11. Kita Pantas Kan?
Hari ini...Tepat rencana Kedua akan dilaksanakan, mereka selalu berdoa semoga semuanya baik baik saja dan kembali seperti semula,Diah dan Ita ijin tidak masuk kerja hari ini, sementara Askia dan shreya masih bekerja akan mengambil ijin setengah hari,Ita dan Diah mereka bertemu di cafe langganan mereka,
"Apakah Lo yakin ta? Ini akan berhasil?" Gumam Diah memainkan sedotan yang terendam jus mangga itu.
"Udah Lo nggak usah khawatir di,Lo fokus aja ke tujuan lo oke " jelasnya lalu tersenyum diikuti Diah.
"Thanks ya...gue nggak tahu kalau nggak ada lo nasib karya gue ini akan gimana."
"Santai aja lah,gue disini...eh btw lo mau naik apa kesana?"
"Gue udah pesen taxi online ta."
"Semoga Lo nggak ketahuan ya ta... kalaupun iya gue minta maaf banget ini bukan kemauan gue kok,kalau Lo mau batalin rencana ini gue fine fine aja ta,Lo bilang aja nggak usah ngerasa nggak enak." Sahutnya lagi.
"Nggapapa Diah...udah lo fokus Ama tujuan lo aja sana."
"Gue nggak tahu lagi cara untuk berterima kasih kepada Lo,mmm...gue akan pasang foto lo dinding kamar gue,terus gue akan kasih tulisan,you are my superhero dear.." mendengar itu,Ita tertawa keras yang disusul tawa Diah.
"OHH oke, yaudah yuk abis ini lo berangkat kan?" Lalu mereka menuju ke rumah Diah, karena ini haru Sabtu maka orangtua Diah bekerja di rumah.
Sepanjang perjalanan mereka ke rumah Diah, mereka sambil video call an dengan shreya dan askia. "Semoga misi kita kali ini berhasil..." Ucap shreya.
"Semangat kalian...hati hati ta" sahut askia.
"Kok gue berasa kek di taman surga gini sih?" Ucapnya membuat mereka menatap tajam Ita.
"Maksudnya... perasaan gue tuh campur aduk,tapi entah kenapa dominan senengnya, mungkin ini pertanda kalau rencana kita akan berhasil." Sambungnya lagi lalu mereka mengangguk anggukkan kepala.
Ita menutup video call nya,dan melanjutkan perjalanannya.
Sampai di rumah Diah,Ita bergegas masuk lewat jendela kamar Diah,Ita masuk dengan clingak clinguk memastikan tidak ada orang yang melihatnya sementara Diah masuk lewat pintu depan,dan merapat ke orangtuanya yang sedang sarapan.
"Dari mana aja kamu?" Tanya papanya.
"Cari udara segar pa,Diah lagi nggak enak badan sepertinya Diah akan ijin kerja."
"Itu tandanya Tuhan memberi tahu mu lewat sakit ini bahwa tentang cerita series yang kamu ceritakan kemarin itu tidak benar." Respon papanya, kemudian Diah berjalan ke atas menuju kamarnya.
Ceklek ..suara pintu kebuka,kamu diah kembali menutup pintunya, "Ita..lo dimana?" Desisnya pelan,Ita keluar dari dalam lemari,Diah mengambil piyamanya dan memberikan ke Ita untuk ia pakai. Beberapa saat kemudian Ita keluar dari kamar mandi,ia mulai merebahkan tubuhnya di kasur Diah,menata guling dan sekitar kasurnya lalu menarik selimutnya sampai batas leher,ia tiduran menghadap ke kiri." Lo udah aman kan ta?" Tanya Diah berbisik,lalu Ita mengacungkan jempolnya,Diah segera ganti baju dan pergi lewat jendela kamar nya.
Taxi sudah menunggunya di depan gang,ia segera masuk dan berlalu jalan.sementara Ita harus berpura pura menjadi dirinya.
Cukup lama selama satu jam.... tidak ada kecurigaan sama sekali dari orangtua Diah,hingga akhirnya mamanya ingat bahwa Diah belum sarapan, mamanya mengantar makanan ke kamar Diah.
"Diah....ayo sarapan dulu." Gumam mamanya seraya masuk kamar.
Ita yang mendengar itu semakin tidak tenang.
"Diah..." Panggilnya lagi meletakkan piring nya di meja,mamanya lalu duduk dan berusaha membangunkan Diah alias Ita.
"Kamu kok diem aja sih." Ucapnya merasa aneh.lalu mamanya Diah memanggil papanya.
"Ada apa?" Respon papanya masuk ke kamar.
"Ini Diah diam saja apa yang terjadi padanya." Papanya mendekati Diah alias Ita,Ita tidak mau masalah ini semakin kemana mana, akhirnya ia memutuskan untuk bangun walaupun mereka akan mengetahuinya juga.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat Ita yang muncul di hadapan mereka dan bukannya putri mereka,lantas mereka berpikir dimana anaknya?
"Kamu... bukannya kamu temannya Diah." Ucap mamanya Diah sembari berdiri.
"Apa yang kamu lakukan disini, dimana Diah.." emosi papanya Diah sudah memuncak saat melihat bukan anaknya yang sedang berbaring itu.
" Maaf om..Tante ..saya melakukan ini untuk masa depan Diah,saya melihat potensi yang ada di dirinya itu sangat luar biasa,maka biarkan Diah melanjutkan apa yang menjadi tujuan nya," jelas Ita terbata bata.
"Omong kosong apa ini,kamu cuma anak kecil yang tidak tahu apa apa." Respon papanya Diah lantang.
"Setidaknya dengerin penjelasan ku dulu om." Ita masih berusaha memberikan penjelasan kepada mereka tapi seolah ita dianggap seperti angin lewat oleh mereka.
"Aku tahu kamu anak nya rekan bisnis ku,diam dulu disini jangan banyak tingkah,biar ku telpon papa kamu,biarkan dia melihat bagaimana tindakan anaknya yang rendah dan menipu ini." Tukas papanya Diah seraya menelpon papanya Ita. Tak butuh waktu lama, papanya Ita datang untuk menjemput Ita,alih alih menolak Ita hanya diam dan menurut karena ia tidak mau ada keributan di rumah orang lain.
Papanya menarik paksa Ita untuk masuk mobil,ia merasa dunianya kembali terancam saat ini,ia mulai menangis tapi papanya terus mengatakan hal hal yang tidak pantas didengar disepanjang perjalanan.
Aku sangat rapuh...tapi aku bahagia melihat sahabat sahabat ku bisa tersenyum lagi berusaha merapikan lagi retakan retakan yang terlalu banyak pecah itu... gumamnya dalam hati seraya melebarkan senyumannya sambil menangis.
Sampai dirumah, papanya menarik paksa Ita keluar mobil dan membawa masuk ke rumah dengan entengnya,Ita dilempar seperti sebuah kain hingga menabrak meja,hanya diam dan menangis yang bisa Ita lakukan sekarang karena dirinya tak kuasa lagi untuk membantah, "anak yang selalu membuat masalah, tidak pernah berniat melakukan apapun dengan benar,pantas untuk mendapatkan ini." Ucap papanya,
emosinya meluap luap terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras dan matanya yang tajam dan memerah. Lalu papanya mendekat ke Ita, "seratus tamparan tidak akan cukup untuk membuatmu berubah,aku menyesal karena telah mengadopsi mu sebagai anak ku." Kata kata yang terlontar dari mulut papanya seolah seperti sebilah pisau tajam dan bara api yang menusuk dari segala sisi, dirinya sangat lemah dan rapuh,ini adalah kemarahan papanya yang sangat besar kepada dirinya,segala perkataan tidak pantas keluar dari mulut papanya dan juga kekerasan fisik, Ita tertatih tatih berjalan ragu menuju kamarnya... tubuhnya terkapar tak berdaya dan menangis sejadi jadinya, tapi ia kembali tersenyum saat mengingat wajah sahabat sahabatnya.
Ia mengelap kasar air matanya dan bangkit dengan tubuhnya yang bergetar hebat,ia perlahan masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya,lagi lagi dirinya masuk dalam kondisi ini.
Ita menyalakan shower nya,dan mengingat ingat apa yang selama ini sudah orangtua angkatnya lakukan kepadanya,ia kembali emosi tapi sesaat mereda lagi karena ia teringat keceriaan dan senyum sahabatnya,dan sekali lagi rencana yang positif berhasil meskipun ada sedikit kebohongan,Diah sudah menandatangani kontrak nya meskipun keadaan dirinya seperti itu,ia tetap mengutamakan kepentingan sahabat nya.
Ita tertawa kecil, Semoga setelah ini kalian bisa menyusun kembali kisah kisah kalian yang hampir terancam itu,aku selalu ada di dekat kalian,aku sayang kalian lebih dari hidupku,maka berbahagialah kalian sampai nanti,aku merasa sudah tidak kuat lagi, sudah terlalu dalam luka nya,aku berusaha kuat untuk kalian,hai Askia...Diah... Parinita...dan Shreya...kita adalah sahabat yang akan selalu dikenang kisahnya,bunga mawar ini pamit,dan akan selalu berada di hati kalian dan tumbuh bersama kalian..... Ucapnya dalam hati,ia mengeluarkan cutter yang cukup besar dan mulai melukai tangannya,darah segar mengucur bersamaan dengan air matanya, dengan tangan yang semakin tidak berdaya ia kembali menggesek kan tajam pisau itu ke lehernya,Sensasi keluar darahnya seolah terasa nyaman olehnya,ia terus tersenyum, tubuhnya penuh luka dibeberapa titik urat nadi sudah ia babat yang akhirnya membuatnya tidak sadar kan diri.
Diah keluar dari kantor itu, dengan senyum yang merekah hatinya merasa sangat bahagia dan lega, akhirnya impian satu satunya akan tercapai dan bisa dinikmati banyak orang,dikenal banyak orang,ia merasa Ita lah yang menjadi penghubung jalur keberhasilan nya. Sementara shreya dan askia yang terlihat baru saja keluar dari restoran tempat kerjanya, seketika langkahnya terhenti kaku setelah mendengar berita buruk tentang Ita dari art nya Ita,Hp yang sedari tadi dipegang shreya terjatuh begitu saja,dan askia berteriak sekencang kencangnya, mereka berdua tidak percaya,"tidak... tidak mungkin,Ita....Lo nggak mungkin ninggalin kita begitu saja." Ujar shreya, mereka terduduk dan menangis, mereka saling merangkul, setelah beberapa saat mereka segera ke rumah Ita.
...
Setelah mendengar askia dari telpon,tanpa banyak basa basi lagi ia langsung masuk taxi dan menuju rumah Ita.
Suasana berduka di rumah Ita sangat terasa,banyak orang yang berdatangan,diah yang baru sampai di depan rumah itu, kakinya ragu untuk melangkah masuk,dengan air matanya yang terus mengalir, sampai di dalam ia memperhatikan setiap apa yang dilihatnya.
shreya dan askia sudah sudah berada di dekat Ita dengan menangis sembari memeluk tubuh Ita yang sudah terbaring tak bernyawa,Diah mendekati mereka...sontak ia duduk terpaku melihat i tubuh sahabat nya yang sudah tak bernyawa itu, tangannya berusaha memegang tangan Ita yang sudah dingin itu,tapi tiba tiba teriakannya pecah...ia tidak menyangka bahwa Ita akan berakhir seperti ini, apalagi dalam keadaan sedang membantunya,ia menangis tak hentinya begitu juga dengan shreya dan askia. "You are my superhero..." Lirih Diah terbata bata, seperti apa yang ia katakan sebelumnya bahwa Ita memang pahlawannya, pengorbanan yang Ita lakukan untuk sahabat sahabatnya tidak akan bisa dibayar dengan apapun.
Lalu dokter yang barusan memeriksanya menyodorkan sebuah kertas yang berada di saku Ita, mereka segera membacanya, "hai sayang... sahabat sahabat terbaikku...aku sudah cukup bahagia melihat kalian bisa memiliki apa yang kalian tuju,tunggu...lap dulu air mata kalian,pasti kalian membaca ini sambil nangis kan...dasar cewek cewek berhati hello Kitty,aku kan sudah bilang jangan ada air mata saat bahagia merebak,hei...jangan pikirkan aku, bukankah ini yang kalian inginkan? Agar aku terbebas dari rasa sakit itu,Diah... tolong beritahu dokter viska bahwa pasiennya ini sudah sembuh sekarang,hahahaa....aku sayang kalian banyak banyak,askia... segeralah menikah dengan laki laki impianmu, untuk Diah... semoga semua mimpimu bisa tercapai yaa...good luck,dan shreya...si paling insecure an... tolong selalu katakan kepada dirimu bahwa kamu cantik,oke baiklah sampai jumpa di kehidupan yang selanjutnya...aku selalu bersama kalian disetiap langkah kalian,i love you more..." Setelah membaca surat itu mereka semakin keras menangis, seolah tidak percaya bahwa sahabat nya yang selalu ceria, yang selalu mengutamakan mereka,dan selalu menasehati mereka itu akan pergi secepat itu.
"Apakah Lo yakin ta? Ini akan berhasil?" Gumam Diah memainkan sedotan yang terendam jus mangga itu.
"Udah Lo nggak usah khawatir di,Lo fokus aja ke tujuan lo oke " jelasnya lalu tersenyum diikuti Diah.
"Thanks ya...gue nggak tahu kalau nggak ada lo nasib karya gue ini akan gimana."
"Santai aja lah,gue disini...eh btw lo mau naik apa kesana?"
"Gue udah pesen taxi online ta."
"Semoga Lo nggak ketahuan ya ta... kalaupun iya gue minta maaf banget ini bukan kemauan gue kok,kalau Lo mau batalin rencana ini gue fine fine aja ta,Lo bilang aja nggak usah ngerasa nggak enak." Sahutnya lagi.
"Nggapapa Diah...udah lo fokus Ama tujuan lo aja sana."
"Gue nggak tahu lagi cara untuk berterima kasih kepada Lo,mmm...gue akan pasang foto lo dinding kamar gue,terus gue akan kasih tulisan,you are my superhero dear.." mendengar itu,Ita tertawa keras yang disusul tawa Diah.
"OHH oke, yaudah yuk abis ini lo berangkat kan?" Lalu mereka menuju ke rumah Diah, karena ini haru Sabtu maka orangtua Diah bekerja di rumah.
Sepanjang perjalanan mereka ke rumah Diah, mereka sambil video call an dengan shreya dan askia. "Semoga misi kita kali ini berhasil..." Ucap shreya.
"Semangat kalian...hati hati ta" sahut askia.
"Kok gue berasa kek di taman surga gini sih?" Ucapnya membuat mereka menatap tajam Ita.
"Maksudnya... perasaan gue tuh campur aduk,tapi entah kenapa dominan senengnya, mungkin ini pertanda kalau rencana kita akan berhasil." Sambungnya lagi lalu mereka mengangguk anggukkan kepala.
Ita menutup video call nya,dan melanjutkan perjalanannya.
Sampai di rumah Diah,Ita bergegas masuk lewat jendela kamar Diah,Ita masuk dengan clingak clinguk memastikan tidak ada orang yang melihatnya sementara Diah masuk lewat pintu depan,dan merapat ke orangtuanya yang sedang sarapan.
"Dari mana aja kamu?" Tanya papanya.
"Cari udara segar pa,Diah lagi nggak enak badan sepertinya Diah akan ijin kerja."
"Itu tandanya Tuhan memberi tahu mu lewat sakit ini bahwa tentang cerita series yang kamu ceritakan kemarin itu tidak benar." Respon papanya, kemudian Diah berjalan ke atas menuju kamarnya.
Ceklek ..suara pintu kebuka,kamu diah kembali menutup pintunya, "Ita..lo dimana?" Desisnya pelan,Ita keluar dari dalam lemari,Diah mengambil piyamanya dan memberikan ke Ita untuk ia pakai. Beberapa saat kemudian Ita keluar dari kamar mandi,ia mulai merebahkan tubuhnya di kasur Diah,menata guling dan sekitar kasurnya lalu menarik selimutnya sampai batas leher,ia tiduran menghadap ke kiri." Lo udah aman kan ta?" Tanya Diah berbisik,lalu Ita mengacungkan jempolnya,Diah segera ganti baju dan pergi lewat jendela kamar nya.
Taxi sudah menunggunya di depan gang,ia segera masuk dan berlalu jalan.sementara Ita harus berpura pura menjadi dirinya.
Cukup lama selama satu jam.... tidak ada kecurigaan sama sekali dari orangtua Diah,hingga akhirnya mamanya ingat bahwa Diah belum sarapan, mamanya mengantar makanan ke kamar Diah.
"Diah....ayo sarapan dulu." Gumam mamanya seraya masuk kamar.
Ita yang mendengar itu semakin tidak tenang.
"Diah..." Panggilnya lagi meletakkan piring nya di meja,mamanya lalu duduk dan berusaha membangunkan Diah alias Ita.
"Kamu kok diem aja sih." Ucapnya merasa aneh.lalu mamanya Diah memanggil papanya.
"Ada apa?" Respon papanya masuk ke kamar.
"Ini Diah diam saja apa yang terjadi padanya." Papanya mendekati Diah alias Ita,Ita tidak mau masalah ini semakin kemana mana, akhirnya ia memutuskan untuk bangun walaupun mereka akan mengetahuinya juga.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat Ita yang muncul di hadapan mereka dan bukannya putri mereka,lantas mereka berpikir dimana anaknya?
"Kamu... bukannya kamu temannya Diah." Ucap mamanya Diah sembari berdiri.
"Apa yang kamu lakukan disini, dimana Diah.." emosi papanya Diah sudah memuncak saat melihat bukan anaknya yang sedang berbaring itu.
" Maaf om..Tante ..saya melakukan ini untuk masa depan Diah,saya melihat potensi yang ada di dirinya itu sangat luar biasa,maka biarkan Diah melanjutkan apa yang menjadi tujuan nya," jelas Ita terbata bata.
"Omong kosong apa ini,kamu cuma anak kecil yang tidak tahu apa apa." Respon papanya Diah lantang.
"Setidaknya dengerin penjelasan ku dulu om." Ita masih berusaha memberikan penjelasan kepada mereka tapi seolah ita dianggap seperti angin lewat oleh mereka.
"Aku tahu kamu anak nya rekan bisnis ku,diam dulu disini jangan banyak tingkah,biar ku telpon papa kamu,biarkan dia melihat bagaimana tindakan anaknya yang rendah dan menipu ini." Tukas papanya Diah seraya menelpon papanya Ita. Tak butuh waktu lama, papanya Ita datang untuk menjemput Ita,alih alih menolak Ita hanya diam dan menurut karena ia tidak mau ada keributan di rumah orang lain.
Papanya menarik paksa Ita untuk masuk mobil,ia merasa dunianya kembali terancam saat ini,ia mulai menangis tapi papanya terus mengatakan hal hal yang tidak pantas didengar disepanjang perjalanan.
Aku sangat rapuh...tapi aku bahagia melihat sahabat sahabat ku bisa tersenyum lagi berusaha merapikan lagi retakan retakan yang terlalu banyak pecah itu... gumamnya dalam hati seraya melebarkan senyumannya sambil menangis.
Sampai dirumah, papanya menarik paksa Ita keluar mobil dan membawa masuk ke rumah dengan entengnya,Ita dilempar seperti sebuah kain hingga menabrak meja,hanya diam dan menangis yang bisa Ita lakukan sekarang karena dirinya tak kuasa lagi untuk membantah, "anak yang selalu membuat masalah, tidak pernah berniat melakukan apapun dengan benar,pantas untuk mendapatkan ini." Ucap papanya,
emosinya meluap luap terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras dan matanya yang tajam dan memerah. Lalu papanya mendekat ke Ita, "seratus tamparan tidak akan cukup untuk membuatmu berubah,aku menyesal karena telah mengadopsi mu sebagai anak ku." Kata kata yang terlontar dari mulut papanya seolah seperti sebilah pisau tajam dan bara api yang menusuk dari segala sisi, dirinya sangat lemah dan rapuh,ini adalah kemarahan papanya yang sangat besar kepada dirinya,segala perkataan tidak pantas keluar dari mulut papanya dan juga kekerasan fisik, Ita tertatih tatih berjalan ragu menuju kamarnya... tubuhnya terkapar tak berdaya dan menangis sejadi jadinya, tapi ia kembali tersenyum saat mengingat wajah sahabat sahabatnya.
Ia mengelap kasar air matanya dan bangkit dengan tubuhnya yang bergetar hebat,ia perlahan masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya,lagi lagi dirinya masuk dalam kondisi ini.
Ita menyalakan shower nya,dan mengingat ingat apa yang selama ini sudah orangtua angkatnya lakukan kepadanya,ia kembali emosi tapi sesaat mereda lagi karena ia teringat keceriaan dan senyum sahabatnya,dan sekali lagi rencana yang positif berhasil meskipun ada sedikit kebohongan,Diah sudah menandatangani kontrak nya meskipun keadaan dirinya seperti itu,ia tetap mengutamakan kepentingan sahabat nya.
Ita tertawa kecil, Semoga setelah ini kalian bisa menyusun kembali kisah kisah kalian yang hampir terancam itu,aku selalu ada di dekat kalian,aku sayang kalian lebih dari hidupku,maka berbahagialah kalian sampai nanti,aku merasa sudah tidak kuat lagi, sudah terlalu dalam luka nya,aku berusaha kuat untuk kalian,hai Askia...Diah... Parinita...dan Shreya...kita adalah sahabat yang akan selalu dikenang kisahnya,bunga mawar ini pamit,dan akan selalu berada di hati kalian dan tumbuh bersama kalian..... Ucapnya dalam hati,ia mengeluarkan cutter yang cukup besar dan mulai melukai tangannya,darah segar mengucur bersamaan dengan air matanya, dengan tangan yang semakin tidak berdaya ia kembali menggesek kan tajam pisau itu ke lehernya,Sensasi keluar darahnya seolah terasa nyaman olehnya,ia terus tersenyum, tubuhnya penuh luka dibeberapa titik urat nadi sudah ia babat yang akhirnya membuatnya tidak sadar kan diri.
Diah keluar dari kantor itu, dengan senyum yang merekah hatinya merasa sangat bahagia dan lega, akhirnya impian satu satunya akan tercapai dan bisa dinikmati banyak orang,dikenal banyak orang,ia merasa Ita lah yang menjadi penghubung jalur keberhasilan nya. Sementara shreya dan askia yang terlihat baru saja keluar dari restoran tempat kerjanya, seketika langkahnya terhenti kaku setelah mendengar berita buruk tentang Ita dari art nya Ita,Hp yang sedari tadi dipegang shreya terjatuh begitu saja,dan askia berteriak sekencang kencangnya, mereka berdua tidak percaya,"tidak... tidak mungkin,Ita....Lo nggak mungkin ninggalin kita begitu saja." Ujar shreya, mereka terduduk dan menangis, mereka saling merangkul, setelah beberapa saat mereka segera ke rumah Ita.
...
Setelah mendengar askia dari telpon,tanpa banyak basa basi lagi ia langsung masuk taxi dan menuju rumah Ita.
Suasana berduka di rumah Ita sangat terasa,banyak orang yang berdatangan,diah yang baru sampai di depan rumah itu, kakinya ragu untuk melangkah masuk,dengan air matanya yang terus mengalir, sampai di dalam ia memperhatikan setiap apa yang dilihatnya.
shreya dan askia sudah sudah berada di dekat Ita dengan menangis sembari memeluk tubuh Ita yang sudah terbaring tak bernyawa,Diah mendekati mereka...sontak ia duduk terpaku melihat i tubuh sahabat nya yang sudah tak bernyawa itu, tangannya berusaha memegang tangan Ita yang sudah dingin itu,tapi tiba tiba teriakannya pecah...ia tidak menyangka bahwa Ita akan berakhir seperti ini, apalagi dalam keadaan sedang membantunya,ia menangis tak hentinya begitu juga dengan shreya dan askia. "You are my superhero..." Lirih Diah terbata bata, seperti apa yang ia katakan sebelumnya bahwa Ita memang pahlawannya, pengorbanan yang Ita lakukan untuk sahabat sahabatnya tidak akan bisa dibayar dengan apapun.
Lalu dokter yang barusan memeriksanya menyodorkan sebuah kertas yang berada di saku Ita, mereka segera membacanya, "hai sayang... sahabat sahabat terbaikku...aku sudah cukup bahagia melihat kalian bisa memiliki apa yang kalian tuju,tunggu...lap dulu air mata kalian,pasti kalian membaca ini sambil nangis kan...dasar cewek cewek berhati hello Kitty,aku kan sudah bilang jangan ada air mata saat bahagia merebak,hei...jangan pikirkan aku, bukankah ini yang kalian inginkan? Agar aku terbebas dari rasa sakit itu,Diah... tolong beritahu dokter viska bahwa pasiennya ini sudah sembuh sekarang,hahahaa....aku sayang kalian banyak banyak,askia... segeralah menikah dengan laki laki impianmu, untuk Diah... semoga semua mimpimu bisa tercapai yaa...good luck,dan shreya...si paling insecure an... tolong selalu katakan kepada dirimu bahwa kamu cantik,oke baiklah sampai jumpa di kehidupan yang selanjutnya...aku selalu bersama kalian disetiap langkah kalian,i love you more..." Setelah membaca surat itu mereka semakin keras menangis, seolah tidak percaya bahwa sahabat nya yang selalu ceria, yang selalu mengutamakan mereka,dan selalu menasehati mereka itu akan pergi secepat itu.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Cuti Untuk Pikiran
Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk bena ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...