Chapter 3 Pengkhianatan Di Puncak Kekecewaan
Malam terasa semakin dingin, seolah ikut merasakan kehancuran hati Almira. Di bawah rintik gerimis, ia melangkah tanpa tujuan. Kata-kata Leo terngiang di telinganya, menyiksa. Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan nama Leo.
Berkali-kali, namun Almira mengabaikannya. Ia tidak butuh penjelasan, dan kebohongan lainnya. Ia hanya butuh jawaban dari satu pertanyaan, "Mengapa?"
Ia sampai di sebuah apartemen mewah, tempat Leo tinggal. Dengan keyakinan yang bercampur antara rasa sakit dan kemarahan, ia naik ke unit apartemen Leo. Pintu tidak terkunci. Almira membukanya perlahan.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Leo, yang baru beberapa jam lalu memeluknya dan berjanji akan selalu ada sedang tertawa riang, berpelukan dengan gadis lain di sofa ruang tamu.
Gadis itu, dengan rambut pirang sebahu, membelakangi Almira.
Almira masuk, tangannya mengepal erat, menahan gemuruh di dadanya. Tawa mereka langsung berhenti begitu menyadari kehadiran Almira.
"Almira? Kenapa kamu di sini?" Leo terlihat panik, wajahnya pucat.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa?" suara Almira bergetar, namun tatapannya lurus dan tajam, "Harusnya aku yang tanya, Leo. Apa maksud semua ini?"
Gadis itu membalikkan badan, lalu menatap Almira dengan wajah bingung, "Dia siapa, sayang?"
"Dia cuma teman lamaku," jawab Leo cepat.
Gadis itu menatap Leo, lalu beralih ke Almira, matanya penuh kecurigaan, "Teman lama? Tapi dia pakai gaun mahal, kayaknya dari keluarga kaya raya. Jangan-jangan dia pacar kamu?"
Leo tertawa, namun tawa yang terdengar hampa di telinga Almira. "Jangan ngaco, Chelsea. Tentu saja dia bukan pacarku. Pacarku cuma kamu."
DUAR!
Kata-kata itu bagai palu godam yang menghantam sisa-sisa hati Almira. Matanya memanas, air mata kembali tumpah. Ia menatap Leo, memohon sebuah penjelasan yang jujur, tapi yang didapatkan hanyalah kebohongan lain.
"Leo, aku tahu yang kulihat. Aku tahu yang kudengar," kata Almira, suaranya tercekat, "Apa aku begitu buruk sampai kamu harus mengkhianatiku seperti ini?"
Leo menghela napas, gesturnya menunjukkan kebosanan. "Dengar, Almira. Kamu itu terlalu naif. Dunia ini bukan dongeng. Aku butuh uang. Dan, kamu cuma bisa memberiku masalah. Kekayaanku ada di tangan orang tuamu. Aku tidak bisa hidup selamanya dari belas kasihan."
"Jadi, selama ini, semua yang kamu katakan tentang cinta, janji-janji semuanya palsu?" tanya Almira, hatinya remuk redam, "Kamu hanya memanfaatkan aku?"
Leo mengangguk, tanpa penyesalan, "Tentu saja. Kamu pikir kenapa aku tahan dengan segala drama keluargamu? Kenapa aku mau jadi tempatmu mengadu? Aku butuh uang, Almira. Dan kamu adalah jembatan menuju uang itu."
Almira mundur selangkah, rasa sakitnya tak terlukiskan. Ia tak menyangka, harapan terakhir yang ia gantungkan justru adalah pengkhianatan terkejam.
"Sakit ini lebih dalam dari luka. Ini bukan tentang cinta yang hilang, tapi kepercayaan yang dihancurkan," lirih Almira, menatap Leo dengan mata penuh kekecewaan, "Kamu tahu, Leo? Kepercayaan itu seperti cermin. Sekali pecah, kamu bisa coba memperbaikinya, tapi retakannya akan selalu terlihat."
"Sudahlah, Almira. Jangan drama," sahut Chelsea sinis, "Kamu bisa beli pacar yang lebih baik daripada Leo. Cepat pergi! Kami mau bermesraan."
Almira tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis, membiarkan isaknya pecah di antara keheningan yang canggung. Ia menatap Leo untuk terakhir kalinya, tidak dengan marah, tapi dengan iba.
"Aku kasihan sama kamu, Leo," kata Almira, suaranya serak, "Kamu sudah menjual dirimu sendiri. Kamu sudah kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup ini, yaitu harga diri. Kamu pikir dengan uang bisa membeli kebahagiaan? Tidak, Leo. Uang hanya bisa membeli topeng kebahagiaan. Dan sebentar lagi, topeng itu akan jatuh."
Almira berbalik, meninggalkan Leo dan Chelsea yang terdiam. Ia berjalan keluar, menembus gerimis yang semakin deras.
Kali ini, ia tidak menangis karena kesedihan, melainkan karena ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit, bahwa satu-satunya orang yang bisa ia percaya di dunia ini adalah dirinya sendiri.
Berkali-kali, namun Almira mengabaikannya. Ia tidak butuh penjelasan, dan kebohongan lainnya. Ia hanya butuh jawaban dari satu pertanyaan, "Mengapa?"
Ia sampai di sebuah apartemen mewah, tempat Leo tinggal. Dengan keyakinan yang bercampur antara rasa sakit dan kemarahan, ia naik ke unit apartemen Leo. Pintu tidak terkunci. Almira membukanya perlahan.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Leo, yang baru beberapa jam lalu memeluknya dan berjanji akan selalu ada sedang tertawa riang, berpelukan dengan gadis lain di sofa ruang tamu.
Gadis itu, dengan rambut pirang sebahu, membelakangi Almira.
Almira masuk, tangannya mengepal erat, menahan gemuruh di dadanya. Tawa mereka langsung berhenti begitu menyadari kehadiran Almira.
"Almira? Kenapa kamu di sini?" Leo terlihat panik, wajahnya pucat.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa?" suara Almira bergetar, namun tatapannya lurus dan tajam, "Harusnya aku yang tanya, Leo. Apa maksud semua ini?"
Gadis itu membalikkan badan, lalu menatap Almira dengan wajah bingung, "Dia siapa, sayang?"
"Dia cuma teman lamaku," jawab Leo cepat.
Gadis itu menatap Leo, lalu beralih ke Almira, matanya penuh kecurigaan, "Teman lama? Tapi dia pakai gaun mahal, kayaknya dari keluarga kaya raya. Jangan-jangan dia pacar kamu?"
Leo tertawa, namun tawa yang terdengar hampa di telinga Almira. "Jangan ngaco, Chelsea. Tentu saja dia bukan pacarku. Pacarku cuma kamu."
DUAR!
Kata-kata itu bagai palu godam yang menghantam sisa-sisa hati Almira. Matanya memanas, air mata kembali tumpah. Ia menatap Leo, memohon sebuah penjelasan yang jujur, tapi yang didapatkan hanyalah kebohongan lain.
"Leo, aku tahu yang kulihat. Aku tahu yang kudengar," kata Almira, suaranya tercekat, "Apa aku begitu buruk sampai kamu harus mengkhianatiku seperti ini?"
Leo menghela napas, gesturnya menunjukkan kebosanan. "Dengar, Almira. Kamu itu terlalu naif. Dunia ini bukan dongeng. Aku butuh uang. Dan, kamu cuma bisa memberiku masalah. Kekayaanku ada di tangan orang tuamu. Aku tidak bisa hidup selamanya dari belas kasihan."
"Jadi, selama ini, semua yang kamu katakan tentang cinta, janji-janji semuanya palsu?" tanya Almira, hatinya remuk redam, "Kamu hanya memanfaatkan aku?"
Leo mengangguk, tanpa penyesalan, "Tentu saja. Kamu pikir kenapa aku tahan dengan segala drama keluargamu? Kenapa aku mau jadi tempatmu mengadu? Aku butuh uang, Almira. Dan kamu adalah jembatan menuju uang itu."
Almira mundur selangkah, rasa sakitnya tak terlukiskan. Ia tak menyangka, harapan terakhir yang ia gantungkan justru adalah pengkhianatan terkejam.
"Sakit ini lebih dalam dari luka. Ini bukan tentang cinta yang hilang, tapi kepercayaan yang dihancurkan," lirih Almira, menatap Leo dengan mata penuh kekecewaan, "Kamu tahu, Leo? Kepercayaan itu seperti cermin. Sekali pecah, kamu bisa coba memperbaikinya, tapi retakannya akan selalu terlihat."
"Sudahlah, Almira. Jangan drama," sahut Chelsea sinis, "Kamu bisa beli pacar yang lebih baik daripada Leo. Cepat pergi! Kami mau bermesraan."
Almira tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis, membiarkan isaknya pecah di antara keheningan yang canggung. Ia menatap Leo untuk terakhir kalinya, tidak dengan marah, tapi dengan iba.
"Aku kasihan sama kamu, Leo," kata Almira, suaranya serak, "Kamu sudah menjual dirimu sendiri. Kamu sudah kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup ini, yaitu harga diri. Kamu pikir dengan uang bisa membeli kebahagiaan? Tidak, Leo. Uang hanya bisa membeli topeng kebahagiaan. Dan sebentar lagi, topeng itu akan jatuh."
Almira berbalik, meninggalkan Leo dan Chelsea yang terdiam. Ia berjalan keluar, menembus gerimis yang semakin deras.
Kali ini, ia tidak menangis karena kesedihan, melainkan karena ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit, bahwa satu-satunya orang yang bisa ia percaya di dunia ini adalah dirinya sendiri.
Other Stories
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...