Bukan Cinta Sempurna

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Menganggap Sahabat Tapi Kekasih

 “Thanks God, Friday!”
Hari Jumat yang cerah, Dini melangkah ringan memasuki kelasnya dan disambut Widi dengan cerah.
“Hai Din, kemarin kamu ke rumah Arga? Katanya Arga babak belur ya karena tawuran dengan SMA seberang? Duh itu anak nggak ada kapoknya juga!” Widi berkomentar.
“Ya gitu deh, gak tahu sampai kapan akan berhenti berkelahi,” komentar Dini pendek menuju mejanya.
“Kok kamu nggak mampir ke rumah aku sih atau ngabarin aku kek! Rumah aku nggak jauh dari rumah Arga,” protes Widi.
“Yah mana aku kepikiran minta tolong kamu juga Wid! Aku aja gak nyangka akan terlibat urusan Arga. Aku baru saja selesai mem-briefing adik-adik kelas pengurus baru Majalah Dinding. Mau cari angkot malah diseret Rico dan Bram gara-gara Arga terluka, baru saja mereka tawuran lagi! Untung ada mobil yang mau berhenti dan bantuin kita nganterin ke rumah Arga,” jelas Dini ringkas.
“Hmmm… keadaan Arga sekarang gimana Din?”
Dini hanya angkat bahu dan memilih membaca buku cetak kimia dan memilih konsentrasi.
“Din! Kamu kok nggak ke kelas Arga sih! Liatin anaknya ada nggak? Kalau nggak ada berarti nggak masuk dan kemungkinan masih sakit! Kalau masih sakit kamu tengokin dia dong!” saran Widi.
“Apaan sih? Kemarin aku udah nganterin dia juga udah syukur kalii!” Dini jadi membentak Widi. Hatinya kesal dengan Widi yang berubah bawel ngurusin dirinya dan Arga.
“Iya sihh, tapi nggak ada salahnya kalau hari ini kamu cek lagi dia udah baikan atau belum,” Widi melembutkan suaranya.
“Ah sudah biarin ajalah, dia bukan anak kecil kok!” Dini mencoba konsentrasi lagi membaca buku yang tengah dibacanya, walau sejujurnya dalam hatinya ingin tahu apakah Arga masuk atau tidak hari ini.
Mau tanya Rico sobat kentalnya, hari ini tampaknya juga nggak kelihatan. Jangan-jangan Rico juga milih bolos hari ini soalnya sudah kurang lima menit lagi akan bel masuk kelas.
***
Dalam hati Dini ingin tahu apakah Arga masuk atau tidak, hari Jumat memang tanggung kalau kondisi Arga belum membaik untuk masuk sekolah.
Jumat sampai Minggu waktu yang cukup baik untuk beristirahat. Apalagi kondisi Arga kemarin tampak payah jelas lebih parah kondisinya daripada waktu lalu setelah dia menolong Dini saat dikeroyok tiga berandalan pasar.
Jam istirahat Dini diam-diam ke kelas Bahasa untuk mencari tahu apakah Arga sudah masuk atau belum, ternyata Arga memang tidak masuk sekolah. Malah ketemu Angel yang di kelas XI Bahasa tengah ditemani Widi di bangkunya, sepertinya tengah membahas pelajaran.
“Aku harus terbiasa melihat kemesraan mereka,” jerit hati Dini, tak urung ekor matanya penasaran untuk menangkap apa yang tengah mereka diskusikan.
“Nggak dong Wid, jawabannya yang benar ini! Kalau kamu nggak percaya ayo sama-sama kita lihat kuncinya,” Angel bicara ringan dan mesra, semakin membuat hati Dini nggak karuan.
“Eh Din! Sini! Ngapain celingak-celinguk di situ!” ternyata Widi melihat kehadiran dirinya.
“Iya!” Dini tergagap, apalagi menangkap tatapan mata Angel yang menyiratkan ketidaksukaan.
“Aku balik kelas dulu ya Wid!” Dini memilih untuk kembali ke kelasnya, saat mau memutar badannya, tapi...
“Tunggu Din! Kamu pasti habis memastikan Arga masuk atau nggak,” kata Widi lanjut.
Dini hanya mengangguk dan membalikkan badannya lagi, bagaimanapun dirinya tidak mau kelihatan sangat grogi di hadapan Angel yang bisa menangkap gelagat anehnya. Dini takut Angel menganggap dirinya suka Widi dan tengah cemburu dengan kemesraan mereka, walau itu benar adanya.
“Din aku udah cek juga! Arga masih sakit, tadi aku telepon ke rumahnya dan yang angkat bibinya, katanya Arga tengah tidur. Habis hp-nya gak aktif mulu!” Widi menginformasikan.
“Eeeee… kalian malah ngobrol berdua sih! Ayo kita buka kunci jawabannya... jawaban siapa yang benar!” Angel merajuk manja, membuat Dini risih sebenarnya tapi ditahan.
“Oh iya, coba dibuka,” Widi tersadar tengah membantu Angel mempersiapkan ulangan bahasa Inggris di jam berikutnya.
“Tuhh cihuy, B kan jawabannya... huuuuuu kamu salah Sayang,” Angel tanpa sungkan menjewer telinga Widi di hadapan Dini.
Sepertinya Angel ingin benar-benar menyadarkan dirinya kalau sekarang memang Widi telah menjadi miliknya.
Dini berusaha tersenyum dan bersamaan bel masuk jam selesai istirahat berbunyi.
“Huuu untung bel!” Dini bergumam lega.
“Yah bel... Angel, aku sama Dini balik ke kelas ya, sukses ulangannya,” Widi menjawil pipi Angel yang putih lembut bak pualam.
“Tentu Sayang,” Angel menjawab dengan percaya diri.
“Ya iyalah, kamu kan tinggal ngulang aja apa setahun kemarin!” Tak urung spontan Dini mengeluarkan nada sengit, membuat Angel membelalakkan matanya.
Agak kaget juga Widi dengan kalimat barusan, tapi Widi menetralkan, ”Yuk udah Din! Balik!”
Kali ini Dini tidak ingin menutupi kemasygulannya, jelas Angel memulai duluan untuk membuat hatinya panas. Dini sadar! Angel tahu kalau dirinya memang ada hati buat Widi dan dia ingin menyakiti hatinya.
Sepanjang koridor menuju kelas, Dini memilih untuk diam demikian Widi.
“Segitu kelihatankah aku mempunyai perasaan cinta pada Widi? Sampai Angel tampak sekali cemburu dengan aku. Tapi kenapa Widi malah tidak pernah tahu selama dua tahun aku menyukainya? Haruskah cinta memang diutarakan dalam kata-kata, tak cukupkah perhatian aku selama ini?”
Dini menarik napas pelan dan menggeleng-gelengkan kepala sejenak untuk membuat dirinya kembali sadar tengah berjalan dengan cowok yang diyakini sebagai cinta sempurnanya.
Hari Jumat waktu terasa pendek tapi terasa juga melelahkan buat hati Dini, hari ini untuk pertama kalinya tadi dia berkata berani pada Angel yang mungkin penasaran dengan kondisi hatinya terhadap Widi.
Tapi jelas kalau Dini menunjukkan rasa kesal dan ini semakin meyakinkan Angel kalau Dini mencintai Widi dan tengah sekuat hati menutupi perasaanya itu. Entah kenapa hal ini membuat Angel merasa terganggu.
Bagi Angel, mungkin akan lebih baik jika jelas Dini mengutarakan cinta lalu Widi menolak tegas. Nggak ada perasaan ragu yang membuat dirinya malah merasa sebal dengan Dini, bahkan juga terhadap Widi sendiri. Angel takut bila Widi sebenarnya mempunyai perasaan yang sama dengan Dini tapi juga menyembunyikan dalam hatinya.
Angel menyimpulkan jadi ada garis cinta sebenarnya antara mereka tapi sama-sama diam. Itulah yang disimpulkan Angel, terkadang membuat hatinya gelisah sendiri.
***
Dini menaruh tasnya ke meja belajar sembrono dan langsung menghempaskan tubuhnya dengan seragam sekolah seenaknya.
“Hmmm Ibu ke mana ya? Kok dari masuk rumah tadi aku nggak lihat. Mana pintu depan nggak dikunci juga.”
Dini segera bergegas ke kamar mandi untuk ganti baju seragamnya dan lari menuju meja makan dan... “Kok kosong sih nggak ada makanan apa-apa? Ibu! Ibu!”
Yang diteriakin Dini nggak juga nongol, ini sangat aneh! Ibunya nggak pernah pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Dini keluar rumah menuju teras dan bertemu Bu Taryo, tetangga sebelah yang langsung menginformasikan, ”Din kamu sudah pulang, Ibu kamu tadi pingsan dan untung ada teman kamu yang langsung mengantar ke rumah sakit.”
“Temen aku? Siapa ya Bu Tar?” Dini langsung cemas, dan siapa temannya yang mengantar ibunya? Karena selama ini tidak ada teman dekat yang ke rumah kecuali Widi. Dan terakhir-akhir ini yang main ke rumah hanya Arga. Tapi mana mungkin salah satu dari mereka berdua.
Widi tadi jelas pulang dengan Angel. Tapi sepertinya keresahan Dini tidak beralasan sekarang, dari balik jendela tampak ibunya keluar dari pintu mobil yang dibukakan oleh Arga. Arga tampak tersenyum senang. Ibu terlihat sehat-sehat saja, padahal Bu Taryo barusan mengabarkan ibunya pingsan, malah sekarang mereka berdua tertawa-tawa akrab, Dini jadi penasaran.
“Ibu, kata Bu Taryo tadi Ibu pingsan,” Dini bergantian memandang wajah ibunya dan Arga yang tersenyum.
“Oh ya Ibu, sate kambing dan gulainya Arga tempatin dulu ya,” tanpa menunggu persetujuan Ibu Dinda, Arga jalan ke dapur.
“Din... tadi Ibu tiba-tiba sempat pingsan. Darah rendah Ibu kambuh. Waktunya bersamaan pas Ibu lagi buka pintu karena ada yang mengetuk, ternyata Arga. Lalu dia yang bawa Ibu ke Rumah Sakit Persahabatan,” jelas Bu Dinda.
Dini menarik napas panjang, ini sudah kedua kalinya Arga menolong. Memang bukan menolong dirinya tapi ibu, itu artinya sama saja. Kalau ada apa-apa dengan ibunya, sama saja dengan dirinya yang terluka.
“Nah ayo makan bareng-bareng, Din kamu pasti lagi kelaparan soalnya tadi Ibu nggak sempat masak. Tadi tanya ke dokter untuk mempercepat tekanan darah naik, Ibu boleh kok makan kambing, jadi kita beli sate dan gulai kambing Kang Rabil. Aku mau panggil Mang Darma juga sekalian makan bareng kita,” Arga langsung jalan menuju teras dan memanggil Mang Darma untuk ikutan makan siang.
Sepanjang makan, Dini memperhatikan satu per satu dari Arga yang tak canggung makan bareng dirinya, ibu bahkan Mang Darma sopirnya.
Ibu juga tampak lahap, apalagi masakan kambing warung makan Kang Rabil memang lezat. Dini ikutan lahap karena lapar. Sementara ayah masih ada rapat di sekolah jadi belum pulang. Tapi kebiasaan ayah pulang sehabis menjalankan salat asar dan setelah selesai mengoreksi tugas-tugas muridnya.
Selesai masak Dini langsung mencuci piring-piring kotor yang dibantu Arga. Kali ini Dini benar-benar tidak mau ribut lagi dengan Arga.
Dini bisa melihat sisi kebaikan Arga ketika Mang Darma, sopirnya diajak makan bersama. Arga tidak membeda-bedakan orang. Bahkan dari cerita Bibi Manisa, mereka bertiga kerap makan bareng dan masak bersama karena penghuni tetap rumah besar bak istana ya hanya mereka bertiga. Sementara raja dan ratunya bekerja sampai tak sempat menikmati enaknya tinggal di istana.
“Mas Arga, terima kasih ya sudah nganterin Ibu ke rumah sakit. Ibu mau istirahat dulu. Din kamu temani Mas Arga ngobrol kali ini ya,” kata Ibu Dinda langsung jalan ke kamarnya.
Tak urung, Dini mengangguk.
Di teras Dini dan Arga berdua dalam diam dan ketika mau ngomong dalam waktu bersamaan.
“Din.”
“Ga.”
“Kamu dulu deh,” Arga mempersilakan Dini untuk bicara terlebih dulu.
“Ee… kamu dulu deh!” jawab Dini ketus. Tapi nyatanya Arga tetap tersenyum.
“Din, aku kemarin kaget lho kamu ternyata mau menolong aku. Saat aku agak sadar dan tahu kalau kamu yang tengah di sampingku, hmmm… aku jadi langsung tenang saja untuk lanjut pingsan,” Arga melirik ke arah Dini sambil tersenyum.
“Hmmm senyum Arga manis juga, tapi sayangnya aku terlanjur nggak suka,” gerutu hati Dini.
Dini tidak mau menanggapi candaan Arga.
“Iya aku jadi ikutan panik soalnya Rico, ketua geng kamu mosok nggak tahu di mana kamu tinggal! Kalian ini sahabatan dari kelas X tapi nggak pernah saling berkunjung ya? Keterlaluan sekali! Ini karena sehari-hari yang kalian pikirin hanya berkelahi!” Dini malah memarahi Arga. Walau sebenarnya pura-pura ingin menguji nyali Arga sampai mana kalau dirinya marah-marah saja.
“Iya... maafin, aku jadi merepotkan kamu. Aku janji deh nggak buat onar lagi, tapi kamu mau ya bantu aku? Kamu bersedia jadi temanku saja... Aku nggak berharap muluk-muluk kok, lagian aku cape jadi pungguk merindukan bulan! Bulannya terlalu judes dan terlalu galak sih,” goda Arga.
“Biarin! Emang kamu harusnya dijudesin!” Dini tak urung tersenyum juga, hatinya meleleh nggak mau marah-marah terus pada cowok yang tampaknya serius mau berubah.
“Ga, kamu hari ini nggak masuk sekolah tapi kok malah milih main ke rumah aku?” Dini bertanya masih dengan nada agak ketus.
“Iya aku tadi pagi masih sedikit sakit, tapi jenuh banget di rumah, sepiiiiiii banget! Ngebosenin deh! Kurasa lama-lama rumahku akan berhantu juga!”
“Huss ngomong kok ngelantur! Nggak usah lama-lama nunggu berhantu deh! Wong hantunya saja sudah ada,” Dini melirik Arga yang balik melotot.
“Apa! Jadi aku anggap kamu hantu! Tega!” Arga pura-pura kesal, padahal hatinya girang soalnya Dini mulai suka balik menggodanya dan mulai luntur kekakuan yang selalu dia ciptakan.
“Aku sangat kesepian, makanya aku minta anterin Mang Darma kemari dan ternyata Ibu kamu pas buka pintu pingsan, jadi maaf aku nggak nyesel kok hari ini bolos,” ungkap Arga tulus.
“Arga... Arga... lagi-lagi kamu menolong aku. Terima kasih ya, mungkin aku juga perlu minta maaf soalnya kemarin-kemarin… yaah sikap aku...” Dini sebenarnya susah mengakui kesalahannya dan Arga tahu itu.
“Ya sudahlah lupakan! Aku juga salah terlalu percaya diri punya pacar Sang Bintang. Memang siapa aku?” Arga berusaha berhati besar.
“Ga jangan begitu, maaf ya... mungkin aku terlalu muluk juga mendapatkan cinta sempurna dari seorang Widi,” Dini pun tetap bicara jujur terhadap Arga biarpun itu menyakiti hati Arga.
***
Ternyata Arga juga bisa menjadi teman ngobrol yang mengasyikkan, bahkan tanpa disangka suka ngelucu dan bisa membuat Dini tertawa terbahak-bahak.
“Eh Ga, aku tuh heran waktu di kamar kamu kok banyak banget buku resep masakan?” kemarin saat Arga pingsan dirinya sempat membuka buku resep makanan kuliner, resep berbagai mengolah ikan dan juga membuat jajanan pasar di meja belajar Arga.
“Upps… kamu nemuin buku-buku resepku juga ya... eee… itu punya Bibi Manisa kok! Dia kan suka baca-baca di kamarku juga!” Arga coba mengelak.
“Ihhh bohong, kurasa kamu diam-diam suka masak ya? Baguslah jadi aku kenal kamu nggak hobi berkelahi aja tapi juga suka masak! Keren lagi! Chef zaman sekarang kan kebanyakan cowok ganteng,” Dini memasang wajah serius.
“Nah itu dia! Kamu benar aku Chef yang ganteng!” kata Arga menaikkan kerah baju kaosnya.
“Ihh maunya! Siapa bilang kamu ganteng!” Dini mencibirkan bibirnya.
“Mama akulah! Dia bilang aku anak tergantengnya,” bela Arga tersenyum, menatap Dini yang keki. Ada semburat merah di pipinya.
“Iya-iya ganteng banget kok! Puas?” Dini menatap tajam Arga, lalu berdua tertawa terbahak-bahak lagi.
Dan tak terasa keasyikan ngobrol jam di ruang tamu sudah menunjukkan jelang waktu Asar.
“Aku pulang dulu ya Din, udah mau sore... boleh kan aku main ke rumah kamu atau kapan-kapan gantian ya kamu yang main ke rumah aku?” Arga berpamitan.
“Iya, kapan-kapan deh aku penasaran Ga liat taman di roof top kamu, pasti keren ya di malam hari,” Dini teringat akan sebuah taman di lantai tiga rumah Arga yang bisa dilihat saat sebelum masuk ke pelataran parkir.
“Oh iya, itu taman yang paling tenang untuk menyendiri, indah sekali kalau malam pas bulan dan bertabur bintang. Kapan-kapan aku ajak kamu ke sana,” Arga menatap hangat Dini.
Ingin tangannya mengelus pipi Dini yang lembut, tapi sekuat hati Arga menahan untuk berlaku yang tidak-tidak! Dirinya sudah berjanji barusan hanya meminta Dini mau jadi temannya. Daripada Dini berubah
pikiran dan sikapnya menjadi kaku lagi. Dirinya harus bisa menahan untuk memberi kesempatan pada Dini untuk mengenal dirinya. Dan itu masalah waktu.
“Dagh... istirahat gih sana!” Arga menyuruh Dini masuk.
“Ih ini rumahku, kok kamu yang ngusir,” Dini menjawab balik.
“Ya sudah terserah kamu, nanti kamu kangen lho kalau melepas aku sampai nggak kelihatan di ujung jalan,” Arga nyengir kuda melihat wajah Dini yang langsung pasang wajah angker.
“Maaf... bercanda... dagh...” dan Arga masuk ke mobil lalu menyuruh Mang Darma yang sempat tidur
menungguin tuannya yang asyik bercengkerama dengan orang yang Mang Darma tahu sangat disayangi.
Mang Darma ikutan senang karena sedari tadi tampaknya tuan mudanya bisa tersenyum bahagia, hal yang jarang dia tampakkan di rumah.
“Kasihan Mas Arga, dia memang butuh orang dekat...” gumam Mang Darma melihat dari kaca spion tengah mobilnya, Arga tampak terlelap tidur di jok mobil belakang sedan mewahnya.
Selepas kepulangan Arga, hati Dini lebih ceria, “Hmmm… semoga Arga bisa ngerti kalau aku hanya bisa menjadi teman saja dan dia juga tidak bersikap aneh yang membuat aku marah.” Ardini tersenyum sendiri sambil menatap wajahnya dalam cermin berukuran sedang di kamarnya.
“Apa yang buat Arga suka aku? Aku tak secantik Angel. Bahkan Widi tak pernah sekalipun mengagumi wajahku. Tapi kenapa Arga begitu suka dengan aku?” Dini bicara sendiri sambil mengamati wajahnya.
“Heh sepertinya Arga mulai stres dengan kesepian, makanya ngeliat aku kaya bidadari saja!” Dini bicara sendiri sambil menyambar handuk untuk mandi.
***
Dini sudah nggak merasa heran lagi kalau hari Sabtu pagi Arga sudah nongol, padahal dirinya belum kelar beres-beres dan belum mandi juga.
“Ga, kamu emang nggak ada jeranya ya! Padahal sudah aku semprot dengan air selang waktu lalu,” Dini asyik menyirami bunga-bunga mawar, melati dan anggrek.
“Yah air doang, enggak buat aku jera lah!” Arga duduk-duduk di bangku kayu deket kolam ikan sambil memberi makan ikan peliharaan ayah Dini.
“Ga… kamu rapi banget, mau ke mana sih?” Dini duduk di samping Arga sambil menyemprot kakinya yang kotor oleh tanah.
“Ya ke rumah kamulah, rapi apanya cuma pakai kaos juga,” jawab Arga cuek.
“Psst diam-diam, hmmm… kamu juga wangi banget! Kaya pakai minyak wangi kembang setaman satu galon, hahahahaha,” ejek Dini.
“Ih masak minyak wangi kembang setaman, enak aja!” Arga pura-pura kesal.
“Hehehe… aku belum mandi lho! Tapi wangi juga kan?” Dini sok kepedean.
“Ih cantik sih cantik tapi belum mandi tetap aja bauuuuuuuu... hus sana-sana mandilah!” Arga baru kali ini mengusir Dini untuk menjauh, padahal sih Dini mau mandi atau nggak Arga nggak peduli! Dekat dengan Dini selalu membuat hatinya berdebar dan tak mau jauh. Makanya Sabtu pagi daripada mainan PS di rumah sangat membosankan, Arga memilih kabur kemari, tanpa perlu diantar mang Darma juga.
Tanpa sadar Dini jadi ingin tampil cantik dan tak lupa menyemprotkan deodorant spray jasmine setelah selesai mandi.
“Nah gitu dong, wanginya!” Arga mengendus-endus baju Dini yang langsung ditabok oleh Dini, “Ih apaan sih! Norak!” Arga protes, “Dikit aja!”
“Din jalan-jalan yuk, mau nggak nonton film animasi Up? katanya bagus lho filmnya,” ajak Arga.
“Oh iya, kemarin Mela cerita filmya keren. Aduh boleh nggak ya sama Ayah?” Dini langsung ragu.
“Up itu film animasi buatan Pixar, ceritanya unik dengan tokoh utamanya seorang kakek lanjut usia dan seorang bocah pramuka bernama Russel. Kata Mela di menit pertama membuat menangis tapi menit selanjutnya membuat terbahak-bahak melihat tingkah si bocah pramuka. Film animasi drama, komedi sekaligus petualangan yang dikemas dengan baik,” terang Arga.
Dini tampak antusias ingin menonton film Up ini.
“Kira-kira kalau aku minta izin Ayah Ibu ajak kamu nonton, boleh enggak ya?” Arga meminta persetujuan .
“Coba aja,” tantang Dini nggak yakin.
Ternyata....
“Ayah mengizinkan kok kalau Mas Arga mau ngajak nonton, tapi setelah film selesai langsung pulang, tidak usah mampir ke mana-mana. Kalau mau makan tetap di rumah saja,” kata Pak Danu bijak.
***
Mobil mewah sedan Arga meluncur perlahan, Arga menyetir dengan hati-hati. Diputarnya lagu-lagu tenang grup band Indonesia, Hijau Daun.
Arga bersenandung mengikuti lagu Hijau Daun yang Dini tahu berjudul Sampai Kau Bicara “... Aku masih menunggumu bicara... kunanti jawaban di hatimu... dalam gelap ini dalam diam ini... kuharap nanti waktu yang akan menemukanmu... apakah hatimu masihkah milikku...”
Dini memilih diam melihat jalanan siang yang lebih bersahabat. Sesekali mencuri pandang menatap Arga dari samping.
Dan tak terasa sudah sampai di Twenty One Cineplex dengan poster Up terpasang besar.
“Aku beli tiket dulu ya Din, tunggu sini aja!” Arga meninggalkan Dini.
Dari jarak tertentu Dini memperhatikan Arga yang sudah kelar membeli tiket dan tengah mengantri untuk membeli pop corn dan minuman.
Baru saja mereka masuk dan akan duduk, mata Dini bertatapan dengan sepasang mata yang sudah menghancurkan hatinya.
“Ya ampuun… Dini dan Arga! Wah kalian berkencan!” suara Angel mengagetkan Dini dan Widi yang tengah berpandangan.
“Eeeem!” Angel mendehem.
Membuat Dini tersadar lalu spontan Dini memilih menarik tangan Arga dan berpura-pura bersikap manja.
Arga rada kaget juga tapi sadar kalau Dini tengah bersandiwara agar tidak tampak tengah patah hati melihat kemesraan Widi dan Angel yang ternyata pas duduk di depan Arga dan Dini.
“Din, kamu mau pindah saja?” Arga sadar pasti Dini bakalan nggak tenang selama nonton karena melihat Widi dan Angel di keremangan duduk sangat berdekatan. Tampak jelas Angel mau menunjukkan kemesraan mereka.
“Nggak apa-apa Ga, udah cuekin sajalah! Aku juga ada kamu. Sorry tadi aku tarik tangan kamu spontan soalnya biar Angel nggak berpikiran negatif terus akan diriku. Sepertinya Angel cemburu denganku, padahal kamu juga tahu aku sama sekali nggak ada apa-apa dengan Widi,” Dini berbicara setengah berbisik di telinga Arga. Dan Arga menyetujui dengan mengangguk-angguk kepalanya.
Sepanjang film diputar, Angel dan Widi tampak sekali dekat. Dini mencoba konsentrasi dengan film Up, tak urung mendadak terasa hambar.
Saat bersamaan Arga tiba-tiba menggenggam tangannya dan hati Dini merasa berdebar tak tahu harus berbuat apa. Menolak Arga saat ini? Nyatanya genggaman Arga cukup membuat hatinya yang pilu lebih menghangat walau kebencian masih terbersit ada.
Selesai pemutaran film, Arga sengaja merangkul Dini dan bergegas untuk meninggalkan tempat duduk duluan. Arga memperlihatkan dirinya yang melindungi dan mesra di hadapan Widi dan Angel.
Diam-diam hati Dini merasa bahagia ternyata Arga ingin membalas kemesraan mereka yang sepanjang film sengaja diperlihatkan di hadapan Dini. Dini saat ini dalam rangkulan Arga maka Angel dan Widi bisa melihat sebaliknya kemesraan Dini dan Arga ciptakan.
Tapi kebahagiaan hatinya hanya sesaat, nyatanya tak ada kilatan cemburu di mata Widi saat Arga jelas-jelas merangkulnya. Tampak tatapan Angel yang meremehkan dirinya saat Arga sengaja mengelus rambutnya.
Dini tak peduli kalau Angel menganggapnya berpura-pura, yang jelas hatinya cukup puas membalas kemesraan mereka. Walau sejujurnya dalam lubuk terdalam Dini, bukan ini yang diharapkan, karena memang tak berarti apa-apa juga buat Widi.
Selamanya Widi tidak akan pernah cemburu dirinya dengan siapa saja dan selamanya Widi tidak pernah bisa dimiliki, karena tidak pernah tahu hatinya yang sangat menyayanginya.
***
Kehadiran Arga tidak membuat Dini meradang lagi sekarang, tapi ada cerita-cerita lain yang berbeda dalam episode hidupnya selama ini yang hanya bergumul dengan segudang prestasi.
Menemukan warna-warna masa remaja dengan bisa dekat sesosok cowok, walau Arga tadinya dianggap biang onar.
Arga tidak lagi biang onar, dia malah selalu melindungi dan menjaga Dini bila Angel dengan gayanya sengaja memanasi Dini dengan berlaku terlalu mesra yang dirasa nggak penting menurut Arga.
Arga rela bersandiwara bersikap mesra dengan Dini di depan Angel dan Widi agar Angel sadar tidak perlu khawatir Dini akan merebut Widi darinya. Hanya Arga yang tahu bila Dini masih saja meneteskan air mata diam-diam setelah melihat kemesraan yang diperlihatkan oleh Angel.
Mereka memang sangat mesra, terlebih Widi sangat mendukung semangat belajar Angel. Angel juga mulai percaya diri karena perlahan nilai-nilai mata pelajarannya membaik. Semester ini Angel bertekad membayar semua kesalahan tahun lalu.
Arga cukup puas dengan anggapan hanya sahabat, Arga merasa sudah mencoba untuk menjaga perasaan Dini dari rasa sakit hati yang tak bisa padam bila melihat kebersamaan mereka.
***

Other Stories
Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Download Titik & Koma