6. Setahun Berkisah
JUNI 2010…
KIRANA
Roda waktu perlahan berputar, entah berapa kenangan yang tercipta. Dan aku masih ingin membuat ribuan kenangan lainnya bersama Bintang dan Langit, dua lelaki yang setia merajut cerita di setiap langkah yang kutapaki.
Kisahku masih tetap sama. Rasa yang sama, gairah yang sama, dan rindu yang sama. Namun hati ini telah mantap terpaut hanya satu, Bintang. Langit sendiri seolah sudah melupakan perasaan misteriusnya padaku.
Terkadang rasanya ingin memungut kembali serpihan kenangan selama setahun kemarin. Tentang Petrapucino, Jembatan Pasupati, konser tahunan Dream Band dan kisah lainnya. Berharap kenangan terus terulang dan melingkar tanpa akhir. Terutama saat Bintang menyatakan cinta lewat suara merdunya, membuatku ingin mendengar senandungnya setiap hari.
“Sayang maaf aku telat,” akhirnya datang juga Jeep berwarna hitam itu setelah hampir satu jam aku berdiri di halte depan kampus Maranatha. jengkel sih sebenarnya. Setiap hari selalu telat datang kalau janjian.
“Biar kutebak, macet?” sindirku saat Bintang keluar dari kendaraannya.
“Bukan. Tadi mobilku mogok, makanya ke bengkel dulu sebentar,” Huh! Kali ini dia punya alasan lain. Cowok itu menghampiri lalu memelukku erat. “Maafin aku ya, Yang. Kayaknya beberapa hari ini aku bikin kesal kamu terus.”
Emang, batinku. Jelas aku kesal, dengan jadwal kegiatan Bintang yang acak-acakan antara ngampus dan nge-band. Dia hanya memberi waktu sedikit untuk aku, pacarnya. Contohnya sore ini, Bintang seolah mengabaikan kencan kami. “Gimana urusan kamu sama produser rekaman itu? Udah beres?” ujarku saat duduk di samping kemudi.
“Hm… dia sedang mengurus kontraknya,” wajahnya terlihat lesu, seraya memasang sabuk pengaman.
“Hei what wrong, Honey?” aku mengusap pipi Bintang. Hal yang paling tidak kusuka saat melihat tampang kekasihku kusut tak berseri.
Lelaki itu menengok ke arahku. “Nope. Kecapean kali. Beberapa hari ini aku kurang tidur.”
Aku menghela napas panjang. “Jangan diporsir gitu dong, Bin. Tubuh kamu punya hak untuk istirahat.”
Bintang tersenyum, kini giliran jemari kanannya yang membelai pipiku. “Makasih ya, Sayang. Tapi pas ketemu kamu, lemesku jadi hilang kok,” ujarnya. “Oya? Kita mau ke mana nih? Kok aku malah nyetir gak jelas tujuan kayak gini?” dia malah mengalihkan pembicaraan.
Aku tersenyum geli. “Ke mana ya?” yang ada di kepalaku adalah tempat nyaman di mana Bintang bisa istirahat untuk sesaat.
“Hadeuh lama bener mikirnya. Mau nonton?” solusinya.
Aku menggeleng. Bosen tiap ketemu acaranya makan atau nonton melulu. Sesaat kemudian bibirku tersungging. “Nongkrong di atas Jembatan Pasupati?” Benar juga. Sudah lama kami tidak menikmati pemandangan Bandung di atas fly over Pasupati.
“Hah? Ngapain juga sore-sore gini?” bantah Bintang.
“Ya lihat senja dong, Sayang. Ih, kamu gak ada romantis-romantisnya,” candaku. “Mau ya? Pleasee… ntar kita beli cemilan sama soft drink dulu di Jco. Pasti asyik,” bujukku.
Bintang menggerak-gerakkan telunjuk kanannya di bibir seolah sedang mempertimbangkan usulku. “Ok. Demi tuan putri kenapa nggak?” seperti biasa dia tersenyum memamerkan lesung di pipi kanannya.
Seraya mendengarkan siarannya Langit di Dream FM—kini dia punya program acara baru—kami tertawa mendengarkan cerita lucu Bintang saat mengirim sampel demo musik yang ternyata salah kirim. Senang rasanya melihat lelaki itu tertawa.
Saking enak tertawa, tanpa sadar sebuah sedan berwarna merah menyalip dengan kecepatan tinggi. Jelas itu membuat Bintang terkejut hingga ia kesulitan menyeimbangkan kemudinya. Tak ayal lagi Jeep kami akhirnya oleng.
“Aaah!!” spontan aku berteriak! Jeep tersentak saat tepat menabrak sisi jembatan hingga mengguncangkan tubuh kami. Semua terjadi begitu cepat. Aku tak tahu tepatnya apa yang Bintang lakukan sampai mesin Jeep itu akhirnya mati.
Asap mengepul dari dalam mesin. Sementara Bintang diam terpaku. Aku pun terkejut, bahkan kurasakan air mata menetes saking takutnya. Baru setelah kesadaran Bintang kembali ke tempat semula, ia memelukku. Bisa kurasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. “Kamu gak apa-apa?” wajahnya penuh peluh saat ia melepas pelukan dan memastikan aku baik-baik saja. Aku yang tak mampu bereaksi hanya bisa memberi anggukan kecil. “Maafkan aku…” kembali ia mendekapku.
Senja ternyata lebih indah saat dilihat di atas jembatan. Namun aku yakin Bintang tak sepenuhnya bisa menikmati langit jingga itu. Dia masih memikirkan kecelakaan barusan. “Seandainya terjadi sesuatu, aku gak akan pernah memaafkan diriku sendiri,” gumamnya.
Aku menghela napas panjang. “Aku tak menghiraukan apa yang akan terjadi kelak, Bin. Toh aku berada di samping kamu. Kamu adalah tempat teraman buatku.”
“Kalau kenyataannya aku yang pergi duluan?” ia menoleh padaku.
“Bintang! Kamu kenapa sih nakutin aku?” ujarku dengan nada setengah tinggi.
Lelaki itu tersenyum lalu menunduk perlahan. “Yang pasti aku merana tak bisa melihat senyumanmu lagi. Dan tentunya dosaku tak termaafkan karena membuatmu menangis.”
“Bintang! Stop it! Kenyataannya kita baik-baik aja kan? Aku masih bernapas! Lihat, tubuhku gak ada yang luka sama sekali,” ujarku meyakinkan. “Begitu juga kamu. Kamu juga sehat, gak terluka apapun,” aku memeriksa tangan Bintang memastikan tak ada luka di sana. “Lihat tangan kamu! Gak ada lu… seketika bibirku terkatup saat terlihat luka memar berwarna biru di sepanjang lengannya. “Loh? Ini memar kenapa? Barusan?”
Bintang nampak salah tingkah. “Nggak! Ini waktu jatuh di rumah kemarin,” ujarnya seraya melepaskan tangannya dari genggamanku. Jatuh di rumah? Masa iya sampai biru begitu? gumamku dalam hati.
Lelaki itu tersenyum seolah senang membuatku khawatir. “Udah ah, jangan dipikirin lagi. As you said, we are fine. Right?” ujarnya gemas seraya mencubit pipiku pelan.
Begitulah senja yang berperan menyatukan kami. Dalam balutan temaramnya, Bintang akhirnya terlelap di pangkuanku. Sementara aku tersenyum saat aroma maskulin rambutnya tercium hingga ke hidungku.
Kamu tahu, Bin? kamu terlihat seksi saat sedang tertidur.
***
“Hah? Kamu kecelakaan?” sial! Kenapa harus kuceritakan soal kejadian kemarin sore?
“Kecelakaan ringan. Cuma Jeep-nya Bintang aja yang lecet-lecet,” ujarku enteng.
“Bilangin hati-hati sama anak itu. Aku juga pernah nebeng pake Jeep-nya. Cara dia nyetir lumayan bikin sport jantung,” sementara aku cuma terkekeh melihat raut gelisah di wajah Langit. “Eh aku serius, malah cengengesan,” dumelnya.
“Yes, Mister!” ujarku. Lagi-lagi Langit mendengus seraya melangkah menuju balkon. “Emang Si Bintang itu lagi sibuk banget ya? Beberapa hari ini juga aku jarang lihat dia di kampus.”
Dia jarang ke kampus? Aku mendongak lalu menghampiri Langit. “Serius? Masa iya sampai ninggalin kuliah?” tanyaku gak percaya.
“Yaelah… kamu kan pacarnya. Masa gak tau ke mana aja dia kelayapan?”
Aku terdiam. Mencari tahu ke mana saja Bintang selama ini. Masa iya urusan band sampai ninggalin kuliah? Ini tidak masuk akal!
“Bilangin jaga kondisi juga. Terakhir aku lihat itu anak keliatan pucet banget ampe matanya celong gitu,” jangankan Langit, akupun pernah lihat Bintang dalam kondisi seperti itu. “Pernah waktu kita makan ketoprak, hidung Bintang sempat mimisan.”
Kali ini aku terperangah. Aku mulai curiga. Jangan-jangan Bintang emang lagi sakit. “Aku jadi takut, Lang.”
“Makanya. Coba tanyain baik-baik, dia kenapa! Atau kalau nggak, temani dia periksa ke dokter. Takutnya ada apa-apa,” masuk akal juga saran Langit. Mungkin besok aku akan membujuknya untuk periksa ke dokter.
Other Stories
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...