Rahasia Ikal

Reads
1.4K
Votes
13
Parts
12
Vote
Report
Penulis Alfian N. Budiarto

Bagian 11

Sepekan sudah Ikal tidak masuk sekolah. Bu Esti yang khawatir mengenai keadaan murid kesayangannya itu memutuskan datang bersama Nur, bidan desa setempat. Terakhir kali Ikal bercerita kepadanya, bocah itu mengadukan perihal penyakit Liana yang tak kunjung sembuh, juga perihal beras yang habis, dan Ikal yang berusaha menahan lapar di hadapan ibunya. 

Bu Esti tentu tidak bisa melupakan hari itu. Hari di mana matanya seketika sembap. Pipinya digarami air mata. Ia tidak pernah menyangka jika selain harus berjalan kaki pulang-pergi ke sekolah, di usianya yang masih sangat belia, Ikal harus menanggung sengsara akibat kemelaratan keluarganya. Memang, banyak sudah guru sekolah dasar itu mendapati murid-muridnya yang memutuskan berhenti sekolah dengan alasan ekonomi. Tapi, hanya Ikal yang begitu mencintai ilmu yang ia berikan. Di tengah kecamuk serba kekurangan, bocah dua belas tahun itu terus bertahan. Ia tidak ingin menyerah seperti anak-anak lain yang putus sekolah dan kini mereka lebih sering pergi ngelimbang[1]. Tidak lagi memikirkan bangku sekolah, apalagi masa depan.

Sejak tadi Bu Esti dan Nur telah tiba di pelataran rumah Ikal. Meski sudah tiga kali memekikkan sapaan, namun tidak satu pun jawaban yang mereka terima. Hingga ketika Bu Esti hampir saja memutar haluan dan pulang dengan tangan kosong, Nur malah tidak sengaja mendorong pintu rumah berdinding anyaman bambu yang memang tidak terkunci.

Seketika pemandangan di hadapan keduanya itu mampu membuat siapa pun bergidik. Di hadapan Nur dan Bu Esti yang sudah terduduk syok di lantai tanah berpasir, tubuh Liana yang membusuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap terbujur kaku di bawah selimut. 

"Astagfirullah!" Bu Esti memekik. Sementara dengan cekatan Nur yang memang merupakan tenaga medis memeriksa kondisi jasad Liana.

"Beliau pasti sudah meninggal sejak beberapa hari yang lalu."

"Ikal mana? Mana Ikal?" Bu Esti tentu tidak melupakan keberadaan anak didik kesayangannya tersebut yang memang sejak tadi tidak berada di rumahnya.

"Yang terpenting sekarang kita minta bantuan warga terdekat untuk mengevakuasi jenazah ibunya Ikal." 

Tanpa banyak komentar, Bu Esti kembali ke motornya dan mulai melajukan kendaraannya tersebut untuk mencari bantuan dengan tangan dan kaki yang masih cukup bergetar.

***

Jenazah Liana sudah diamankan beberapa orang warga. Tepat saat itu, Ikal terlihat berjalan dari kejauhan sembari menenteng sekumpulan ikan hasil pancingan. 

Menyadari rumahnya dikerumuni banyak orang, Ikal kaget. Sekaligus khawatir. Tidak lagi ia pedulikan ikan di tangannya. Bocah dua belas tahun itu segera berlari menuju pekarangan. Didapatinya Bu Esti ada di sana.

"Kenapa rumah Ikal didatangi banyak orang, Bu?" Tangis bocah laki-laki itu pecah. "Tolong suruh mereka semua pergi, Bu Esti. Mak kamik dak suka banyak orang dateng. Kelak tiduk e teganggu. Mak kamik agik sakit. Die nek istirahat[1]." 

Dengan iba, Bu Esti menenangkan Ikal. Dipeluk dan dielusnya lembut pucuk kepala muridnya tersebut. "Ikal, ka harus sabar ok. Mak ka tu lah ninggel[2]."

Ikal berontak. Ia mencoba melepaskan dekapan sang guru. "Dak, Bu. Mak kamik lum ninggel. Ibu bohong!"

Ikal yang berhasil melepaskan diri, menyeruak masuk ke rumahnya. Dipan tempat tubuh ibunya terbaring sudah kosong. Sekali lagi bocah laki-laki itu meraung menuntut penjelasan. Ada bara yang menyala di manik matanya.

"Mak kamik dibawa ke mane?!"

"Mak ka lah di bawa ke kampung. Nak dimandikan dan dimakamkan di sane. Kasian kalau jenazah e dibiarkan lama-lama, Kal." Bu Esti memberikan keterangan. "Ka tenangkan diri dulu. Setelah itu Ibu antar ke sane. Kite makamkan mak ka same-same[3]."

"Dak, Bu. Ku dak nek pisah kek mak. Kalau Mak dikubur, ku kek siape di dunia ini?" Di sela rintihan nestapanya, napas bocah kelas enam itu tersengal-sengal. Berselingan dengan isak tangis yang tidak jua reda. "Cuma mak kamik yang ku punya."

Meski sejatinya telah mengetahui fakta bahwa sang ibu telah meninggal dunia sejak beberapa hari lalu, namun Ikal sengaja merahasiakan semuanya dari siapa pun. Ikal tidak ingin orang-orang membawa jasad ibunya pergi. Ikal merasa belum sanggup hidup sebatang kara. Maka, meski tubuh Liana semakin hari semakin pucat dan menguarkan aroma tidak sedap, Ikal tetap mengurusnya dengan kasih sayang. Saban pagi dan sore hari, bocah laki-laki itu akan selalu memandikan jasad Liana. Memberikannya bedak tabur sebagaimana kebiasaan sang ibu semasa hidupnya. 

Meski dunianya seolah-olah telah berakhir sepeninggalan ibunya, namun Ikal juga tidak bisa mengabaikan putaran waktu yang seakan tidak pernah peduli pada nasibnya. Ikal benar-benar sendirian. Ia tidak lagi punya tempat untuk memeluk dan bersandar. Padahal saat ini Ikal sedang melalui masa-masa paling berat dalam hidupnya.

Kabut di sepasang mata Bu Esti luruh menjadi sungai-sungai kecil. Ia dongakkan kepala Ikal hingga pandangan mata keduanya saling bersirobok. "Ikal dak usah khawatir, mulai sekarang Ikal adalah anak ibu. Anggap Bu Esti seperti mak ka sendiri."

Dengan kelapangan hati, Bu Esti akhirnya mengambil keputusan. Perempuan yang dulu pernah ditinggal mati anak dan suaminya dalam sebuah insiden kecelakaan, tentu tahu benar sakitnya kehilangan dan menjalani hidup sebatang kara. Maka, kini, tanpa perlu ba-bi-bu, dua orang yang sama-sama sendirian akan menjadi sebuah keluarga kecil yang hangat. Sebab, Bu Esti percaya bahwa sebuah keluarga kecil yang indah tidak mesti harus selalu lahir dari ikatan dan pertalian darah. Ia dan Ikal akan membuktikan hal itu pada dunia.

***

[1] Ibu saya tidak suka banyak orang berdatangan. Nanti tidurnya terganggu. Ibu saya sedang sakit. Beliau ingin istirahat

[2] Ibumu itu sudah meninggal

[3] bersama-sama


Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma