Kala Cinta Di Dermaga

Reads
866
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 3 Warna Hidup Gisel

Sejak pertemuan di dermaga hubungan Gisel dan Satria berkembang pesat. Mereka tidak lagi hanya bertemu di dermaga, tapi juga di sekolah. Satria sering menghampiri Gisel di kelasnya, membawakan es teh, atau sekadar menemani di perpustakaan saat jam istirahat.

Percakapan mereka tidak hanya seputar galau dan patah hati, tapi juga tentang mimpi, hobi, dan hal-hal konyol yang membuat mereka tertawa.

"Lo tahu nggak, gue dulu mikir hidup cuma tentang mantan," kata Gisel suatu sore, saat mereka duduk di bangku taman sekolah,
"Rasanya, kayak cuma dia satu-satunya orang di dunia ini."

Satria tersenyum. "Gue ngerti kok. Tapi sekarang, dunia lo isinya banyak, ya?" tanyanya, sambil melirik Gisel, "Ada gue, misalnya?"

Gisel tertawa. Pipinya merona. "Dunia gue jadi penuh warna," akunya, "Tadinya cuma abu-abu. Sekarang, ada warna denim jaket lo yang pudar, warna rambut lo yang berantakan, dan warna-warni yang lo gambar di sketsa."

Satria terdiam, matanya menatap Gisel lekat-lekat, "Gisel, gue mau jujur. Gue udah nggak lagi pusing soal model yang kabur. Itu cuma alasan gue buat bisa ngobrol sama lo."

Mata Gisel membelalak, "Jadi, lo bohong?"

"Nggak. Model gue emang kabur. Tapi galau gue nggak segalau yang gue ceritain," jelasnya, "Gue cuma pengen banget ngobrol sama lo. Sejak pertama kali lihat lo di dermaga, gue langsung ngerasa kayak ada yang beda."

Gisel tidak bisa berkata-kata. Hatinya menghangat. Selama ini, dia pikir pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Padahal, ada harapan yang tersembunyi.

Sore itu, Satria memberanikan diri. Dia mengeluarkan sebuah buku sketsa dari dalam tasnya.

Di halaman pertama, ada gambar dirinya dan Gisel yang sedang duduk di dermaga. Gambarnya detail, bahkan ombak dan matahari senja pun terlihat nyata. Di bawah gambar itu, ada tulisan.

"Ini buat lo. Biar nggak lupa kalau ada cowok yang suka sama lo. Sejak awal."

Gisel menahan napas, "Suka?"

"Lebih dari sekadar suka," Satria tersenyum, "Gue mau kenal lo lebih jauh, Gisel. Dan gue harap, lo juga mau."

Gisel menutup bukunya, lalu menatap Satria. Matanya berkaca-kaca. Mantannya memang telah menikah. Tapi di dermaga yang sama, dia menemukan sebuah awal baru.

"Satria," bisik Gisel, "Ternyata, bertemu jodoh di dermaga itu bukan cuma khayalan."

Satria menggenggam tangan Gisel, "Bukan. Itu nyata."

Di bawah langit senja, dua hati yang tadinya sama-sama terluka, kini menemukan jalan untuk saling menyembuhkan.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi satu hal yang mereka akan menghadapinya bersama-sama.

Karena cinta, seperti ombak, kadang datang dan pergi. Tapi kalau sudah berlabuh, dia akan tinggal. Dan dermaga itu adalah tempat terbaik untuk memulai sebuah perjalanan.

Other Stories
Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Download Titik & Koma