Bab 12- Konfilk Dengan Bangsa TIKUS!!
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di lembah desa Nekomimi. Matahari baru nongol setengah, tapi jantungku rasanya sudah loncat-loncat kayak kutu loncat minum kopi.
Dari menara pengawas bambu, terlihat gerombolan pasukan gabungan: Orc-orc tinggi besar dengan pentungan kayu setebal pipa gas. Goblin hijau berisik sambil mengacung-acungkan busur dan belati. Tikus-tikus raksasa membawa kapak, palu, dan... entah apa itu, sepertinya wajan raksasa.
Jumlah mereka?
Sepuluh kali lipat dari pasukan Nekomimi.
Aku sampai harus dua kali ngucek mata, takut salah lihat.
Aku menoleh ke Fredy di sampingku, yang lagi pasang scope di senapan runduknya sambil nyeruput kopi.
"Fred... ini serius? Mereka banyak banget..."
Fredy hanya mendesah, "Tenang, mereka kelihatan banyak, tapi lihat... koordinasi mereka kacau. Kayak fans artis rebutan photocard."
Aku ngakak sebentar, meski langsung tegang lagi.
Aliansi kami sudah siaga di parit. Pasukan putih Pak Suroso sudah membariskan senjata api di benteng bambu. Dina dan Agus sudah berdiri di atap gerbang utama, Dina dengan belati elf, Agus dengan busur elf yang sudah siap menembak.
Dedy berdiri di depan, perisai elf-nya sudah aktif, akar-akar rambat keluar perlahan, kayak tangan-tangan penonton konser yang rebutan pick gitar.
Albert berdiri di sampingku sambil megang remote aneh. "Kalau nanti bau sate keluar, tahan napas!" katanya sambil senyum lebar.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala sambil memegang pedang elf-ku erat-erat.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, pasukan musuh langsung berteriak dan berlari ke arah kami.
Suara mereka bergemuruh, kayak suara kereta barang mogok.
"SERANG!!" teriakku.
Fredy langsung melepaskan tembakan pertama. Dor! Seorang orc roboh.
Pasukan putih menembak serentak, rentetan peluru membelah udara.
Albert menembakkan bom asap rasa sate ke arah barisan goblin. Langsung terdengar keributan, beberapa goblin pingsan sambil megang perut.
Agus menarik busur elf, melepaskan anak panah yang berubah jadi akar dan langsung mencekik dua tikus raksasa sekaligus.
Dina melompat, belatinya berpendar hijau, gerakannya cepat banget kayak film yang dipercepat 10x.
Dedy mendorong perisai elf ke tanah, akar-akar merambat membentuk dinding pelindung, lalu mencambuk musuh yang mencoba mendekat.
Aku sendiri menunggu di garis depan. Begitu ada orc mendekat, aku lompat, pedang elf-ku berubah ringan dan tajam. Aku tebas satu pentungan orc sampai patah, lalu tendang mukanya sampai orc itu guling-guling kayak donat jatuh ke gorong-gorong.
Miao dan para Nekomimi, dengan kecepatan khas mereka, bergerak di antara musuh, menusuk dan menembak. Kadang gerakan mereka terlihat seperti tarian balet... kalau balet diisi sama orang bawa shotgun.
Fredy terus menembak dari menara, sesekali teriak, "Bro, satu lagi! Wah, itu kepleset! Aduh, kasihan banget!" sambil ngakak.
Aku sudah nggak bisa mikir banyak, hanya bergerak dan menebas. Dalam hati, cuma satu yang kupikir: Kalau aku mati, aku nggak sempat nembak puisi cinta ke Chintya!
Ledakan, teriakan, dan bau sate memenuhi medan.
Sampai akhirnya... musuh mulai mundur. Mereka kalang kabut. Goblin saling dorong, orc melempar tikus, tikus gigit goblin. Kekacauan total.
Awal serangan kami sukses total.
Pasukan gabungan tikus, orc, dan goblin lari tunggang-langgang, saling dorong, saling injak. Ada goblin yang sampai masuk parit dan teriak-teriak minta tolong sambil kejedot kawat duri.
Aku, Fredy, dan pasukan putih teriak kegirangan.
"HA! GAMPANG!" teriak Fredy sambil nembak ke udara (yang langsung ditegur Miao: "Pelurunya jangan dihabisin buat gaya!").
Tapi... kegembiraan itu nggak lama.
Dari langit tiba-tiba terdengar suara gemuruh, disusul bola-bola api sebesar kerbau jatuh menghantam area sekitar benteng. Ledakan dan kobaran api langsung bikin suasana chaos.
"INI SIHIR!" teriak tetua elf sambil lari-lari panik sambil bawa tongkatnya yang mirip sapu lantai.
Fredy dari menara teriak, "BRO! ADA ROMBONGAN ORANG BERJUBAH HITAM, TOPI LANCIP! MEREKA BIKIN BOLA API!!"
Aku langsung noleh ke Dina, yang sudah kelihatan siap sprint.
"Gas, Din! Kita cari biang keroknya!" teriakku.
Dina cuma angguk, belatinya sudah berpendar hijau. Dia langsung lompat, gerakannya cepet banget, kayak geprek ayam yang baru dicelup sambel. Aku pun loncat sambil mengaktifkan pedang elf-ku, otakku langsung mikir hal paling bikin emosi: dompet ilang, mie ayam habis, dan lampu merah lama banget.
Kami berdua menerobos kerumunan musuh yang tersisa. Dina bergerak lincah, lompat dari punggung orc ke kepala tikus, terus ngebabat si penyihir pertama. Aku menebas pasukan pengawal berjubah yang coba menghalangi.
Dua... tiga... empat penyihir jatuh.
Mereka nggak nyangka dua manusia bisa secepat ini. Ada satu penyihir yang sempat mau lempar bola api, tapi sebelum selesai, belati Dina sudah nancep di jidatnya.
Aku loncat ke penyihir terakhir, langsung menghujam pedang ke tanah. Tanah bergetar, membuat dia jatuh, lalu aku tebas topinya sampai jatuh ke tanah.
Beberapa menit kemudian, seluruh pasukan musuh yang tersisa sudah kocar-kacir.
Sisa-sisanya berhasil kami giring ke lapangan tengah desa.
Fredy dan pasukan putih sudah menunggu dengan senjata siaga. Para nekomimi berdiri di sekeliling, cakar mereka sudah keluar semua, ekor tegak.
Aku dan Dina berdiri di depan para tawanan yang ketakutan setengah mati.
Orc gemetaran sambil megang pentungan, tikus nangis sambil kibas-kibas kumis, goblin merangkak minta ampun.
Aku memandang mereka lama, sambil menahan napas dan ngos-ngosan.
"Selamat pagi... selamat datang di kelas motivasi kilat: Jangan Nyerang Desa Orang Kalau Nggak Siap Ditebas," kataku sambil angkat pedang.
Semua langsung tunduk, nggak ada yang berani lihat ke arah kami.
Kemenangan mutlak di tangan kami.
Setidaknya... untuk sekarang.
Setelah seluruh musuh kami kumpulkan di lapangan, suasana hening. Para Nekomimi masih waspada, cakar mereka belum benar-benar ditarik.
Aku maju selangkah, menatap para tawanan yang gemetar.
"Kami tahu... semua ini hanya karena makanan," kataku keras. "Kalau kalian mau, kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin. Kita bisa olah tanah bareng, jaga keamanan bareng, dan... hidup damai bareng."
Bangsa tikus saling lirik, kumis mereka bergetar. Akhirnya, salah satu pemimpin tikus - tubuhnya besar, gigi seri panjang kayak penggaris - maju dan mengangguk.
"Kami setuju... kami... kami nggak mau mati sia-sia..." katanya lirih sambil megang ekornya.
Aku senyum tipis, "Bagus. Daripada kalian semua tewas jadi sate goblin."
Kami memutuskan membebaskan bangsa orc dan goblin.
Ternyata mereka hanya pasukan sewaan, nggak punya niat pribadi dalam penyerangan. Mereka langsung lari terbirit-birit sambil ngucapin terima kasih dalam bahasa yang entah apa artinya - mirip suara blender rusak.
Setelah semuanya selesai, suasana desa Nekomimi kembali damai.
Para Nekomimi langsung merayakan dengan makan besar - meski menunya aneh: sup ekor tikus, salad bunga liar, dan jus akar manis.
Aku, Fredy, Dedy, Dina, Agus, Albert, dan Miao duduk melingkar di pinggir api unggun malam itu.
Aku menatap langit, menarik napas panjang.
"Sekarang... kita harus lanjut," kataku.
Semua menoleh.
"Chintya," lanjutku. "Dialah kunci portal. Kalau kita mau pulang, kita harus ketemu dia."
Miao mengangguk, matanya berkilat.
"Elf langit... itu kampung asal guruku. Aku bisa memandu kalian ke sana," katanya.
Aku menoleh ke Pak Suroso yang duduk agak jauh, sibuk memeriksa peta bersama pasukan putihnya.
"Pak Suroso, bagaimana dengan desa ini?" tanyaku.
Pak Suroso berdiri, menghampiri kami.
"Aku dan pasukan putih akan tetap di sini. Kami akan bantu menjaga desa Nekomimi, membangun pertanian, sekaligus memastikan tidak ada serangan lanjutan," jawabnya mantap.
Aku berdiri, menepuk bahu Pak Suroso.
"Terima kasih, Pak. Semoga kalian aman di sini," kataku.
Pak Suroso balas menepuk bahuku, "Hati-hati di perjalanan, Nak. Jangan tebas sembarangan."
Aku tertawa kecil, Fredy cuma geleng-geleng sambil ngusap senjatanya.
Kami saling menatap.
Aku, Fredy, Dedy, Dina, Agus, Albert, dan Miao.
Satu tim yang absurd, tapi penuh semangat.
Besok, kami akan berangkat menuju pemukiman Elf Langit.
Sebuah perjalanan baru dimulai.
Sebuah misi... untuk pulang.
Dan... untuk menemui Chintya.
Dari menara pengawas bambu, terlihat gerombolan pasukan gabungan: Orc-orc tinggi besar dengan pentungan kayu setebal pipa gas. Goblin hijau berisik sambil mengacung-acungkan busur dan belati. Tikus-tikus raksasa membawa kapak, palu, dan... entah apa itu, sepertinya wajan raksasa.
Jumlah mereka?
Sepuluh kali lipat dari pasukan Nekomimi.
Aku sampai harus dua kali ngucek mata, takut salah lihat.
Aku menoleh ke Fredy di sampingku, yang lagi pasang scope di senapan runduknya sambil nyeruput kopi.
"Fred... ini serius? Mereka banyak banget..."
Fredy hanya mendesah, "Tenang, mereka kelihatan banyak, tapi lihat... koordinasi mereka kacau. Kayak fans artis rebutan photocard."
Aku ngakak sebentar, meski langsung tegang lagi.
Aliansi kami sudah siaga di parit. Pasukan putih Pak Suroso sudah membariskan senjata api di benteng bambu. Dina dan Agus sudah berdiri di atap gerbang utama, Dina dengan belati elf, Agus dengan busur elf yang sudah siap menembak.
Dedy berdiri di depan, perisai elf-nya sudah aktif, akar-akar rambat keluar perlahan, kayak tangan-tangan penonton konser yang rebutan pick gitar.
Albert berdiri di sampingku sambil megang remote aneh. "Kalau nanti bau sate keluar, tahan napas!" katanya sambil senyum lebar.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala sambil memegang pedang elf-ku erat-erat.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, pasukan musuh langsung berteriak dan berlari ke arah kami.
Suara mereka bergemuruh, kayak suara kereta barang mogok.
"SERANG!!" teriakku.
Fredy langsung melepaskan tembakan pertama. Dor! Seorang orc roboh.
Pasukan putih menembak serentak, rentetan peluru membelah udara.
Albert menembakkan bom asap rasa sate ke arah barisan goblin. Langsung terdengar keributan, beberapa goblin pingsan sambil megang perut.
Agus menarik busur elf, melepaskan anak panah yang berubah jadi akar dan langsung mencekik dua tikus raksasa sekaligus.
Dina melompat, belatinya berpendar hijau, gerakannya cepat banget kayak film yang dipercepat 10x.
Dedy mendorong perisai elf ke tanah, akar-akar merambat membentuk dinding pelindung, lalu mencambuk musuh yang mencoba mendekat.
Aku sendiri menunggu di garis depan. Begitu ada orc mendekat, aku lompat, pedang elf-ku berubah ringan dan tajam. Aku tebas satu pentungan orc sampai patah, lalu tendang mukanya sampai orc itu guling-guling kayak donat jatuh ke gorong-gorong.
Miao dan para Nekomimi, dengan kecepatan khas mereka, bergerak di antara musuh, menusuk dan menembak. Kadang gerakan mereka terlihat seperti tarian balet... kalau balet diisi sama orang bawa shotgun.
Fredy terus menembak dari menara, sesekali teriak, "Bro, satu lagi! Wah, itu kepleset! Aduh, kasihan banget!" sambil ngakak.
Aku sudah nggak bisa mikir banyak, hanya bergerak dan menebas. Dalam hati, cuma satu yang kupikir: Kalau aku mati, aku nggak sempat nembak puisi cinta ke Chintya!
Ledakan, teriakan, dan bau sate memenuhi medan.
Sampai akhirnya... musuh mulai mundur. Mereka kalang kabut. Goblin saling dorong, orc melempar tikus, tikus gigit goblin. Kekacauan total.
Awal serangan kami sukses total.
Pasukan gabungan tikus, orc, dan goblin lari tunggang-langgang, saling dorong, saling injak. Ada goblin yang sampai masuk parit dan teriak-teriak minta tolong sambil kejedot kawat duri.
Aku, Fredy, dan pasukan putih teriak kegirangan.
"HA! GAMPANG!" teriak Fredy sambil nembak ke udara (yang langsung ditegur Miao: "Pelurunya jangan dihabisin buat gaya!").
Tapi... kegembiraan itu nggak lama.
Dari langit tiba-tiba terdengar suara gemuruh, disusul bola-bola api sebesar kerbau jatuh menghantam area sekitar benteng. Ledakan dan kobaran api langsung bikin suasana chaos.
"INI SIHIR!" teriak tetua elf sambil lari-lari panik sambil bawa tongkatnya yang mirip sapu lantai.
Fredy dari menara teriak, "BRO! ADA ROMBONGAN ORANG BERJUBAH HITAM, TOPI LANCIP! MEREKA BIKIN BOLA API!!"
Aku langsung noleh ke Dina, yang sudah kelihatan siap sprint.
"Gas, Din! Kita cari biang keroknya!" teriakku.
Dina cuma angguk, belatinya sudah berpendar hijau. Dia langsung lompat, gerakannya cepet banget, kayak geprek ayam yang baru dicelup sambel. Aku pun loncat sambil mengaktifkan pedang elf-ku, otakku langsung mikir hal paling bikin emosi: dompet ilang, mie ayam habis, dan lampu merah lama banget.
Kami berdua menerobos kerumunan musuh yang tersisa. Dina bergerak lincah, lompat dari punggung orc ke kepala tikus, terus ngebabat si penyihir pertama. Aku menebas pasukan pengawal berjubah yang coba menghalangi.
Dua... tiga... empat penyihir jatuh.
Mereka nggak nyangka dua manusia bisa secepat ini. Ada satu penyihir yang sempat mau lempar bola api, tapi sebelum selesai, belati Dina sudah nancep di jidatnya.
Aku loncat ke penyihir terakhir, langsung menghujam pedang ke tanah. Tanah bergetar, membuat dia jatuh, lalu aku tebas topinya sampai jatuh ke tanah.
Beberapa menit kemudian, seluruh pasukan musuh yang tersisa sudah kocar-kacir.
Sisa-sisanya berhasil kami giring ke lapangan tengah desa.
Fredy dan pasukan putih sudah menunggu dengan senjata siaga. Para nekomimi berdiri di sekeliling, cakar mereka sudah keluar semua, ekor tegak.
Aku dan Dina berdiri di depan para tawanan yang ketakutan setengah mati.
Orc gemetaran sambil megang pentungan, tikus nangis sambil kibas-kibas kumis, goblin merangkak minta ampun.
Aku memandang mereka lama, sambil menahan napas dan ngos-ngosan.
"Selamat pagi... selamat datang di kelas motivasi kilat: Jangan Nyerang Desa Orang Kalau Nggak Siap Ditebas," kataku sambil angkat pedang.
Semua langsung tunduk, nggak ada yang berani lihat ke arah kami.
Kemenangan mutlak di tangan kami.
Setidaknya... untuk sekarang.
Setelah seluruh musuh kami kumpulkan di lapangan, suasana hening. Para Nekomimi masih waspada, cakar mereka belum benar-benar ditarik.
Aku maju selangkah, menatap para tawanan yang gemetar.
"Kami tahu... semua ini hanya karena makanan," kataku keras. "Kalau kalian mau, kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin. Kita bisa olah tanah bareng, jaga keamanan bareng, dan... hidup damai bareng."
Bangsa tikus saling lirik, kumis mereka bergetar. Akhirnya, salah satu pemimpin tikus - tubuhnya besar, gigi seri panjang kayak penggaris - maju dan mengangguk.
"Kami setuju... kami... kami nggak mau mati sia-sia..." katanya lirih sambil megang ekornya.
Aku senyum tipis, "Bagus. Daripada kalian semua tewas jadi sate goblin."
Kami memutuskan membebaskan bangsa orc dan goblin.
Ternyata mereka hanya pasukan sewaan, nggak punya niat pribadi dalam penyerangan. Mereka langsung lari terbirit-birit sambil ngucapin terima kasih dalam bahasa yang entah apa artinya - mirip suara blender rusak.
Setelah semuanya selesai, suasana desa Nekomimi kembali damai.
Para Nekomimi langsung merayakan dengan makan besar - meski menunya aneh: sup ekor tikus, salad bunga liar, dan jus akar manis.
Aku, Fredy, Dedy, Dina, Agus, Albert, dan Miao duduk melingkar di pinggir api unggun malam itu.
Aku menatap langit, menarik napas panjang.
"Sekarang... kita harus lanjut," kataku.
Semua menoleh.
"Chintya," lanjutku. "Dialah kunci portal. Kalau kita mau pulang, kita harus ketemu dia."
Miao mengangguk, matanya berkilat.
"Elf langit... itu kampung asal guruku. Aku bisa memandu kalian ke sana," katanya.
Aku menoleh ke Pak Suroso yang duduk agak jauh, sibuk memeriksa peta bersama pasukan putihnya.
"Pak Suroso, bagaimana dengan desa ini?" tanyaku.
Pak Suroso berdiri, menghampiri kami.
"Aku dan pasukan putih akan tetap di sini. Kami akan bantu menjaga desa Nekomimi, membangun pertanian, sekaligus memastikan tidak ada serangan lanjutan," jawabnya mantap.
Aku berdiri, menepuk bahu Pak Suroso.
"Terima kasih, Pak. Semoga kalian aman di sini," kataku.
Pak Suroso balas menepuk bahuku, "Hati-hati di perjalanan, Nak. Jangan tebas sembarangan."
Aku tertawa kecil, Fredy cuma geleng-geleng sambil ngusap senjatanya.
Kami saling menatap.
Aku, Fredy, Dedy, Dina, Agus, Albert, dan Miao.
Satu tim yang absurd, tapi penuh semangat.
Besok, kami akan berangkat menuju pemukiman Elf Langit.
Sebuah perjalanan baru dimulai.
Sebuah misi... untuk pulang.
Dan... untuk menemui Chintya.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
O
o ...