Ch 6. Namanya Dikhianati
Hari ini Amelia kembali ke sekolah. Dengan hati yang dikuatkan, ia melangkah menyusuri gerbang hingga sampai ke kelas. Beberapa teman sekelas menyapa dan menanyakan kabar tapi tidak berbincang lama. Ica yang sudah ada di kelas menyapa dan ngobrol dengan Amelia.
Pelajaran demi pelajaran terlalui, tentu saja Amelia yang sudah seminggu tidak masuk sekolah tertinggal banyak pelajaran. Ia berusaha mengikuti sebisanya. apa yang dialaminya telah berpengaruh pada prestasinya. Pada jam istirahat, Amelia pergi ke taman dekat dinding sekolah untuk membeli jajan yang sudah seminggu lebih tidak ia beli. Amelia sempat mengajak Ica, tapi Ica ada urusan ke ruang guru saat jam istirahat. Maka, Amelia pergi sendirian.
Setelah menerima jajanan rujak sederhana dari penjual, Amelia segera pergi ke tempat duduk di taman. Saat fokus menikmati rujaknya, seorang anak laki-laki mendekati dia dan duduk di sebelahnya. Mata Amelia sempat melirik ke arahnya, tapi tidak menggubrisnya. Amelia sedikit menggeser posisi duduknya menjauhi anak itu. Amelia berpikir mungkin anak ini mau mengusili dia. Sambil mempercepat makan rujaknya, Amelia merasa sedikit cemas. Saat itu juga, anak laki-laki itu berkata, “Mbak Amelia.”
Amelia tidak menjawab dan terus memakan rujaknya. Anak laki-laki itu lanjut memperkenalkan diri. Ternyata dia adalah siswa kelas 4 SD, adik kelas Amelia, namanya Dodi. Dodi bercerita bahwa Amelia terkenal di kalangan teman-temannya. Tentu, terkenal karena dibully. Teman-teman Dodi termasuk orang-orang yang mengganggu Amelia dengan melempar makanan atau sampah. Tapi, Dodi tidak pernah ikutan. Dodi tidak berani melarang temannya karena takut dikucilkan. Selama percakapan ini berlangsung, Amelia hanya diam sambil menghabiskan rujaknya.
Setelah rujaknya habis, Amelia beranjak berdiri dan membuang bungkus rujak ke sampah di sebelahnya. Saat mau pergi, Dodi serentak memegang tangan Amelia, “Tunggu mbak.” Amelia kaget dan melompat sambil cepat-cepat melepas tangannya. Bukan karena apa-apa, tapi ia masih trauma. Ia menoleh ke arah Dodi dan matanya mulai berkaca-kaca. Dodi segera minta maaf sambil ikut berdiri dan menundukkan kepala. Dodi bilang kalau ia tak bermaksud jahat, ia hanya mau menyampaikan rahasia yang ia ketahui kepada Amelia karena Dodi kasihan kepadanya.
Akhirnya Amelia kembali duduk dan mencoba mendengar cerita Dodi. Sampai saat ini, Amelia belum berbicara. Dodi menceritakan apa yang dilihatnya sekitar 10 hari yang lalu.
Waktu itu, Dodi bersama teman-temannya pulang agak terlambat karena bermain bola di lapangan sekolah. Saat hendak pulang, Dodi melihat teman Amelia yaitu Ica sedang berbincang-bincang dengan beberapa anak gadis. Dari cerita Dodi, Amelia tahu bahwa beberapa anak gadis itu adalah anak-anak yang menjahili dan menjahati Ica waktu itu. Dari cerita Dodi, total ada 4 anak gadis yang bicara dengan Ica.
Saat itu, Amelia akhirnya berbicara. “Apakah mereka menyakiti Ica?”
Dodi menjawab bahwa justru sebaliknya. Mereka tampak baik dan ramah terhadap Ica. Bahkan ada yang merangkul Ica. Dodi ingin Amelia berhati-hati terhadap Ica karena tampaknya ICa adalah teman mereka dan Dodi tahu bahwa 4 anak gadis itu seringkali buat onar di sekolah. Bukan anak baik-baik.
Mendengar itu, Amelia menjadi marah. Ia merasa sahabatnya difitnah. “Kamu mau adu domba ya?”
Dengan kesal, Amelia segera berlari pergi meninggalkan Dodi. Dodi hanya menatap Amelia.
Sesampainya di kelas, karena jam istirahat hampir berakhir, Ica menyapa Amelia. Amelia sempat terdiam teringat perkataan Dodi. Tapi Amelia segera menyingkirkan perasaan itu, ia tak mau curiga pada sahabatnya sendiri.
Sepulang sekolah, Amelia pulang bersama dengan Ica. Namun di tengah jalan, Ica bilang ada yang tertinggal di sekolah. Amelia ingin menemani Ica kembali ke sekolah tapi ditolak. Ica ingin kembali sendirian saja.
“Bagaimana kalau kamu ketemu sama anak-anak yang jahatin kamu waktu itu?” Kata Amelia sedikit kesal.
“Tenang saja Amelia, mereka pasti sudah pulang. Kamu pulang saja. Percaya sama sahabatmu ya.” Balas Ica.
Ica segera kembali berlawanan arah dengan Amelia.
Setelah beberapa langkah, Amelia memutuskan untuk berputar arah membuntuti Ica dari jauh. Ia mau memastikan Ica aman dari serangan.
Saat Ica menginjakkan kakinya di gerbang sekolah, Amelia melihat dari jauh dan segera berlari kecil. Amelia tidak ingin ketahuan oleh Ica. Saat bersembunyi di balik gerbang sekolah dan melihat ke dalam, Amelia kehilangan jejak Ica. Saat fokus memperhatikan, tiba-tiba ada yang menarik tas Amelia sehingga Amelia tertarik ke belakang. Hendak teriak dan menangis, tiba-tiba suara anak laki-laki menenangkan, “Ssssttt!!!!!!” Sambil jari telunjuk memberi isyarat di depan mulutnya.
Itu Dodi. Entah kenapa Dodi ada di sana. “Aku tadi mau pulang, kebetulan dari jauh liat Mbak membuntuti Mbak Ica. Jadi, aku ke sini. Kalau Mbak Amelia mau cari Mbak Ica, ayo ikut aku.”
Dodi mengantar Amelia ke suatu tempat. Tidak, ini adalah arah menuju belakang sekolah. Langkah Amelia terhenti. “Kenapa Mbak?” Tanya Dodi. “Ja - Ja - Jangan ke - ke sini.” Jawab Amelia terbata-bata. Trauma kejadian saat itu terbayang kembali di kepala Amelia. Amelia mulai menangis. Dodi bingung karena ia tidak tahu apa yang terjadi. Mendengar tangisan Amelia, ada beberapa langkah kaki mendekat ke arah Amelia. Mereka adalah 4 anak yang menjahili Ica dulu. Tunggu dulu. Di sana juga ada . . . Ica?
Sambil menangis, Amelia menanyakan kepada Ica, “Ica, kenapa kamu sama mereka? Apa kamu disakiti?”
Ica tidak berani menjawab. Salah seorang gadis yang rambutnya dikuncir dua membantu Ica menjawab, “Hello! Kamu ga nyadar ya? Ica itu teman kami. Ia pura-pura deketin kamu supaya kami punya kesempatan buat mukul kamu, dasar putih sipit! Hahahahaha.”
Amelia membantah omongan itu. Ia bilang kalau memang teman, mengapa dulu menyakiti Ica. Tapi, gadis lain yang berbadan besar tersenyum dan ingin segera menjambak Amelia. Dodi tentunya berusaha menghalangi tapi saat itu Ica berteriak, “Cukup! Sudah cukup! Amelia, aku bukan sahabatmu. Aku teman mereka, lupakan aku.” Segera setelah berkata demikian, Ica berlari meninggalkan Amelia. Saat tepat melewati Amelia, di sudut mata Amelia, Ica terlihat menangis.
Amelia hanya terdiam tak dapat memproses apa yang sedang terjadi. Hatinya hancur berkecamuk. Ingin ia tidak percaya. Sepertinya ini cuma salah paham. Tapi, hatinya terlalu sakit. Dodi segera menggandeng tangan Amelia dan berlari pergi dari sana. Amelia berlari dengan tatapan kosong dan mata berkaca-kaca. Dalam hatinya, ia bertanya, “Inikah namanya dikhianati?”
Pelajaran demi pelajaran terlalui, tentu saja Amelia yang sudah seminggu tidak masuk sekolah tertinggal banyak pelajaran. Ia berusaha mengikuti sebisanya. apa yang dialaminya telah berpengaruh pada prestasinya. Pada jam istirahat, Amelia pergi ke taman dekat dinding sekolah untuk membeli jajan yang sudah seminggu lebih tidak ia beli. Amelia sempat mengajak Ica, tapi Ica ada urusan ke ruang guru saat jam istirahat. Maka, Amelia pergi sendirian.
Setelah menerima jajanan rujak sederhana dari penjual, Amelia segera pergi ke tempat duduk di taman. Saat fokus menikmati rujaknya, seorang anak laki-laki mendekati dia dan duduk di sebelahnya. Mata Amelia sempat melirik ke arahnya, tapi tidak menggubrisnya. Amelia sedikit menggeser posisi duduknya menjauhi anak itu. Amelia berpikir mungkin anak ini mau mengusili dia. Sambil mempercepat makan rujaknya, Amelia merasa sedikit cemas. Saat itu juga, anak laki-laki itu berkata, “Mbak Amelia.”
Amelia tidak menjawab dan terus memakan rujaknya. Anak laki-laki itu lanjut memperkenalkan diri. Ternyata dia adalah siswa kelas 4 SD, adik kelas Amelia, namanya Dodi. Dodi bercerita bahwa Amelia terkenal di kalangan teman-temannya. Tentu, terkenal karena dibully. Teman-teman Dodi termasuk orang-orang yang mengganggu Amelia dengan melempar makanan atau sampah. Tapi, Dodi tidak pernah ikutan. Dodi tidak berani melarang temannya karena takut dikucilkan. Selama percakapan ini berlangsung, Amelia hanya diam sambil menghabiskan rujaknya.
Setelah rujaknya habis, Amelia beranjak berdiri dan membuang bungkus rujak ke sampah di sebelahnya. Saat mau pergi, Dodi serentak memegang tangan Amelia, “Tunggu mbak.” Amelia kaget dan melompat sambil cepat-cepat melepas tangannya. Bukan karena apa-apa, tapi ia masih trauma. Ia menoleh ke arah Dodi dan matanya mulai berkaca-kaca. Dodi segera minta maaf sambil ikut berdiri dan menundukkan kepala. Dodi bilang kalau ia tak bermaksud jahat, ia hanya mau menyampaikan rahasia yang ia ketahui kepada Amelia karena Dodi kasihan kepadanya.
Akhirnya Amelia kembali duduk dan mencoba mendengar cerita Dodi. Sampai saat ini, Amelia belum berbicara. Dodi menceritakan apa yang dilihatnya sekitar 10 hari yang lalu.
Waktu itu, Dodi bersama teman-temannya pulang agak terlambat karena bermain bola di lapangan sekolah. Saat hendak pulang, Dodi melihat teman Amelia yaitu Ica sedang berbincang-bincang dengan beberapa anak gadis. Dari cerita Dodi, Amelia tahu bahwa beberapa anak gadis itu adalah anak-anak yang menjahili dan menjahati Ica waktu itu. Dari cerita Dodi, total ada 4 anak gadis yang bicara dengan Ica.
Saat itu, Amelia akhirnya berbicara. “Apakah mereka menyakiti Ica?”
Dodi menjawab bahwa justru sebaliknya. Mereka tampak baik dan ramah terhadap Ica. Bahkan ada yang merangkul Ica. Dodi ingin Amelia berhati-hati terhadap Ica karena tampaknya ICa adalah teman mereka dan Dodi tahu bahwa 4 anak gadis itu seringkali buat onar di sekolah. Bukan anak baik-baik.
Mendengar itu, Amelia menjadi marah. Ia merasa sahabatnya difitnah. “Kamu mau adu domba ya?”
Dengan kesal, Amelia segera berlari pergi meninggalkan Dodi. Dodi hanya menatap Amelia.
Sesampainya di kelas, karena jam istirahat hampir berakhir, Ica menyapa Amelia. Amelia sempat terdiam teringat perkataan Dodi. Tapi Amelia segera menyingkirkan perasaan itu, ia tak mau curiga pada sahabatnya sendiri.
Sepulang sekolah, Amelia pulang bersama dengan Ica. Namun di tengah jalan, Ica bilang ada yang tertinggal di sekolah. Amelia ingin menemani Ica kembali ke sekolah tapi ditolak. Ica ingin kembali sendirian saja.
“Bagaimana kalau kamu ketemu sama anak-anak yang jahatin kamu waktu itu?” Kata Amelia sedikit kesal.
“Tenang saja Amelia, mereka pasti sudah pulang. Kamu pulang saja. Percaya sama sahabatmu ya.” Balas Ica.
Ica segera kembali berlawanan arah dengan Amelia.
Setelah beberapa langkah, Amelia memutuskan untuk berputar arah membuntuti Ica dari jauh. Ia mau memastikan Ica aman dari serangan.
Saat Ica menginjakkan kakinya di gerbang sekolah, Amelia melihat dari jauh dan segera berlari kecil. Amelia tidak ingin ketahuan oleh Ica. Saat bersembunyi di balik gerbang sekolah dan melihat ke dalam, Amelia kehilangan jejak Ica. Saat fokus memperhatikan, tiba-tiba ada yang menarik tas Amelia sehingga Amelia tertarik ke belakang. Hendak teriak dan menangis, tiba-tiba suara anak laki-laki menenangkan, “Ssssttt!!!!!!” Sambil jari telunjuk memberi isyarat di depan mulutnya.
Itu Dodi. Entah kenapa Dodi ada di sana. “Aku tadi mau pulang, kebetulan dari jauh liat Mbak membuntuti Mbak Ica. Jadi, aku ke sini. Kalau Mbak Amelia mau cari Mbak Ica, ayo ikut aku.”
Dodi mengantar Amelia ke suatu tempat. Tidak, ini adalah arah menuju belakang sekolah. Langkah Amelia terhenti. “Kenapa Mbak?” Tanya Dodi. “Ja - Ja - Jangan ke - ke sini.” Jawab Amelia terbata-bata. Trauma kejadian saat itu terbayang kembali di kepala Amelia. Amelia mulai menangis. Dodi bingung karena ia tidak tahu apa yang terjadi. Mendengar tangisan Amelia, ada beberapa langkah kaki mendekat ke arah Amelia. Mereka adalah 4 anak yang menjahili Ica dulu. Tunggu dulu. Di sana juga ada . . . Ica?
Sambil menangis, Amelia menanyakan kepada Ica, “Ica, kenapa kamu sama mereka? Apa kamu disakiti?”
Ica tidak berani menjawab. Salah seorang gadis yang rambutnya dikuncir dua membantu Ica menjawab, “Hello! Kamu ga nyadar ya? Ica itu teman kami. Ia pura-pura deketin kamu supaya kami punya kesempatan buat mukul kamu, dasar putih sipit! Hahahahaha.”
Amelia membantah omongan itu. Ia bilang kalau memang teman, mengapa dulu menyakiti Ica. Tapi, gadis lain yang berbadan besar tersenyum dan ingin segera menjambak Amelia. Dodi tentunya berusaha menghalangi tapi saat itu Ica berteriak, “Cukup! Sudah cukup! Amelia, aku bukan sahabatmu. Aku teman mereka, lupakan aku.” Segera setelah berkata demikian, Ica berlari meninggalkan Amelia. Saat tepat melewati Amelia, di sudut mata Amelia, Ica terlihat menangis.
Amelia hanya terdiam tak dapat memproses apa yang sedang terjadi. Hatinya hancur berkecamuk. Ingin ia tidak percaya. Sepertinya ini cuma salah paham. Tapi, hatinya terlalu sakit. Dodi segera menggandeng tangan Amelia dan berlari pergi dari sana. Amelia berlari dengan tatapan kosong dan mata berkaca-kaca. Dalam hatinya, ia bertanya, “Inikah namanya dikhianati?”
Other Stories
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...