Chapter 10 Pengobatan Veya
Veya memulai pengobatan kemoterapi dengan dukungan penuh dari Arka dan keluarganya.
Setiap sesi kemo, Arka selalu ada di sisinya, memegang tangannya, menyanyikan lagu-lagu konyol untuk menghibur Veya. Rania juga sering datang ke rumah sakit dengan membawakan makanan kesukaan Veya, dan bercerita tentang hal-hal lucu di sekolah.
Hendra, sang ayah yang dulunya dingin, kini menjadi sosok yang hangat. Ia sering menelepon Veya selalu menanyakan kabarnya, dan bahkan membacakan cerita sebelum Veya tidur. Ia tahu telah kehilangan banyak waktu dengan Veya, dan tidak mau kehilangannya lagi.
Meskipun Veya merasa lebih baik secara emosional, fisiknya semakin melemah. Rambutnya rontok, sering mual, dan tubuhnya menjadi sangat kurus. Tapi ia tidak menyerah. Ia harus berjuang untuk orang-orang yang ia cintai.
Suatu hari, Veya pingsan di rumah. Ayah dan Rania panik. Mereka segera membawanya ke rumah sakit. Arka, yang mendengar kabar itu, langsung menyusul.
Dokter memeriksa Veya, dan mengatakan bahwa kondisinya semakin memburuk. Tumornya membesar.
"Dokter, apa ada cara lain?" tanya Arka, suaranya bergetar.
"Satu-satunya cara adalah dengan operasi. Tapi operasi ini sangat berisiko," jawab dokter.
Veya mendengar semuanya. Ia menatap Arka, Ayah, dan Rania dengan tatapan yang penuh ketakutan. Ia harus membuat keputusan. Ia tidak ingin mati, tapi tidak ingin membuat orang-orang yang ia cintai menderita. Ia harus membuat keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.
Veya pun memutuskan untuk menjalani operasi. Ia tahu, ini adalah satu-satunya kesempatan yang dimiliki.
Ia tidak akan menyerah, dan berjuang untuk hidup, cinta, dan keluarganya.
Setiap sesi kemo, Arka selalu ada di sisinya, memegang tangannya, menyanyikan lagu-lagu konyol untuk menghibur Veya. Rania juga sering datang ke rumah sakit dengan membawakan makanan kesukaan Veya, dan bercerita tentang hal-hal lucu di sekolah.
Hendra, sang ayah yang dulunya dingin, kini menjadi sosok yang hangat. Ia sering menelepon Veya selalu menanyakan kabarnya, dan bahkan membacakan cerita sebelum Veya tidur. Ia tahu telah kehilangan banyak waktu dengan Veya, dan tidak mau kehilangannya lagi.
Meskipun Veya merasa lebih baik secara emosional, fisiknya semakin melemah. Rambutnya rontok, sering mual, dan tubuhnya menjadi sangat kurus. Tapi ia tidak menyerah. Ia harus berjuang untuk orang-orang yang ia cintai.
Suatu hari, Veya pingsan di rumah. Ayah dan Rania panik. Mereka segera membawanya ke rumah sakit. Arka, yang mendengar kabar itu, langsung menyusul.
Dokter memeriksa Veya, dan mengatakan bahwa kondisinya semakin memburuk. Tumornya membesar.
"Dokter, apa ada cara lain?" tanya Arka, suaranya bergetar.
"Satu-satunya cara adalah dengan operasi. Tapi operasi ini sangat berisiko," jawab dokter.
Veya mendengar semuanya. Ia menatap Arka, Ayah, dan Rania dengan tatapan yang penuh ketakutan. Ia harus membuat keputusan. Ia tidak ingin mati, tapi tidak ingin membuat orang-orang yang ia cintai menderita. Ia harus membuat keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.
Veya pun memutuskan untuk menjalani operasi. Ia tahu, ini adalah satu-satunya kesempatan yang dimiliki.
Ia tidak akan menyerah, dan berjuang untuk hidup, cinta, dan keluarganya.
Other Stories
Liburan Yang Menelanjangi Kami
Tujuh mahasiswa BAKOR-UNAS memilih merayakan kebebasan selepas UAS dengan cara yang tampak ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Plan B
Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...