Chapter 4 Strategi Abang-abang Alina
Malam hari di rumah Nyak. Alina sedang duduk di ruang keluarga, tiba-tiba tiga abangnya, Rahmat, Ridwan, dan Rizky datang menghampiri. Mereka duduk melingkar di lantai, seperti mau mengadakan rapat rahasia.
Rahmat berbisik, walau suaranya keras, "Lin, kita denger-denger lo lagi ada masalah perjodohan?"
Alina, "Masalah? Ini bencana, Bang! Nyak mau jodohin gue sama orang-orang aneh! Udah ada yang bawa durian, terus ada yang salah alamat. Nggak waras!"
Ridwan, "Ya ampun, Nyak masih aja kayak gitu. Dulu gue mau nikah sama Marni, dibilang Marni aura-nya kayak kotoran ayam."
Rizky, "Mending kotoran ayam. Gue, Nyak bilang calon bini gue aura-nya kayak balsem. Pedes, katanya."
Alina, "Terus gimana? Kalian mau bantu gue?"
Rahmat, "Tenang, dek. Abang-abangmu ini jago bikin strategi. Kita punya ide brilian."
Alina, "Apa?"
Rahmat, "Rencana pertama. Misi Penyelamatan. Besok, kalau ada calon yang dateng, kita pura-pura kesurupan massal."
Alina terbelalak, "Kesurupan?"
Rahmat, "Iya! Kita teriak-teriak, guling-guling, ngomong bahasa Jawa kuno. Nanti calonnya pasti takut terus kabur."
Ridwan, "Gue bisa niruin suara kuntilanak. Dulu pas SMA, gue yang jadi pocong di film pendek."
Rizky, "Gue bisa niruin suara harimau."
Alina bergidik ngeri dengan rencana tiga abangnya, "Stop! Stop! Nggak! Itu bakal bikin Nyak panggil dukun satu desa! Gue nggak mau."
Tiga abangnya saling pandang, lalu mengangguk-angguk.
Rahmat, "Oke. Rencana kedua. Misi Penculikan. Kita culik calonnya sebelum dia sampai di rumah."
Alina terkejut, "Penculikan?!"
Rahmat, "Iya! Kita bawa ke tempat jauh, terus kita kasih dia uang transport buat balik. Simpel, kan?"
Ridwan, "Tapi nanti calonnya lapor polisi, Bang."
Rahmat, "Kita pakai masker! Terus kita ngomongnya pakai bahasa alien. Polisi mana tahu."
Rizky terbelalak, "Bahasa alien? Nggak salah, Bang? Kita kan cuma bisa bahasa sunda."
Alina menjambak rambutnya, "Gila! Kalian ini gila! Udah, deh. Mending kalian nggak usah bantu. Kalau begini caranya, gue bisa-bisa nikah sama orang gila di jalan."
Rahmat, "Oke. Rencana ketiga. Ini yang paling brilian. Misi Pengalihan Jodoh."
Rahmat membisikkan sesuatu ke dua adiknya, dan mereka mengangguk-angguk setuju. Alina hanya bisa menatap curiga.
Alina menatap curiga, "Apa lagi?"
Rahmat, "Jadi, besok kalau calonmu datang, kita pura-pura jatuh cinta sama dia. Terus kita rebut-rebutan. Nanti Nyak pasti pusing, terus batalin kencan butanya."
Alina tertawa terbahak-bahak, "Kalian mau rebutan sama cowok? Cowok-cowok calon Nyak yang aneh-aneh itu?"
Rahmat mengangguk, "Ya, demi kamu, dek. Abang rela! Besok gue bakal dandan yang paling ganteng. Biar calonmu langsung naksir sama gue."
Ridwan mengangkat telunjuknya, "Gue juga. Gue bakal bawa joran pancing gue. Siapa tahu calonmu suka mancing."
Rizky, "Gue bakal bawa cewek gue. Biar calonnya tau kalau gue udah laku."
Alina akhirnya menyerah. Ia tahu, berdebat dengan ketiga abangnya sama saja seperti berdebat dengan dinding. Tidak ada hasilnya.
Alina menghela napas, "Terserah kalian. Terserah. Asal jangan ada yang masuk penjara aja."
Tiga abangnya tersenyum penuh kemenangan. Mereka yakin, strategi kali ini akan berhasil. Mereka tidak tahu, rencana mereka akan berantakan dengan cara yang paling konyol.
****
Pagi harinya. Rumah Nyak sudah ramai. Nyak sedang sibuk menata meja dengan piring berisi singkong rebus. Calon keempat, Ujang, sudah datang. Ujang ini perawakannya tegap, memakai baju koko, dan memegang tasbih.
Nyak, "Ujang, ayo duduk. Ini Alina, anak Nyak yang paling bungsu."
Alina tersenyum kaku. Ia melirik tiga abangnya yang sudah siaga di balik jendela. Rahmat pakai jaket kulit pinjaman dari tetangga, Ridwan sudah memegang joran pancingnya, dan Rizky membawa pacarnya yang wajahnya sudah cemberut.
Nyak, "Alina, kenalin ini Ujang. Dia ahli hipnoterapi."
Mata Alina terbelalak, "Hipno...terapi?"
Ujang tersenyum, "Iya, Nona. Saya bisa mengendalikan pikiran. Saya bisa tahu apa yang Nona rasakan, cuma dengan melihat mata Nona."
Alina langsung merinding. Tiba-tiba, terdengar suara guntur. Padahal matahari sedang terik.
Nyak merasakan hal aneh, "Ya ampun, ada apa itu?"
Tiga abang Alina masuk ke ruang tamu dengan wajah serius. Mereka mendekati Ujang, mengelilinginya, lalu saling pandang.
Rahmat berbisik kepada Ujang, "Hai, Mas. Sini, duduk sama saya."
Ujang menyatukan kedua alisnya, "Loh? Kenapa?"
Ridwan maju, "Mas, saya ini udah lama nggak mancing. Mas mau mancing nggak? Nanti saya kenalin sama Marni, cewek saya."
Alina membelalakkan matanya. Jelas sekali Ridwan salah sebut nama. Marni itu nama calon mantan pacarnya dulu, bukan nama pacar sekarang.
Rizky mendorong Ridwan, "Heh, lo! Jangan ganggu, dia calon gue!"
Pacar Rizky membentak, "Apaan sih, Yang?! Lo bilang dia calon lo?! Gue mau putus!"
Tiga abang itu mulai berdebat. Rahmat pura-pura memeluk Ujang, Ridwan mencoba menarik tangan Ujang, dan Rizky mendorong-dorong Ujang.
Nyak menepuk jidat, "Hei! Kalian ini kenapa? Mau perang?"
Rahmat berakting, "Nyak, Rahmat jatuh cinta! Rahmat mau nikah sama Ujang!"
Ridwan, "Nyak, Ridwan juga! Ujang punya aura ikan, Nyak. Ridwan suka!"
Rizky, "Enggak, Nyak! Ujang punya aura mobil balap!"
Ujang hanya bisa terdiam, wajahnya pucat. Alina menahan tawa sampai perutnya sakit. Nyak hanya bisa menatap nanar. Ujang langsung menghela napas, tasbihnya jatuh, dan ia memandang Nyak.
Ujang, "Bu, maaf. Saya nggak bisa melanjutkan perjodohan ini."
Nyak, "Kenapa, Nak? Mereka ini emang begitu."
Ujang, "Bukan, Bu. Saya tadi coba hipnoterapi ke anak-anak Ibu. Ada yang kesurupan ikan, ada yang kesurupan pacar, ada yang kesurupan mobil balap. Saya angkat tangan, Bu. Aura jodoh di rumah ini terlalu aneh. Saya pamit."
Ujang langsung lari keluar rumah. Tiga abang Alina tertawa terbahak-bahak. Mereka berhasil.
Nyak menatap Alina dengan tajam, "Kamu lihat, kan? Semua salah kamu! Calonmu pada takut! Ada yang takut durian, ada yang salah alamat, ada yang takut kesurupan! Pokoknya Nyak nggak mau tahu! Nyak bakal cari jodoh kamu sampai ketemu!"
Alina hanya bisa pasrah. Tiga abangnya yang merasa menang langsung merayakan keberhasilan mereka dengan memakan singkong rebus. Sementara Alina, ia melihat ke luar jendela. Terlihat motor Reihan, si kurir yang kembali datang. Kali ini ia tidak membawa paket, tapi membawa sebungkus roti.
Reihan berteriak dari depan rumah, "Bu, paket!"
Alina melihatnya. Kali ini, ia tidak menahan tawa. Ia tertawa karena merasa ada secercah harapan. Mungkin, jodohnya memang bukan yang dicari Nyak. Tapi yang sudah di depan mata setiap hari.
Rahmat berbisik, walau suaranya keras, "Lin, kita denger-denger lo lagi ada masalah perjodohan?"
Alina, "Masalah? Ini bencana, Bang! Nyak mau jodohin gue sama orang-orang aneh! Udah ada yang bawa durian, terus ada yang salah alamat. Nggak waras!"
Ridwan, "Ya ampun, Nyak masih aja kayak gitu. Dulu gue mau nikah sama Marni, dibilang Marni aura-nya kayak kotoran ayam."
Rizky, "Mending kotoran ayam. Gue, Nyak bilang calon bini gue aura-nya kayak balsem. Pedes, katanya."
Alina, "Terus gimana? Kalian mau bantu gue?"
Rahmat, "Tenang, dek. Abang-abangmu ini jago bikin strategi. Kita punya ide brilian."
Alina, "Apa?"
Rahmat, "Rencana pertama. Misi Penyelamatan. Besok, kalau ada calon yang dateng, kita pura-pura kesurupan massal."
Alina terbelalak, "Kesurupan?"
Rahmat, "Iya! Kita teriak-teriak, guling-guling, ngomong bahasa Jawa kuno. Nanti calonnya pasti takut terus kabur."
Ridwan, "Gue bisa niruin suara kuntilanak. Dulu pas SMA, gue yang jadi pocong di film pendek."
Rizky, "Gue bisa niruin suara harimau."
Alina bergidik ngeri dengan rencana tiga abangnya, "Stop! Stop! Nggak! Itu bakal bikin Nyak panggil dukun satu desa! Gue nggak mau."
Tiga abangnya saling pandang, lalu mengangguk-angguk.
Rahmat, "Oke. Rencana kedua. Misi Penculikan. Kita culik calonnya sebelum dia sampai di rumah."
Alina terkejut, "Penculikan?!"
Rahmat, "Iya! Kita bawa ke tempat jauh, terus kita kasih dia uang transport buat balik. Simpel, kan?"
Ridwan, "Tapi nanti calonnya lapor polisi, Bang."
Rahmat, "Kita pakai masker! Terus kita ngomongnya pakai bahasa alien. Polisi mana tahu."
Rizky terbelalak, "Bahasa alien? Nggak salah, Bang? Kita kan cuma bisa bahasa sunda."
Alina menjambak rambutnya, "Gila! Kalian ini gila! Udah, deh. Mending kalian nggak usah bantu. Kalau begini caranya, gue bisa-bisa nikah sama orang gila di jalan."
Rahmat, "Oke. Rencana ketiga. Ini yang paling brilian. Misi Pengalihan Jodoh."
Rahmat membisikkan sesuatu ke dua adiknya, dan mereka mengangguk-angguk setuju. Alina hanya bisa menatap curiga.
Alina menatap curiga, "Apa lagi?"
Rahmat, "Jadi, besok kalau calonmu datang, kita pura-pura jatuh cinta sama dia. Terus kita rebut-rebutan. Nanti Nyak pasti pusing, terus batalin kencan butanya."
Alina tertawa terbahak-bahak, "Kalian mau rebutan sama cowok? Cowok-cowok calon Nyak yang aneh-aneh itu?"
Rahmat mengangguk, "Ya, demi kamu, dek. Abang rela! Besok gue bakal dandan yang paling ganteng. Biar calonmu langsung naksir sama gue."
Ridwan mengangkat telunjuknya, "Gue juga. Gue bakal bawa joran pancing gue. Siapa tahu calonmu suka mancing."
Rizky, "Gue bakal bawa cewek gue. Biar calonnya tau kalau gue udah laku."
Alina akhirnya menyerah. Ia tahu, berdebat dengan ketiga abangnya sama saja seperti berdebat dengan dinding. Tidak ada hasilnya.
Alina menghela napas, "Terserah kalian. Terserah. Asal jangan ada yang masuk penjara aja."
Tiga abangnya tersenyum penuh kemenangan. Mereka yakin, strategi kali ini akan berhasil. Mereka tidak tahu, rencana mereka akan berantakan dengan cara yang paling konyol.
****
Pagi harinya. Rumah Nyak sudah ramai. Nyak sedang sibuk menata meja dengan piring berisi singkong rebus. Calon keempat, Ujang, sudah datang. Ujang ini perawakannya tegap, memakai baju koko, dan memegang tasbih.
Nyak, "Ujang, ayo duduk. Ini Alina, anak Nyak yang paling bungsu."
Alina tersenyum kaku. Ia melirik tiga abangnya yang sudah siaga di balik jendela. Rahmat pakai jaket kulit pinjaman dari tetangga, Ridwan sudah memegang joran pancingnya, dan Rizky membawa pacarnya yang wajahnya sudah cemberut.
Nyak, "Alina, kenalin ini Ujang. Dia ahli hipnoterapi."
Mata Alina terbelalak, "Hipno...terapi?"
Ujang tersenyum, "Iya, Nona. Saya bisa mengendalikan pikiran. Saya bisa tahu apa yang Nona rasakan, cuma dengan melihat mata Nona."
Alina langsung merinding. Tiba-tiba, terdengar suara guntur. Padahal matahari sedang terik.
Nyak merasakan hal aneh, "Ya ampun, ada apa itu?"
Tiga abang Alina masuk ke ruang tamu dengan wajah serius. Mereka mendekati Ujang, mengelilinginya, lalu saling pandang.
Rahmat berbisik kepada Ujang, "Hai, Mas. Sini, duduk sama saya."
Ujang menyatukan kedua alisnya, "Loh? Kenapa?"
Ridwan maju, "Mas, saya ini udah lama nggak mancing. Mas mau mancing nggak? Nanti saya kenalin sama Marni, cewek saya."
Alina membelalakkan matanya. Jelas sekali Ridwan salah sebut nama. Marni itu nama calon mantan pacarnya dulu, bukan nama pacar sekarang.
Rizky mendorong Ridwan, "Heh, lo! Jangan ganggu, dia calon gue!"
Pacar Rizky membentak, "Apaan sih, Yang?! Lo bilang dia calon lo?! Gue mau putus!"
Tiga abang itu mulai berdebat. Rahmat pura-pura memeluk Ujang, Ridwan mencoba menarik tangan Ujang, dan Rizky mendorong-dorong Ujang.
Nyak menepuk jidat, "Hei! Kalian ini kenapa? Mau perang?"
Rahmat berakting, "Nyak, Rahmat jatuh cinta! Rahmat mau nikah sama Ujang!"
Ridwan, "Nyak, Ridwan juga! Ujang punya aura ikan, Nyak. Ridwan suka!"
Rizky, "Enggak, Nyak! Ujang punya aura mobil balap!"
Ujang hanya bisa terdiam, wajahnya pucat. Alina menahan tawa sampai perutnya sakit. Nyak hanya bisa menatap nanar. Ujang langsung menghela napas, tasbihnya jatuh, dan ia memandang Nyak.
Ujang, "Bu, maaf. Saya nggak bisa melanjutkan perjodohan ini."
Nyak, "Kenapa, Nak? Mereka ini emang begitu."
Ujang, "Bukan, Bu. Saya tadi coba hipnoterapi ke anak-anak Ibu. Ada yang kesurupan ikan, ada yang kesurupan pacar, ada yang kesurupan mobil balap. Saya angkat tangan, Bu. Aura jodoh di rumah ini terlalu aneh. Saya pamit."
Ujang langsung lari keluar rumah. Tiga abang Alina tertawa terbahak-bahak. Mereka berhasil.
Nyak menatap Alina dengan tajam, "Kamu lihat, kan? Semua salah kamu! Calonmu pada takut! Ada yang takut durian, ada yang salah alamat, ada yang takut kesurupan! Pokoknya Nyak nggak mau tahu! Nyak bakal cari jodoh kamu sampai ketemu!"
Alina hanya bisa pasrah. Tiga abangnya yang merasa menang langsung merayakan keberhasilan mereka dengan memakan singkong rebus. Sementara Alina, ia melihat ke luar jendela. Terlihat motor Reihan, si kurir yang kembali datang. Kali ini ia tidak membawa paket, tapi membawa sebungkus roti.
Reihan berteriak dari depan rumah, "Bu, paket!"
Alina melihatnya. Kali ini, ia tidak menahan tawa. Ia tertawa karena merasa ada secercah harapan. Mungkin, jodohnya memang bukan yang dicari Nyak. Tapi yang sudah di depan mata setiap hari.
Other Stories
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...