Rahasia Ikal

Reads
1.4K
Votes
13
Parts
12
Vote
Report
Penulis Alfian N. Budiarto

Bagian 7

Liana mengamati lembar uang terakhir di dalam kaleng bekas tempat penyimpanan wafer. Sudah satu pekan berlalu dan ia masih tetap pada pendiriannya: menolak tawaran Tauke Isal menjadi istri kedua. Perempuan itu tahu kalau keputusannya itu berimbas pada masa depan Ikal yang tidak menentu. Tapi, bagaimanapun, menjadi istri kedua bosnya di pelelangan ikan itu menurutnya akan menjadi pengkhianatan yang tidak terbayarkan. Seperti keyakinannya sedari dulu, bahwa barangkali di belahan bumi sana, sang suami masihlah hidup. Laki-laki itu hanya tidak tahu caranya kembali kepadanya. Setidaknya demikianlah yang selalu Liana yakini. Menikah lagi tentu saja pisau yang akan melukai. Belum lagi, ia juga akan menyakiti hati istri pertama si tauke.

"Cemane, Li? Lah ka pikirkan keputusan ka?"

Tanpa diduga, meski telah sengaja tidak kembali ke pelelangan, nyatanya justru Tauke Isal yang datang bertandang ke kediamannya. Tentu saja hal itu membuat Liana kaget bukan main. Apalagi lelaki berperut buncit itu hanya datang seorang diri di kala Ikal pun sedang berada di sekolah.

"Maaf, Pak. Saya tetap bisa menerima tawaran Bapak." Takut-takut Liana mengutarakan kalimatnya.

Benar saja, mendengar keputusan Liana yang tidak mengenakkan hati itu, Tauke Isal muntab. Wajahnya merah padam sekaligus malu mendapatkan penolakan dari perempuan yang menurutnya berbeda jauh dari segi kasta. 

"Dasar perempuan dak tau diri. Lah melarat, dak punya otak pula." Tauke Isal menghantamkan genggaman tangannya ke arah dinding bambu, yang membuat dinding itu seketika bolong dan membuat rumah Liana goyah. 

"Kalau memang Bapak mau menikah, masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari saya di luar sana." Liana mencoba meredam amarah Tauke Isal, tapi yang bersangkutan sudah kadung marah besar.

Tanpa berkata apa-apa, Tauke Isal berbalik badan. Laki-laki itu juga masih sempat meludah di teras rumah Liana, tanda tidak terima. Tapi, Liana masih bisa bersyukur sang tauke tidak berbuat macam-macam. Andai saja laki-laki itu kehilangan sepenuh kesabarannya, tentu bukan hal sulit bagi laki-laki itu untuk merobohkan salah satu dinding rumah Liana yang terbuat dari anyaman bambu. 

Sepeninggalan Tauke Isal, Liana bisa sedikit bernapas lega. Setidaknya satu beban pikirannya sudah terselesaikan. Ia tidak harus berurusan lagi dengan laki-laki itu. Pun ia tidak mesti harus mendengar gunjingan para buruh pelelangan mengenai hubungannya dengan lelaki beristri tadi. Meski demikian, kini yang masih menjadi beban berat di pundak perempuan tadi adalah bagaimana cara ia mencari penghidupan lain selain bekerja di pelelangan.

Sudah sepekan ini pula Liana berkeliling mencari beragam kemungkinan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Mulai dari mencari peluang menjadi tenaga pembuat getas dan kericu. Namun, belakangan rupanya bisnis camilan itu banyak yang mulai mengurangi pasokan. Pasalnya, banyak produk getas dan kericu dari daerah lain yang harganya jauh lebih miring. Sehingga produk lokal kalah saing dan sepi peminat. Alhasil, banyak produsen yang memutuskan mengurangi produksi yang secara otomatis mengurangi pula kebutuhan karyawannya.

Tidak habis akal, Liana masih memiliki secercah harapan dari sektor pertanian. Meski tahu jika upah bekerja di kebun cabai yang harganya tengah merosot tidaklah seberapa, tapi setidaknya ia masih akan menerima rupiah. Siang ini, Liana akan mengadukan nasibnya ke sana. Ia punya kenalan seorang kenalan yang dulu juga pernah bekerja di pelelangan ikan dan kini beralih menjadi buruh rawat di kebun cabai. Barangkali kelak rekannya itu bisa memberikan rekomendasi kepada sang majikan agar bisa menerima dirinya bekerja di sana.

Liana sama sekali tidak memedulikan kesehatannya yang semakin menurun. Rasa lelah di tubuh dan pikirannya itu sebisa mungkin ia abaikan. Hanya saja, banyaknya beban yang berkelindan di kepala, membuat kesehatan sekaligus kewarasan perempuan itu nyaris sirna. Benar saja, baru saja akan melangkahkan kaki menuju satu-satunya peluang pekerjaan baginya, Liana malah lebih dulu harus menyerah pada keadaan. Kesadaran perempuan beranak satu itu tiba-tiba saja menghilang. Tubuhnya limbung di teras yang beralaskan tanah dan bercampur butiran pasir pantai.

***


Other Stories
Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Download Titik & Koma