November Kelabu

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 9 Berjuang Untuk Bertahan

Dengan Arka di sisinya, Veya menemukan kekuatan untuk menghadapi kenyataan. Ia tidak lagi mengabaikan pengobatan. Bersama Arka, ia datang ke rumah sakit untuk memulai sesi kemoterapi pertamanya. Veya duduk di kursi, tangannya digenggam erat oleh Arka. Ia menatap selang infus yang membawa cairan kemoterapi ke dalam tubuhnya, dan merasakan ketakutan.

"Arka, aku takut," bisik Veya, matanya berkaca-kaca.

"Jangan takut, Veya. Ada aku di sini. Kita akan lewati ini semua bareng-bareng," jawab Arka. Ia meraih ponselnya, memutar lagu favorit Veya, dan mulai bernyanyi dengan suara sumbangnya yang khas. Veya tertawa kecil melupakan sejenak rasa sakit yang di rasakan.

Setelah sesi kemoterapi, Veya merasa mual dan lemas. Rambutnya mulai rontok, dan ia merasa kehilangan jati dirinya. Di depan cermin, ia melihat dirinya yang pucat dengan rambut tipis. Ia menangis, dan Arka memeluknya.

"Veya, kamu tetap cantik," bisik Arka, mencium keningnya, "Kamu nggak akan sendirian."

Veya membalas pelukan Arka. Ia merasa bersyukur memiliki Arka di sisinya. Arka selalu ada, menemaninya di setiap langkah, menjadi sandaran di saat ia merasa tak berdaya. Arka tidak pernah meninggalkannya, bahkan saat Veya mencoba menjauh.

Namun, di tengah perjuangan ini, Veya menyadari sesuatu. Ia tidak hanya harus berjuang untuk dirinya sendiri dan Arka, tetapi juga untuk keluarganya. Ia tahu, di balik sikap acuh tak acuh Ayah dan Rania ada alasan yang tersembunyi.

Veya pun memutuskan untuk berbicara dengan Ayah dan Rania. Ia tahu, perjalanannya tidak akan mudah, tapi ia harus mencobanya. Ia ingin mengakhiri semua rasa sakit ini.

Veya menarik napas panjang, menguatkan hati. Dengan tangan Arka yang menggenggamnya, ia melangkah menuju ruang kerja Ayah. Arka hanya menunggu di luar memberikan Veya ruang untuk berbicara dengan keluarganya.

Veya membuka pintu, dan melihat Ayah dan Rania sedang duduk bersama, wajah mereka tegang. "Ayah, Kakak," panggil Veya, suaranya bergetar.

Ayah mendongak, menatap Veya dengan tatapan kosong. "Ada apa, Veya?" tanyanya, suaranya dingin.

"Aku cuma mau minta maaf," kata Veya, air matanya mulai mengalir, "Aku minta maaf kalau aku nggak bisa jadi anak yang Ayah banggakan. Aku minta maaf kalau aku cuma aib buat keluarga ini."

Mendengar itu, Rania langsung menoleh ke arah Ayah, tatapannya penuh rasa bersalah. Ayah terdiam, tak bisa berkata apa-apa.

"Aku cuma mau minta satu hal, Yah," kata Veya, suaranya bergetarp, "Aku cuma mau Ayah mengakuiku. Aku cuma mau Ayah mencintaiku. Aku cuma mau Ayah dan Kakak melihat aku sebagai Veya, bukan sebagai bayangan."

Ayah menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia melihat Veya yang kini menangis di depannya, Veya begitu mirip dengan ibunya. Ia teringat bagaimana ibunya selalu membela Veya, bagaimana ibunya selalu mengatakan bahwa Veya adalah anak yang luar biasa.

Rania bangkit dari tempat duduknya, mendekati Veya. Ia memeluk Veya erat, dan menangis. "Maafin aku, Veya. Maafin aku. Aku salah," bisik Rania, "Aku takut Ayah nggak sayang lagi sama aku, kalau aku sayang sama kamu. Tapi aku juga sayang sama kamu, Veya."

Ayah bangkit, berjalan ke arah Veya dan Rania. Ia memeluk kedua putrinya, dan menangis, "Maafin Ayah, Veya. Maafin Ayah. Ayah nggak pernah menganggapmu sebagai aib. Ayah hanya tidak tahu bagaimana harus mencintai kalian berdua tanpa kehadiran ibumu."

Di tengah tangisan, Veya merasa lega. Ia akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini cari.

Ia memeluk erat Ayah dan Rania, perjalanannya tidak akan mudah, tapi ia punya Arka, Ayah, dan Rania yang kini akan menemaninya. Ia tidak lagi sendirian.

Other Stories
Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Download Titik & Koma