Perubahan
Aku pulang saat matahari sudah tenggelam. Rumah terasa sangat sepi. Tak terlihat keberadaan Mama, Papa dan Ragam. Bahkan, lampu luar pun gak dinyalakan.
“Ma, Pa, Gam. Pada di mana sih? Ini lampu kenapa gak dinyalain?” teriakku.
Tapi nihil, tak ada jawaban sama sekali. Aku memutuskan untuk ke kamar Ragam dan saat membuka pintu, ternyata Ragam sedang memainkan gadget sambil tiduran.
“Ada apa?” tanyanya ketus, tanpa melihat ke arahku sedikit pun.
“Mama sama Papa ke mana? Kamu lihat mereka?” Aku masih di bibir pintu, sengaja tidak masuk ke kamar.
“Mana aku tahu, pas aku pulang aja mereka gak ada, kok.” Lagi, Ragam menjawab dengan ketus.
“Oh, makasih.” Aku menutup pintu dengan agak keras. Adik macam apa dia itu? ditanya baik-baik malah menjawab ketus seperti itu.
Aku memutuskan untuk pergi ke kamar saja; membersihkan diri. Namun, saat melewati kamar mama dan papa terdengar suara bentakan. Langkah terhenti sejenak dan aku coba mendekati pintu. Mendengarkan secara hati-hati percakapan antara mama dan papa.
“Itu cuma masalah sepele, Pa, kenapa harus sampai berlarut seperti ini?” suara itu tak lain berasal dari Mama.
Entah apa yang sebenarnya mereka bahas, tapi sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius.
“Sepele bagaimana? Coba kamu hitung sendiri berapa pengeluaran yang akan keluar, jika sebulan saja kamu berbuat seperti tadi! Kamu pikir cari uang itu gampang?” Suara papa terdengar membentak mama.
“Kamu kan CEO perusahaan, cari uang sudah tentu gampang. Lagipula, esok atau lusa aku belum tentu berbuat seperti tadi.”
Rasanya aku semakin paham dengan apa yang mereka bicarakan. Keuangan, tentu saja. Kelakuan dan pemikiran orang dewasa memang sangat memusingkan. Lama kelamaan, pikiran ini bisa kotor dengan pertengkaran mereka. Aku bergegas pergi ke kamar.
Saat akan mandi, tiba-tiba saja jendela terbuka, padahal tidak ada angin sama sekali. Aku segera mendekat ke arah jendela, di luar tidak terlihat ada siapa-siapa. Tapi, sepertinya ada yang melihat ke arahku, dan benar saja, di seberang jalan terlihat ada sosok bertubuh tinggi dan tegap. Sorot matanya tepat membidik ke arahku. Tubuhnya hitam gempal dan jika dilihat-lihat ada sayatan-sayatan di wajahnya. Lamat-lamat dia menyeringai dan seketika bercucuran darah di kedua sudut bibir dan matanya. Spontan aku menutup jendela dan menjauh. Sosok itu benar-benar menakutkan.
“Kamu sedang apa?” tiba-tiba pintu terbuka. Ada mama di balik pintu itu.
“Itu ... itu loh, Ma. Ada, ada sosok menyeramkan di seberang jalan,” jawabku gugup.
Mama pergi memastikan, tapi beberapa saat kembali lagi dan hanya menggelengkan kepala.
“Kamu pasti halusinasi saja. Udah jangan dipikirin, jika pun ada sosok itu, sosoknya gak akan ganggu kamu, kok.” Mama langsung pergi.
Aku heran dengan sikap Mama, bukannya tadi sedang bertengkar dengan Papa, kok bisa secepat itu datang ke kamarku? Terlebih sorot matanya kosong, wajahnya pucat dan rambutnya sedikit berantakan serta sikapnya tidak aku kenal sama sekali. Jelas-jelas itu bukan seperti Mama. Meskipun di rumah, Mama suka pakai make up dan gak akan ngebiarin wajahnya pucat seperti tadi.
“Duh, bisa-bisa aku gila jika terus memikirkan wajah Mama tadi,” gumamku.
Tanpa berpikir lagi, aku segera mandi, memakai pakaian, lantas bergegas ke ruang makan. Tapi ternyata di sana hanya ada Ragam. Dia melirik, lantas tersenyum sinis.
“Mama dan Papa mana?”
“Mana aku tahu, mungkin mereka sedang di kamar. Gak bosen apa nanya terus itu?” Lagi, Ragam menjawab dengan ketus.
Aku memutuskan duduk di sampingnya, lantas makan tanpa menunggu kedatangan mama dan papa. Ragam makan dengan lahap, beberapakali dia menambah lagi porsi makannya. Dia benar-benar aneh.
“Kalian udah makan?” tanya Mama.
Kami berdua spontan menengok ke arah suara itu dan ya, itu Mama dan Papa.
“Mama dari mana? Bukannya tadi ajak Nindy makan ya?”
“Kapan? Mama baru aja dari kamar, sama Papamu.” Mama melirik ke arah Papa dan Papa hanya mengangguk.
“Lah, kalau bukan mama, yang tadi itu siapa? Eh, bentar, Mama kok udah cantik lagi? Padahal tadi, saat ke kamar Nindy wajah Mama sangat pucat.”
“Mama dari tadi sama Papa, gak ke kamar kamu. Lagi pula sejak kapan Mama gak pakai make up. Kamu sendiri tahu, meskipun di rumah Mama suka pakai make up. Udah-udah jangan dipikirin, mungkin saja tadi kamu berhalusinasi. Ayo makan saja.”
Sepertinya mama gak ingin membahas lagi apa yang menjadi pertanyaanku, sementara papa terlihat masih seperti orang marah, dia juga tidak membela atau bertanya banyak hal keadaanku.
Sudahlah, lebih baik aku makan lagi.
Selesai makan, setiap orang pergi ke kamarnya masing-masing. Sementara aku masih memikirkan kaitan sosok yang tadi di seberang jalan dengan kemunculan mama yang tiba-tiba. Tapi, semakin dipikirkan rasanya otakku tambah pusing.
Aku memutuskan untuk pergi ke kamar Ragam. Maksud dan tujuanku tak lain, ingin mengetahui sosok seperti apa yang dilihat Ragam kemarin. Beberapa kali pintu diketuk, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Hal itu, membuatku langsung masuk tanpa memikirkan apapun. Kamar Ragam gelap, sepertinya lampu sengaja dia matikan. Sementara Ragam telah menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku mendekat.
“Gam, udah tidur?” tanyaku, lantas duduk di sampingnya.
“Ada apa?” jawabnya, tanpa membuka selimut.
“Bangun dulu, ada yang mau aku tanyakan,” pintaku.
Ragam menggeliat, dia segera bangkit dan duduk menghadap ke arahku. “Apaan sih? Aku mau istirahat, tadi di sekolah dapat hukuman dari guru.” Ragam menutupi kepalanya dengan selimut.
“Lah, hukuman apa? Kamu pasti bandel lagi, ya? Gam, kamu tuh ya gak bisa mikir, bisa-bisanya di kelas tiga SMP kamu bikin onar, gimana nanti sama nilai UN-mu,” gerutuku.
“Udah, udah jangan dibahas, mau apa ke sini?” ketus Ragam.
“Ya elah, nyebelin banget jadi adik. Jadi gini, aku mau nanya sosok yang kemarin kamu lihat tuh seperti apa, sih?” tanyaku to the point.
“Ngapain nanyain itu? Aku hanya halusinasi saja kok,” jawabnya.
“Bentar deh, bulu kudukku tiba-tiba berdiri, lampunya dinyalain dong,” pintaku.
“Ini kamarku, jika ingin berkunjung ke sini ikuti saja apa yang kusuka. Lagi pula aku gak ada urusan dengan sosok itu. Itu halusinasi doang!” bentaknya, lantas kembali menutupi semua tubuh dengan selimut dan tengkurap.
“Gam, bangun dong. Aku kan nanya baik-baik, kenapa jawabnya ketus gitu?”
“Gak ada waktu buat jawab pertanyaan itu, lagi pula aku gak suka ya sama orang yang baik saat butuh saja, sementara biasanya juga gak pernah baik,” ketusnya lagi.
Aku mencoba bersabar, mendapat jawaban darinya memang susah.
“Ayo dong Gam, kasih deskripsi tentang sosok itu.” Aku terus mendesak, hingga akhirnya Ragam bangkit.
“Sosok itu bertubuh besar, di wajahnya banyak sayatan pisau kayaknya. Terus senyumnya sangat lebar. Intinya dia seram dan kamu tahu mitos di gua yang pernah kita kunjungi? Ya, orang bilang mitos itu akan membawa kesialan bagi yang melanggarnya, tapi aku gak percaya. Mungkin saja sosok itu juga ada kaitannya dengan mitos yang kulanggar. Aku tak tahu.” Dia mengangkat bahu, sekarang Ragam sedikit jinak walau sebenarnya aku takut dengan tatapan matanya yang tajam.
“Iya, aku tahu kok mitos itu, lagi pula aku juga tahu ada tiga pemuda yang ditemukan meninggal di sekitar gua itu. Tapi, aku juga gak percaya dengan mitos. Eh, bentar,deh.” Aku menyalakan flash di gadget, mengarahkannya ke leher Ragam dan saat itu pula terlihat ada bercak hitam di lehernya. “Lah, itu apa bercak di lehermu?” tanyaku.
“Apaan sih, gak ada apa-apa, kok.” Ragam meraba lehernya. “Udah ah sana, aku mau tidur.” Ragam kembali tengkurap dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut.
Aku bergegas pergi ke kamar kembali, tak mungkin bertanya lagi kepada Ragam.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...