Cinta Bukan Ramalan Bintang

Reads
960
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
cinta bukan ramalan bintang
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Penulis Nenny Makmun

Again! Alone!

Yang ditakuti Valen menjadi kenyataan, karena pagi-pagi Narian sudah memasang wajah ceria.
“Val semalam Argi nembak aku lho?” Narian tersenyum genit.
“Terus?” Valen jadi tegang.
“Bintang dia Libra, cocok jadi cowok yang aku idamkan. Libra dan Gemini pasangan tercocok soal asmara,” Narian kembali akan menerima cowok lagi-lagi karena zodiaknya sesuai dengan ramalan bintang sebagai zodiak yang paling pas untuk Gemini.
“Narian! Please! Again? Kamu terima Argi hanya gara-gara zodiaknya Libra? Kamu yakin nggak akan kecewa lagi seperti dengan Kak Dito kemarin? Kamu bilang zodiak Kak Dito sudah paling pas, nyatanya...” Valen mencoba mengingatkan Narian untuk tidak terjebak dalam ramalan zodiak.
“Kalau Aqurius nggak cocok berarti kesempatannya hanya Libra yang paling pas, karena memang ada dua kesempatan apakah Aquarius atau Libra yang akan paling cocok dengan Gemini. Hmmm nggak ada salahnya aku menerima Argi yang berbintang Libra. Valeeeen, kamu lihat Argi juga gak kalah ganteng, tajir dan pintar meskipun bukan IPA seperti Kak Dito, tapi dia memang tertarik dunia bahasa. Bahasa Inggris dia kereeen dan cita-cita dia jadi diplomat, kebayang nggak kalau aku jadi pasangannya? Aku akan jadi dokter yang sekaligus menikmati jalan-jalan ke luar negeri mengikuti Argi yang bertugas sebagai diplomat.”
Narian bercerita penuh dengan angan-angan tingginya. Selalu berdasar ramalan bintang! Valen jadi pusing dan mual.
Kalau sudah begitu Valen nggak bisa berkutik apapun, Narian terlalu addict dengan teori ramalan bintang dan harapan-harapannya yang terlalu muluk.
“Terserah kamu deh! Oh ya kamu izin dulu dengan Argi boleh bonceng aku atau nggak! Setahuku dia anaknya posesif!” Valen berkata ketus, hatinya penuh cemburu sekaligus marah dengan dirinya yang selalu kalah telak hanya gara-gara zodiak yang nggak pas untuk dijadikan kekasih buat Gemini.
***
Sempurna sudah kesendirian Valen, ternyata Argi tidak lagi mengizinkan Narian berangkat dan pulang dengan sepeda balap Genio Valen.
“Val! Sorry ya aku pulang bareng Argi. Besok kamu juga gak usah jemput aku lagi soalnya Argi yang jemput aku juga. Kita sudah jadian dan harus selalu bersama-sama. Oh ya, Val kali kamu harus punya pacar juga lho sebaiknya, hmmmm oh ya… Martha! Kamu selalu WA-an kan sama dia! Sepertinya Martha itu suka lho ke kamu! Val ayolah kamu terima Martha saja biar nggak kesepian lho tanpa aku,” Narian bicara seakan tak punya hati.
“Hmmm sudah nggak usah repot-repot mikirin aku. Aku balik dulu ya! Tuh Argi udah nyamperin kamu mau ngajak pulang bareng,” Valen bicara ketus dan menatap dingin Narian.
“Val! Please senyum dulu… jangan buat aku merasa bersalah gini dong!” Narian memegang tangan Valen.
“Sayang! Ayo cabut!” suara Argi tegas dan membuat Narian segera melepas pegangan tangannya pada tangan Valen dan memilih berbalik.
“Val hati-hati ya! Nanti kita teleponan ya... dagh...” Narian segera berbalik dan disambut rangkulan hangat Argi menuju sepeda motor Ninjanya, berdua langsung melesat cepat meninggalkan Valen yang hanya bisa menatap hampa.
“Nasib-nasib... alone deh aku!”
Valen mengayuh sepeda balapnya dengan lesu. Biasanya dia pulang dengan semangat walau panas matahari menyengat dirinya dan Narian. Tapi sadar takut Narian kepanasan biasanya Valen seakan melebarkan tubuhnya agar bisa melindungi Narian yang dijaga dengan dua tangannya yang memegang stang sepeda.
Hari ini rasanya terlalu ringan dia mengayuh, tak ada beban dan kehangatan yang seperti biasanya dirasakan saat membonceng Narian. Semuanya terasa sepi dan hampa.
Sore hari Valen menunggu telepon Narian, tapi yang ditunggu tak kunjung menelepon juga, bagaimana mungkin Narian ingat untuk menelepon Valen karena dirinya tengah menonton film bersama Argi di XXI.
***
Sudah sebulan rasa sepi menyapa, Narian memang berubah. Saat dekat dengan Kak Dito Narian masih tetap bersamanya, tapi sejak jadian dengan Argi sepertinya dunia Narian hanya untuk Argi. Argi sepertinya membatasi Narian untuk bersama Valen.
Bahkan tampak sesekali dekat dengan Valen untuk sekedar bercanda atau membacakan ramalan bintang Narian seperti harus sembunyi-sembunyi.
Valen tahu kalau Argi memang sifatnya sangat memiliki, termasuk dalam pacaran. Sepertinya Narian sudah tidak bisa lagi bercanda seperti dulu dengan membacakan ramalan-ramalan bintang dirinya dan teman-temannya.
“Val, sejak Narian jadian dengan Argi sepertinya enggak asyik lagi ya tuh anak! Meski gila ramalan bintang tapi dia lucu sebenarnya, kangen juga dengan ramalan-ramalan bintang yang suka dia bacain...” Arnita teman sebangku Narian pun merasa kehilangan The Horoscope Girl.
Valen merasa kangen dengan berita-berita ramalan bintang Narian, bukan karena isi ramalannya tapi karena kekocakan Narian dan gayanya yang sok kayak cenayang profesional saat membacakan berbagai ramalan bintang teman-teman yang lain.
“Ah kenapa kamu jadi pendiam Narian? Ke mana Horoscope Girl yang ceria?” Valen melaras sendiri.
Ternyata memang tidak hanya Valen yang kehilangan Horoscope Girl, sifat Narian yang ceria tapi juga teman-teman yang kerap ingin dibacakan ramalan bintang oleh Si Horoscope Girl.

Other Stories
Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Padang Kuyang

Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Download Titik & Koma