Chapter 2 Kilau Panggung
Queen, gadis berumur 14 tahun sebuah fenomena di Akademi Tari Nasional. Ia bukan sekadar menari, namun setiap gerakannya adalah puisi yang hidup.
Dengan kaki jenjangnya yang seolah tanpa tulang, ia melayang di atas panggung, menciptakan ilusi gravitasi yang takluk pada kehendaknya.
Semua orang mengagumi bakatnya, terutama saat ia mengenakan sepatu balet pink kesayangannya.
Sepatu itu bukan hanya alas kaki, melainkan bagian dari dirinya, perpanjangan dari jiwanya.
Prok! Prok!
Di atas panggung, Queen adalah ratu. Tepuk tangan dan sorakan penonton adalah melodi yang mengiringi setiap langkahnya. Mereka berbisik kagum, menyebutnya, "Balerina masa depan."
Pujian ini tidak membuatnya sombong, sebaliknya ia menjadikannya bahan bakar. Mimpinya begitu jelas, yaitu ia ingin menginjak panggung Teater Bolshoi di Moskow, panggung paling megah di dunia.
Ia sering membayangkan bagaimana rasanya menari di sana, di hadapan ribuan pasang mata dengan cahaya sorot yang hanya ditujukan padanya.
Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk berlatih. Pagi, siang, malam, ia terus bergerak. Kaki-kakinya penuh luka lecet dan memar, namun ia tidak pernah mengeluh.
Rasa sakit itu adalah bukti kerja kerasnya, dan setiap tetes keringat adalah investasi untuk mimpinya.
Di dalam hatinya, Queen tahu bahwa suatu hari nanti sepatu balet pinknya akan menginjak panggung impian itu, dan ia akan menari dengan keanggunan yang belum pernah disaksikan dunia.
Dengan kaki jenjangnya yang seolah tanpa tulang, ia melayang di atas panggung, menciptakan ilusi gravitasi yang takluk pada kehendaknya.
Semua orang mengagumi bakatnya, terutama saat ia mengenakan sepatu balet pink kesayangannya.
Sepatu itu bukan hanya alas kaki, melainkan bagian dari dirinya, perpanjangan dari jiwanya.
Prok! Prok!
Di atas panggung, Queen adalah ratu. Tepuk tangan dan sorakan penonton adalah melodi yang mengiringi setiap langkahnya. Mereka berbisik kagum, menyebutnya, "Balerina masa depan."
Pujian ini tidak membuatnya sombong, sebaliknya ia menjadikannya bahan bakar. Mimpinya begitu jelas, yaitu ia ingin menginjak panggung Teater Bolshoi di Moskow, panggung paling megah di dunia.
Ia sering membayangkan bagaimana rasanya menari di sana, di hadapan ribuan pasang mata dengan cahaya sorot yang hanya ditujukan padanya.
Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk berlatih. Pagi, siang, malam, ia terus bergerak. Kaki-kakinya penuh luka lecet dan memar, namun ia tidak pernah mengeluh.
Rasa sakit itu adalah bukti kerja kerasnya, dan setiap tetes keringat adalah investasi untuk mimpinya.
Di dalam hatinya, Queen tahu bahwa suatu hari nanti sepatu balet pinknya akan menginjak panggung impian itu, dan ia akan menari dengan keanggunan yang belum pernah disaksikan dunia.
Other Stories
Liburan Yang Menelanjangi Kami
Tujuh mahasiswa BAKOR-UNAS memilih merayakan kebebasan selepas UAS dengan cara yang tampak ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...