menatapnya lurus dengan senyum yang mengerikan.
"Mario!" teriak Saretha histeris.
Mario langsung berlari ke meja makan, "Ada apa? Kamu kenapa, Yang?"
Saretha menunjuk ke arah jendela, napasnya tersengal-sengal,
"Di situ! Tadi ada bayangan nenek-nenek. Dia senyum ke aku."
Mario menoleh ke jendela.
Tidak ada apa-apa, hanya pantulan wajah mereka berdua yang ketakutan. Ia memeluk Saretha erat-erat. Ketakutan itu nyata.
Mereka tidak bisa berpura-pura bahwa semua ini hanya ilusi. Sesuatu yang jahat telah memasuki rumah mereka.
Mereka tahu, sumbernya adalah kursi goyang itu. Pada awalnya cuma soal kursi, kini berubah menjadi teror yang mengancam ketenangan mereka.
Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Uap Dari Panas Bumi
Liburan seharusnya menjadi pelarian paling menyenangkan bagi Aluna. Setelah berbulan-bulan ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...