Bab 12 Pertengkaran Live
Malam itu Luna sebenarnya hanya ingin live santai. Ia sudah lama tidak buka streaming karena gosip foto palsu dengan Adrian. Fansnya menunggu. Komentar terus berdatangan di postingan terakhirnya: “kapan live lagi kak” atau “jangan ngilang Luna kita kangen”.
Jadi ia memutuskan untuk comeback. Bukan dengan dramatis, hanya sekadar main game bareng sambil ngobrol.
“hai guys” kata Luna sambil melambaikan tangan ke kamera. Rambutnya diikat seadanya, wajah tanpa make-up tapi tetap segar. “aku balik lagi. Kalian kangen nggak.”
Komentar langsung banjir.
“AKHIRNYA LUNA LIVE!!”
“QUEEN IS BACK!!”
“bawa Adrian nggak??”
Luna pura-pura batuk melihat komentar terakhir. “aduh suara aku serak, maaf ya. Hehe.”
Tapi seakan takdir sengaja bikin drama, pintu kamar diketuk. Adrian muncul dengan hoodie abu-abu, wajah serius seperti baru keluar rapat.
“hai” kata Adrian pelan.
Chat langsung meledak.
“ADRIAN DATENG??”
“OMG MEREKA LIVE BARU BARU INI!!”
“HOTEL COUPLE IS REAL??”
Luna menoleh dengan mata melotot. “apa yang kamu lakukan di sini. Aku lagi live.”
Adrian terlihat kikuk. “aku tau. Justru itu… aku mau klarifikasi langsung. Biar semua orang denger dari kita.”
Komentar makin gila. Stream viewers naik dua kali lipat dalam hitungan menit.
Luna berusaha tetap tersenyum, tapi tangannya gemetar di bawah meja. “aku bisa urus sendiri Adrian.”
“kamu nggak perlu sendiri. Gosip itu tentang kita, jadi kita jelasin bareng.”
“aku nggak mau.”
Adrian terdiam sejenak. Kamera masih menyala. Puluhan ribu pasang mata menunggu.
“Luna…” suara Adrian terdengar tulus.
Dan entah kenapa, itu justru memicu letupan.
“jangan panggil aku dengan suara itu di depan kamera!” Luna meninggi. “aku capek dianggap bayanganmu. Aku capek semua orang mikir aku cuma numpang popularitasmu.”
Chat langsung spam:
“WOAHH??!!”
“LUNA MARAH BENERAN??”
“INI DRAMA APA REAL??”
Adrian mencoba menenangkan. “aku nggak pernah anggap kamu bayangan. Aku—”
“cukup!” potong Luna. Suaranya bergetar, tapi matanya tajam. “aku bukan alat politikmu Adrian. Aku bukan tameng buat citramu. Aku gamer. Aku punya jalanku sendiri. Dan kalau kamu terus muncul di setiap ruangku, orang-orang nggak akan pernah lihat aku sebagai aku.”
Keheningan membeku. Hanya bunyi notifikasi viewer naik terus. Trending mulai terbentuk bahkan sebelum live selesai.
Adrian menatapnya lama. Wajahnya jelas terpukul, tapi ia berusaha tersenyum tipis. “aku… cuma pengen jagain kamu.”
“aku nggak minta dijagain.” Luna menoleh ke kamera, suara bergetar. “kalian semua denger ya. Aku nggak butuh jadi pasangan politisi buat validasi. Aku cukup jadi Luna. Dan kalau orang mau percaya gosip bodoh itu, silakan. Aku nggak peduli lagi.”
Setelah berkata begitu, ia langsung menekan tombol end stream. Layar gelap.
Keheningan menyelimuti kamar. Hanya tersisa Luna dan Adrian.
“hai” kata Luna akhirnya, suaranya parau.
Adrian menunduk. “hai.”
“aku marah beneran loh.”
“aku tau.”
“kenapa kamu nekat masuk live-ku.”
Adrian menghela napas panjang. “aku kira kalau kita jelasin bareng, masalah cepat selesai. Tapi ternyata aku salah.”
“kamu selalu mikir jalanmu yang benar. Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku. Dihujat, dipandang remeh, disebut numpang nama.”
Adrian mengangkat wajahnya. Matanya memerah. “aku ngerti lebih dari yang kamu kira. Aku juga hidup dari gosip, fitnah, komentar. Bedanya, aku sudah kebal. Tapi kamu… aku takut kamu nggak kuat.”
“aku bisa kuat kalau nggak terus diseret.”
Kata-kata itu membuat udara makin berat. Mereka saling tatap, tapi tak ada yang bicara.
Di luar sana, Twitter meledak. Tagar #LunaBukanAlat trending nomor satu. Potongan klip livestream tersebar ke mana-mana. Ada yang bela Luna, ada yang bela Adrian, ada juga yang malah bikin meme.
Beberapa fans menulis panjang: “salut sama Luna berani ngomong. Cewek harus bisa berdiri sendiri”. Tapi ada juga yang pedas: “drama settingan doang, biar makin terkenal.”
Namun yang terpenting, suara Luna akhirnya terdengar.
Malamnya, Luna duduk di balkon kecil sendirian. Angin berhembus dingin. Adrian keluar pelan, membawa dua gelas teh hangat.
“ini buat kamu” kata Adrian.
Luna menerima tanpa bicara. Mereka duduk bersebelahan.
Beberapa menit hanya terdengar suara kota dari kejauhan.
“hai” kata Luna akhirnya.
“hai” jawab Adrian.
“kamu marah nggak aku bentak depan kamera.”
Adrian menggeleng. “nggak. Justru aku bangga kamu berani ngomong. Itu Luna yang aku kenal.”
“aku takut kamu benci aku.”
“aku nggak bisa benci kamu.”
Luna menoleh. “kenapa.”
“karena aku… ya karena itu.” Adrian tak sanggup melanjutkan. Ia hanya menatap matanya.
Hening lagi. Tapi kali ini hening yang hangat.
Luna menghela napas panjang. “aku cuma pengen orang lihat aku apa adanya. Bukan embel-embelmu.”
Adrian menunduk. “aku janji mulai sekarang aku nggak akan campur di ruangmu tanpa izin. Aku akan ada di belakang, kalau kamu butuh.”
Luna menatapnya lama, lalu tersenyum samar. “makasih. Itu yang aku mau denger.”
Adrian tersenyum kecil. “tapi boleh nggak aku tetap jadi alasan kamu ketawa.”
Luna hampir tersedak tehnya. “ya ampun kamu ini… selalu aja bikin suasana canggung jadi romantis.”
Mereka berdua tertawa kecil. Tawa yang meruntuhkan dinding marah di hati.
Esok paginya, berita masih heboh. Tapi kali ini narasinya berbeda. Banyak artikel menulis: “Luna berdiri tegak lawan stigma” atau “Stream panas yang justru angkat nama Luna makin tinggi.”
Dan di antara semua itu, Luna membaca satu komentar yang membuat matanya berkaca kaca:
“Terimakasih Luna. Kamu bikin aku berani bilang aku juga bukan bayangan siapa-siapa.”
Ia tersenyum, lalu menoleh ke Adrian yang sedang sibuk di meja, menyiapkan materi rapat.
“hai” kata Luna pelan.
Adrian menoleh. “hai.”
“makasih ya, udah nggak ninggalin aku meski aku marah.”
Adrian tersenyum lembut. “aku janji nggak akan ninggalin, marah segila apa pun kamu.”
Luna menghela napas, pipinya merah. “kamu bikin aku susah benci kamu tau nggak.”
“syukurlah” kata Adrian, dan mereka berdua tertawa lagi.
Begitulah, dari sebuah pertengkaran live yang viral, lahirlah kekuatan baru untuk Luna. Ia bukan lagi sekadar gadis yang dibicarakan karena gosip. Ia berdiri, bersuara, dan dunia mendengar.
Dan di balik layar, ada seorang Adrian yang tetap diam di sisinya, meski hatinya berkecamuk. Karena kadang cinta justru tumbuh di antara perdebatan paling keras.
Jadi ia memutuskan untuk comeback. Bukan dengan dramatis, hanya sekadar main game bareng sambil ngobrol.
“hai guys” kata Luna sambil melambaikan tangan ke kamera. Rambutnya diikat seadanya, wajah tanpa make-up tapi tetap segar. “aku balik lagi. Kalian kangen nggak.”
Komentar langsung banjir.
“AKHIRNYA LUNA LIVE!!”
“QUEEN IS BACK!!”
“bawa Adrian nggak??”
Luna pura-pura batuk melihat komentar terakhir. “aduh suara aku serak, maaf ya. Hehe.”
Tapi seakan takdir sengaja bikin drama, pintu kamar diketuk. Adrian muncul dengan hoodie abu-abu, wajah serius seperti baru keluar rapat.
“hai” kata Adrian pelan.
Chat langsung meledak.
“ADRIAN DATENG??”
“OMG MEREKA LIVE BARU BARU INI!!”
“HOTEL COUPLE IS REAL??”
Luna menoleh dengan mata melotot. “apa yang kamu lakukan di sini. Aku lagi live.”
Adrian terlihat kikuk. “aku tau. Justru itu… aku mau klarifikasi langsung. Biar semua orang denger dari kita.”
Komentar makin gila. Stream viewers naik dua kali lipat dalam hitungan menit.
Luna berusaha tetap tersenyum, tapi tangannya gemetar di bawah meja. “aku bisa urus sendiri Adrian.”
“kamu nggak perlu sendiri. Gosip itu tentang kita, jadi kita jelasin bareng.”
“aku nggak mau.”
Adrian terdiam sejenak. Kamera masih menyala. Puluhan ribu pasang mata menunggu.
“Luna…” suara Adrian terdengar tulus.
Dan entah kenapa, itu justru memicu letupan.
“jangan panggil aku dengan suara itu di depan kamera!” Luna meninggi. “aku capek dianggap bayanganmu. Aku capek semua orang mikir aku cuma numpang popularitasmu.”
Chat langsung spam:
“WOAHH??!!”
“LUNA MARAH BENERAN??”
“INI DRAMA APA REAL??”
Adrian mencoba menenangkan. “aku nggak pernah anggap kamu bayangan. Aku—”
“cukup!” potong Luna. Suaranya bergetar, tapi matanya tajam. “aku bukan alat politikmu Adrian. Aku bukan tameng buat citramu. Aku gamer. Aku punya jalanku sendiri. Dan kalau kamu terus muncul di setiap ruangku, orang-orang nggak akan pernah lihat aku sebagai aku.”
Keheningan membeku. Hanya bunyi notifikasi viewer naik terus. Trending mulai terbentuk bahkan sebelum live selesai.
Adrian menatapnya lama. Wajahnya jelas terpukul, tapi ia berusaha tersenyum tipis. “aku… cuma pengen jagain kamu.”
“aku nggak minta dijagain.” Luna menoleh ke kamera, suara bergetar. “kalian semua denger ya. Aku nggak butuh jadi pasangan politisi buat validasi. Aku cukup jadi Luna. Dan kalau orang mau percaya gosip bodoh itu, silakan. Aku nggak peduli lagi.”
Setelah berkata begitu, ia langsung menekan tombol end stream. Layar gelap.
Keheningan menyelimuti kamar. Hanya tersisa Luna dan Adrian.
“hai” kata Luna akhirnya, suaranya parau.
Adrian menunduk. “hai.”
“aku marah beneran loh.”
“aku tau.”
“kenapa kamu nekat masuk live-ku.”
Adrian menghela napas panjang. “aku kira kalau kita jelasin bareng, masalah cepat selesai. Tapi ternyata aku salah.”
“kamu selalu mikir jalanmu yang benar. Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku. Dihujat, dipandang remeh, disebut numpang nama.”
Adrian mengangkat wajahnya. Matanya memerah. “aku ngerti lebih dari yang kamu kira. Aku juga hidup dari gosip, fitnah, komentar. Bedanya, aku sudah kebal. Tapi kamu… aku takut kamu nggak kuat.”
“aku bisa kuat kalau nggak terus diseret.”
Kata-kata itu membuat udara makin berat. Mereka saling tatap, tapi tak ada yang bicara.
Di luar sana, Twitter meledak. Tagar #LunaBukanAlat trending nomor satu. Potongan klip livestream tersebar ke mana-mana. Ada yang bela Luna, ada yang bela Adrian, ada juga yang malah bikin meme.
Beberapa fans menulis panjang: “salut sama Luna berani ngomong. Cewek harus bisa berdiri sendiri”. Tapi ada juga yang pedas: “drama settingan doang, biar makin terkenal.”
Namun yang terpenting, suara Luna akhirnya terdengar.
Malamnya, Luna duduk di balkon kecil sendirian. Angin berhembus dingin. Adrian keluar pelan, membawa dua gelas teh hangat.
“ini buat kamu” kata Adrian.
Luna menerima tanpa bicara. Mereka duduk bersebelahan.
Beberapa menit hanya terdengar suara kota dari kejauhan.
“hai” kata Luna akhirnya.
“hai” jawab Adrian.
“kamu marah nggak aku bentak depan kamera.”
Adrian menggeleng. “nggak. Justru aku bangga kamu berani ngomong. Itu Luna yang aku kenal.”
“aku takut kamu benci aku.”
“aku nggak bisa benci kamu.”
Luna menoleh. “kenapa.”
“karena aku… ya karena itu.” Adrian tak sanggup melanjutkan. Ia hanya menatap matanya.
Hening lagi. Tapi kali ini hening yang hangat.
Luna menghela napas panjang. “aku cuma pengen orang lihat aku apa adanya. Bukan embel-embelmu.”
Adrian menunduk. “aku janji mulai sekarang aku nggak akan campur di ruangmu tanpa izin. Aku akan ada di belakang, kalau kamu butuh.”
Luna menatapnya lama, lalu tersenyum samar. “makasih. Itu yang aku mau denger.”
Adrian tersenyum kecil. “tapi boleh nggak aku tetap jadi alasan kamu ketawa.”
Luna hampir tersedak tehnya. “ya ampun kamu ini… selalu aja bikin suasana canggung jadi romantis.”
Mereka berdua tertawa kecil. Tawa yang meruntuhkan dinding marah di hati.
Esok paginya, berita masih heboh. Tapi kali ini narasinya berbeda. Banyak artikel menulis: “Luna berdiri tegak lawan stigma” atau “Stream panas yang justru angkat nama Luna makin tinggi.”
Dan di antara semua itu, Luna membaca satu komentar yang membuat matanya berkaca kaca:
“Terimakasih Luna. Kamu bikin aku berani bilang aku juga bukan bayangan siapa-siapa.”
Ia tersenyum, lalu menoleh ke Adrian yang sedang sibuk di meja, menyiapkan materi rapat.
“hai” kata Luna pelan.
Adrian menoleh. “hai.”
“makasih ya, udah nggak ninggalin aku meski aku marah.”
Adrian tersenyum lembut. “aku janji nggak akan ninggalin, marah segila apa pun kamu.”
Luna menghela napas, pipinya merah. “kamu bikin aku susah benci kamu tau nggak.”
“syukurlah” kata Adrian, dan mereka berdua tertawa lagi.
Begitulah, dari sebuah pertengkaran live yang viral, lahirlah kekuatan baru untuk Luna. Ia bukan lagi sekadar gadis yang dibicarakan karena gosip. Ia berdiri, bersuara, dan dunia mendengar.
Dan di balik layar, ada seorang Adrian yang tetap diam di sisinya, meski hatinya berkecamuk. Karena kadang cinta justru tumbuh di antara perdebatan paling keras.
Other Stories
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...