Si Gadis Penjual Kopi
Kalau dari tadi kamu cuma memperhatikan obrolan bapak bapak di meja kayu tentang harga cabe dan politik mungkin kamu melewatkan sesuatu yang paling penting dari warung ini yaitu Rahayu. Ya betul Rahayu, si gadis penjual kopi yang membuat warung kecil bernama Warung Kopi Haji Darsa selalu ramai bukan hanya karena aromanya tapi juga karena senyumnya.
Saya tahu kamu mungkin berpikir ah paling juga biasa saja hanya gadis desa yang kerja bantu orang tuanya di warung, tapi tunggu dulu jangan buru buru menilai. Rahayu memang sederhana penampilannya, rambutnya dikepang rapi, wajahnya polos tanpa bedak tebal, bajunya hanya kebaya sederhana dipadu kain batik yang warnanya sudah agak pudar, tapi justru di situlah letak pesonanya. Kamu tahu kan, ada orang yang tidak perlu berlebihan untuk membuat orang lain betah menatapnya.
Setiap pagi sebelum matahari naik tinggi Rahayu sudah bangun lebih dulu, menyapu lantai papan yang berdebu, menyiapkan panci besar untuk merebus air, menakar kopi bubuk dalam toples kaca yang sudah tergores di sana sini. Tangannya cekatan seperti sudah hafal sejak lahir di mana sendok, di mana gula, dan di mana tempat gelas. Kalau kamu berdiri di sampingnya kamu akan sadar bahwa setiap gerakan kecilnya punya irama, seakan warung ini adalah panggung dan Rahayu adalah penari yang membuat semua mata betah menonton.
Orang orang yang datang ke warung sering pura pura beli kopi padahal tujuannya sekadar ingin melihat Rahayu. Nelayan yang pulang dengan wajah letih langsung segar lagi kalau diberi senyum olehnya. Pedagang pasar yang seharian kena terik matahari seperti menemukan keteduhan ketika Rahayu menyapa dengan suaranya yang lembut. Bahkan Ustaz Karna yang biasanya tegas tidak jarang tersenyum malu malu kalau Rahayu bercanda. Dan kamu jangan pura pura tidak paham, jelas semua itu bukan karena rasa kopi semata tapi karena ada sesuatu yang lain yang diseduh bersama aroma itu, yaitu kehangatan seorang gadis muda.
Nah sekarang kita masuk ke bagian menariknya. Ingat pemuda dari Bandung di bab sebelumnya. Arman. Sejak pertama kali melihat Rahayu ketika menyerahkan segelas kopi, Arman sudah merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Kamu mungkin ingin bilang ah itu cuma perasaan sesaat karena ia lelah atau cemas, tapi mari jujur saja, tatapan Rahayu memang punya sesuatu yang sulit diabaikan.
Di balik keluguannya, Rahayu sebenarnya cerdas. Ia tidak pernah kuliah, bahkan kadang buku bacaan pun terbatas, tapi ia punya kebiasaan menulis di buku kecil yang disembunyikannya di dapur. Puisi puisi pendek, catatan tentang harapan, tentang kehidupan yang sulit tapi harus tetap dijalani. Pernah suatu kali seorang pelanggan menemukan buku itu, membacanya, lalu kaget karena tidak menyangka gadis sederhana itu bisa menulis begitu dalam. Sayangnya buku itu cepat cepat ia sembunyikan lagi. Rahayu tidak ingin orang lain tahu betapa luas pikirannya, ia lebih suka diam mendengarkan, sambil sesekali menyelipkan komentar lucu yang membuat suasana cair.
Mari saya ceritakan satu kejadian yang membuatmu lebih paham siapa Rahayu.
Hari itu seorang pedagang pasar datang dengan wajah kusut, katanya dagangannya tidak laku, harga beras makin tinggi, ia hampir putus asa. Semua orang mendengarkan sambil ikut mengeluh, tapi Rahayu hanya tersenyum lalu berkata pelan, “Kalau hari ini dagangannya sepi, mungkin besok lebih ramai. Kalau besok juga sepi, siapa tahu lusa Tuhan kasih rezeki lewat jalan lain. Kalau tetap sepi, jangan khawatir, masih ada kopi di sini buat menghibur hati.”
Kamu bisa bayangkan bagaimana reaksi orang orang. Mereka tertawa, bukan karena meremehkan, tapi karena kata kata Rahayu yang sederhana terasa seperti doa yang menenangkan. Dan pedagang pasar itu pulang dengan wajah lebih cerah.
Sekarang kamu paham kenapa warung ini penuh setiap hari. Bukan hanya karena kopi, tapi karena ada Rahayu.
Sementara itu Arman semakin sulit menahan pandangannya. Ia ingin bicara lebih banyak dengan Rahayu, tapi ia tahu situasi tidak mudah. Ayah Rahayu, Haji Darsa, adalah sosok keras yang tidak sembarangan percaya orang baru. Apalagi Arman jelas berbeda, ia datang dari kota, membawa masalah politik, dikejar aparat. Bagaimana mungkin ia bisa dengan mudah mendekati putri satu satunya Haji Darsa.
Namun hati manusia kadang tidak peduli pada logika. Rahayu sendiri merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak Arman hadir. Saat ia menaruh kopi di mejanya, tatapan mereka bertemu sepersekian detik, dan itu cukup untuk membuat wajahnya memerah. Ia buru buru menunduk, pura pura sibuk membersihkan meja, padahal hatinya sedang kacau.
Dan kamu yang duduk di kursi samping mereka pasti bisa merasakan hawa aneh itu. Seperti ada aliran listrik halus di udara. Kamu ingin tersenyum, tapi juga ingin memperingatkan, hati hati, cinta di masa genting bisa jadi sangat berbahaya.
Tapi begitulah hidup, tidak ada yang bisa memilih kapan harus jatuh cinta.
Sore itu ketika pelanggan sudah mulai berkurang, Rahayu duduk sebentar di bangku kayu. Ia menatap jalanan sepi, sambil menulis sesuatu di buku kecilnya. Kamu mungkin penasaran apa isinya. Inilah salah satu barisnya
“Jika kopi terlalu pahit, tambahkan gula. Jika hidup terlalu berat, tambahkan doa. Jika hati terasa sepi, tambahkan senyum.”
Indah bukan. Dan tanpa sadar Arman berdiri tidak jauh dari sana, membaca tulisan itu dengan mata berbinar. Ia ingin sekali mengatakan betapa kagumnya ia, tapi ia menahan diri. Belum saatnya.
Nah sekarang kita berhenti sejenak. Kamu mungkin bertanya, di mana bagian actionnya. Tenang, itu akan datang sebentar lagi. Ingat, negeri ini sedang bergejolak. Di luar sana ada demo, ada bentrok, ada aparat yang curiga pada setiap pergerakan. Jadi jangan heran kalau sebentar lagi suasana damai di warung ini bisa terguncang oleh suara teriakan massa atau langkah sepatu lars.
Tapi untuk saat ini, mari kita biarkan dulu sejenak suasana hangat. Biarkan kamu menikmati tatapan malu malu Rahayu dan Arman, biarkan kamu ikut tertawa dengan pelanggan yang saling goda, biarkan kamu mencium aroma kopi yang keluar dari dapur. Karena hidup tidak selalu tentang keributan, kadang justru momen kecil seperti ini yang akan terus diingat.
Dan bukankah itu yang membuat cerita menarik. Sebuah warung kecil, seorang gadis sederhana, seorang pemuda asing, obrolan remeh, tawa yang pecah, dan cinta yang diam diam tumbuh. Kamu dan saya sama sama tahu, kisah ini baru saja dimulai.
Saya tahu kamu mungkin berpikir ah paling juga biasa saja hanya gadis desa yang kerja bantu orang tuanya di warung, tapi tunggu dulu jangan buru buru menilai. Rahayu memang sederhana penampilannya, rambutnya dikepang rapi, wajahnya polos tanpa bedak tebal, bajunya hanya kebaya sederhana dipadu kain batik yang warnanya sudah agak pudar, tapi justru di situlah letak pesonanya. Kamu tahu kan, ada orang yang tidak perlu berlebihan untuk membuat orang lain betah menatapnya.
Setiap pagi sebelum matahari naik tinggi Rahayu sudah bangun lebih dulu, menyapu lantai papan yang berdebu, menyiapkan panci besar untuk merebus air, menakar kopi bubuk dalam toples kaca yang sudah tergores di sana sini. Tangannya cekatan seperti sudah hafal sejak lahir di mana sendok, di mana gula, dan di mana tempat gelas. Kalau kamu berdiri di sampingnya kamu akan sadar bahwa setiap gerakan kecilnya punya irama, seakan warung ini adalah panggung dan Rahayu adalah penari yang membuat semua mata betah menonton.
Orang orang yang datang ke warung sering pura pura beli kopi padahal tujuannya sekadar ingin melihat Rahayu. Nelayan yang pulang dengan wajah letih langsung segar lagi kalau diberi senyum olehnya. Pedagang pasar yang seharian kena terik matahari seperti menemukan keteduhan ketika Rahayu menyapa dengan suaranya yang lembut. Bahkan Ustaz Karna yang biasanya tegas tidak jarang tersenyum malu malu kalau Rahayu bercanda. Dan kamu jangan pura pura tidak paham, jelas semua itu bukan karena rasa kopi semata tapi karena ada sesuatu yang lain yang diseduh bersama aroma itu, yaitu kehangatan seorang gadis muda.
Nah sekarang kita masuk ke bagian menariknya. Ingat pemuda dari Bandung di bab sebelumnya. Arman. Sejak pertama kali melihat Rahayu ketika menyerahkan segelas kopi, Arman sudah merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Kamu mungkin ingin bilang ah itu cuma perasaan sesaat karena ia lelah atau cemas, tapi mari jujur saja, tatapan Rahayu memang punya sesuatu yang sulit diabaikan.
Di balik keluguannya, Rahayu sebenarnya cerdas. Ia tidak pernah kuliah, bahkan kadang buku bacaan pun terbatas, tapi ia punya kebiasaan menulis di buku kecil yang disembunyikannya di dapur. Puisi puisi pendek, catatan tentang harapan, tentang kehidupan yang sulit tapi harus tetap dijalani. Pernah suatu kali seorang pelanggan menemukan buku itu, membacanya, lalu kaget karena tidak menyangka gadis sederhana itu bisa menulis begitu dalam. Sayangnya buku itu cepat cepat ia sembunyikan lagi. Rahayu tidak ingin orang lain tahu betapa luas pikirannya, ia lebih suka diam mendengarkan, sambil sesekali menyelipkan komentar lucu yang membuat suasana cair.
Mari saya ceritakan satu kejadian yang membuatmu lebih paham siapa Rahayu.
Hari itu seorang pedagang pasar datang dengan wajah kusut, katanya dagangannya tidak laku, harga beras makin tinggi, ia hampir putus asa. Semua orang mendengarkan sambil ikut mengeluh, tapi Rahayu hanya tersenyum lalu berkata pelan, “Kalau hari ini dagangannya sepi, mungkin besok lebih ramai. Kalau besok juga sepi, siapa tahu lusa Tuhan kasih rezeki lewat jalan lain. Kalau tetap sepi, jangan khawatir, masih ada kopi di sini buat menghibur hati.”
Kamu bisa bayangkan bagaimana reaksi orang orang. Mereka tertawa, bukan karena meremehkan, tapi karena kata kata Rahayu yang sederhana terasa seperti doa yang menenangkan. Dan pedagang pasar itu pulang dengan wajah lebih cerah.
Sekarang kamu paham kenapa warung ini penuh setiap hari. Bukan hanya karena kopi, tapi karena ada Rahayu.
Sementara itu Arman semakin sulit menahan pandangannya. Ia ingin bicara lebih banyak dengan Rahayu, tapi ia tahu situasi tidak mudah. Ayah Rahayu, Haji Darsa, adalah sosok keras yang tidak sembarangan percaya orang baru. Apalagi Arman jelas berbeda, ia datang dari kota, membawa masalah politik, dikejar aparat. Bagaimana mungkin ia bisa dengan mudah mendekati putri satu satunya Haji Darsa.
Namun hati manusia kadang tidak peduli pada logika. Rahayu sendiri merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak Arman hadir. Saat ia menaruh kopi di mejanya, tatapan mereka bertemu sepersekian detik, dan itu cukup untuk membuat wajahnya memerah. Ia buru buru menunduk, pura pura sibuk membersihkan meja, padahal hatinya sedang kacau.
Dan kamu yang duduk di kursi samping mereka pasti bisa merasakan hawa aneh itu. Seperti ada aliran listrik halus di udara. Kamu ingin tersenyum, tapi juga ingin memperingatkan, hati hati, cinta di masa genting bisa jadi sangat berbahaya.
Tapi begitulah hidup, tidak ada yang bisa memilih kapan harus jatuh cinta.
Sore itu ketika pelanggan sudah mulai berkurang, Rahayu duduk sebentar di bangku kayu. Ia menatap jalanan sepi, sambil menulis sesuatu di buku kecilnya. Kamu mungkin penasaran apa isinya. Inilah salah satu barisnya
“Jika kopi terlalu pahit, tambahkan gula. Jika hidup terlalu berat, tambahkan doa. Jika hati terasa sepi, tambahkan senyum.”
Indah bukan. Dan tanpa sadar Arman berdiri tidak jauh dari sana, membaca tulisan itu dengan mata berbinar. Ia ingin sekali mengatakan betapa kagumnya ia, tapi ia menahan diri. Belum saatnya.
Nah sekarang kita berhenti sejenak. Kamu mungkin bertanya, di mana bagian actionnya. Tenang, itu akan datang sebentar lagi. Ingat, negeri ini sedang bergejolak. Di luar sana ada demo, ada bentrok, ada aparat yang curiga pada setiap pergerakan. Jadi jangan heran kalau sebentar lagi suasana damai di warung ini bisa terguncang oleh suara teriakan massa atau langkah sepatu lars.
Tapi untuk saat ini, mari kita biarkan dulu sejenak suasana hangat. Biarkan kamu menikmati tatapan malu malu Rahayu dan Arman, biarkan kamu ikut tertawa dengan pelanggan yang saling goda, biarkan kamu mencium aroma kopi yang keluar dari dapur. Karena hidup tidak selalu tentang keributan, kadang justru momen kecil seperti ini yang akan terus diingat.
Dan bukankah itu yang membuat cerita menarik. Sebuah warung kecil, seorang gadis sederhana, seorang pemuda asing, obrolan remeh, tawa yang pecah, dan cinta yang diam diam tumbuh. Kamu dan saya sama sama tahu, kisah ini baru saja dimulai.
Other Stories
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...