Fakta Penemuan Dimas
Aku memilih diam menghadapi sikap Ivana yang menjadi berubah. Tadinya kami akan bersenang-senang di perjalanan terakhir meliput 7 keajaiban dunia.
Tapi sudahlah, aku sedang menikmati diamku dan ketenangan hati saat satu kewajiban tengah aku perjuangkan. Jelas menutup aurat bukan hal yang mudah buat aku, aku belum kepikiran begitu banyak baju-baju seksi di Indonesia mau aku apakan. Dan aku besok mau pakai baju hijab apa karena aku hanya punya beberapa potong. Tapi aku bertekad untuk total hijrah. Sekarang aku Devinta Anggraini yang baru.
Berkali ucapan basmallah di bibir dan hati. Ivana lebih banyak diam dan sibuk dengan kameranya atau asyik dengan laptopnya. Mendadak kita menjadi dua orang asing yang tengah bersama.
Aku dengan diamku dan Ivana dengan kesibukannya. kita sama-sama memilih untuk saling diam. Sungguh aku sedih dengan perubahan ini, kenapa hanya karena aku berhijab sekarang Ivana jadi senewen begitu? Tokh kalau mau jujur kita tetap bisa bersenang-senang menikmati Italia, dengan batas-batas kewajaran tentunya.
Aku sekarang harus berhati-hati memilih makanan, tidak lagi semua makanan aku sikat seperti waktu lalu tanpa peduli ada label halal atau tidak.
Aku juga tidak bisa lagi terang-terangan bebas bercanda dengan cowok yang bukan muhrimku dan untuk pakaian jelas aku tidak lagi mau berburu baju-baju terbuka, meskipun bermerek terkenal. Bajuku sekarang yang penting menutup kepala, tidak ketat apalagi pendek seperti kekurangan bahan. Itu baju kemarin-kemarin, tidak dengan sekarang.
Sekarang yang ada di otakku segera menuju ke Menara Pisa dan meliput segala seluk beluk keunikannya. Dan tugas liputan ke 7 keajaiban dunia selesai.
***
Butuh waktu kurang lebih empat jam dari stasiun Roma Termini Kereta yang kita naiki adalah Trenitalia yang berjurusan Genoa.
Aku memilih mengamati kereta karena Ivana malah memilih tidur. Kalau dilihat dari luar, kereta ini bentuknya tidak jauh beda dengan kereta yang ada di Indonesia. Tapi, ketika sudah masuk ke dalam, baru terlihat bedanya.
Kursi sama 2-2 tapi di tengahnya ada meja yang dapat dlipat yang cukup besar. Interior langit-langit di gerbong juga jadi berasa kita ada di pesawat. Yang paling penting semua tampak sangat bersih, termasuk toiletnya juga.
Untuk keluar Stasiun kereta Pisa, atau yang disebut Pisa Centrale, kami harus turun ke basement dan melewati lorong hingga akhirnya naik tangga dan keluar dari stasiun yang tidak terlalu besar ini.
Kita lanjutkan dengan bis untuk menuju Menara Pisa. Di dekat Pisa Centrale ada halte bis dan papan petunjuk rute bis. Tiket bis sebesar 1 euro bisa digunakan dalam waktu 1 jam. Jadi, mau naik bis 2 atau 3 kali selama masa 60 menit, tidak perlu bayar lagi.
Sesampainya di gerbang Menara Pisa, yang berupa benteng di istana, kami masuk melalui satu-satunya jalan masuk yang tidak terlalu besar. Setelah berada di dalam kawasan menara itu, terlihat 4 bangunan besar, yaitu Baptistery, Camposanto, Cathedral, dan Leaning Tower atau biasa disebut Menara Pisa.
Keempat bangunan tersebut berada di satu kawasan yang merupakan halaman besar, yang dikenal dengan sebutan Piazza del Duomo. Sementara di bagian kanan adalah jalan kecil yang di sisinya banyak orang berjualan souvenir.
Kali ini kita tidak memakai guide karena Ivana sudah pernah kemari, dia sempat memberikan catatan perjalanannya saat ke Itali jadi aku lebih banyak mencari informasi dari buku khusus traveling di Itali dan membandingkan dengan fakta yang sebenarnya tengah aku liput.
Setelah puas menikmati Menara Pisa, kami menyempatkan juga mengunjungi Opera Museum yang di dalamnya juga banyak terdapat mural dan terdapat taman di mana kita bisa memotret Menara Pisa dari sisi yang berbeda.
Tetap saja kita diam-diam, Ivana bahkan sesekali menghilang dengan kameranya. Aku membiarkan saja sikap Ivana yang berubah drastis, tampak ada kebencian di matanya. Sungguh ini terasa aneh, hanya gara-gara aku berhijab masa sih dia jadi benci aku?
“Ivana... please kamu jangan menjauh gitu dong. Aku janji walaupun aku berhijab tapi aku nggak berubah dalam sikap. Aku juga masih belajar. Aku hanya ingin memperbaiki diri, kok kamu jadi berubah sih? Kita masih bisa kok bersenang-senang. Setelah liputan ini selesai kita cari hotel dan aku temani kamu yang mau berburu baju, tas dan sepatu,” aku mencoba memberikan pengertian pada Ivana, tapi tampaknya Ivana sudah terlanjur kesal dengan perubahan aku.
“Ya Allah maafkan aku, mungkin aku menyakiti hati Ivana... tapi Allah, Engkau Maha Tahu segalanya, semoga Engkau juga akan memberikan hidayah pada sahabat terbaikku. Amin.”
Aku tidak lagi merasa sedih dengan kehilangan Dimas dan ikhlas kalaupun Dimas akhirnya memilih wanita lain untuk menjadi pendampingnya. Yang pasti aku ragu apakah Dimas masih mau menganggap aku sekedar teman kerja dengan perubahan aku sekarang dan kejadian yang menimpa hubungan kita. Ya, aku tahu Dimas sangat menyukai aku dengan penampilan aku di waktu lalu.
Sempurna sudah kalau aku memang harus melupakan perkawinan aku dan Dimas. Aku yakin Allah akan beri yang terbaik buatku.
***
Kami puaskan mengelilingi Kota Pisa, kami keliling kota kecil ini dengan bis. Karena kota ini sangat kecil, dalam satu jam dengan 1 euro kami bisa menaiki 2 rute bis, karena satu rute bisa ditempuh hanya dengan 15 menit bolak-balik sampai akhirnya Ivana juga yang memutuskan menginap di daerah pesisir Tirrenia.
Jaraknya kira-kira 12 km dari Kota Pisa. Karena hari sudah malam, maka kami pun memutuskan untuk makan malam sebelum akhirnya beristirahat.
Karena sangat kelelahan, aku benar-benar tertidur pulas dan terbangun sudah pukul 07.00. Ya Allah, aku segera berwudu untuk menjalankan salat subuh yang kesiangan.
Selesai salat subuh sekalian duha, Ivana sudah selesai mandi dan sepertinya sudah siap dengan kopernya untuk check out. Tetap dengan tank top berwarna merah menyala dan celana pendek.
“Cepetan mandi, kita langsung ke Venice saja, di sini sudah selesai urusan meliput kita!” kata Ivana dingin.
Aku menurut saja segera mandi dan aku kenakan baju lengan panjang dan jilbab putih yang sempat aku beli saat di Mekah.
Dan di sinilah kami sekarang, di Venice, setelah menempuh hampir satu jam dari Pisa melewati Florence dilanjutkan ke Venice butuh waktu 4 jam dengan trenitalia.
Aku lebih memanfaatkan waktu untuk mencari tahu Venic,e kota indah yang mengapung di Italia.
Venice, Italia, (Venesia) adalah sebuah kota di Italia utara yang dikenal baik untuk pariwisata dan untuk industri, dan merupakan ibu kota wilayah Veneto, Bersama dengan Padua, kota ini termasuk dalam Padua-Venice Metropolitan. Nama ini berasal dari suku kuno Veneti yang mendiami wilayah di zaman Romawi.
Venice telah dikenal sebagai \"La Dominante\", \"Serenissima\", \"Ratu Adriatik\", \"Kota Air\", \"Kota Masker\", \"Kota Jembatan\", \"Kota Mengambang\", dan \"Kota kanal \". Luigi Barzini, menulis di The New York Times, menggambarkan Venice sebagai \"kota yang paling indah diragukan lagi dibangun oleh manusia\" Venice. Times Online juga menyatakan Venice sebagai salah satu kota di Eropa yang paling romantis.
Ivana mengajak menginap di seberang Venice, yaitu di Fusina. Di sana terdapat sebuah camping ground yang asyik, namanya Camping Fusina.
Tempat ini asyik banget, hanya 20 menit dari hingar-bingar Venezia, kita bisa menemukan kedamaian dengan suasana hutan di tepi pantai. Seperti halnya kamping, kita tidur di kamar-kamar yang didesain seperti camp (kemah).
Fasilitasnya lengkap, ada tempat untuk barbeque, ada restoran, supermarket, kamar mandi untuk umum, tempat mencuci, dll. I really love this place and would love to go back there someday.
Sudah pukul 15.00 dan aku sempat tertidur, saat bangun entah ke mana Ivana. Buat Ivana tentu saja ini perjalanan mengulang karena beberapa tahun lalu dia juga diberi kesempatan meliput kemari.
Mungkin saja Ivana tengah bertemu dengan temannya yang berada di sekitar kota cantik Venesia.
Masih ada dua hari lagi di Itali dan hari ini aku ingin menjelajah Venesia. Aku begitu bersemangat, liputan aku akan 7 keajaiban dunia telah selesai dan saat ini aku ingin menikmati waktu sisa dengan jalan-jalan. Venesia di Kota Venice dari cerita sangat unik, cantik dan klasik.
***
Aku memutuskan menikmati sendiri. Diawali dengan naik boat pukul 12.00 ke Venice, tiba di pelabuhan Zatere. Boat trip sekitar 15 menit saja.
Di Venice jalan-jalan di San Marco, Rialto, semua dipadati tourist. Pemandangannya cukup indah, namun dari sisi arsitektur bangunannya tidak berbeda dengan kota-kota Italia yang lain. Yang membedakan adalah kanal-kanalnya, karena itu ketika di Venice seharusnya kita berkeliling naik gondola. Beberapa gondola bahkan dilengkapi live music, wah suasananya jadi romantis banget. Sayangnya, aku tidak sedang dalam honeymoon trip.
Aku mulai menyusuri lorong-lorong dan jembatan-jembatan, di mana banyak toko dan cafe-cafe yang asyik, sambil melihat gondola-gondola yang lewat dari gang-gang dan di bawah jembatan-jembatan itu.
Aku memutuskan sejenak menikmati enaknya panini sandwich yang terbuat dari roti yang disebut tramezzino. Jenis roti yang digunakan untuk membuat panini adalah ciabatta, rosetta, dan baguetta di sebuah kedai.
Sementara arlojiku sudah menunjukkan pukul 19.00 dan aku memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Ternyata Ivana belum juga pulang, entah ke mana sahabatku setelah sampai penginapan langsung menghilang, tega sekali dia tidak mau mengajak aku menikmati keindahan Venice yang tidak aku tahu sama sekali. Kalau bukan karena informasi yang aku banyak baca lewat internet, aku sudah bingung mau ngapain di kota unik ini.
Saking capenya, setelah salat isya aku tertidur dan berharap Ivana bisa jaga diri di negeri yang sangat romantis ini. “Ah Dimas sedang apa ya sekarang? Masihkah dia mengikuti aku dan Ivana, atau hanya bualan dia saja? Aku hanya bisa menunggu suatu kebenaran...”
***
“Hai Ivana apa yang kamu lakukan di sini?” Dimas sengaja mendekati sosok wanita yang sepertinya tengah bingung dengan dirinya.
Ivana sempat kaget kenapa juga bisa bertemu dengan Dimas di Venice, kota yang sangat romantis. Ivana teringat dia pernah berharap akan bertemu dengan seseorang yang disukai di tempat ini.
Pasti akan sangat romantis dan indah bisa menghabiskan dengan orang yang dicintai. Dan sepertinya harapan dia terkabul. Ya, hatinya diam-diam menyukai Dimas dan sangat terpukul saat Dimas malah memilih Devi sahabatnya untuk menjadi pacar bahkan sebentar lagi menjadi istrinya.
Hal ini yang membuat Ivana setuju bersekongkol dengan Rifky untuk menghancurkan sahabatanya dan Dimas supaya gagal menuju ke pelaminan. Rifky masih mencintai Devi yang sudah dipacarinya selama tujuh tahun. Dengan Liana, jodoh yang diajukan mamanya membuat Rifky tertekan sebenarnya.
Ivana dan Rifky tidak sengaja bertemu di cafe Rainbow dalam keadaan sama-sama kacau. Ivana sangat sedih karena mendengar berita Dimas melamar Devi sahabatnya, sementara Rifky juga tengah galau dengan perjodohannya.
Begitu saja mengalir rencana berdua untuk membuat Devi dan Dimas batal menikah, Ivana dan Rifky sama-sama mengatur strategi. Jadi sebenarnya pertemuan di Prancis antara Devi dan Rifky adalah bagian dari rencana mereka.
“Hai Ivana, kok kamu sendiri sih? Mau aku temani?” Dimas mulai memasang strategi untuk memancing Ivana.
“Dim! Jangan sok baik deh! Kamu jahat sekali sudah mutusin Devi begitu saja!” Ivana pura-pura marah.
“Yah… siapa yang gak marahlah kalau calon istrinya ternyata tidur dengan mantannya! Kacau banget tuh Devi! Sepertinya selama ini aku salah memilih orang... hmmm... aku nyesal memilih dia! Kalau saja aku dari awal mengikuti kata hatiku bahwa bukan Devi yang seharusnya aku pilih tapi... ah sudahlah!” Dimas pura-pura menyesal dan menggantungkan sebuah kalimat penasaran untuk memancing Ivana.
“Jadi sebenarnya siapa yang kamu suka sebelum Devi, Dim?” hati Ivana memburu, ada yang Dimas sembunyikan ternyata selama ini di belakang Devi.
“Kamu Ivana... aku sebenarnya suka kamu dari awal, tapi...” Dimas menatap lembut Ivana.
Seketika pertahanan hati Ivana runtuh, apa yang selama ini diharapkan benar-benar terwujud.
“Dimas ternyata menyukai aku! Bukan Devi!” lonjak hati Ivana kegirangan.
“Dimas... kenapa kamu tak mau jujur dari dulu?” Ivana langsung menggenggam tangan Dimas.
Sebenarnya Dimas sangat risih, tapi demi sebuah pembuktian pada Devi, Dimas harus lakukan ini. Dimas memtuskan untuk menghalalkan segala cara agar Ivana jujur akan persekongkolannya dengan Rifky.
“Ayo Ivana, kita nikmati keindahan Venice yang sangat romantis, sebelumnya aku pesankan wine buat merayakan hari jadi kita. Kamu setuju, Sayang?” Dimas benar-benar berubah sangat romantis dan membuat Ivana tak berdaya.
Dimas menyambut genggaman hangat tangan Ivana dengan keterpaksaan yang disembunyikan demi sebuah fakta.
Entah berapa gelas telah Dimas tuang ke gelas Ivana, sekarang Dimas membiarkan Ivana yang setengah mabuk mengeluarkan semua pengakuannya. Tak lupa dari awal alat perekam sudah Dimas nyalakan. Semua sudah Dimas persiapkan dan perhitungkan baik-baik.
***
Ivana mabuk berat, Dimas tak ada pilihan harus mengantar Ivana ke penginapan Fusina.
“Ya ampun Dim, Ivana kenapa?” Devi langsung mengambil alih memapah Ivana yang sudah mabuk berat.
“Dim! Kamu apakan Ivana sampai mabuk?” Devi setengah membentak Dimas yang masih melihat dirinya tak berkedip.
Tentu saja Dimas baru pertama kali melihat jarak sangat dekat dirinya yang memakai hijab.
“Ya ampun Devi, sekarang kamu berhijab benar-benar?” Dimas masih belum percaya, memang dia mengikuti ke mana pun Ivana dan Devi pergi dan hanya melihat Devi yang berhijab dari kejauhan, Dimas menjaga agar keberadaan dirinya tidak ketahui.
Sekarang dirinya melihat kekasihnya secara dekat dan berhijab, hati Dimas lebih bergetar melihat kekasih yang sempat dia tuduh macam-macam beberapa hari lalu.
Tapi memang Allah selalu baik bahkan rasa sesal menyelimuti setelah memarahi Devi, makanya Dimas memutuskan untuk tetap mengikuti Devi dari kejauhan sampai akhirnya tanpa sengaja tahu kalau semua ini rekayasa Ivana, sahabat terbaik Devi dan Rifky, mantan yang ingin merebut Devi kembali.
“Devi maafkan aku, kamu harus tahu ini... maaf bukan maksud aku merusak persahabatan kamu dengan Ivana. Tapi kamu harus tahu hati sahabatmu yang tersembunyi selama ini.”
Dimas memberikan rekamanan pada Devi kemudian pergi, sebelumnya Dimas menatap Devi lembut, “Kamu lebih cantik dengan penampilan yang sekarang, aku semakin yakin kalau kamu akan jadi istri terbaik buatku dan anak-anak kita kelak.”
Deg!
Hati Devi seakan terbang dengan kalimat lembut Dimas barusan.
”Subhanallah... sebegitu cepatnya Allah menjawab doa-doaku.” Devi seakan lepas dari beban terberat yang beberapa hari ini membuatnya sempat merasa terpuruk.
***
Setelah mendengarkan rekaman dari Dimas, Devi tersadar ternyata selama ini Ivana mencintai Dimas dan juga merasa iri dengan kariernya yang mulai melesat dan mengalahkan Ivana.
Sambil menatap Ivana yang sekarang tertidur pulas, Devi masih tidak percaya dengan kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut Ivana, sahabat yang dikasihi. Umpatan Ivana jelas nyata akan kebenciannya, ditambah menganggap dirinya yang semakin sok alim dengan hijabnya.
“Ivana bagaimanapun kamu tetap sahabatku... aku memaafkanmu,” Devi meneteskan air matanya dan mengusap lembut kepala sahabatnya yang masih mabuk karena efek wine yang Dimas cekokin.
Other Stories
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...