Pertunjukan Internasional (tamat Part 1)
Kami semua terperangkap di kursi berlapis beludru merah yang terasa seperti jebakan musang mahal mata kami disematkan pada panggung marmer dingin tempat pameran absurditas Tuan Presiden berlangsung itu adalah simfoni kacau yang disutradarai oleh kegilaan dan dibintangi oleh para menteri yang kini tidak lebih dari boneka bermata kosong kulit wajah mereka berminyak di bawah lampu sorot teater yang terlalu panas dan setiap gerakan mereka terasa seperti kejang listrik yang menjalar ke tulang punggungku aku yakin semua delegasi di Aula Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini merasakan hal yang sama perut mereka bergejolak dan pikiran mereka berteriak ingin lari tapi kaki mereka tertanam beton keheningan yang dingin dan mematikan memenuhi ruangan sesekali hanya disela oleh bunyi klik kamera jurnalis yang tampak seperti sedang mengabadikan kiamat kecil alih-alih konferensi internasional.
Tuan Presiden berdiri di tengah panggung dengan jubah sutra ungu yang terlalu besar dan mahkota kardus yang miring senyumnya yang permanen itu tampak seperti bekas luka buruk di wajahnya ia memegang mikrofon emas yang berkilauan yang seharusnya memberikan kehormatan pada pidato kenegaraan tapi yang ia berikan hanyalah bisikan menjijikkan dan tawa kering yang terdengar seperti gesekan amplas “Saudara-saudara dari seluruh dunia” katanya suaranya memantul membuat telinga kami berdenging “Selamat datang di malam peresmian Peradaban Baru”
Di belakangnya berdiri enam menteri yang sebelumnya merupakan sosok terhormat kini berlumuran cat kental berwarna kuning dan hijau yang tampak seperti campuran lendir dan minyak mentah Menteri Luar Negeri yang biasanya rapi kini telanjang dada hanya mengenakan celana pendek polkadot konyol wajahnya diolesi lipstik merah cerah dan ia terus menggerakkan pinggulnya dengan gerakan yang aneh dan tidak wajar seolah-olah ia sedang menari tarian ritual kesurupan tubuhnya kurus kering terlihat menjijikkan di bawah cat yang lengket aku bertanya-tanya apakah ia masih sadar atau apakah jiwanya sudah dievakuasi meninggalkan cangkang tubuh itu sebagai wadah bagi sandiwara mengerikan ini.
Monolog Batin: Ya Tuhan apa yang aku lihat ini ini bukan konferensi ini adalah lelucon sakit yang merangkak keluar dari lubang neraka yang mana aku harus lari tapi leherku kaku aku ingin muntah bau cat dan parfum murahan ini bercampur dengan aroma keringat ketakutan memenuhi udara seolah-olah bau kebusukan politik ini akhirnya bermanifestasi secara fisik aku melihat diplomat di sebelahku seorang wanita tua dari Skandinavia tangannya gemetar di pangkuannya matanya lebar tapi ia tidak bergerak ia juga terhipnotis oleh kengerian ini kita semua adalah lalat yang terjebak di jaring laba-laba sutra Presiden gila itu.
Tiba-tiba Menteri Pertahanan yang besar dan botak mulai merangkak di lantai panggung ia mengenakan topi pesta ulang tahun berbentuk kerucut yang membuatnya tampak lebih menyedihkan ia mengeluarkan suara melengking seperti bayi yang kesakitan kemudian ia mulai menjilati cairan kental yang tumpah dari botol di tangan Menteri Pangan cairan itu berwarna merah tua dan terlihat seperti darah yang dicampur gula tebu “Ah lihatlah kawan-kawan” seru Presiden dengan gembira sambil menunjuk ke Menteri Pertahanan “Ini adalah Menteri Pertahanan kita ia sedang menjilat janjinya ia sedang mencicipi kegagalan yang manis dan lengket bukan hal yang menyenangkan. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya kegagalan adalah nutrisi terpenting dalam politik ini adalah kebenaran yang tidak pernah mereka berani tunjukkan pada rakyat mereka”
Ekspresi Menteri Pertahanan sangat kosong tidak ada rasa malu tidak ada rasa sakit hanya kepatuhan yang memuakkan ia terus menjilati lantai marmer itu seperti anjing yang kelaparan adegan itu sungguh menjijikkan perutku bergejolak ingin mengeluarkan semua yang aku makan seminggu terakhir aku menahan napas mencoba untuk tidak pingsan.
Monolog Batin: Jilatan itu suara itu menjijikkan sekali ini adalah bentuk teror psikologis yang paling murni mereka tidak mengancam kita dengan bom tapi mereka menyerang kita dengan kemerosotan total dengan hilangnya martabat semua yang kita anggap suci dalam diplomasi dan pemerintahan sedang dinajiskan di depan mata kita ini adalah penghinaan paling brutal yang pernah disajikan ke mata dunia dan entah bagaimana ini jauh lebih menakutkan daripada perang terbuka karena ini menunjukkan bahwa semua kekuasaan adalah ilusi yang bisa hancur menjadi sandiwara murahan yang menjijikkan dalam sekejap.
Menteri Keuangan maju ke depan ia mengenakan kacamata hitam besar dan hanya dibalut selimut lusuh ia membawa sebuah kantung kain yang tampak berat dan kotor ia membukanya dan mulai melemparkan isinya ke udara itu adalah koin-koin emas yang bertebaran di lantai dan beberapa jatuh di dekat kaki penonton menciptakan bunyi denting yang menyerupai tawa metalik yang sinis “Uang uang uang” teriak Menteri Keuangan dengan suara parau yang terdengar seperti jeritan keputusasaan “Kalian semua menginginkannya bukan kalian semua menjual jiwa kalian untuk logam berkilauan ini nah ambillah ini adalah nilai dari segalanya nol besar yang mulia” ia kemudian mengeluarkan sebilah pisau kecil dan mulai mengiris selimut yang ia kenakan hingga kain itu jatuh ke lantai meninggalkannya telanjang dan rentan di tengah panggung.
Presiden tertawa lagi kali ini lebih keras tawa itu bergema memenuhi aula membuatku merinding “Itulah Menteri Keuangan kita yang terkasih ia menunjukkan kepada Anda bahwa kekayaan hanyalah kain penutup yang bisa diiris kapan saja oleh tangan yang berani” katanya suaranya bergetar karena kegembiraan yang gila “Ini adalah transparansi yang kalian minta ini adalah ketelanjangan politik yang sesungguhnya”
Monolog Batin: Ketelanjangan yang menjijikkan bukan hanya fisik tapi telanjang dari akal sehat dan moralitas betapa berani dan mengerikannya ia memanfaatkan kegilaan sebagai senjata ia tidak takut ia bahkan menikmatinya ia memaksa kita untuk melihatnya untuk terlibat dalam sandiwaranya yang kotor ia tahu bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa kita adalah perwakilan negara-negara besar dan kita hanya duduk di sini menonton para pelayan kekuasaan ini dipermalukan dan dihancurkan di depan kita itu adalah cerminan yang mengerikan dari kerapuhan sistem kita.
Tiba-tiba lampu sorot panggung berubah menjadi merah darah dan musik waltz yang menyeramkan mulai mengalun dari pengeras suara Presiden mengeluarkan pistol mainan besar berwarna merah muda dan mengarahkannya ke para menteri ia mulai menembakkan pita-pita kecil dan confetti ke arah mereka para menteri mulai bergerak seolah-olah mereka benar-benar ditembak mereka melompat dan jatuh ke lantai dengan gaya yang berlebihan dan tidak masuk akal meniru kematian dalam opera sabun yang buruk.
Menteri Luar Negeri yang telanjang dan berlumuran cat itu terbaring di lantai dengan pose yang terlalu dramatis matanya terbuka lebar menatap kosong ke langit-langit aku yakin aku melihat air mata bercampur dengan lipstik merahnya atau mungkin itu hanya pantulan cahaya tapi momen itu terasa seperti tusukan dingin di hatiku itu adalah ironi yang mematikan sang diplomat yang seharusnya mewakili negosiasi dan perdamaian kini menjadi korban sandiwara kekerasan yang konyol.
Monolog Batin: Ini bukan lagi komedi gelap ini adalah thriller politik yang dingin dan kejam tawa Presiden itu seperti suara palu yang menghancurkan tulang setiap tembakan confetti adalah serangan terhadap martabat setiap negara di ruangan ini ia tidak hanya mempermalukan menterinya sendiri ia juga mempermalukan kita semua ia menjadikan seluruh tatanan dunia sebagai sirkus gila dan kita semua adalah badut yang dipaksa untuk bertepuk tangan takut untuk tidak melakukannya takut bahwa kegilaannya akan mengarah pada kita selanjutnya aku harus mencari jalan keluar aku harus mencari tahu apa yang terjadi sebelum aku menjadi bagian dari drama absurd ini.
Presiden berjalan melintasi panggung melewati menteri-menteri yang "mati" ia menginjak-injak jubah sutra ungu dan mahkota kardusnya kini ia hanya mengenakan setelan jas hitam yang tampak seperti seragam agen rahasia yang lusuh ia berhenti di tepi panggung menatap langsung ke arah kami ke arah barisan delegasi yang terkejut dan terhipnotis ia menyeka senyumnya yang permanen itu dengan punggung tangannya dan ekspresinya berubah total dari kegembiraan yang gila menjadi keheningan yang mengancam mata birunya yang dingin menusuk setiap orang di ruangan itu.
“Permainan sudah berakhir” bisiknya suaranya sekarang tenang dan mematikan “Pertunjukan sudah selesai tepuk tanganlah”
Tidak ada yang berani bertepuk tangan ruangan itu sunyi senyap udara terasa berat seolah-olah ada beban baja yang menindih dada kami kami tahu bahwa sandiwara menjijikkan itu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar kegilaan ia ingin menunjukkan kekuatan terbesarnya kekuatan untuk merusak dan menghancurkan integritas orang lain untuk membuat yang terhormat menjadi menjijikkan dan yang serius menjadi lelucon.
Monolog Batin: Keheningan ini adalah puncak ketegangan yang sesungguhnya itu adalah detik-detik sebelum badai sesungguhnya apa yang akan ia lakukan sekarang akankah ia mengeluarkan senjata sungguhan akankah ia menuntut sesuatu ia sudah mengambil semua martabatnya ia sudah menunjukkan betapa rapuhnya kekuasaan itu tapi ia belum selesai ini adalah inti dari misteri ini mengapa ia melakukan ini dan apa tujuannya tatapannya itu membuatku merasa seperti aku sudah telanjang di hadapannya seperti semua rahasia negaraku ada di mataku dan ia sedang membacanya perlahan-lahan.
Tiba-tiba Menteri Perhubungan yang tadinya terbaring "mati" melompat berdiri ia memegang pisau dapur yang mengkilap yang entah dari mana asalnya ia berteriak dengan suara yang pecah dan penuh kebencian suara itu bukan lagi suara menteri tapi suara orang yang telah kehilangan segalanya “Hentikan ini Tuan Presiden” teriaknya “Saya sudah tidak tahan lagi ini semua harus berakhir”
Itu adalah momen Action yang tak terduga semua mata terbelalak kami mengira ia hanya boneka tapi ada percikan terakhir dari kemanusiaan yang menolak untuk mati Menteri Perhubungan berlari melintasi panggung menuju Presiden.
Presiden hanya tersenyum kali ini senyumnya kembali tapi itu adalah senyum sadis yang dipenuhi kepuasan ia tidak bergerak bahkan ketika pisau itu mendekat ke dadanya “Oh drama yang bagus sekali” katanya dengan nada meremehkan “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya lihatlah ini adalah kebohongan yang paling mulia pengkhianatan diri sendiri yang paling murni ia pikir ia bisa menjadi pahlawan ia pikir ia bisa mengakhiri pertunjukan”
Tepat sebelum pisau itu menyentuh tubuh Presiden Menteri Pertahanan yang besar dan botak itu yang baru saja menjilati lantai tiba-tiba bangkit dengan kecepatan yang luar biasa ia menerjang Menteri Perhubungan dari samping menjatuhkannya ke lantai marmer yang keras pisaunya terlepas dan meluncur ke dekat kaki kursi delegasi.
Menteri Pertahanan yang sekarang benar-benar bertingkah seperti binatang buas mencengkeram leher Menteri Perhubungan ia mulai mencekiknya sementara matanya tetap kosong Presiden hanya berdiri di sana dengan santai menyaksikan adegan mencekik yang brutal dan memuakkan itu seolah-olah ia sedang menikmati tontonan film di sore hari.
Monolog Batin: Ya ampun itu nyata itu tidak lagi sandiwara itu adalah pembunuhan di depan umum di panggung PBB dan kita semua duduk di sini menonton betapa menjijikkan dan mematikan betapa memuakkan dan kejamnya loyalitas yang diindoktrinasi itu telah mengubah Menteri Pertahanan menjadi algojo yang tanpa emosi dan Presiden ini monster ini ia membiarkannya ia mempromosikannya ia memaksakan kengerian yang nyata ke dalam fiksi absurdnya aku harus melakukan sesuatu aku harus berteriak aku harus lari tapi kaki dan tenggorokanku membeku ketakutan ini adalah racun yang merasuki kami semua dan kami hanya bisa menyaksikan kegelapan ini menelan dunia di atas panggung
Menteri Perhubungan meronta-ronta suara cekikan itu hampir tidak terdengar tapi itu bergema di keheningan yang mematikan kemudian gerakannya melambat dan akhirnya berhenti tubuhnya tergeletak di lantai marmer di antara tumpukan koin emas dan confetti itu adalah adegan yang brutal dingin dan sangat nyata.
Presiden melangkah maju menginjak tubuh Menteri Perhubungan yang sudah tak bernyawa ia mengambil pisau dapur yang tergeletak di lantai dan mengusapnya dengan saputangan sutra putih yang ia keluarkan dari sakunya saputangan itu kini bernoda merah dan ia melemparkannya ke samping ia menatap kami lagi matanya sekarang berkilat-kilat penuh kemenangan.
“Nah sekarang” katanya suaranya serak namun penuh otoritas “Itu adalah akhir yang sesungguhnya Tuan-tuan dan nyonya-nyonya itu adalah akhir yang tidak bisa kita ubah dan itu adalah janji yang akan selalu dipenuhi oleh para pelayan yang setia” ia mengarahkan pisau itu ke arah kami seolah-olah itu adalah jari telunjuk yang menuduh “Sistem anda penuh dengan janji-janji palsu tapi sistem saya hanya memiliki satu janji loyalitas absolut sampai mati dan itulah yang membuat kami lebih kuat”
Ia tertawa lagi kali ini itu bukan tawa kegilaan tapi tawa kekuasaan yang kejam ia mengundang kami untuk melihat tontonan kematian dan kami tidak bisa menolak kami semua adalah penonton yang tidak berdaya dalam sirkus Political Satire paling brutal di dunia.
Monolog Batin: Thriller paling gelap ini adalah pengakuan dosa di depan umum yang dilakukan oleh seorang tiran ini adalah pembunuhan yang ditata sebagai lelucon ia telah menghilangkan misteri dengan kekerasan yang telanjang dan kini hanya tersisa kengerian dan keputusasaan ia telah menang ia telah menunjukkan kepada kita bahwa kedaulatan itu mudah direbut dengan kekerasan dan sandiwara yang menjijikkan sekarang apa yang harus kita lakukan akankah kita duduk di sini dan membiarkannya pergi akankah kita melaporkan kematian ini sebagai "kecelakaan panggung" ini adalah titik balik di mana dunia harus memilih antara menelan pil kepahitan dari komedi gelap ini atau bangkit dan melawan kegilaan ini aku melihat ke sekelilingku dan semua orang tampak seperti patung terbuat dari es kaku dan putus asa kita semua adalah saksi bisu kejahatan yang sempurna.
Presiden menjatuhkan pisau itu dengan denting keras ia menunjuk ke Menteri Perdagangan yang tersisa yang kini duduk di pojok panggung dengan kepala tertunduk dan tubuh bergetar “Bawa jasad itu keluar” perintahnya dengan nada bosan seolah-olah ia baru saja meminta pelayan untuk membersihkan tumpahan kopi “Pertunjukan kedua akan segera dimulai dan aku butuh panggung yang bersih”
Dua penjaga keamanan besar yang mengenakan topeng badut yang menyeramkan masuk dan dengan kasar menyeret tubuh Menteri Perhubungan keluar meninggalkan jejak noda merah kental di sepanjang lantai marmer yang berkilauan yang membuat seluruh suasana semakin menjijikkan.
Presiden kembali ke mikrofon emasnya ia tersenyum lagi senyumnya kembali menjadi bekas luka yang menakutkan di wajahnya “Nah mari kita lanjutkan diskusi kita tentang Perdagangan Internasional” katanya dengan suara yang lembut dan tenang seolah-olah tidak ada yang baru saja terjadi “Menteri Perdagangan yang terkasih tolong sampaikan proposal Anda tentang tarif baru untuk produk pertanian kita”
Menteri Perdagangan gemetar ia mengangkat kepalanya matanya penuh ketakutan tapi ia mulai berbicara dengan suara kecil dan tercekat ia melanjutkan presentasi yang seharusnya ia lakukan seolah-olah ia baru saja menyaksikan temannya dibunuh oleh rekan kerjanya di bawah perintah tiran yang sekarang tersenyum padanya.
Monolog Batin: Inilah ketegangan yang sesungguhnya ini adalah horor psikologis yang paling mengerikan ia dipaksa untuk bekerja di bawah ancaman pembunuhan dan kita semua di sini dipaksa untuk mendengarkan tarif pertanian seolah-olah itu adalah hal yang normal dan logis ini adalah kemenangan sempurna dari kegilaan atas akal sehat dari kekerasan atas diplomasi ini adalah babak baru yang lebih menakutkan babak di mana kita dipaksa untuk berpartisipasi dalam ilusi normalitas sementara di belakang layar dunia sedang hancur.
Aku mengepalkan tinju di bawah meja aku harus melakukan sesuatu aku harus mencari cara untuk memutus mantra mengerikan ini sebelum kegilaan ini meluas dan menelan seluruh dunia.
Tuan Presiden berdiri di tengah panggung dengan jubah sutra ungu yang terlalu besar dan mahkota kardus yang miring senyumnya yang permanen itu tampak seperti bekas luka buruk di wajahnya ia memegang mikrofon emas yang berkilauan yang seharusnya memberikan kehormatan pada pidato kenegaraan tapi yang ia berikan hanyalah bisikan menjijikkan dan tawa kering yang terdengar seperti gesekan amplas “Saudara-saudara dari seluruh dunia” katanya suaranya memantul membuat telinga kami berdenging “Selamat datang di malam peresmian Peradaban Baru”
Di belakangnya berdiri enam menteri yang sebelumnya merupakan sosok terhormat kini berlumuran cat kental berwarna kuning dan hijau yang tampak seperti campuran lendir dan minyak mentah Menteri Luar Negeri yang biasanya rapi kini telanjang dada hanya mengenakan celana pendek polkadot konyol wajahnya diolesi lipstik merah cerah dan ia terus menggerakkan pinggulnya dengan gerakan yang aneh dan tidak wajar seolah-olah ia sedang menari tarian ritual kesurupan tubuhnya kurus kering terlihat menjijikkan di bawah cat yang lengket aku bertanya-tanya apakah ia masih sadar atau apakah jiwanya sudah dievakuasi meninggalkan cangkang tubuh itu sebagai wadah bagi sandiwara mengerikan ini.
Monolog Batin: Ya Tuhan apa yang aku lihat ini ini bukan konferensi ini adalah lelucon sakit yang merangkak keluar dari lubang neraka yang mana aku harus lari tapi leherku kaku aku ingin muntah bau cat dan parfum murahan ini bercampur dengan aroma keringat ketakutan memenuhi udara seolah-olah bau kebusukan politik ini akhirnya bermanifestasi secara fisik aku melihat diplomat di sebelahku seorang wanita tua dari Skandinavia tangannya gemetar di pangkuannya matanya lebar tapi ia tidak bergerak ia juga terhipnotis oleh kengerian ini kita semua adalah lalat yang terjebak di jaring laba-laba sutra Presiden gila itu.
Tiba-tiba Menteri Pertahanan yang besar dan botak mulai merangkak di lantai panggung ia mengenakan topi pesta ulang tahun berbentuk kerucut yang membuatnya tampak lebih menyedihkan ia mengeluarkan suara melengking seperti bayi yang kesakitan kemudian ia mulai menjilati cairan kental yang tumpah dari botol di tangan Menteri Pangan cairan itu berwarna merah tua dan terlihat seperti darah yang dicampur gula tebu “Ah lihatlah kawan-kawan” seru Presiden dengan gembira sambil menunjuk ke Menteri Pertahanan “Ini adalah Menteri Pertahanan kita ia sedang menjilat janjinya ia sedang mencicipi kegagalan yang manis dan lengket bukan hal yang menyenangkan. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya kegagalan adalah nutrisi terpenting dalam politik ini adalah kebenaran yang tidak pernah mereka berani tunjukkan pada rakyat mereka”
Ekspresi Menteri Pertahanan sangat kosong tidak ada rasa malu tidak ada rasa sakit hanya kepatuhan yang memuakkan ia terus menjilati lantai marmer itu seperti anjing yang kelaparan adegan itu sungguh menjijikkan perutku bergejolak ingin mengeluarkan semua yang aku makan seminggu terakhir aku menahan napas mencoba untuk tidak pingsan.
Monolog Batin: Jilatan itu suara itu menjijikkan sekali ini adalah bentuk teror psikologis yang paling murni mereka tidak mengancam kita dengan bom tapi mereka menyerang kita dengan kemerosotan total dengan hilangnya martabat semua yang kita anggap suci dalam diplomasi dan pemerintahan sedang dinajiskan di depan mata kita ini adalah penghinaan paling brutal yang pernah disajikan ke mata dunia dan entah bagaimana ini jauh lebih menakutkan daripada perang terbuka karena ini menunjukkan bahwa semua kekuasaan adalah ilusi yang bisa hancur menjadi sandiwara murahan yang menjijikkan dalam sekejap.
Menteri Keuangan maju ke depan ia mengenakan kacamata hitam besar dan hanya dibalut selimut lusuh ia membawa sebuah kantung kain yang tampak berat dan kotor ia membukanya dan mulai melemparkan isinya ke udara itu adalah koin-koin emas yang bertebaran di lantai dan beberapa jatuh di dekat kaki penonton menciptakan bunyi denting yang menyerupai tawa metalik yang sinis “Uang uang uang” teriak Menteri Keuangan dengan suara parau yang terdengar seperti jeritan keputusasaan “Kalian semua menginginkannya bukan kalian semua menjual jiwa kalian untuk logam berkilauan ini nah ambillah ini adalah nilai dari segalanya nol besar yang mulia” ia kemudian mengeluarkan sebilah pisau kecil dan mulai mengiris selimut yang ia kenakan hingga kain itu jatuh ke lantai meninggalkannya telanjang dan rentan di tengah panggung.
Presiden tertawa lagi kali ini lebih keras tawa itu bergema memenuhi aula membuatku merinding “Itulah Menteri Keuangan kita yang terkasih ia menunjukkan kepada Anda bahwa kekayaan hanyalah kain penutup yang bisa diiris kapan saja oleh tangan yang berani” katanya suaranya bergetar karena kegembiraan yang gila “Ini adalah transparansi yang kalian minta ini adalah ketelanjangan politik yang sesungguhnya”
Monolog Batin: Ketelanjangan yang menjijikkan bukan hanya fisik tapi telanjang dari akal sehat dan moralitas betapa berani dan mengerikannya ia memanfaatkan kegilaan sebagai senjata ia tidak takut ia bahkan menikmatinya ia memaksa kita untuk melihatnya untuk terlibat dalam sandiwaranya yang kotor ia tahu bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa kita adalah perwakilan negara-negara besar dan kita hanya duduk di sini menonton para pelayan kekuasaan ini dipermalukan dan dihancurkan di depan kita itu adalah cerminan yang mengerikan dari kerapuhan sistem kita.
Tiba-tiba lampu sorot panggung berubah menjadi merah darah dan musik waltz yang menyeramkan mulai mengalun dari pengeras suara Presiden mengeluarkan pistol mainan besar berwarna merah muda dan mengarahkannya ke para menteri ia mulai menembakkan pita-pita kecil dan confetti ke arah mereka para menteri mulai bergerak seolah-olah mereka benar-benar ditembak mereka melompat dan jatuh ke lantai dengan gaya yang berlebihan dan tidak masuk akal meniru kematian dalam opera sabun yang buruk.
Menteri Luar Negeri yang telanjang dan berlumuran cat itu terbaring di lantai dengan pose yang terlalu dramatis matanya terbuka lebar menatap kosong ke langit-langit aku yakin aku melihat air mata bercampur dengan lipstik merahnya atau mungkin itu hanya pantulan cahaya tapi momen itu terasa seperti tusukan dingin di hatiku itu adalah ironi yang mematikan sang diplomat yang seharusnya mewakili negosiasi dan perdamaian kini menjadi korban sandiwara kekerasan yang konyol.
Monolog Batin: Ini bukan lagi komedi gelap ini adalah thriller politik yang dingin dan kejam tawa Presiden itu seperti suara palu yang menghancurkan tulang setiap tembakan confetti adalah serangan terhadap martabat setiap negara di ruangan ini ia tidak hanya mempermalukan menterinya sendiri ia juga mempermalukan kita semua ia menjadikan seluruh tatanan dunia sebagai sirkus gila dan kita semua adalah badut yang dipaksa untuk bertepuk tangan takut untuk tidak melakukannya takut bahwa kegilaannya akan mengarah pada kita selanjutnya aku harus mencari jalan keluar aku harus mencari tahu apa yang terjadi sebelum aku menjadi bagian dari drama absurd ini.
Presiden berjalan melintasi panggung melewati menteri-menteri yang "mati" ia menginjak-injak jubah sutra ungu dan mahkota kardusnya kini ia hanya mengenakan setelan jas hitam yang tampak seperti seragam agen rahasia yang lusuh ia berhenti di tepi panggung menatap langsung ke arah kami ke arah barisan delegasi yang terkejut dan terhipnotis ia menyeka senyumnya yang permanen itu dengan punggung tangannya dan ekspresinya berubah total dari kegembiraan yang gila menjadi keheningan yang mengancam mata birunya yang dingin menusuk setiap orang di ruangan itu.
“Permainan sudah berakhir” bisiknya suaranya sekarang tenang dan mematikan “Pertunjukan sudah selesai tepuk tanganlah”
Tidak ada yang berani bertepuk tangan ruangan itu sunyi senyap udara terasa berat seolah-olah ada beban baja yang menindih dada kami kami tahu bahwa sandiwara menjijikkan itu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar kegilaan ia ingin menunjukkan kekuatan terbesarnya kekuatan untuk merusak dan menghancurkan integritas orang lain untuk membuat yang terhormat menjadi menjijikkan dan yang serius menjadi lelucon.
Monolog Batin: Keheningan ini adalah puncak ketegangan yang sesungguhnya itu adalah detik-detik sebelum badai sesungguhnya apa yang akan ia lakukan sekarang akankah ia mengeluarkan senjata sungguhan akankah ia menuntut sesuatu ia sudah mengambil semua martabatnya ia sudah menunjukkan betapa rapuhnya kekuasaan itu tapi ia belum selesai ini adalah inti dari misteri ini mengapa ia melakukan ini dan apa tujuannya tatapannya itu membuatku merasa seperti aku sudah telanjang di hadapannya seperti semua rahasia negaraku ada di mataku dan ia sedang membacanya perlahan-lahan.
Tiba-tiba Menteri Perhubungan yang tadinya terbaring "mati" melompat berdiri ia memegang pisau dapur yang mengkilap yang entah dari mana asalnya ia berteriak dengan suara yang pecah dan penuh kebencian suara itu bukan lagi suara menteri tapi suara orang yang telah kehilangan segalanya “Hentikan ini Tuan Presiden” teriaknya “Saya sudah tidak tahan lagi ini semua harus berakhir”
Itu adalah momen Action yang tak terduga semua mata terbelalak kami mengira ia hanya boneka tapi ada percikan terakhir dari kemanusiaan yang menolak untuk mati Menteri Perhubungan berlari melintasi panggung menuju Presiden.
Presiden hanya tersenyum kali ini senyumnya kembali tapi itu adalah senyum sadis yang dipenuhi kepuasan ia tidak bergerak bahkan ketika pisau itu mendekat ke dadanya “Oh drama yang bagus sekali” katanya dengan nada meremehkan “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya lihatlah ini adalah kebohongan yang paling mulia pengkhianatan diri sendiri yang paling murni ia pikir ia bisa menjadi pahlawan ia pikir ia bisa mengakhiri pertunjukan”
Tepat sebelum pisau itu menyentuh tubuh Presiden Menteri Pertahanan yang besar dan botak itu yang baru saja menjilati lantai tiba-tiba bangkit dengan kecepatan yang luar biasa ia menerjang Menteri Perhubungan dari samping menjatuhkannya ke lantai marmer yang keras pisaunya terlepas dan meluncur ke dekat kaki kursi delegasi.
Menteri Pertahanan yang sekarang benar-benar bertingkah seperti binatang buas mencengkeram leher Menteri Perhubungan ia mulai mencekiknya sementara matanya tetap kosong Presiden hanya berdiri di sana dengan santai menyaksikan adegan mencekik yang brutal dan memuakkan itu seolah-olah ia sedang menikmati tontonan film di sore hari.
Monolog Batin: Ya ampun itu nyata itu tidak lagi sandiwara itu adalah pembunuhan di depan umum di panggung PBB dan kita semua duduk di sini menonton betapa menjijikkan dan mematikan betapa memuakkan dan kejamnya loyalitas yang diindoktrinasi itu telah mengubah Menteri Pertahanan menjadi algojo yang tanpa emosi dan Presiden ini monster ini ia membiarkannya ia mempromosikannya ia memaksakan kengerian yang nyata ke dalam fiksi absurdnya aku harus melakukan sesuatu aku harus berteriak aku harus lari tapi kaki dan tenggorokanku membeku ketakutan ini adalah racun yang merasuki kami semua dan kami hanya bisa menyaksikan kegelapan ini menelan dunia di atas panggung
Menteri Perhubungan meronta-ronta suara cekikan itu hampir tidak terdengar tapi itu bergema di keheningan yang mematikan kemudian gerakannya melambat dan akhirnya berhenti tubuhnya tergeletak di lantai marmer di antara tumpukan koin emas dan confetti itu adalah adegan yang brutal dingin dan sangat nyata.
Presiden melangkah maju menginjak tubuh Menteri Perhubungan yang sudah tak bernyawa ia mengambil pisau dapur yang tergeletak di lantai dan mengusapnya dengan saputangan sutra putih yang ia keluarkan dari sakunya saputangan itu kini bernoda merah dan ia melemparkannya ke samping ia menatap kami lagi matanya sekarang berkilat-kilat penuh kemenangan.
“Nah sekarang” katanya suaranya serak namun penuh otoritas “Itu adalah akhir yang sesungguhnya Tuan-tuan dan nyonya-nyonya itu adalah akhir yang tidak bisa kita ubah dan itu adalah janji yang akan selalu dipenuhi oleh para pelayan yang setia” ia mengarahkan pisau itu ke arah kami seolah-olah itu adalah jari telunjuk yang menuduh “Sistem anda penuh dengan janji-janji palsu tapi sistem saya hanya memiliki satu janji loyalitas absolut sampai mati dan itulah yang membuat kami lebih kuat”
Ia tertawa lagi kali ini itu bukan tawa kegilaan tapi tawa kekuasaan yang kejam ia mengundang kami untuk melihat tontonan kematian dan kami tidak bisa menolak kami semua adalah penonton yang tidak berdaya dalam sirkus Political Satire paling brutal di dunia.
Monolog Batin: Thriller paling gelap ini adalah pengakuan dosa di depan umum yang dilakukan oleh seorang tiran ini adalah pembunuhan yang ditata sebagai lelucon ia telah menghilangkan misteri dengan kekerasan yang telanjang dan kini hanya tersisa kengerian dan keputusasaan ia telah menang ia telah menunjukkan kepada kita bahwa kedaulatan itu mudah direbut dengan kekerasan dan sandiwara yang menjijikkan sekarang apa yang harus kita lakukan akankah kita duduk di sini dan membiarkannya pergi akankah kita melaporkan kematian ini sebagai "kecelakaan panggung" ini adalah titik balik di mana dunia harus memilih antara menelan pil kepahitan dari komedi gelap ini atau bangkit dan melawan kegilaan ini aku melihat ke sekelilingku dan semua orang tampak seperti patung terbuat dari es kaku dan putus asa kita semua adalah saksi bisu kejahatan yang sempurna.
Presiden menjatuhkan pisau itu dengan denting keras ia menunjuk ke Menteri Perdagangan yang tersisa yang kini duduk di pojok panggung dengan kepala tertunduk dan tubuh bergetar “Bawa jasad itu keluar” perintahnya dengan nada bosan seolah-olah ia baru saja meminta pelayan untuk membersihkan tumpahan kopi “Pertunjukan kedua akan segera dimulai dan aku butuh panggung yang bersih”
Dua penjaga keamanan besar yang mengenakan topeng badut yang menyeramkan masuk dan dengan kasar menyeret tubuh Menteri Perhubungan keluar meninggalkan jejak noda merah kental di sepanjang lantai marmer yang berkilauan yang membuat seluruh suasana semakin menjijikkan.
Presiden kembali ke mikrofon emasnya ia tersenyum lagi senyumnya kembali menjadi bekas luka yang menakutkan di wajahnya “Nah mari kita lanjutkan diskusi kita tentang Perdagangan Internasional” katanya dengan suara yang lembut dan tenang seolah-olah tidak ada yang baru saja terjadi “Menteri Perdagangan yang terkasih tolong sampaikan proposal Anda tentang tarif baru untuk produk pertanian kita”
Menteri Perdagangan gemetar ia mengangkat kepalanya matanya penuh ketakutan tapi ia mulai berbicara dengan suara kecil dan tercekat ia melanjutkan presentasi yang seharusnya ia lakukan seolah-olah ia baru saja menyaksikan temannya dibunuh oleh rekan kerjanya di bawah perintah tiran yang sekarang tersenyum padanya.
Monolog Batin: Inilah ketegangan yang sesungguhnya ini adalah horor psikologis yang paling mengerikan ia dipaksa untuk bekerja di bawah ancaman pembunuhan dan kita semua di sini dipaksa untuk mendengarkan tarif pertanian seolah-olah itu adalah hal yang normal dan logis ini adalah kemenangan sempurna dari kegilaan atas akal sehat dari kekerasan atas diplomasi ini adalah babak baru yang lebih menakutkan babak di mana kita dipaksa untuk berpartisipasi dalam ilusi normalitas sementara di belakang layar dunia sedang hancur.
Aku mengepalkan tinju di bawah meja aku harus melakukan sesuatu aku harus mencari cara untuk memutus mantra mengerikan ini sebelum kegilaan ini meluas dan menelan seluruh dunia.
Other Stories
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Hompimpa Alaium Gambreng!
Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...