Chapter 5 Dorongan Masa Lalu
Suatu sore, kebosanan dan rasa putus asa yang menumpuk membuat Queen tergerak. Kamarnya berantakan dan dipenuhi debu. Ia mulai membersihkan, seolah ingin membersihkan kekacauan dalam pikirannya.
Saat ia merapikan laci meja belajarnya, tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan usang. Itu adalah buku harian lamanya. Ia ragu-ragu sejenak, lalu membuka halaman pertamanya.
“Aku akan menari sampai akhir,” gumamnya, membaca tulisan tangannya sendiri yang dulu penuh semangat, “Aku akan berjuang untuk Teater Bolshoi.”
Air mata menetes di atas halaman, membasahi tinta yang mulai pudar. Ibunya yang kebetulan lewat dan melihatnya. Ia masuk ke kamar dan duduk di samping Queen, memeluknya dengan lembut.
"Kamu menulis itu saat kamu masih sangat muda," kata ibunya pelan.
Queen menggelengkan kepalanya, “Itu rasanya seperti orang lain yang menuliskannya. Aku tidak kenal gadis itu lagi.”
"Gadis itu masih ada di dalam dirimu, Queen. Dia tidak pernah pergi," jawab ibunya, suaranya tenang, "Mungkin kakimu tidak bisa menari lagi, tapi jiwamu masih milik panggung."
Queen menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, "Tapi bagaimana, Bu? Bagaimana aku bisa menari jika aku bahkan tidak bisa berdiri di atas jari-jari kakiku lagi?"
"Menari tidak hanya di kaki, Nak," ibunya tersenyum tipis. "Menari adalah cara hatimu berbicara. Itu adalah ekspresi dari jiwamu. Ada banyak cara untuk menari. Kau hanya perlu menemukan caramu sendiri."
Kata-kata ibunya beresonansi di benak Queen. Ia memandang sepatu balet pinknya yang berdebu.
Tiba-tiba, sepatu itu tidak lagi terasa seperti pengingat yang menyakitkan, tetapi seperti janji yang belum terpenuhi. Sebuah dorongan kuat tumbuh di dalam hatinya untuk tampil sekali lagi tidak peduli dengan cara apa pun.
“Aku tidak bisa membiarkan mimpiku mati, Bu,” bisiknya, suaranya dipenuhi tekad yang baru, “Aku harus mencoba, sekali lagi.”
Ibunya tersenyum, mengusap rambutnya dengan bangga, "Ibu tahu kamu akan melakukannya."
Dari sana, Queen tahu ia harus bangkit. Ia mungkin tidak bisa menari seperti dulu, tetapi ia bisa menemukan cara baru.
Air mata keputusasaan berubah menjadi air mata harapan. Ia tidak lagi melihat kakinya sebagai batasan, melainkan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Ia akan menari lagi dengan cara yang berbeda, tapi dengan hati yang sama.
Saat ia merapikan laci meja belajarnya, tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan usang. Itu adalah buku harian lamanya. Ia ragu-ragu sejenak, lalu membuka halaman pertamanya.
“Aku akan menari sampai akhir,” gumamnya, membaca tulisan tangannya sendiri yang dulu penuh semangat, “Aku akan berjuang untuk Teater Bolshoi.”
Air mata menetes di atas halaman, membasahi tinta yang mulai pudar. Ibunya yang kebetulan lewat dan melihatnya. Ia masuk ke kamar dan duduk di samping Queen, memeluknya dengan lembut.
"Kamu menulis itu saat kamu masih sangat muda," kata ibunya pelan.
Queen menggelengkan kepalanya, “Itu rasanya seperti orang lain yang menuliskannya. Aku tidak kenal gadis itu lagi.”
"Gadis itu masih ada di dalam dirimu, Queen. Dia tidak pernah pergi," jawab ibunya, suaranya tenang, "Mungkin kakimu tidak bisa menari lagi, tapi jiwamu masih milik panggung."
Queen menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, "Tapi bagaimana, Bu? Bagaimana aku bisa menari jika aku bahkan tidak bisa berdiri di atas jari-jari kakiku lagi?"
"Menari tidak hanya di kaki, Nak," ibunya tersenyum tipis. "Menari adalah cara hatimu berbicara. Itu adalah ekspresi dari jiwamu. Ada banyak cara untuk menari. Kau hanya perlu menemukan caramu sendiri."
Kata-kata ibunya beresonansi di benak Queen. Ia memandang sepatu balet pinknya yang berdebu.
Tiba-tiba, sepatu itu tidak lagi terasa seperti pengingat yang menyakitkan, tetapi seperti janji yang belum terpenuhi. Sebuah dorongan kuat tumbuh di dalam hatinya untuk tampil sekali lagi tidak peduli dengan cara apa pun.
“Aku tidak bisa membiarkan mimpiku mati, Bu,” bisiknya, suaranya dipenuhi tekad yang baru, “Aku harus mencoba, sekali lagi.”
Ibunya tersenyum, mengusap rambutnya dengan bangga, "Ibu tahu kamu akan melakukannya."
Dari sana, Queen tahu ia harus bangkit. Ia mungkin tidak bisa menari seperti dulu, tetapi ia bisa menemukan cara baru.
Air mata keputusasaan berubah menjadi air mata harapan. Ia tidak lagi melihat kakinya sebagai batasan, melainkan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Ia akan menari lagi dengan cara yang berbeda, tapi dengan hati yang sama.
Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...