Hidup Ini Adil, Kan?
Raksa juga, bahkan semalam lelaki itu sampai kesulitan tidur gara-gara memikirkan Sekar—gadis yang bahkan belum 24 jam dia dan teman-temannya kenal. Namun, Raksa tak mengatakannya pada Rani. Dia memilih untuk memendamnya sendiri dalam hati.
Rani melanjutkan, “Kita salah nggak sih ngomongin Sekar sama Pak Rojali? Itu ghibah kan, Sa? Kita dosa, kan?”
Rani menutup wajahnya sebentar. Dia menyesal.
Raksa menghentikan aktivitasnya lagi. Kemudian, memandang Rani yang akhirnya membalas pandangannya juga dengan wajah frustrasi.
“Ran, selain ngajar, anggep aja kita sekalian riset kondisi anak-anak di desa itu. Kehidupan Sekar, mewakili anak-anak yang nggak bisa melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi, dan juga … masalah psikologi terkait situasi keluarganya,” jelasnya Raksa berusaha diplomatis alih-alih dramatis seperti Rani.
Semalam setelah Sekar pamit pulang, Pak Rojali benar-benar menjelaskan secara gamblang tentang kehidupan gadis itu pada Raksa, Nadia dan juga Rani. Termasuk soal kepergian ayah Sekar, ibunya yang sakit TBC dan kejiwaannya sedikit terganggu, hingga kebiasaan Sekar menukar kue jualannya kepada seorang anak tukang loak bernama Bima demi memperoleh buku bekas untuk belajar, bahkan baju sehari-hari tanpa perlu membeli. Bukan rahasia umum lagi. Semua orang di desa itu sudah tahu kebiasaan Sekar.
Makanya, Sekar dijuluki Gadis Loak karena apa yang melekat dan terkait dengan dirinya adalah barang bekas.
“Gitu ya ….”
Entah kenapa, perasaan Rani menjadi lebih baik setelah mendengar pemaparan Raksa.
“Sa, tapi Sekar hebat banget ya. Walaupun putus sekolah dan harus ngerawat ibunya yang sakit sambil jualan kue, semangat belajarnya tuh masih ada,” kata Rani salut meski hatinya juga merasa pedih. “Aku … belom tentu bisa jadi kayak Sekar. Dan kalo dipikir-pikir, selama hidup aku belom pernah ngerasain yang struggling banget, tapi Sekar udah ngeborong semua masalah itu dari kecil.”
Raksa tertegun mendengar kalimat terakhir Rani. Dia pun demikian. Sedari kecil, hidupnya selalu difasilitasi oleh orang tuanya. Uang tak pernah menjadi masalah bagi keluarganya. Apalagi, dia juga anak tunggal seperti Sekar.
“Sa, hidup ini adil, kan?” tanya Rani lagi.
Raksa belum menanggapi, hingga Nadia tiba-tiba datang.
“Eh, gue WA gak ada yang jawab!” ujarnya sewot dan langsung duduk di seberang meja, berhadapan dengan dua orang itu.
Obrolan deep antara Raksa dan Rani otomatis terhenti tanpa sadar.
Nadia membawa sebotol teh dingin di tangannya. “Gak pada beli makan?”
“Nanti deh, Nad. Kelas Bu Ninik juga masih lama,” jawab Rani.
Nadia lalu membuka tasnya, mengeluarkan satu rangkap dokumen lumayan tebal tetapi tak berjilid dan hanya dijepit dengan paper clip jumbo. “Nih, contoh soal dan kunci jawaban ulangan harian Matematika kelas 4 sampe kelas 6. Di-print, disatuin, sesuai pesenan lo, Sa.”
Raksa mengambilnya. “Oke, thanks.”
“Ribet banget sih, harus di-print segala. Jangan boros anggaran napa,” protes Nadia. “Meski modal yang lo keluarin lebih banyak daripada kita atas keinginan lo sendiri, Sa. Tapi tetep aja, lo harus bijak karena kita ini kerjasama tim, bukan individu.”
“Ini matematika, Nad, gue perlu cek jawabannya manual satu-satu,” tegas Raksa.
“Yeee, lo gak percaya gitu sama gue?” Nadia memasang wajah tersinggung meski cuman bercanda.
Raksa berkata datar, “Wajib make sure lagi, sebelum dibagiin ke anak-anak.”
“Iya dah, serius amat, Pak.” Nadia memutar bola matanya.
Rani terkekeh.
***
Sementara itu, Mpok Mina terlihat baru saja keluar dari pasar. Hari ini dia tidak membuka warung nasi uduknya gara-gara kemarin sepi dan beberapa lauk sayur menjadi basi. Dia lalu mengintip isi tas belanjaannya. Ada terigu, telur, gula, pengembang kue, dan bahan-bahan lainnya. Rencananya, hari ini Mpok Mina mau mencoba membuat kue. Dia sudah memikirkannya semalam suntuk untuk rehat sejenak dari berjualan nasi uduk.
“Nyoba bikin bolu dulu kali yak,” gumamnya. “Gua pernah kok, tapi emang udah lama, sih.”
Sebenarnya, Mpok Mina tak jago membuat makanan manis.
Saat wajahnya menegak, Mpok Mina terkejut melihat beberapa orang mengerumuni Sekar yang sedang membuka lapak di pinggir jalan dekat pasar. Orang-orang itu tampak silih berganti membeli kue Sekar. Sekar hampir tak pernah menjajakan jualannya di pasar karena ada pedagang lain yang tak suka. Rival ibunya. Namun, hari ini gadis itu memberanikan diri karena harus mengejar target demi pesanan keluarga Bima.
“Buset dah, ngapa tuh bocah tiba-tiba ada di sini? Wah … kagak bisa didiemin ini,” Mpok Mina ngedumel. Kakinya mulai melangkah menuju Sekar.
Di sisi lain, Sekar tampak senang karena hari ini jualannya ramai. Gundah gulananya semalam seperti terbayar tunai. Dia lalu memberikan plastik berisi kue kepada pelanggan terakhir di hadapannya untuk saat ini, beserta uang kembalian.
“Makasih, Bu,” kata Sekar.
“Woy, anak Marni ya?!”
Terdengar suara wanita bertubuh gempal membentak sambil berjalan mendekati Sekar, membuat Sekar terkejut. Mpok Mina yang keduluan oleh wanita itu segera menghentikan langkahnya. Dia tak kalah kaget.
“Waduh, itu kan si …. Hm, romannya bakal ada perang, nih.” Mpok Mina sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia berniat menyaksikannya dari sini.
Sekar dan wanita bertubuh gempal itu telah berhadapan. Sekar yang tadinya berjongkok di belakang bakul kuenya langsung berdiri.
“I-Iya,” katanya terbata.
“Siapa nama lu? Lupa gua,” tanya wanita itu dengan wajah judes sambil bertolak pinggang.
Tak disangka, seorang wanita lain datang menghampiri mereka. Dia berkata, “Pantes aja dari tadi kue saya lama banget abisnya. Lah, ada anaknya si Marni. Sekar, berani banget kamu kemari? Lupa atau gimana? Dari dulu kan, kamu sama ibumu gak boleh jualan di pasar ini. Bisa rusak nanti orang yang jualan kue di sini.
Wanita-wanita itu adalah pedagang makanan di pasar yang menyatukan banyak orang tak hanya dari kampung ini.
Sekar menunduk. Tentu saja dia ingat. Ibunya juga sudah memberitahunya. Memang, ini adalah pertama kalinya dia nekat jualan di pasar meski cuman di area luarnya.
“Maaf, saya janji gak akan ke sini lagi,” kata Sekar tak berani menatap dua wanita garang di hadapannya.
“Ya emang seharusnya begitu!” seru si wanita gempal itu. Tanpa diduga, tangannya menumpahkan isi bakul kue Sekar dengan kasar, lalu menginjak sebagian isinya yang tercecer ke jalan.
Wanita satunya syok. “Mpok, gak gitu juga.”
Sekar apalagi. Dia sampai terperanjat. Hatinya sakit sekali melihat kue buatannya hancur. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ah, biarin! Biar kapok! Sana, pergi!” seru wanita gempal itu lagi memekik.
Sekar buru-buru mengangkat bakul kuenya seraya memungut sebagian kue yang sudah benyek itu. Dia pun pergi dari area pasar.
Mpok Mina cekikikan sambil menutup mulutnya. “Sukurin! Lagian, sih!” Dia merasa sudah melakukan sesuatu tanpa perlu mengotori tangannya.
Sekar menahan diri agar air matanya tidak menetes, tetapi pandangannya mulai kabur karena bulir air yang mengumpul di pelupuk mata. Kakinya terus melangkah cepat tanpa arah. Wajahnya merah padam. Padahal, baru saja dia merasakan senang karena banyak yang membeli kuenya.
“Hiks!” Sekar menyerah. Dia akhirnya menangis. Tangannya bergerak cepat menyapu air mata yang tak perlu itu. Namun, usahanya sia-sia. Tangisnnya enggan mereda.
Sekar terhenti di pinggir jalan sambil menyeka lagi air matanya. Dia melihat isi keranjang kuenya. Masih tersisa 5 kue lagi, atau lebih tepatnya 1 karena yang 4 sudah tak layak makan.
Biasanya, Sekar akan mampir ke rumah Bima. Namun, untuk sekarang dia memutuskan untuk langsung pulang.
***
Rani melanjutkan, “Kita salah nggak sih ngomongin Sekar sama Pak Rojali? Itu ghibah kan, Sa? Kita dosa, kan?”
Rani menutup wajahnya sebentar. Dia menyesal.
Raksa menghentikan aktivitasnya lagi. Kemudian, memandang Rani yang akhirnya membalas pandangannya juga dengan wajah frustrasi.
“Ran, selain ngajar, anggep aja kita sekalian riset kondisi anak-anak di desa itu. Kehidupan Sekar, mewakili anak-anak yang nggak bisa melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi, dan juga … masalah psikologi terkait situasi keluarganya,” jelasnya Raksa berusaha diplomatis alih-alih dramatis seperti Rani.
Semalam setelah Sekar pamit pulang, Pak Rojali benar-benar menjelaskan secara gamblang tentang kehidupan gadis itu pada Raksa, Nadia dan juga Rani. Termasuk soal kepergian ayah Sekar, ibunya yang sakit TBC dan kejiwaannya sedikit terganggu, hingga kebiasaan Sekar menukar kue jualannya kepada seorang anak tukang loak bernama Bima demi memperoleh buku bekas untuk belajar, bahkan baju sehari-hari tanpa perlu membeli. Bukan rahasia umum lagi. Semua orang di desa itu sudah tahu kebiasaan Sekar.
Makanya, Sekar dijuluki Gadis Loak karena apa yang melekat dan terkait dengan dirinya adalah barang bekas.
“Gitu ya ….”
Entah kenapa, perasaan Rani menjadi lebih baik setelah mendengar pemaparan Raksa.
“Sa, tapi Sekar hebat banget ya. Walaupun putus sekolah dan harus ngerawat ibunya yang sakit sambil jualan kue, semangat belajarnya tuh masih ada,” kata Rani salut meski hatinya juga merasa pedih. “Aku … belom tentu bisa jadi kayak Sekar. Dan kalo dipikir-pikir, selama hidup aku belom pernah ngerasain yang struggling banget, tapi Sekar udah ngeborong semua masalah itu dari kecil.”
Raksa tertegun mendengar kalimat terakhir Rani. Dia pun demikian. Sedari kecil, hidupnya selalu difasilitasi oleh orang tuanya. Uang tak pernah menjadi masalah bagi keluarganya. Apalagi, dia juga anak tunggal seperti Sekar.
“Sa, hidup ini adil, kan?” tanya Rani lagi.
Raksa belum menanggapi, hingga Nadia tiba-tiba datang.
“Eh, gue WA gak ada yang jawab!” ujarnya sewot dan langsung duduk di seberang meja, berhadapan dengan dua orang itu.
Obrolan deep antara Raksa dan Rani otomatis terhenti tanpa sadar.
Nadia membawa sebotol teh dingin di tangannya. “Gak pada beli makan?”
“Nanti deh, Nad. Kelas Bu Ninik juga masih lama,” jawab Rani.
Nadia lalu membuka tasnya, mengeluarkan satu rangkap dokumen lumayan tebal tetapi tak berjilid dan hanya dijepit dengan paper clip jumbo. “Nih, contoh soal dan kunci jawaban ulangan harian Matematika kelas 4 sampe kelas 6. Di-print, disatuin, sesuai pesenan lo, Sa.”
Raksa mengambilnya. “Oke, thanks.”
“Ribet banget sih, harus di-print segala. Jangan boros anggaran napa,” protes Nadia. “Meski modal yang lo keluarin lebih banyak daripada kita atas keinginan lo sendiri, Sa. Tapi tetep aja, lo harus bijak karena kita ini kerjasama tim, bukan individu.”
“Ini matematika, Nad, gue perlu cek jawabannya manual satu-satu,” tegas Raksa.
“Yeee, lo gak percaya gitu sama gue?” Nadia memasang wajah tersinggung meski cuman bercanda.
Raksa berkata datar, “Wajib make sure lagi, sebelum dibagiin ke anak-anak.”
“Iya dah, serius amat, Pak.” Nadia memutar bola matanya.
Rani terkekeh.
***
Sementara itu, Mpok Mina terlihat baru saja keluar dari pasar. Hari ini dia tidak membuka warung nasi uduknya gara-gara kemarin sepi dan beberapa lauk sayur menjadi basi. Dia lalu mengintip isi tas belanjaannya. Ada terigu, telur, gula, pengembang kue, dan bahan-bahan lainnya. Rencananya, hari ini Mpok Mina mau mencoba membuat kue. Dia sudah memikirkannya semalam suntuk untuk rehat sejenak dari berjualan nasi uduk.
“Nyoba bikin bolu dulu kali yak,” gumamnya. “Gua pernah kok, tapi emang udah lama, sih.”
Sebenarnya, Mpok Mina tak jago membuat makanan manis.
Saat wajahnya menegak, Mpok Mina terkejut melihat beberapa orang mengerumuni Sekar yang sedang membuka lapak di pinggir jalan dekat pasar. Orang-orang itu tampak silih berganti membeli kue Sekar. Sekar hampir tak pernah menjajakan jualannya di pasar karena ada pedagang lain yang tak suka. Rival ibunya. Namun, hari ini gadis itu memberanikan diri karena harus mengejar target demi pesanan keluarga Bima.
“Buset dah, ngapa tuh bocah tiba-tiba ada di sini? Wah … kagak bisa didiemin ini,” Mpok Mina ngedumel. Kakinya mulai melangkah menuju Sekar.
Di sisi lain, Sekar tampak senang karena hari ini jualannya ramai. Gundah gulananya semalam seperti terbayar tunai. Dia lalu memberikan plastik berisi kue kepada pelanggan terakhir di hadapannya untuk saat ini, beserta uang kembalian.
“Makasih, Bu,” kata Sekar.
“Woy, anak Marni ya?!”
Terdengar suara wanita bertubuh gempal membentak sambil berjalan mendekati Sekar, membuat Sekar terkejut. Mpok Mina yang keduluan oleh wanita itu segera menghentikan langkahnya. Dia tak kalah kaget.
“Waduh, itu kan si …. Hm, romannya bakal ada perang, nih.” Mpok Mina sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia berniat menyaksikannya dari sini.
Sekar dan wanita bertubuh gempal itu telah berhadapan. Sekar yang tadinya berjongkok di belakang bakul kuenya langsung berdiri.
“I-Iya,” katanya terbata.
“Siapa nama lu? Lupa gua,” tanya wanita itu dengan wajah judes sambil bertolak pinggang.
Tak disangka, seorang wanita lain datang menghampiri mereka. Dia berkata, “Pantes aja dari tadi kue saya lama banget abisnya. Lah, ada anaknya si Marni. Sekar, berani banget kamu kemari? Lupa atau gimana? Dari dulu kan, kamu sama ibumu gak boleh jualan di pasar ini. Bisa rusak nanti orang yang jualan kue di sini.
Wanita-wanita itu adalah pedagang makanan di pasar yang menyatukan banyak orang tak hanya dari kampung ini.
Sekar menunduk. Tentu saja dia ingat. Ibunya juga sudah memberitahunya. Memang, ini adalah pertama kalinya dia nekat jualan di pasar meski cuman di area luarnya.
“Maaf, saya janji gak akan ke sini lagi,” kata Sekar tak berani menatap dua wanita garang di hadapannya.
“Ya emang seharusnya begitu!” seru si wanita gempal itu. Tanpa diduga, tangannya menumpahkan isi bakul kue Sekar dengan kasar, lalu menginjak sebagian isinya yang tercecer ke jalan.
Wanita satunya syok. “Mpok, gak gitu juga.”
Sekar apalagi. Dia sampai terperanjat. Hatinya sakit sekali melihat kue buatannya hancur. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ah, biarin! Biar kapok! Sana, pergi!” seru wanita gempal itu lagi memekik.
Sekar buru-buru mengangkat bakul kuenya seraya memungut sebagian kue yang sudah benyek itu. Dia pun pergi dari area pasar.
Mpok Mina cekikikan sambil menutup mulutnya. “Sukurin! Lagian, sih!” Dia merasa sudah melakukan sesuatu tanpa perlu mengotori tangannya.
Sekar menahan diri agar air matanya tidak menetes, tetapi pandangannya mulai kabur karena bulir air yang mengumpul di pelupuk mata. Kakinya terus melangkah cepat tanpa arah. Wajahnya merah padam. Padahal, baru saja dia merasakan senang karena banyak yang membeli kuenya.
“Hiks!” Sekar menyerah. Dia akhirnya menangis. Tangannya bergerak cepat menyapu air mata yang tak perlu itu. Namun, usahanya sia-sia. Tangisnnya enggan mereda.
Sekar terhenti di pinggir jalan sambil menyeka lagi air matanya. Dia melihat isi keranjang kuenya. Masih tersisa 5 kue lagi, atau lebih tepatnya 1 karena yang 4 sudah tak layak makan.
Biasanya, Sekar akan mampir ke rumah Bima. Namun, untuk sekarang dia memutuskan untuk langsung pulang.
***
Other Stories
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...