Jurnalis Yang Curiga
Malam itu kota masih gemerlap. Kembang api sisa perayaan pelantikan meledak di udara, jalan jalan dipenuhi orang yang bersorak sambil menyanyikan lagu kebangsaan. Namun di sebuah kamar hotel sederhana tidak jauh dari istana, Ezra duduk di depan laptopnya dengan wajah serius. Ia menonton ulang rekaman rapat kabinet yang baru saja disiarkan. Jari jarinya mengetuk meja, matanya tidak lepas dari layar.
Setiap kali wajah para menteri muncul, ia berhenti lalu memperbesar gambar. Senyum mereka terlalu kaku, gerakan tangan mereka seolah diatur, dan intonasi suara mereka terdengar seperti sedang membaca naskah. Ezra menuliskan catatan kecil. “Terlalu teatrikal. Tidak alami. Seperti aktor.”
Ia mengulang bagian ketika Menteri Pertahanan berbicara tentang nasi goreng sebagai metode latihan prajurit. Ezra mengerutkan dahi. “Tidak mungkin seorang jenderal bicara begitu. Ini bukan selip lidah biasa. Ada sesuatu di balik ini.”
Telepon genggamnya bergetar. Pesan masuk dari sahabatnya sesama jurnalis bernama Karin. “Ezra kamu menonton rapat itu. Semua orang menganggap lucu sekali. Rating televisi naik gila gilaan.”
Ezra mengetik balasan cepat. “Aku rasa ada yang tidak beres. Senyum mereka tidak pernah lepas tapi kosong. Aku mau selidiki lebih jauh.”
Karin menjawab dengan emotikon tertawa. “Kamu terlalu serius. Mungkin itu gaya baru komunikasi politik.”
Ezra menutup ponselnya dan menarik napas panjang. Ia tahu rasa curiganya mungkin terdengar berlebihan. Tapi insting jurnalis yang ia asah sejak lama tidak pernah salah. Ada pola yang ganjil. Ia merasa seakan sedang menonton sandiwara besar yang dipentaskan untuk seluruh bangsa.
Keesokan paginya Ezra berangkat ke kantor redaksi. Gedung itu tidak terlalu besar, hanya lima lantai, tapi menjadi salah satu media independen yang cukup berani mengkritik pemerintah. Rekan rekannya di meja redaksi sudah heboh membicarakan rapat kabinet. Mereka tertawa melihat ulang potongan video Menteri Hukum yang salah membaca naskah.
Seorang editor berkata sambil terbahak. “Ini bahan emas. Rakyat suka pemimpin yang bisa ditertawakan. Kita buat judul besar. Pemerintah hadirkan gaya baru penuh humor.”
Ezra mengangkat tangan. “Tunggu. Apa tidak ada yang merasa aneh. Gerakan mereka terlalu kaku. Wajah mereka seperti menahan sesuatu. Aku rasa mereka bukan orang yang sebenarnya.”
Ruangan langsung hening. Beberapa menatap Ezra dengan heran. Sang editor mendengus. “Ezra kamu suka sekali teori aneh. Mereka jelas menteri asli. Apa kamu pikir istana mengirim aktor ke depan kamera.”
Ezra menatap tajam. “Mungkin saja. Politik selalu punya panggung. Tapi ini terasa terlalu nyata.”
Editor mengibaskan tangan. “Kalau kamu mau kejar teori itu silakan. Tapi jangan tarik nama kantor kalau nanti kamu salah. Publik sedang memuja presiden baru. Hati hati Ezra.”
Ezra tidak menjawab. Ia mengemasi kameranya lalu keluar. Hatinya sudah bulat. Ia akan menyelidiki sendiri walaupun tanpa dukungan redaksi.
Langkah pertamanya adalah mencari data tentang para menteri. Ia pergi ke perpustakaan nasional yang menyimpan arsip pemerintahan. Di ruang arsip berdebu ia membuka berkas lama tentang daftar pejabat. Foto foto menteri asli terlihat jelas, berbeda dengan wajah yang ia lihat di televisi. Bentuk rahang, tatapan mata, dan cara tersenyum tidak sama. Ia mencatat perbedaan itu satu per satu.
Saat sedang menyalin catatan, seorang petugas perpustakaan menghampiri. “Anda mencari apa. Dokumen itu sudah lama tidak dipinjam.”
Ezra tersenyum tipis. “Saya sedang riset. Ingin memastikan informasi publik sesuai kenyataan.”
Petugas itu mengangguk lalu berlalu. Namun Ezra merasakan tatapan mencurigakan dari pria itu. Seakan ia akan melaporkan kegiatannya.
Sore hari Ezra kembali ke hotel. Ia menempelkan foto foto menteri asli di papan kecil, lalu menempelkan foto menteri yang tampil di televisi. Ia menarik garis dengan spidol merah, menuliskan catatan detail. “Hidung berbeda. Senyum tidak sama. Ekspresi kaku. Kemungkinan besar orang yang berbeda.”
Malam semakin larut ketika pintu kamarnya tiba tiba diketuk keras. Ezra kaget. Ia buru buru menutup laptop dan menyembunyikan papan catatannya di bawah ranjang. Ketukan terdengar lagi. “Ezra. Ini aku Karin.”
Ia membuka pintu dengan lega. Karin masuk dengan wajah tegang. “Kamu harus hati hati. Tadi siang aku dengar dari kenalan di istana, ada daftar wartawan yang diawasi. Namamu ada di situ.”
Ezra terdiam sejenak. “Berarti mereka memang menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak kenapa harus mengawasi wartawan.”
Karin menggenggam tangannya. “Jangan nekat. Kalau kamu teruskan ini, kamu bisa hilang. Ingat beberapa jurnalis yang dulu menghilang tanpa jejak.”
Ezra menatap matanya serius. “Kalau aku diam, kebenaran tidak akan pernah keluar. Rakyat berhak tahu siapa yang memimpin mereka.”
Karin menunduk. Ia tahu Ezra keras kepala. Ia hanya bisa berpesan. “Kalau begitu lakukan dengan cerdas. Jangan sendirian. Aku akan bantu sebisa mungkin.”
Ezra mengangguk. “Terima kasih. Aku akan berhati hati.”
Hari hari berikutnya Ezra mulai mengikuti jejak para menteri. Ia menyamar sebagai teknisi kamera untuk bisa masuk ke beberapa acara resmi. Dari dekat ia mengamati gerakan mereka. Benar saja, setiap kali kamera menyala, ekspresi mereka berubah seolah sedang memainkan peran. Namun begitu kamera mati, mereka terlihat bingung, saling menoleh, bahkan ada yang membuka catatan kecil untuk mengingat kalimat yang harus diucapkan selanjutnya.
Suatu malam Ezra mengikuti mobil dinas salah satu menteri hingga ke pinggiran kota. Mobil itu berhenti di sebuah gedung tua bekas teater. Dari jendela ia melihat menteri palsu itu bertemu dengan pelatih akting. Mereka berlatih membaca naskah di bawah cahaya redup. Ezra memotret dengan kameranya, jantungnya berdebar kencang. Bukti ini semakin memperkuat dugaannya.
Namun tiba tiba terdengar suara dari belakang. “Apa yang kamu lakukan di sini.”
Ezra berbalik cepat. Dua pria berpakaian hitam berdiri dengan tatapan dingin. Ia segera berlari menyusuri gang sempit. Pria pria itu mengejarnya. Napas Ezra memburu. Ia menyeberang jalan, menyelinap ke pasar malam, bersembunyi di balik tenda penjual makanan.
Suara langkah mereka mendekat. Ezra menahan napas. Keringat mengalir di wajahnya. Beberapa detik kemudian suara itu menjauh. Ia baru berani keluar dan berlari ke arah lain.
Malam itu ia kembali ke hotel dengan tubuh lelah namun hati bersemangat. Ia tahu sekarang ia bukan hanya curiga, tapi sudah menemukan jejak nyata. Para menteri memang hanya aktor bayaran.
Ezra menyalakan laptop lalu menulis laporan awal. “Bukti pertama. Perbedaan wajah menteri asli dan menteri sekarang. Bukti kedua. Latihan akting di gedung tua. Bukti ketiga. Pengawasan terhadap jurnalis. Kesimpulan sementara. Kabinet ini palsu.”
Ia berhenti sejenak, menatap layar dengan tatapan kosong. “Tapi bagaimana aku bisa membuktikan ini pada publik. Semua orang sudah terlanjur percaya.”
Jawaban itu belum ia miliki. Namun satu hal pasti, ia tidak akan mundur.
Di sisi lain, di dalam istana, Aveline duduk di ruang kerjanya ditemani ajudan. Ia menatap layar yang memperlihatkan daftar nama wartawan. Jari jarinya berhenti di satu nama. Ezra.
Senyumnya muncul lagi. Senyum dingin yang tidak pernah ditangkap kamera publik. “Anak muda ini terlalu ingin tahu. Segera awasi lebih ketat. Jangan biarkan ia merusak panggungku.”
Ajudan menunduk. “Siap Ibu Presiden.”
Lampu ruangan redup. Di luar sana rakyat masih percaya pada ilusi sempurna. Sementara Ezra, jurnalis muda yang keras kepala, baru saja membuka pintu menuju bahaya yang lebih besar.
Pertunjukan belum berakhir. Justru baru saja dimulai.
Setiap kali wajah para menteri muncul, ia berhenti lalu memperbesar gambar. Senyum mereka terlalu kaku, gerakan tangan mereka seolah diatur, dan intonasi suara mereka terdengar seperti sedang membaca naskah. Ezra menuliskan catatan kecil. “Terlalu teatrikal. Tidak alami. Seperti aktor.”
Ia mengulang bagian ketika Menteri Pertahanan berbicara tentang nasi goreng sebagai metode latihan prajurit. Ezra mengerutkan dahi. “Tidak mungkin seorang jenderal bicara begitu. Ini bukan selip lidah biasa. Ada sesuatu di balik ini.”
Telepon genggamnya bergetar. Pesan masuk dari sahabatnya sesama jurnalis bernama Karin. “Ezra kamu menonton rapat itu. Semua orang menganggap lucu sekali. Rating televisi naik gila gilaan.”
Ezra mengetik balasan cepat. “Aku rasa ada yang tidak beres. Senyum mereka tidak pernah lepas tapi kosong. Aku mau selidiki lebih jauh.”
Karin menjawab dengan emotikon tertawa. “Kamu terlalu serius. Mungkin itu gaya baru komunikasi politik.”
Ezra menutup ponselnya dan menarik napas panjang. Ia tahu rasa curiganya mungkin terdengar berlebihan. Tapi insting jurnalis yang ia asah sejak lama tidak pernah salah. Ada pola yang ganjil. Ia merasa seakan sedang menonton sandiwara besar yang dipentaskan untuk seluruh bangsa.
Keesokan paginya Ezra berangkat ke kantor redaksi. Gedung itu tidak terlalu besar, hanya lima lantai, tapi menjadi salah satu media independen yang cukup berani mengkritik pemerintah. Rekan rekannya di meja redaksi sudah heboh membicarakan rapat kabinet. Mereka tertawa melihat ulang potongan video Menteri Hukum yang salah membaca naskah.
Seorang editor berkata sambil terbahak. “Ini bahan emas. Rakyat suka pemimpin yang bisa ditertawakan. Kita buat judul besar. Pemerintah hadirkan gaya baru penuh humor.”
Ezra mengangkat tangan. “Tunggu. Apa tidak ada yang merasa aneh. Gerakan mereka terlalu kaku. Wajah mereka seperti menahan sesuatu. Aku rasa mereka bukan orang yang sebenarnya.”
Ruangan langsung hening. Beberapa menatap Ezra dengan heran. Sang editor mendengus. “Ezra kamu suka sekali teori aneh. Mereka jelas menteri asli. Apa kamu pikir istana mengirim aktor ke depan kamera.”
Ezra menatap tajam. “Mungkin saja. Politik selalu punya panggung. Tapi ini terasa terlalu nyata.”
Editor mengibaskan tangan. “Kalau kamu mau kejar teori itu silakan. Tapi jangan tarik nama kantor kalau nanti kamu salah. Publik sedang memuja presiden baru. Hati hati Ezra.”
Ezra tidak menjawab. Ia mengemasi kameranya lalu keluar. Hatinya sudah bulat. Ia akan menyelidiki sendiri walaupun tanpa dukungan redaksi.
Langkah pertamanya adalah mencari data tentang para menteri. Ia pergi ke perpustakaan nasional yang menyimpan arsip pemerintahan. Di ruang arsip berdebu ia membuka berkas lama tentang daftar pejabat. Foto foto menteri asli terlihat jelas, berbeda dengan wajah yang ia lihat di televisi. Bentuk rahang, tatapan mata, dan cara tersenyum tidak sama. Ia mencatat perbedaan itu satu per satu.
Saat sedang menyalin catatan, seorang petugas perpustakaan menghampiri. “Anda mencari apa. Dokumen itu sudah lama tidak dipinjam.”
Ezra tersenyum tipis. “Saya sedang riset. Ingin memastikan informasi publik sesuai kenyataan.”
Petugas itu mengangguk lalu berlalu. Namun Ezra merasakan tatapan mencurigakan dari pria itu. Seakan ia akan melaporkan kegiatannya.
Sore hari Ezra kembali ke hotel. Ia menempelkan foto foto menteri asli di papan kecil, lalu menempelkan foto menteri yang tampil di televisi. Ia menarik garis dengan spidol merah, menuliskan catatan detail. “Hidung berbeda. Senyum tidak sama. Ekspresi kaku. Kemungkinan besar orang yang berbeda.”
Malam semakin larut ketika pintu kamarnya tiba tiba diketuk keras. Ezra kaget. Ia buru buru menutup laptop dan menyembunyikan papan catatannya di bawah ranjang. Ketukan terdengar lagi. “Ezra. Ini aku Karin.”
Ia membuka pintu dengan lega. Karin masuk dengan wajah tegang. “Kamu harus hati hati. Tadi siang aku dengar dari kenalan di istana, ada daftar wartawan yang diawasi. Namamu ada di situ.”
Ezra terdiam sejenak. “Berarti mereka memang menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak kenapa harus mengawasi wartawan.”
Karin menggenggam tangannya. “Jangan nekat. Kalau kamu teruskan ini, kamu bisa hilang. Ingat beberapa jurnalis yang dulu menghilang tanpa jejak.”
Ezra menatap matanya serius. “Kalau aku diam, kebenaran tidak akan pernah keluar. Rakyat berhak tahu siapa yang memimpin mereka.”
Karin menunduk. Ia tahu Ezra keras kepala. Ia hanya bisa berpesan. “Kalau begitu lakukan dengan cerdas. Jangan sendirian. Aku akan bantu sebisa mungkin.”
Ezra mengangguk. “Terima kasih. Aku akan berhati hati.”
Hari hari berikutnya Ezra mulai mengikuti jejak para menteri. Ia menyamar sebagai teknisi kamera untuk bisa masuk ke beberapa acara resmi. Dari dekat ia mengamati gerakan mereka. Benar saja, setiap kali kamera menyala, ekspresi mereka berubah seolah sedang memainkan peran. Namun begitu kamera mati, mereka terlihat bingung, saling menoleh, bahkan ada yang membuka catatan kecil untuk mengingat kalimat yang harus diucapkan selanjutnya.
Suatu malam Ezra mengikuti mobil dinas salah satu menteri hingga ke pinggiran kota. Mobil itu berhenti di sebuah gedung tua bekas teater. Dari jendela ia melihat menteri palsu itu bertemu dengan pelatih akting. Mereka berlatih membaca naskah di bawah cahaya redup. Ezra memotret dengan kameranya, jantungnya berdebar kencang. Bukti ini semakin memperkuat dugaannya.
Namun tiba tiba terdengar suara dari belakang. “Apa yang kamu lakukan di sini.”
Ezra berbalik cepat. Dua pria berpakaian hitam berdiri dengan tatapan dingin. Ia segera berlari menyusuri gang sempit. Pria pria itu mengejarnya. Napas Ezra memburu. Ia menyeberang jalan, menyelinap ke pasar malam, bersembunyi di balik tenda penjual makanan.
Suara langkah mereka mendekat. Ezra menahan napas. Keringat mengalir di wajahnya. Beberapa detik kemudian suara itu menjauh. Ia baru berani keluar dan berlari ke arah lain.
Malam itu ia kembali ke hotel dengan tubuh lelah namun hati bersemangat. Ia tahu sekarang ia bukan hanya curiga, tapi sudah menemukan jejak nyata. Para menteri memang hanya aktor bayaran.
Ezra menyalakan laptop lalu menulis laporan awal. “Bukti pertama. Perbedaan wajah menteri asli dan menteri sekarang. Bukti kedua. Latihan akting di gedung tua. Bukti ketiga. Pengawasan terhadap jurnalis. Kesimpulan sementara. Kabinet ini palsu.”
Ia berhenti sejenak, menatap layar dengan tatapan kosong. “Tapi bagaimana aku bisa membuktikan ini pada publik. Semua orang sudah terlanjur percaya.”
Jawaban itu belum ia miliki. Namun satu hal pasti, ia tidak akan mundur.
Di sisi lain, di dalam istana, Aveline duduk di ruang kerjanya ditemani ajudan. Ia menatap layar yang memperlihatkan daftar nama wartawan. Jari jarinya berhenti di satu nama. Ezra.
Senyumnya muncul lagi. Senyum dingin yang tidak pernah ditangkap kamera publik. “Anak muda ini terlalu ingin tahu. Segera awasi lebih ketat. Jangan biarkan ia merusak panggungku.”
Ajudan menunduk. “Siap Ibu Presiden.”
Lampu ruangan redup. Di luar sana rakyat masih percaya pada ilusi sempurna. Sementara Ezra, jurnalis muda yang keras kepala, baru saja membuka pintu menuju bahaya yang lebih besar.
Pertunjukan belum berakhir. Justru baru saja dimulai.
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...