Warung Kopi Reformasi

Reads
3.2K
Votes
2
Parts
25
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Kabar Dari Jakarta

Pagi di Garut biasanya sederhana matahari muncul malu malu dari balik Gunung Cikuray udara masih dingin seperti es batu tapi penuh aroma basah tanah sawah ayam berkokok bergantian becak kayu berderit dan warung kopi Haji Darsa membuka pintunya dengan engsel yang sudah tua bunyinya kayak musik gratis pengantar hari nah biasanya pelanggan pertama datang dengan obrolan receh soal cabe atau soal tetangga yang kawin lagi tapi pagi itu berbeda sekali

Radio tua di pojok warung yang biasanya cuma dipakai memutar lagu dangdut atau ceramah ustaz tiba tiba jadi pusat perhatian suara penyiar terdengar bergetar meski berusaha tenang ia bilang ada kabar dari Jakarta kabar buruk mahasiswa ditembak di kampus Trisakti

Warung mendadak senyap bahkan suara sendok jatuh pun terdengar jelas pelanggan yang biasanya ribut malah diam seperti patung Kang Deden yang biasa cerewet soal harga cabe mendadak bungkam nelayan yang selalu teriak soal solar tiba tiba menatap meja Ustaz Karna menunduk wajahnya tegang

Arman yang duduk di pojok bangku langsung berdiri tubuhnya bergetar matanya merah ia menggenggam tinjunya begitu erat sampai urat tangannya menonjol Rahayu yang sedang menuang kopi berhenti setengah jalan kopi tumpah sedikit ke meja tapi ia tidak peduli matanya hanya menatap Arman dengan cemas

Penyiar radio melanjutkan dengan suara yang makin pelan tapi menusuk katanya ada empat mahasiswa gugur ada banyak yang luka tertembak peluru aparat yang seharusnya melindungi rakyat

Nah di titik ini kamu yang membaca mungkin merasa dada ikut sesak karena di antara semua kisah cinta dan komedi warung ternyata dunia di luar sana benar benar terbakar

Arman menggeram suaranya pecah “Mereka saudara kami mereka yang cuma bawa buku bukan senjata mereka ditembak di tanah sendiri” suaranya membuat semua orang merinding bahkan ayam kampung yang biasanya nyelonong ke warung pun kali ini diam seakan tahu ada sesuatu yang berat sedang terjadi

Haji Darsa menarik napas panjang wajahnya keras ia memandang semua pelanggan lalu berkata pelan “Inilah yang aku takutkan darah anak muda tumpah sia sia”

Pelanggan lain mulai ribut Kang Ujang pedagang sayur menepuk meja “Ini sudah kebangetan aparat menembak mahasiswa anak bangsa sendiri” sementara nelayan mengangguk menambahkan “Kalau begini terus entah siapa lagi yang akan jadi korban”

Warung yang biasanya penuh tawa mendadak berubah jadi ruang sidang serius obrolan mengalir berat dan semua wajah terlihat murung hanya suara radio yang sesekali mendesir memberi detail kabar

Rahayu merasa jantungnya ikut berdebar ia menatap Arman yang kini duduk lagi tapi masih gemetar Rahayu ingin bicara tapi lidahnya kelu ia hanya bisa meletakkan segelas kopi hangat di depannya sambil berbisik sangat pelan “Kang jangan menyerah”

Arman mengangkat wajahnya menatap Rahayu mata mereka bertemu dan di sana ada api yang sama api yang membuat Rahayu sadar bahwa perjuangan Arman bukan main main dan mungkin hatinya sudah terikat lebih dalam daripada yang ia kira

Kamu pembaca mungkin bertanya apakah mereka akan langsung memutuskan sesuatu yang nekat jawabannya ya tapi sabar dulu karena setiap keputusan besar selalu dimulai dari obrolan kecil di meja warung kopi

Ustaz Karna akhirnya bicara suaranya berat “Kalau darah sudah tumpah maka kita tidak bisa lagi hanya diam di sini warung ini tidak cukup hanya jadi tempat ngobrol mari kita jadikan tempat merencanakan sesuatu yang lebih”

Pelanggan menatap satu sama lain wajah wajah yang tadinya hanya sibuk dengan urusan dapur dan dagangan kini tampak berubah seperti tersadar bahwa mereka bagian dari sesuatu yang lebih besar

Arman mengangguk matanya kembali menyala “Kita tidak bisa diam kita harus bergerak tapi dengan damai kita tidak boleh terjebak provokasi kita harus tunjukkan bahwa rakyat kecil punya hati punya suara”

Haji Darsa menghela napas keras ia ingin marah pada Arman lagi tapi kali ini kata katanya tertahan ia hanya bisa menatap Rahayu yang tampak khawatir lalu bergumam lirih “Jangan sampai kalian yang jadi korban berikutnya”

Lalu muncullah humor kecil yang tidak disengaja Kang Deden berusaha memecah ketegangan dengan berkata “Kalau demo jangan bawa ayam kampung ya bisa bisa ayamnya juga ditembak” dan semua orang mendengus ketawa pahit meski jelas hatinya pun berat tapi begitulah cara orang kecil bertahan bahkan di tengah kabar buruk selalu ada ruang untuk tawa setidaknya untuk mengusir sedikit rasa takut

Arman lalu berdiri lagi ia berjalan ke arah radio menatapnya seakan sedang melihat Jakarta lewat kotak tua itu lalu berbisik hampir tidak terdengar “Aku berjanji kalian tidak mati sia sia”

Rahayu menatapnya dan entah mengapa perasaan dalam hatinya bergetar lebih hebat dari sebelumnya ia melihat seorang lelaki yang bukan hanya berani tapi juga membawa luka dan harapan yang terlalu besar untuk ditanggung sendirian

Dan di sinilah kamu yang membaca ikut terseret bukan hanya jadi penonton tapi juga bagian dari lingkaran itu sebab kalau kau duduk di warung itu mendengar kabar itu kau pasti juga ingin melakukan sesuatu

Siang itu warung tetap ramai tapi tidak lagi sama pelanggan masih datang tapi obrolan receh tergantikan diskusi serius tentang nasib bangsa beberapa bahkan mulai bicara soal turun ke jalan di Garut sendiri Arman mendengarkan setiap suara lalu mencoba mengarahkan agar tetap damai ia sadar betul bahwa api yang besar bisa melahap siapa saja kalau tidak dikendalikan

Malam harinya ketika warung sepi lagi Rahayu mendekati Arman yang duduk sendirian ia membawa buku puisinya dan berkata lirih “Kalau mereka punya senjata biarlah kita punya kata” lalu ia menyodorkan selembar puisi baru

“Jika peluru menembus dada biarlah kata menembus jiwa jika tubuh rebah biarlah semangat tetap berdiri jika takut menghantui biarlah cinta mengusirnya”

Arman membaca pelan lalu menatap Rahayu dengan kagum “Rahayu kamu tidak tahu betapa penting kata kata ini bagiku”

Mereka terdiam lama hanya suara jangkrik menemani lalu angin malam meniup petromak hingga apinya bergoyang bayangan wajah mereka menari di dinding warung

Nah pembaca di titik ini mungkin kau menghela napas berat merasa ikut larut dalam emosi tapi jangan lupa masih ada ruang untuk senyum karena tiba tiba ayam kampung masuk lagi ke warung membuat mereka kaget lalu tertawa bersama seakan dunia mencoba mengingatkan bahwa bahkan di tengah duka tetap ada alasan untuk tersenyum

Begitulah malam itu berakhir dengan rasa campur aduk marah sedih haru cinta dan tawa semuanya bercampur jadi satu dalam ruangan kecil dengan papan kayu usang tapi entah bagaimana terasa lebih luas dari gedung gedung tinggi di ibu kota karena di sinilah harapan benar benar hidup

Dan aku tahu kamu mungkin bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya apakah mereka akan benar benar turun ke jalan apakah Haji Darsa akan merelakan warungnya jadi markas pemuda apakah Rahayu akan ikut berjuang dengan puisinya semua itu akan terjawab tapi untuk sekarang cukup kita nikmati suasana malam ketika warung kopi kecil di Garut ikut bergetar oleh kabar dari Jakarta

Other Stories
Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Download Titik & Koma