Ch 5. Namanya Ingin Hitam
“Anakku kamu kenapa?”
Tanya Mama Amelia saat melihat anaknya pulang ke rumah dengan wajah babak belur dan dibasahi air mata. Bajumu kotor semua bahkan ada beberapa bagian yang robek. Amelia tidak bisa menjawab, ia hanya terdiam, pandangannya kosong sambil sedikit terisak. Ia menuju ke kamar.
Mamanya segera menghampiri Amelia di kamar dan memeluknya. Sambil mengelus pelan kepalanya, Mama Amelia berusaha memahami keadaan. “Siapa yang jahatin kamu, Nak? Tenangin dirimu, kalau udah tenang, cerita ke mama ya.”
Beberapa menit berlalu, lalu Amelia memeluk erat mamanya sambil kembali menangis. “Ma, kenapa aku terlahir putih, kenapa aku dipukuli, apa aku tidak pantas bahagia?”
“Sabar ya, Nak.”
Mamanya tidak punya kata-kata lain untuk diucapkan dan ikut menangis.
Amelia meminta kepada kedua orang tuanya untuk tidak perlu melapor ke sekolah. Ia takut akan menerima kejahatan yang makin besar. Amelia juga masih trauma untuk kembali ke sekolah. Sambil membalut luka fisik dan luka hati, menunggu sembuh sendiri, Amelia memilih berdiam diri di kamar. Mama dan papanya terus mengawasi Amelia agar tidak terjadi apa-apa. Mamanya izin tidak masuk kerja demi menjaga buah hatinya ini.
Malam itu, saat melihat Amelia masih murung di kamarnya, Mamanya mengajak Amelia berdoa bersama. Kenyataan di depan mata yang terasa begitu menyakitkan kadangkala adalah panggilan Sang Pencipta agar kita menutup mata dan berbicara kepada-Nya. Mamanya mengingatkan Amelia agar selalu kembali kepada Tuhan, sebab Ia yang punya segala sesuatu di dalam dunia ini. Saat tangan kita sudah terasa tak mampu untuk menggenggam, itu berarti sudah saatnya kita membuka tangan menengadah kepada-Nya.
Doa malam itu diiringi air mata.
* * *
Sudah seminggu berlalu sejak peristiwa “bully” yang dialami Amelia terjadi. Selama seminggu itu, bangku Amelia kosong. Bu Santi, Sang wali kelas, selalu menanyakan kepada teman-temannya setiap hari, namun tidak ada yang mengerti. Nampaknya, Bu Santi merencanakan melakukan kunjungan ke rumah Amelia sepulang sekolah hari ini. Ica yang sekelas dengan Amelia tampak ingin mengungkapkan sesuatu pada Bu Santi.
Benar saja, sepulang sekolah, Ica segera berlari mencari Bu Santi di ruang guru. Syukur, Ica masih dapat berjumpa. Ica segera berkata bahwa ia berencana ikut datang ke rumah Amelia karena Ica turut merasa cemas melihat sahabatnya tidak masuk sekolah selama seminggu. Siang itu, Bu Santi dan Ica sama-sama pergi ke rumah Amelia.
Dengan motor Bu Santi, akhirnya mereka tiba di rumah Amelia. Seorang nenek keluar dari rumah Amelia dan terkejut dengan kehadiran tamu yang tidak asing baginya. Iya, nenek ini adalah neneknya Amelia yang tentu mengenal Ica karena Ica beberapa kali main ke rumah. Bu Santi segera menyapa dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas Amelia dan Sang nenek mempersilahkan mereka masuk. Hari itu, Mama Amelia sudah kembali bekerja sehingga hanya ada nenek dan Amelia di rumah.
“Sebentar ya Bu Guru, saya panggilkan cucu saya.”
Setelah beberapa saat, Amelia keluar dari kamarnya.
* * *
“Ma, mama hari ini masuk kerja ya?”
Tanya Amelia kepada mamanya pagi itu.
“Iya nak, kamu sama nenek ya di rumah. Besok kalau kamu sudah baikan, kembali ke sekolah ya?” Kata mamanya.
Amelia hari ini memang sudah membaik kondisinya. Memar di tubuhnya sudah hilang hanya tersisa beberapa luka. Hatinya , , , sudah berangsur-angsur pulih. Amelia adalah gadis yang kuat. Ia juga mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke sekolah. Sedikit takut apabila terbayang kejadian sore itu. Tapi Amelia memutuskan untuk tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke belakang sekolah. Amelia juga sempat teringat akan surat dari Ica yang memintanya bertemu di belakang sekolah. Amelia khawatir dengan Ica, sudah lama ia tidak bertemu dan berbicara dengan sahabatnya itu. Tanpa berpikir aneh-aneh, Amelia mempercayai sahabatnya dan malah khawatir dengannya.
Saat siang hari sedang bermain di kamar, Amelia mendengar ada suara motor berhenti di depan rumahnya. Mengintip dari jendela, karena kebetulan jendela kamarnya menghadap ke pagar, Amelia melihat ada Bu Santi dan Ica. Amelia segera menuju lemari dan mencari baju yang bagus untuk dipakai. Tak lama kemudian, Neneknya masuk memanggil Amelia. Amelia yang sudah berdandan dengan pakaian yang bagus, keluar menemui guru dan sahabatnya.
Saat bertemu dengan Bu Santi dan Ica, Amelia hanya senyum-senyum malu. Bu Santi tentu saja melihat luka Amelia dan bertanya sebisanya. Nenek Amelia yang lebih banyak bicara selama sesi kunjungan itu. Setelah kurang lebih satu jam berbincang dan menikmati teh yang disajikan nenek Amelia, Bu Santi pamit pulang. Bu Santi senang Amelia baik-baik saja dan bisa kembali ke sekolah besok. Amelia tentu tidak menceritakan bully yang dialaminya, ia hanya bilang lukanya karena terjatuh di sekolah.
Ica tidak ikut pulang dengan Bu Santi, ia ingin lebih lama bersama Amelia. Setelah motor Bu Santi hilang dari pandangan, Ica mengajak Amelia untuk bermain di luar. Amelia setuju dan izin kepada Neneknya.
Rumah Amelia dan Ica dekat persawahan. Siang menjelang sore itu, Amelia dan Ica berlari-lari di pematang sawah sambil tertawa. Keceriaan sore itu membuat Amelia tidak memikirkan soal surat dari Ica, ia senang bisa kembali bermain bersama sahabatnya. Saat matahari mulai terbenam, Amelia dan Ica duduk bersama di gubuk kecil tengah sawah. Amelia mengangkat tangannya menutupi matanya yang mencoba melihat ke arah matahari terbenam. Ia berkata pada Ica, “Ca, kalau panas-panasan di sawah kayak hari ini, kulitku bisa hitam ga ya? Aku ingin hitam. Kalau putih banyak yang ejek.” Kepolosan perkataan Amelia membuat Ica sedih. Ica memeluk Amelia.
Tanya Mama Amelia saat melihat anaknya pulang ke rumah dengan wajah babak belur dan dibasahi air mata. Bajumu kotor semua bahkan ada beberapa bagian yang robek. Amelia tidak bisa menjawab, ia hanya terdiam, pandangannya kosong sambil sedikit terisak. Ia menuju ke kamar.
Mamanya segera menghampiri Amelia di kamar dan memeluknya. Sambil mengelus pelan kepalanya, Mama Amelia berusaha memahami keadaan. “Siapa yang jahatin kamu, Nak? Tenangin dirimu, kalau udah tenang, cerita ke mama ya.”
Beberapa menit berlalu, lalu Amelia memeluk erat mamanya sambil kembali menangis. “Ma, kenapa aku terlahir putih, kenapa aku dipukuli, apa aku tidak pantas bahagia?”
“Sabar ya, Nak.”
Mamanya tidak punya kata-kata lain untuk diucapkan dan ikut menangis.
Amelia meminta kepada kedua orang tuanya untuk tidak perlu melapor ke sekolah. Ia takut akan menerima kejahatan yang makin besar. Amelia juga masih trauma untuk kembali ke sekolah. Sambil membalut luka fisik dan luka hati, menunggu sembuh sendiri, Amelia memilih berdiam diri di kamar. Mama dan papanya terus mengawasi Amelia agar tidak terjadi apa-apa. Mamanya izin tidak masuk kerja demi menjaga buah hatinya ini.
Malam itu, saat melihat Amelia masih murung di kamarnya, Mamanya mengajak Amelia berdoa bersama. Kenyataan di depan mata yang terasa begitu menyakitkan kadangkala adalah panggilan Sang Pencipta agar kita menutup mata dan berbicara kepada-Nya. Mamanya mengingatkan Amelia agar selalu kembali kepada Tuhan, sebab Ia yang punya segala sesuatu di dalam dunia ini. Saat tangan kita sudah terasa tak mampu untuk menggenggam, itu berarti sudah saatnya kita membuka tangan menengadah kepada-Nya.
Doa malam itu diiringi air mata.
* * *
Sudah seminggu berlalu sejak peristiwa “bully” yang dialami Amelia terjadi. Selama seminggu itu, bangku Amelia kosong. Bu Santi, Sang wali kelas, selalu menanyakan kepada teman-temannya setiap hari, namun tidak ada yang mengerti. Nampaknya, Bu Santi merencanakan melakukan kunjungan ke rumah Amelia sepulang sekolah hari ini. Ica yang sekelas dengan Amelia tampak ingin mengungkapkan sesuatu pada Bu Santi.
Benar saja, sepulang sekolah, Ica segera berlari mencari Bu Santi di ruang guru. Syukur, Ica masih dapat berjumpa. Ica segera berkata bahwa ia berencana ikut datang ke rumah Amelia karena Ica turut merasa cemas melihat sahabatnya tidak masuk sekolah selama seminggu. Siang itu, Bu Santi dan Ica sama-sama pergi ke rumah Amelia.
Dengan motor Bu Santi, akhirnya mereka tiba di rumah Amelia. Seorang nenek keluar dari rumah Amelia dan terkejut dengan kehadiran tamu yang tidak asing baginya. Iya, nenek ini adalah neneknya Amelia yang tentu mengenal Ica karena Ica beberapa kali main ke rumah. Bu Santi segera menyapa dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas Amelia dan Sang nenek mempersilahkan mereka masuk. Hari itu, Mama Amelia sudah kembali bekerja sehingga hanya ada nenek dan Amelia di rumah.
“Sebentar ya Bu Guru, saya panggilkan cucu saya.”
Setelah beberapa saat, Amelia keluar dari kamarnya.
* * *
“Ma, mama hari ini masuk kerja ya?”
Tanya Amelia kepada mamanya pagi itu.
“Iya nak, kamu sama nenek ya di rumah. Besok kalau kamu sudah baikan, kembali ke sekolah ya?” Kata mamanya.
Amelia hari ini memang sudah membaik kondisinya. Memar di tubuhnya sudah hilang hanya tersisa beberapa luka. Hatinya , , , sudah berangsur-angsur pulih. Amelia adalah gadis yang kuat. Ia juga mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke sekolah. Sedikit takut apabila terbayang kejadian sore itu. Tapi Amelia memutuskan untuk tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke belakang sekolah. Amelia juga sempat teringat akan surat dari Ica yang memintanya bertemu di belakang sekolah. Amelia khawatir dengan Ica, sudah lama ia tidak bertemu dan berbicara dengan sahabatnya itu. Tanpa berpikir aneh-aneh, Amelia mempercayai sahabatnya dan malah khawatir dengannya.
Saat siang hari sedang bermain di kamar, Amelia mendengar ada suara motor berhenti di depan rumahnya. Mengintip dari jendela, karena kebetulan jendela kamarnya menghadap ke pagar, Amelia melihat ada Bu Santi dan Ica. Amelia segera menuju lemari dan mencari baju yang bagus untuk dipakai. Tak lama kemudian, Neneknya masuk memanggil Amelia. Amelia yang sudah berdandan dengan pakaian yang bagus, keluar menemui guru dan sahabatnya.
Saat bertemu dengan Bu Santi dan Ica, Amelia hanya senyum-senyum malu. Bu Santi tentu saja melihat luka Amelia dan bertanya sebisanya. Nenek Amelia yang lebih banyak bicara selama sesi kunjungan itu. Setelah kurang lebih satu jam berbincang dan menikmati teh yang disajikan nenek Amelia, Bu Santi pamit pulang. Bu Santi senang Amelia baik-baik saja dan bisa kembali ke sekolah besok. Amelia tentu tidak menceritakan bully yang dialaminya, ia hanya bilang lukanya karena terjatuh di sekolah.
Ica tidak ikut pulang dengan Bu Santi, ia ingin lebih lama bersama Amelia. Setelah motor Bu Santi hilang dari pandangan, Ica mengajak Amelia untuk bermain di luar. Amelia setuju dan izin kepada Neneknya.
Rumah Amelia dan Ica dekat persawahan. Siang menjelang sore itu, Amelia dan Ica berlari-lari di pematang sawah sambil tertawa. Keceriaan sore itu membuat Amelia tidak memikirkan soal surat dari Ica, ia senang bisa kembali bermain bersama sahabatnya. Saat matahari mulai terbenam, Amelia dan Ica duduk bersama di gubuk kecil tengah sawah. Amelia mengangkat tangannya menutupi matanya yang mencoba melihat ke arah matahari terbenam. Ia berkata pada Ica, “Ca, kalau panas-panasan di sawah kayak hari ini, kulitku bisa hitam ga ya? Aku ingin hitam. Kalau putih banyak yang ejek.” Kepolosan perkataan Amelia membuat Ica sedih. Ica memeluk Amelia.
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...