Ch 2. Namanya Ica
Sudah seminggu Amelia menjadi anak kelas 5 SD. Dia menjalani hari demi hari serta pelajaran demi pelajaran dengan bahagia. Seminggu ini sudah ada beberapa PR namun belum ada ulangan. Beberapa keusilan seperti kejadian sampah tempo hari masih ia alami sewaktu jam istirahat ataupun pulang sekolah. Menariknya, kejadian itu tidak diketahui oleh para guru. Sempat dulu orang tua Amelia protes ke gurunya, namun bagi gurunya saat itu apa yang dialami Amelia hanyalah kenakalan wajar dari anak SD. Sedikit geram, tapi papa dan mama Amelia tidak dapat berbuat banyak sehingga mereka terus menghibur dan menguatkan Amelia. Tak heran, Amelia juga menjadi anak yang kuat karena dukungan orang tuanya.
Hari itu setelah jam istirahat selesai dan pelajaran terakhir akan dimulai, Amelia menyadari sesuatu. Saat ia membuka kotak pensilnya, ia mendapati sepucuk surat dengan pesan di dalamnya. “Nanti jangan pulang dulu,” kata surat itu. Amelia tidak tahu itu surat dari siapa, tidak ada nama ataupun identitas tercantum di dalamnya. Ia ingin mengabaikannya karena bisa saja ini hanya keusilan dari teman-teman yang nakal seperti biasanya. Ia ingat, dulu pernah diberi surat untuk pergi ke gudang belakang sekolah seusai pelajaran terakhir. Tapi apa yang didapati? Ia ditakut-takuti dengan boneka kardus menyerupai hantu. Ya, Amelia memang kuat tapi ia takut sama hantu.
Setelah pelajaran berakhir, ia akhirnya membulatkan tekadnya untuk menunggu di kelas memenuhi pesan di surat itu. Ya, selama pelajaran tadi Amelia terus berpikir dan mempertimbangkannya, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya sehingga ia putuskan untuk menunggu. Ia merapikan buku dan tasnya, lalu memegangnya dengan tangan kiri bersiap kalau ada apa-apa dia akan segera lari. Cepat saja seluruh murid di kelas 5B berhamburan keluar. Bu Santi yang mengajar di jam terakhir bertanya, “Amelia tidak pulang?” Lalu Amelia menjawab, “Ehh, sebentar lagi Bu, Amelia mau duduk sebentar di kelas, Ibu duluan saja.” Bu Santi tersenyum lalu meninggalkan kelas sambil berpesan supaya jangan lama-lama di kelas. Setelah Bu Santi pergi, kelas terasa hening, sunyi sekali. Bulu kuduk Amelia mulai berdiri, ia berpikir untuk berlari tapi ia putuskan tetap di sana beberapa menit lagi. Lima menit berlalu dan Amelia rasa ia akan segera pergi. Saat ia sudah setengah berdiri mengangkat pantatnya dari kursi kayu kecil itu, “plak,” Amelia merasa ada yang menggenggam pundaknya. “Ahhhhhhh!!!!!!!” Amelia berteriak sambil menangis, ia ketakutan, “Hanttuu!!!!” Katanya.
“Sssssst!!!!! Eh eh! Ssssttttt” Dengan suara sayu hendak menenangkan Amelia. “Saya bukan hantu, Saya Ica.” Amelia menghentikan teriakan dan tangisannya, dengan masih berlumuran air mata Amelia menoleh. Oh, ternyata masih ada orang di kelas ini. Dia adalah gadis yang duduk di belakang yang selama ini selalu mengamati Amelia. Ternyata, namanya Ica.
“Eh, eh, anu, Ica, aku kaget karena tadi aku kira tidak ada orang. Bu Santi kok juga ga nanyain kamu tadi?” Tanya Amelia. Ica mengangguk dengan suaranya yang lembut dan sedikit terbata ia menjelaskan kalau saat jam pelajaran selesai, semua siswa pergi, ia sembunyi di bawah bangku. Sepertinya, Ica memiliki kemampuan untuk menghilangkan hawa keberadaannya. “Anu, tentang surat itu . . .” Kata Ica pada Amelia. “Oh iya, kamu yang nulis surat itu ya? Ada apa Ica?” Lalu Ica menjawab, “Selama ini, aku selalu ngeliatin kamu Mel, kamu anak yang ceria dan juga kuat, kamu sering diusilin tapi tidak membalas. Aku ingin bisa jadi orang sekuat kamu. Kalau boleh aku mau jadi temanmu.” Tiba-tiba dengan mata berbinar dan sedikit basah karena menangis tadi, Amelia menggenggam tangan Ica dan mengangkatnya ke dada, “Ica, aku senang sekali ada yang mau berteman dengan aku. Mungkin aku tidak sekuat yang kamu kira, tapi aku sangat mau berteman sama kamu. Mulai hari ini kita berteman ya!”
Sejak saat itu, Amelia dan Ica berteman. Mereka pulang sekolah bersama bahkan janjian untuk berangkat sekolah bersama. Selama beberapa hari, mereka terlihat bersama. Amelia bahkan mengajak Ica, yang tadinya takut keluar kelas saat jam istirahat kecuali untuk ke toilet, pergi ke tembok sekolah untuk belanja jajan di pedagang luar. Ica yang sebelumnya sangat penakut mulai terlihat dapat tersenyum bahkan mulai tertawa. Saat ada yang mengganggu Amelia, Ica sedikit mundur ketakutan, tapi Amelia segera menggenggam tangan Ica dan membawanya pergi.
Suatu waktu ketika jam istirahat, Amelia bertanya kepada Ica, “Dulu kamu kelas mana, sepertinya kita tidak pernah sekelas ya?” Ica mengangguk pelan. Dia bilang memang tidak pernah sekelas, tapi ia sering melihat Amelia diganggu, sejak saat itu Ica selalu ingin berbicara dengan Amelia tapi tidak berani. Akhirnya, ia memberanikan diri dengan menulis surat itu, “Eh, maaf ya, gara-gara suratku kamu jadi menangis waktu itu.” Amelia tertawa dan bilang jangan dipikirkan.
Tidak seperti Amelia, orang tua Ica semuanya orang Jawa. Kulitnya sawo matang namun matanya sedikit sipit. Setelah berbincang-bincang ternyata neneknya keturunan Tionghoa. Ica juga mulai terbuka dan bercerita kalau waktu kelas satu SD ia juga pernah diejek karena mata lebih sipit dari yang lain. Sejak saat itu, Ica menjadi anak pendiam dan selalu takut menatap orang. Ternyata, diam adalah cara Ica melindungi dirinya.
Sudah sebulan berlalu sejak Amelia mengenal Ica. Ica pernah main ke rumah Amelia demikian sebaliknya. Orang tua Amelia juga menyayangi Ica karena bagi mereka Ica adalah teman pertama Amelia yang pernah main ke rumah. Sedikit berbeda dengan Amelia yang main ke rumah Ica, saat itu ayah Ica sedang pergi ke luar kota dan ibunya sedang bekerja jadi Amelia hanya bertemu dengan neneknya. Neneknya cukup baik, saat main ke rumah Ica, Amelia dibuatkan teh hangat dan beberapa kue.
Ica sudah lebih terbuka di hadapan Amelia. Ia juga sudah bisa tertawa banyak dan menariknya Ica cukup cerewet orangnya. Pernah saat mereka mengerjakan PR bersama-sama, Amelia yang baru menyelesaikan 3 dari 10 soal dan merasa lelah diomeli oleh Ica yang sudah 6 soal tapi masih semangat. Memang, orang yang kelihatannya pendiam belum tentu aslinya diam. Mereka punya banyak percakapan di dalam kepala mereka.
Hari Senin tiba, hari ini ada pelajaran matematika yang tidak disukai Amelia. Tapi, berbeda dengannya sepertinya Ica baik-baik saja. Dia sangat suka matematika. Istirahat hari ini dia bilang ingin tetap di kelas, jadi Amelia pergi jajan sendirian. Sepulang sekolah, entah kenapa Ica meminta Amelia untuk pulang duluan saja. Karena sepertinya mencurigakan, akhirnya Amelia memutuskan untuk pura-pura pulang. Setelah keluar dari gerbang sekolah, Amelia memutar langkah kecilnya dan kembali masuk ke sekolah. Amelia berhenti di balik pohon yang sekian meter jauhnya dari jendela kelas. Karena kelas 5B ada di bawah, maka Amelia mendapat titik yang baik dari balik pohon itu untuk mengintip ke arah jendela kelas. Ica masih di sana. Tidak lama kemudian ada tiga orang gadis masuk ke kelas dan dari jendela terlihat mereka mengelilingi Ica. Tidak begitu terlihat karena seorang gadis yang berbadan agak besar berdiri tepat di samping Ica menutup pandangan Amelia di luar jendela. Akhirnya, Amelia memutuskan untuk lebih mendekat dan mencari sudut lain dan saat itu ia terkejut. Gadis itu menjambak rambut Ica sampai Ica menangis. “Ada apa ini?” Batin Amelia.
Amelia yang tidak tahan dengan tangisan Ica segera berlari masuk ke kelas. “Hei, lepaskan Ica!” Ketiga gadis yang sedang merundung Ica segera menoleh ke arah Amelia dan seorang di antara mereka mendekati Amelia sambil berteriak, “Apa? Mau lapor guru? Hah?” Tampangnya cukup menyeramkan. Mereka bertiga adalah anak hits di sekolah, cukup populer atau lebih tepat dikatakan sok populer. Dua orang diantara mereka centil dan berperawakan lebih tinggi dari anak SD kebanyakan dan satunya berbadan besar. Amelia terlihat ketakutan tapi berusaha tegar karena mau menolong Ica. Gadis yang mendekati Amelia tadi melanjutkan, “Kamu tahu kenapa Ica dijambak? Itu karena dia berteman sama kamu! Hahahaha. Kami ga suka kamu punya teman, dasar sipit!” Gadis tinggi satunya menambahkan, “Iya, jadi Ica dijambak karena kamu!” Mata Amelia mulai basah tergenang air mata yang masih terbendung. Tapi tak lama kemudian air mata mengalir membasahi pipi Amelia.
“Hei! Bu Santi mau lewat, cepat pergi!” Teriak seorang murid lain di depan pintu. Sepertinya dia adalah komplotan tiga gadis itu. Entah kenapa Amelia tidak melihat gadis itu, sepertinya gadis yang berjaga di pintu tadi mengawasi dari ruang guru. Ketiga gadis tadi berlari sambil mengancam Ica dan Amelia supaya tidak bilang aneh-aneh.
Tak lama kemudian Bu Santi sampai ke kelas dan menjumpai Ica serta Amelia menangis dan sedikit acak-acakan. “Kalian kenapa? Siapa yang sudah menjahati kalian?” Tanyanya. Tapi ica dan Amelia hanya diam saja dan terus menangis. Bu Santi yang mencoba memahami akhirnya memeluk mereka.
Hari itu setelah jam istirahat selesai dan pelajaran terakhir akan dimulai, Amelia menyadari sesuatu. Saat ia membuka kotak pensilnya, ia mendapati sepucuk surat dengan pesan di dalamnya. “Nanti jangan pulang dulu,” kata surat itu. Amelia tidak tahu itu surat dari siapa, tidak ada nama ataupun identitas tercantum di dalamnya. Ia ingin mengabaikannya karena bisa saja ini hanya keusilan dari teman-teman yang nakal seperti biasanya. Ia ingat, dulu pernah diberi surat untuk pergi ke gudang belakang sekolah seusai pelajaran terakhir. Tapi apa yang didapati? Ia ditakut-takuti dengan boneka kardus menyerupai hantu. Ya, Amelia memang kuat tapi ia takut sama hantu.
Setelah pelajaran berakhir, ia akhirnya membulatkan tekadnya untuk menunggu di kelas memenuhi pesan di surat itu. Ya, selama pelajaran tadi Amelia terus berpikir dan mempertimbangkannya, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya sehingga ia putuskan untuk menunggu. Ia merapikan buku dan tasnya, lalu memegangnya dengan tangan kiri bersiap kalau ada apa-apa dia akan segera lari. Cepat saja seluruh murid di kelas 5B berhamburan keluar. Bu Santi yang mengajar di jam terakhir bertanya, “Amelia tidak pulang?” Lalu Amelia menjawab, “Ehh, sebentar lagi Bu, Amelia mau duduk sebentar di kelas, Ibu duluan saja.” Bu Santi tersenyum lalu meninggalkan kelas sambil berpesan supaya jangan lama-lama di kelas. Setelah Bu Santi pergi, kelas terasa hening, sunyi sekali. Bulu kuduk Amelia mulai berdiri, ia berpikir untuk berlari tapi ia putuskan tetap di sana beberapa menit lagi. Lima menit berlalu dan Amelia rasa ia akan segera pergi. Saat ia sudah setengah berdiri mengangkat pantatnya dari kursi kayu kecil itu, “plak,” Amelia merasa ada yang menggenggam pundaknya. “Ahhhhhhh!!!!!!!” Amelia berteriak sambil menangis, ia ketakutan, “Hanttuu!!!!” Katanya.
“Sssssst!!!!! Eh eh! Ssssttttt” Dengan suara sayu hendak menenangkan Amelia. “Saya bukan hantu, Saya Ica.” Amelia menghentikan teriakan dan tangisannya, dengan masih berlumuran air mata Amelia menoleh. Oh, ternyata masih ada orang di kelas ini. Dia adalah gadis yang duduk di belakang yang selama ini selalu mengamati Amelia. Ternyata, namanya Ica.
“Eh, eh, anu, Ica, aku kaget karena tadi aku kira tidak ada orang. Bu Santi kok juga ga nanyain kamu tadi?” Tanya Amelia. Ica mengangguk dengan suaranya yang lembut dan sedikit terbata ia menjelaskan kalau saat jam pelajaran selesai, semua siswa pergi, ia sembunyi di bawah bangku. Sepertinya, Ica memiliki kemampuan untuk menghilangkan hawa keberadaannya. “Anu, tentang surat itu . . .” Kata Ica pada Amelia. “Oh iya, kamu yang nulis surat itu ya? Ada apa Ica?” Lalu Ica menjawab, “Selama ini, aku selalu ngeliatin kamu Mel, kamu anak yang ceria dan juga kuat, kamu sering diusilin tapi tidak membalas. Aku ingin bisa jadi orang sekuat kamu. Kalau boleh aku mau jadi temanmu.” Tiba-tiba dengan mata berbinar dan sedikit basah karena menangis tadi, Amelia menggenggam tangan Ica dan mengangkatnya ke dada, “Ica, aku senang sekali ada yang mau berteman dengan aku. Mungkin aku tidak sekuat yang kamu kira, tapi aku sangat mau berteman sama kamu. Mulai hari ini kita berteman ya!”
Sejak saat itu, Amelia dan Ica berteman. Mereka pulang sekolah bersama bahkan janjian untuk berangkat sekolah bersama. Selama beberapa hari, mereka terlihat bersama. Amelia bahkan mengajak Ica, yang tadinya takut keluar kelas saat jam istirahat kecuali untuk ke toilet, pergi ke tembok sekolah untuk belanja jajan di pedagang luar. Ica yang sebelumnya sangat penakut mulai terlihat dapat tersenyum bahkan mulai tertawa. Saat ada yang mengganggu Amelia, Ica sedikit mundur ketakutan, tapi Amelia segera menggenggam tangan Ica dan membawanya pergi.
Suatu waktu ketika jam istirahat, Amelia bertanya kepada Ica, “Dulu kamu kelas mana, sepertinya kita tidak pernah sekelas ya?” Ica mengangguk pelan. Dia bilang memang tidak pernah sekelas, tapi ia sering melihat Amelia diganggu, sejak saat itu Ica selalu ingin berbicara dengan Amelia tapi tidak berani. Akhirnya, ia memberanikan diri dengan menulis surat itu, “Eh, maaf ya, gara-gara suratku kamu jadi menangis waktu itu.” Amelia tertawa dan bilang jangan dipikirkan.
Tidak seperti Amelia, orang tua Ica semuanya orang Jawa. Kulitnya sawo matang namun matanya sedikit sipit. Setelah berbincang-bincang ternyata neneknya keturunan Tionghoa. Ica juga mulai terbuka dan bercerita kalau waktu kelas satu SD ia juga pernah diejek karena mata lebih sipit dari yang lain. Sejak saat itu, Ica menjadi anak pendiam dan selalu takut menatap orang. Ternyata, diam adalah cara Ica melindungi dirinya.
Sudah sebulan berlalu sejak Amelia mengenal Ica. Ica pernah main ke rumah Amelia demikian sebaliknya. Orang tua Amelia juga menyayangi Ica karena bagi mereka Ica adalah teman pertama Amelia yang pernah main ke rumah. Sedikit berbeda dengan Amelia yang main ke rumah Ica, saat itu ayah Ica sedang pergi ke luar kota dan ibunya sedang bekerja jadi Amelia hanya bertemu dengan neneknya. Neneknya cukup baik, saat main ke rumah Ica, Amelia dibuatkan teh hangat dan beberapa kue.
Ica sudah lebih terbuka di hadapan Amelia. Ia juga sudah bisa tertawa banyak dan menariknya Ica cukup cerewet orangnya. Pernah saat mereka mengerjakan PR bersama-sama, Amelia yang baru menyelesaikan 3 dari 10 soal dan merasa lelah diomeli oleh Ica yang sudah 6 soal tapi masih semangat. Memang, orang yang kelihatannya pendiam belum tentu aslinya diam. Mereka punya banyak percakapan di dalam kepala mereka.
Hari Senin tiba, hari ini ada pelajaran matematika yang tidak disukai Amelia. Tapi, berbeda dengannya sepertinya Ica baik-baik saja. Dia sangat suka matematika. Istirahat hari ini dia bilang ingin tetap di kelas, jadi Amelia pergi jajan sendirian. Sepulang sekolah, entah kenapa Ica meminta Amelia untuk pulang duluan saja. Karena sepertinya mencurigakan, akhirnya Amelia memutuskan untuk pura-pura pulang. Setelah keluar dari gerbang sekolah, Amelia memutar langkah kecilnya dan kembali masuk ke sekolah. Amelia berhenti di balik pohon yang sekian meter jauhnya dari jendela kelas. Karena kelas 5B ada di bawah, maka Amelia mendapat titik yang baik dari balik pohon itu untuk mengintip ke arah jendela kelas. Ica masih di sana. Tidak lama kemudian ada tiga orang gadis masuk ke kelas dan dari jendela terlihat mereka mengelilingi Ica. Tidak begitu terlihat karena seorang gadis yang berbadan agak besar berdiri tepat di samping Ica menutup pandangan Amelia di luar jendela. Akhirnya, Amelia memutuskan untuk lebih mendekat dan mencari sudut lain dan saat itu ia terkejut. Gadis itu menjambak rambut Ica sampai Ica menangis. “Ada apa ini?” Batin Amelia.
Amelia yang tidak tahan dengan tangisan Ica segera berlari masuk ke kelas. “Hei, lepaskan Ica!” Ketiga gadis yang sedang merundung Ica segera menoleh ke arah Amelia dan seorang di antara mereka mendekati Amelia sambil berteriak, “Apa? Mau lapor guru? Hah?” Tampangnya cukup menyeramkan. Mereka bertiga adalah anak hits di sekolah, cukup populer atau lebih tepat dikatakan sok populer. Dua orang diantara mereka centil dan berperawakan lebih tinggi dari anak SD kebanyakan dan satunya berbadan besar. Amelia terlihat ketakutan tapi berusaha tegar karena mau menolong Ica. Gadis yang mendekati Amelia tadi melanjutkan, “Kamu tahu kenapa Ica dijambak? Itu karena dia berteman sama kamu! Hahahaha. Kami ga suka kamu punya teman, dasar sipit!” Gadis tinggi satunya menambahkan, “Iya, jadi Ica dijambak karena kamu!” Mata Amelia mulai basah tergenang air mata yang masih terbendung. Tapi tak lama kemudian air mata mengalir membasahi pipi Amelia.
“Hei! Bu Santi mau lewat, cepat pergi!” Teriak seorang murid lain di depan pintu. Sepertinya dia adalah komplotan tiga gadis itu. Entah kenapa Amelia tidak melihat gadis itu, sepertinya gadis yang berjaga di pintu tadi mengawasi dari ruang guru. Ketiga gadis tadi berlari sambil mengancam Ica dan Amelia supaya tidak bilang aneh-aneh.
Tak lama kemudian Bu Santi sampai ke kelas dan menjumpai Ica serta Amelia menangis dan sedikit acak-acakan. “Kalian kenapa? Siapa yang sudah menjahati kalian?” Tanyanya. Tapi ica dan Amelia hanya diam saja dan terus menangis. Bu Santi yang mencoba memahami akhirnya memeluk mereka.
Other Stories
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Testing
testing ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...