Aku Pulang

Reads
2.5K
Votes
3
Parts
15
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 5 - Ayah Mau Ke Mana?

Sejak pertengkaran ayah dan ibunya sore itu, suasana di rumah tidak pernah benar-benar nyaman. Seolah udara di ruang tamu yang dulu terasa hangat karena suara tawa dan obrolan menceritakan gosip tetangga, kini sedingin Kutub Utara. Padahal, sebelumnya Naya masih suka berisik selama anak itu tidak tidur. Pun, akan diam jika ayah atau ibunya menegur. Sekarang, adiknya itu seakan paham dan memilih diam. Seolah tengah menyimpan rahasia yang tak ingin diungkapkan.

Bagi Raina, perubahan itu begitu terasa. Ayahnya, yang dulu selalu pulang dengan senyum lelah, tetapi masih menyempatkan untuk menanggapi celotehan Naya. Kini lebih sering pulang larut, bahkan menjelang pagi, atau tidak pulang sama sekali. Ibu pun semakin gencar uring-uringan tiap hari, persis seperti gunung berapi yang sedang erupsi tanpa jadwal letusan pasti.

Saat sempat pulang pun, langkah ayah tergesa-gesa. Seolah rumah hanyalah tempat singgah sementara. Ia hanya mampir sebentar, mengambil barang-barangnya, atau membuka tutup kamar Naya. Memastikan bahwa putri bungsunya ada di sana. Setelah itu, ia pergi lagi tanpa sempat duduk, tanpa sempat mendengarkan cerita anak sulungnya yang sudah lama menunggu.

"Ayah lagi banyak kerjaan, Mbak. Mbak kalau ada perlu, chat Ayah aja. Nanti Ayah bantu."

Nanti itu kapan?

Raina memperhatikan semuanya dalam diam. Di sudut ruangan, ia sering mengintip, menanti waktu yang tepat untuk mendekat dan sekadar mengatakan bahwa aku merindukan ayahnya. Namun, kata-kata itu selalu terhenti di tenggorokan. Ada ketakutan yang tak bisa dijelaskan. Ketakutan akan tatapan ayah yang kini terasa berbeda. Lebih dingin, jauh, dan tidak lagi menyimpan kehangatan seperti dulu. Terlebih, ia takut jika kehadiran Raina akan semakin membuat ayahnya terganggu.

Menjelang akhir pekan, guru seni budaya di sekolahnya memberikan tugas untuk melukis sesuatu yang bermakna. Jelas itu membuat Raina bersemangat. Ia teringat bagaimana ayah dulu sering bercerita tentang pelukis terkenal, tentang makna warna, tentang goresan kuas yang bisa menyimpan perasaan. Ayah bukan pelukis, tapi ia punya cara membuat seni terdengar begitu hidup. Bagi Raina, cerita dari ayahnya seputar dunia seni itu membuatnya terkagum. Ia tidak pernah mendengar sang ayah begitu menggebu-gebu jika menjelaskan sesuatu.

Ini kesempatan emas, pikir Raina. Ia bisa melukis sambil mendengarkan cerita Ayah lagi. Mungkin Ayah akan tersenyum bangga jika meminta bantuannya.

Raina sudah sangat semangat untuk pulang. Padahal, biasanya ia akan menunggu waktu sedikit lebih lama dan ia meminta Pak Iqbal untuk mengajarinya beberapa materi tambahan untuk di sekolah. Namun kali ini, hatinya benar-benar hanya terisi untuk pulang ke rumah.

Setelah dari tempat Pak Iqbal, ia mengayuh sepeda dengan senyum cerah sepanjang jalan. Hatinya kian girang, tatkala masuk halaman, ia barengan dengan sang ayah. Iya, ayahnya pulang.

Raina memarkir sepedanya dan langsung masuk ke rumah. Segera mandi dan membawa peralatan untuk melukis ke ruang tengah. Menunggu sang ayah yang terlihat belum keluar dari kamarnya sama sekali. Samar-samar, ia mendengar suara dari kamar mandi. Pikirnya, mungkin ayahnya sedang mandi.

Entah dari mana ide itu terpikirkan, saat ini Raina tengah berkutat di dapur merebus air. Lalu, menggoreng sisa pisang yang diberikan oleh Aska dua hari lalu. Ayahnya suka sekali dengan pisang goreng dan kopi. Rencananya, ia akan memberikan itu kepada ayahnya agar mau menemaninya memberikan arahan untuk tugasnya. Kopi dan pisang goreng sudah rapi di atas meja. Hampir setengah jam kemudian, ayahnya keluar dari kamar. Rambutnya sedikit basah, cuma pakaiannya sedikit lebih rapi. Apa ayahnya akan pergi lagi?

"Ada acara, Yah?" tanya Raina begitu melihat ayahnya mendekat ke dapur.

Ayahnya mengangguk. Pria itu mengambil sesuatu di atas laci atas, diketahuinya sebuah kotak yang entah isinya apa.

"Ayah mau ketemu teman lama. Udah nungguin dari tadi soalnya. Gak enak," jawab Ayah. "Gak jauh kok. Di warung ujung."

Manusia boleh berandai tinggi, hanya saja harus bersiap dengan apapun yang akan terjadi. Sebab, realita tak seindah imajinasi dalam kepala.

Setalah mengatakan itu, Ayah langsung menuju kamar dan tak lama kemudian keluar sembari membawa ransel cukup besar. Jalannya sedikit terburu. Naya, yang kebetulan sedang menggambar di buku kecilnya di ruang tamu, dengan manja menarik tangan ayah. Membuat si kepala keluarga itu menghentikan langkahnya sejenak. Pria itu lantas duduk di samping putri bungsunya.

“Ayah, lihat gambar Naya, dong!” pintanya riang.

Senyumnya kembali muncul, meski hanya samar. “Wah, bagus sekali gambar, Nya. Bakat Ayah benar-benar ada di kamu. Nanti besar jadi seniman, ya! Biar beda dari Mbakmu.” Ia mengusap kepala Naya sebentar, lalu kembali meraih ponsel dari saku. Notifikasi berbunyi. Wajahnya berubah serius, lalu segera bangkit.

"Ayah harus keluar. Nya, nurut sama Mbak, ya! Jangan bandel!" Ayah mengelus surai Naya dan tersenyum puas saat anak bungsunya mengangguk. "Mbak, titip Naya! Ayah keluar dulu."

Raina hanya mampu berdiri di ambang pintu. Ia menggenggam jemarinya kuat. Aku juga mau Ayah lihat gambarku. Aku juga mau dengar Ayah bilang aku pintar. Kenapa hanya Naya? Kenapa setiap kali aku mau bicara, Ayah selalu pergi?

“Ayah!”

Raina melepas apron dan berlari mengejar. Namun, langkah besar ayah sudah lebih dulu keluar dari pelataran rumah. Meninggalkan gema sunyi yang menyesakkan.

Raina kembali duduk di kursi meja makan. Menatap secangkir kopi dan pisang goreng buatannya yang masih mengepul asapnya. Lalu, beralih pada kanvas yang masih kosong tanpa polesan apapun. Lantas, ia membuka cat, serta menyiapkan kuas beserta air. Tangannya gemetar saat mencoba menggoreskan beberapa warna di atasnya. Bukannya menjadi lukisan indah, goresannya justru berantakan. Air matanya jatuh, bercampur dengan cat, membuat warna semakin keruh.

Bagaimana aku bisa melukis tentang kehangatan keluarga, kalau di sini aku kedinginan?

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Ingatannya kembali pada masa lalu, saat sang ayah masih sering menemaninya ke toko buku untuk membelikan buku cerita. Saat itu, ayah selalu mampir ke barisan alat melukis. Ayahnya membelikan beberapa pensil warna atau krayon, beserta buku gambarnya juga.

“Kalau kamu bingung mau pakai warna apa, coba tutup matamu dan rasakan apa yang ada di hatimu. Warna akan muncul sendiri. Kalau pun gak bisa memilih warna, Ayah akan selalu membantu untuk mewarnai gambarnya sampai jadi."

Setiap kali Raina menutup mata, yang muncul hanyalah bayangan punggung ayah yang semakin menjauh. Tidak ada warna cerah atau setidaknya sehangat biru di langit. Adanya, hanya kabut kelabu yang melingkupi ruang dadanya.

Kenapa ayah tidak membantu untuk mewarnai lagi? Apa ayah bosan dengan hasil warnaku yang tidak pernah sempurna? Ayah bilang dia akan membantu, tapi kenapa aku dibiarkan sendiri saat ini?

Beberapa hari berikutnya, pola itu terus berulang. Ayah jarang pulang. Bahkan ketika pulang, Raina merasakan aroma asing pada pakaiannya. Parfum yang bukan milik ibunya. Hati Raina mencelos, tapi ia tidak berani mengatakan apa-apa. Ia masih terlalu muda untuk mengerti sepenuhnya, tapi cukup peka bahwa ada sesuatu yang salah.

Setiap malam, Raina menunggu di ruang tamu, berpura-pura membaca buku. Ia berharap sang ayah datang, duduk di sampingnya, lalu bertanya tentang hari-harinya di sekolah. Hanya untuk sesimpel menyapa saja, rasanya mustahil. Sebab, ayahnya akan pulang dan langsung menuju satu kamar kosong yang berada di samping ruang tamu tanpa menyapa Raina terlebih dahulu.

Minggu-minggu berikutnya, Raina masih menunggu kedatangan sang ayah, tapi yang datang hanyalah suara jam dinding dengan detaknya semakin melambat. Seperti menertawakan kesendiriannya.

Ayah mau ke mana, sebenarnya? batinnya berkali-kali bertanya. Apa ayahnya benar-benar sedang banyak customer dan memilih tidur di kios selama berhari-hari? Bahkan, ini sudah lebih dari dua minggu.

Ia tidak menemukan jawaban pasti. Rasa rindu itu semakin hari, semakin berat. Padahal, Raina rasa aneh apabila merindukan orang yang ada tepat di hadapannya.

Saat mendengar pintu dibuka, Raina buru-buru keluar kamar. Benar, itu ayahnya. Pria itu masuk ke kamar kosong seperti hari-hari sebelum ia tidak pernah pulang sama sekali. Di situ, Raina mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar. Suara ayahnya mengatakan jika kamar tersebut tidak dikunci.

Mata bening Raina meliar. Ruangan dengan cahaya remang itu tidak banyak barang.

“Yah …” panggil Raina pelan.

Ayah menoleh sebentar. “Hm?”

“Aku dapat tugas melukis di sekolah. Bisa nggak Ayah ajarin aku, kayak dulu?”

Ayah terdiam. Matanya menatap Raina sekilas, lalu menghela napas panjang. “Ayah sibuk, Mbak. Besok saja, ya.”

Raina akhirnya hanya mampu mengangguk tanpa bantahan. Matanya tidak bisa berbohong bahwa ia kecewa amat dalam. Namun, ia juga tidak bisa memaksa sang ayah untuk menuruti permintaannya. Raina juga tidak buta, meski cahaya di ruangan tersebut cukup remang, ia melihat wajah lelah ayahnya dari kejauhan.

Sayangnya, besok yang diucapkan oleh sang ayah tidak pernah datang. Pria itu pergi ketika mentari belum terbit, bahkan Raina saja belum bangun, mungkin. Raina mencoba untuk mengirim pesan, seperti yang ayahnya katakan tempo lalu. Namun, jawabannya selalu sama. Besok. Hingga kata itu kehilangan maknanya. Kini, Raina berhenti meminta.

Raina akhirnya melukis sendiri. Ia melukis sebuah rumah utuh. Indah dengan jendela yang terbuka sempurna, tapi tak ada pintu di sana. Sampa seperti rumahnya, tempat ini memberi harapan untuk sebuah kehidupan, tapi tak pernah benar-benar memberi ruang untuk bernaung.

Selesai melukis, Raina menatap karyanya lama sekali. Hatinya perih. Setidaknya kini ia bisa menuangkan perasaan yang tak bisa diucapkan.

“Mungkin ini bukan kehangatan,” gumamnya lirih. “Tapi, inilah kenyataan yang kurasakan.”

Raina tahu, ia tidak bisa memaksa ayah untuk kembali seperti dulu. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyimpan harapan kecil, bahwa suatu hari nanti, ayahnya akan kembali. Bukan hanya sebagai bayangan di sudut rumah, melainkan benar-benar menjadi tokoh utama dalam layar kaca. Meskipun ia tidak tahu kapan itu akan terjadi, Raina akan tetap berdoa terus setiap hari.

Kadang, kehilangan tidak datang dengan kabar. Kehilangan tidak termuat dalam surat pemberitahuan terlebih dulu. Ia muncul secara perlahan atau dadakan. Melalui langkah yang menjauh, melalui tatapan yang tak lagi sama, melalui pintu yang sering tertutup lebih cepat dari biasanya, melalui dari gestur yang kian dingin melampaui suhu di kutub sekalipun, melalui suara yang meninggi ataupun hilang sepenuhnya dari bumi.

Jika rumah adalah benar-benar tempat sebenarnya untuk pulang, lantas mengapa tidak ada sambutan hangat dari sana? Kenapa tidak ada suara ayah yang menegur saat tawa terdengar tetangga? Kenapa tidak ada celoteh ibu yang berbagi kisah tentang peristiwa di desa? Apa ini benar-benar rumah yang katanya utuh dan sempurna?


Other Stories
Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Download Titik & Koma