Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Reads
4K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
cinta di 7 keajaiban dunia
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Penulis Nenny Makmun

Fighting Romance

September 2014, Paris. Di sebuah Paviliun Apartemen.
“Paris... Ooh, Paris... L’automne[1] yang sangat dingin,” ujarku takjub.
Pepohonan mulai berwarna kekuningan dan burung-burung mengepakkan sayapnya mengawang
berimigrasi ke daerah yang bersuhu panas bagaikan layang-layang yang penuh mengisi langit.
“Berkunjung ke Menara Eiffel sangat cocok untuk yang berbulan madu, bersama keluarga atau bersama teman-teman, tapi sekarang aku berdiri di sini untuk tugas liputanku,” gumamku.
“Bienvenue ‘a Paris, Seigneur Dimas et Devi dame.”[2] Albert, kepala pengurus Pavilliun menyapa sopan.
“Merci beaucoup,[3] Albert,” jawab Dimas.
“Semuanya sudah saya persiapkan Tuan Dimas. Mobil sudah menunggu, Anda tinggal berangkat.”
“Yakin? Tak ada yang tertinggal, Albert?”
“Ya, Tuan. Bahkan pesanan pribadi atas Nona Devi juga, semuanya sudah disiapkan.\"
“Ok. Merci,[4] Albert.”
“Soyez heureux, Seigneur, Dimas. J’espere que votre voyage amusant.”[5]
Aku yang berdiri di depan jendela, berdiri diam terpaku. Kemudian aku menebarkan pandangan pada gedung-gedung setinggi tempat yang sebelumnya sudah dipesan ini akan beristirahat selama perjalanan liputan di Paris.
“Devi, honey... Ayo kita siap-siap berangkat ke sana!” Dimas mengajakku mesra.Aku mengangguk, lalu beranjak meninggalkan tempat berdiri. Aku berjalan riang menghampiri Dimas, kugandeng tangan kekar itu.
Menara Eiffel
Tempat bersejarah sekaligus simbol percintaan merupakan objek wisata yang ramai dikunjungi para wisatawan mancanegara maupun masyarakat lokal. Menara besi baja yang dirancang Gustave Eiffel, dengan ketinggian 325m, pada tahun 1930 merupakan menara tertinggi di Eropa, dibangun di lokasi Champ de Mars di pinggir Sungai Seine.
Setibanya di lokasi, kami masuk ke atas dengan lift menuju ketinggian puncak tertinggi menara. Di sana kami melihat pemandangan Kota Paris dengan teropong-teropong yang disediakan.
Berfoto-foto dan berbelanja cindera mata.
Saat kami akan bersantap siang, tak sengaja aku bersenggolan dengan seorang lelaki yang ternyata adalah Rifky, mantan kekasihku sendiri.
“Ooh, desole,” ujar Rifky. Sesaat saling pandang. Aku serasa slow motion bertemu dengan orang yang selama ini melukai hatiku.
“Rifky, ngapain kamu di sini?” tanyaku kaget dengan nada sedikit ketus.
“Hai, Devi. Apa kabar? Hai Dimas,” sapa Rifky canggung.
***
Jembatan Pont des Art.
Cuaca sedikit berkabut menimbulkan siluet pada objeknya. Membuat Dimas sedikit kesukaran dalam memotret.
“Dimas, mana pesanan pribadiku?” tanyaku mengagetkannya. Dimas dengan tawanya yang khas sedikit bercanda denganku.
“Hoo... hoo... hoo. Wadduh, aku taruh di mana ya itu benda keramat?”
“Dimas, jangan bercanda deh. Sejak sebelum menginjakkan kaki di sini kita kan sudah sepakat untuk menggantungkannya dan gembok cinta itu aku khusus beli di sini, kenapa kamu lupa menaruhnya?” tanyaku dengan nada kesal.
“Aku kesal, kamu tuh ya. Ini kan tempat romantis, tapi hal sekecil ini saja kau mudah melupakannya,” aku mulai mengomel.
“Kata orang Paris, lokasi ini adalah hal yang paling romantis untuk memadu kasih. Selain moment dan mood-nya bagus, setting-nya juga oke. Memang sih, romantis itu bisa di mana saja, tapi ini kan kesempatan kita untuk mengabadikannya,” cerocosku.
“Kamu tahu nggak sih, fenomena love padlock alias gembok cinta ini sudah melegenda, kalau ada pasangan yang mengunci gembok cinta di jembatan yang melintang di atas Sungai Seine ini, lalu membuang kuncinya ke sungai sebagai tanda bahwa cinta akan abadi. Tapiii, kalaupun terjadi perpisahan, gembok itu harus diputuskan. Jangan sampai deh,” lirihku.
“Kamu tahu kan kalau gembok cinta ini bukan cuma buat sepasang kekasih, tapi ini menyebar menjadi tanda cinta yang universal. Aku ingin kita meninggalkan jejak, semoga ikrar kita tertambat di sini hingga suatu saat nanti kita kembali lagi ke Paris berdua, ataupun jika kita sudah mempunyai anak, kita bisa menikmati serunya perasaan ketika menemukan kembali gembok cinta kita ini masih terkunci di Pont des Art,” aku menjelaskan secara panjang lebar.
“Nah, ini malah lupa di mana naronya,” aku memanyunkan bibir 5 cm.
“Sssttt, diamlah. Tenang sedikit kenapa?” hibur Dimas.
“Lihat, apa yang kupegang ini,” Dimas memegang gembok cinta berbentuk hati.
“Iihh, Dimas. Bercanda kamu keterlaluan. Aku nggak suka. Aku benci kamu.” aku semakin memanyunkan bibir, sesaat kemudian aku membuang muka dan berbalik menjauhi Dimas sambil menitikkan bulir-bulir bening hangat di kedua pipinya.
“Deviii, hei... mau ke mana kamu? Tungguuu, kita kan belum mengunci gembok cinta dan mengukir nama kita di sini!” teriaknya.
“Mengapa Devi begitu serius dengan masalah mitos-mitos ini? Sejak dari Borobudur dan sekarang hanya gara-gara ini dia marah besar,” aku mendengar Dimas menggerutu, tapi aku tetap cuek.
***
Aku terpisah dengan Dimas. Ada atau tidak ada si Dimas, aku tetap menyusuri jembatan yang bertulang baja tetapi alasnya hanya kayu yang sudah berusia puluhan tahun, dan tidak dilalui oleh mobil, bus atau sepeda motor, kecuali sepeda.
“Jembatan ini sepertinya tidak pernah sepi dari pengunjung setiap harinya,” aku bergumam dalam hati.
Aku melihat sekeliling, banyak ratusan orang datang berdiri, memotret dan menggantungkan gembok di jembatan ini. Di seluruh dinding jembatan yang berpagar kawat telah digantungkan ribuan gembok dari berbagai jenis, bentuk dan ukuran.
Pasangan muda-mudi di sampingnya memasangkan gembok dan melemparkan kuncinya ke dalam sungai, terlihat bahagia.
Aku terheran-heran juga mengingat pertengkaran tadi, rupanya aku sangat terobsesi dengan segala mitos Urung di Borobudur hingga tanpa sadar demi mempertahankan percintaan dengan Dimas, aku bersikukuh untuk mengabadikan di setiap wujud legenda yang ada.
“Aku merasa bersalah pada Dimas, padahal kan kisah percintaan tidak melulu akan abadi seperti mitos dan legenda-legenda ini,” aku menyesal dengan apa yang kuperbuat.
Tergelitik Devi melihat berbagai bentuk gembok dengan ukuran raksasa XXL, mungkinkah itu tanda besar kecilnya rasa cinta mereka? “Aah, entahlah!” seruku.
“Sudah menjelang senja dan aku belum bertemu Dimas lagi. Ya, ampun batere ponselku lowbat lagi,” cemasku.
Tidak jauh dari tempatnya, ia kembali melihat sosok Rifky. “Sungguh kebetulan yang tak disengaja. Tuhan, apa maksud dari semua ini, aku harus bertemu lagi dengannya?” batinku.
Tak berpikir lama lagi meski sungkan, apalagi aku sendirian tanpa Dimas berada di negara asing, panik menyergap pikiranku. Aku menyapa Rifky yang sedang mengamati atau mungkin sedang mencari gembok cinta.
“Rifky,” tegurku.
Rifky menoleh.
“Hei, lagi bengong yaa? Mikirin aku ya?” godaku agar sedikit akrab kembali.
“Kamu di sini sendirian, Dev? Bukannya tadi barengan sama Dimas?” tanya Rifky.
“Dia lagi bersemedi,” aku menjawab pertanyaannya dengan singkat, hanya 3 kata. Jawabanku asal pula.
“Kamu lagi cari gembok cinta kamu?” lanjutku bertanya.
“Eeh, iya. Kok kamu tahu?” Rifky malah bertanya balik.
Aku larut dalam pembicaraan dengan Rifky, jujur sedikit rasa kangen menyerbu hatiku yang meski telah lama tak saling kontak.
“Aku dan dia, perempuan pilihan Mamaku.” Rifky tak melanjutkan.
“Ada apa kalau boleh tahu?” tanyaku penasaran.
“Aku sedang dalam masa-masa sulit dengannya. Kamu tahu... sulit rasanya untuk diceritakan. Dia emang cewek manis, sosok yang sangat sempurna dalam segala hal. Tapi masih mengganjal hati ini, ada sesuatu yang hilang.”
“Huuu! Kamu bohong, dia itu kan perempuan pilihan keluargamu dan kamu menerimanya,” aku berusaha mengingatkan.
“Namun begitu, kami punya komitmen. Ada perjanjian yang harus kami selesaikan.”
“Perjanjian apa?”
“Tak perlu tahu dulu deh. Tapi jawaban itu mungkin tak akan lama karena aku sudah bertemu denganmu lagi. Hanya saja apakah yang aku kejar akan tercapai atau tidak, yaah... nantilah, mungkin ini bukan saat yang tepat.”
“Maksud kamu apa Rifky?”
Rifky hanya diam, mungkin itu privasinya. Ya, sudahlah. Aku juga tak ingin tahu urusan orang.
***
Malam telah tiba, lampu-lampu hias di Menara mulai menerangi. Terlihat sungguh indah. Masih bersama Rifky.
[1] musim gugur
[2] selamat datang Tuan Dimas dan Nona Devi
[3] terima kasih banyak
[4] terima kasih
[5] dengan senang hati dan semoga perjalanan Anda menyenangkan

Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

O

o ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Download Titik & Koma