Chapter 3 - Akuarium Hiu
Jakarta menyambut mereka dengan raungan klakson dan udara yang terasa berat. Arena turnamen, Jakarta International Velodrome, terlihat seperti sebuah pesawat alien raksasa yang mendarat di tengah kota. Mereka berlima berdiri di depannya, menengadah, ransel di punggung, merasa seperti lima butir debu. Spanduk-spanduk raksasa menampilkan wajah-wajah para pemain bintang, tersenyum percaya diri dengan seragam bersponsor mereka.
Saat itulah mereka melihatnya. Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di lobi utama. Pintu terbuka, dan keluarlah Leo dan timnya, “Celestial Knights”. Mereka mengenakan jaket tim berwarna biru metalik yang seragam, dikelilingi oleh manajer dan kru media. Leo, sang kapten, melirik sekilas ke arah tim “Anak Singkong” yang berdiri canggung di seberang jalan. Tatapannya dingin, sekilas, sebelum menganggap mereka tidak ada. Momen itu, yang berlangsung tak lebih dari tiga detik, sudah cukup untuk menampar mereka dengan kenyataan: mereka adalah ikan-ikan kecil yang baru saja masuk ke dalam akuarium berisi hiu.
Setelah mendaftar di meja registrasi yang ramai, seorang panitia berwajah serius mengarahkan mereka ke sebuah aula besar untuk Technical Meeting. Saat mereka melangkah masuk, dunia mereka seolah berputar.
Ruangan itu dingin oleh pendingin udara dan terang benderang oleh lampu-lampu industri di langit-langitnya yang tinggi. Puluhan anak muda lain sudah duduk rapi di kursi-kursi berbaris, namun mereka terlihat berbeda. Mereka semua mengenakan seragam tim yang necis, dengan logo-logo sponsor terpampang di dada dan lengan. Mereka mengobrol dengan percaya diri, beberapa berbicara dalam campuran Bahasa Inggris, manajer dan pelatih berdiri di belakang mereka dengan tablet di tangan.
Tim “Anak Singkong” berdiri kaku di ambang pintu. Kaos oblong pudar, celana jins, dan sepatu usang mereka terasa seperti kostum badut di tengah pesta para pangeran.
“Bay, kok koyoke kita salah ruangan, yo?” bisik Dodi, matanya membelalak ngeri.
Rina menepuk pundak Dodi pelan. “Wis, bener, kok. Ayo, kita duduk di belakang wae.”
Di barisan depan, mereka melihat tim Celestial Knights berkumpul di sana. Mereka tidak sedang mengobrol. Mereka sedang mendengarkan arahan dari seorang pria berjas yang sepertinya adalah pelatih mereka. Profesional. Teratur. Tenang. Semua yang bukan diri mereka.
Seorang panitia naik ke panggung kecil di depan. “Selamat datang, para atlet e-sport. Welcome to the National Championship.”
Selama tiga puluh menit berikutnya, Bayu dan timnya mencoba memahami bahasa yang terasa asing: bracket seeding, rules of engagement, jadwal media day, regulasi sponsor. Gilang, yang biasanya paling mengerti hal-hal teknis, hanya bisa mencatat dengan bingung di buku kecilnya.
Setelah meeting selesai, aula itu berubah menjadi ajang media yang riuh. Para wartawan dan influencer langsung mengerubungi tim-tim unggulan. Lampu kilat kamera menyala di mana-mana. Bayu melihat seorang wartawan muda bersemangat mewawancarai Leo.
“Leo, sebagai juara bertahan, siapa yang kalian anggap sebagai ancaman terbesar tahun ini?” tanya wartawan itu, menyodorkan mikrofon.
Leo tersenyum tipis, sebuah senyum yang sudah terlatih. “Semua tim kuat. Kami menghormati semua lawan. Tapi pada akhirnya, musuh terbesar kami adalah diri kami sendiri.”
Jawaban yang sempurna. Jawaban seorang bintang.
Setelah selesai dengan Leo, wartawan itu melirik ke arah “Anak Singkong” yang berdiri canggung di sudut. Dengan sisa antusiasme yang terasa dipaksakan, ia menghampiri mereka.
“Selamat sore. Tim apa, Mas?” tanyanya, tanpa basa-basi.
“Anak Singkong, Mas,” jawab Rina sopan.
Wartawan itu mengernyitkan dahi, lalu melirik sekilas ke tablet di tangannya, jarinya menggulir daftar peserta. Ia berhenti saat menemukan nama itu.
“Ah, ini dia. ‘Anak Singkong’,” bacanya dengan nada datar, seolah nama itu aneh di lidahnya. Ia lalu melihat kolom di sebelahnya. “Dari… Klaten, ya?” Ia tersenyum sekilas, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. “Oke. Sukses, ya, buat pertandingannya.”
Ia bahkan tidak bertanya nama mereka. Ia hanya mengangguk sekali, lalu bergegas pergi, kembali mencari bintang yang lebih terang untuk diliput.
Rasa malu yang panas menjalari mereka. Mereka bukan hanya underdog. Mereka bahkan tidak dianggap sebagai peserta.
Dari seberang ruangan, Leo yang melihat interaksi singkat itu mencondongkan tubuhnya ke arah manajernya. Bayu, dengan pendengarannya yang tajam, berhasil menangkap bisikan pelan itu.
“Lihat, Kak. Ada tim studi banding dari desa.”
Manajernya tertawa kecil. Bagi Bayu, tawa kecil itu terdengar lebih keras dari raungan seribu penonton. Ia tidak menunduk. Ia hanya menatap lurus ke arah Leo, menyimpan rasa sakit dan hinaan itu dalam diam. Tangannya di dalam saku jaket terkepal erat. Pertarungan mereka sudah dimulai, jauh sebelum mereka bahkan menyentuh ponsel mereka.
Rasa sakit dan hinaan itu menjadi bahan bakar sunyi selama sisa hari itu. Tim “Anak Singkong” tidak banyak bicara saat berjalan pulang ke penginapan, melewati gemerlap pusat perbelanjaan Jakarta yang terasa seperti dunia lain. Amarah yang tadinya panas perlahan mendingin di bawah terpaan AC kereta komuter yang penuh sesak, digantikan oleh sesuatu yang lebih berat dan dingin: kesadaran penuh akan besarnya panggung yang akan mereka naiki besok. Ejekan Leo memang menyakitkan, tapi yang lebih menakutkan adalah kemungkinan bahwa ejekan itu ada benarnya.
Kamar penginapan murah yang mereka sewa terasa sempit dan pengap, sangat kontras dengan aula arena yang megah dan dingin. Dua kasur tingkat dari besi memenuhi sebagian besar ruangan, menyisakan sedikit ruang di lantai tempat ransel-ransel kumal mereka tergeletak seperti para pengungsi. Satu-satunya jendela menghadap ke dinding bata gedung sebelah. Ini adalah markas mereka di Jakarta, sebuah sangkar beton yang jauh dari langit terbuka Klaten.
Tidak ada yang bisa tidur. Pertandingan pertama mereka akan berlangsung besok siang, dan ketegangan di dalam ruangan itu bisa diiris dengan pisau.
Gilang duduk di kasur bawah, menyinari buku catatan kecilnya dengan senter HP. Ia sedang menghitung sisa uang mereka untuk kesekian kalinya, setiap baris pengeluaran ia tandai, bibirnya bergerak tanpa suara. Setiap lembar seratus ribuan yang hilang dari anggaran terasa seperti satu nyawa yang hilang di dalam game. Kecemasan adalah agamanya, dan angka-angka adalah kitab sucinya.
Di seberangnya, Adi justru berbaring telentang dengan tangan di belakang kepala, penuh percaya diri yang berlebihan. Ia mencoba memecah keheningan yang berat.
“Tenang wae, cah,” katanya dengan logat medok yang terdengar terlalu keras di ruangan sempit itu. “Besok kita bantai lawan pertama, langsung dapat bonus. Duit makan aman sampai final, wis.”
“Jangan sombong, Di,” desis Gilang, tidak mengalihkan pandangan dari buku catatannya. “Lawan kita itu tim pro. Kamu lihat sendiri tadi di briefing. Jaketnya tok lebih mahal dari ongkos kita ke sini.”
“Halah, jaket doang,” balas Adi, bangkit duduk. “Yang main itu jarinya, bukan jaketnya. Bayu ini otaknya, aku tangannya. Wis, rampung, kan?”
Rina, yang sedang duduk di lantai sambil merapikan kaus tim mereka yang sederhana, sablonan “Anak Singkong” di bagian dada, menghela napas. “Udah, udah, to... Jangan mulai. Energinya disimpan buat besok,” katanya lembut, suaranya mencoba menjadi penenang. “Pokoke saiki istirahat dulu, pikirannya ditenangin.”
Dodi tidak ikut bicara. Ia meringkuk di kasur atas, telinganya tersumbat earphone, matanya terpaku pada layar HP. Dari sudut mata Bayu, ia bisa melihat Dodi sedang menonton ulang siaran langsung Leo, sang kapten Celestial Knights, mempelajari setiap gerakannya dengan campuran antara kekaguman dan rasa takut.
Dan Bayu, sang kapten, duduk di satu-satunya kursi plastik di ruangan itu, punggungnya menghadap yang lain. Ia merasakan semua beban itu di pundaknya. Kecemasan Gilang, kesombongan Adi, kegugupan Dodi, dan harapan Rina. Semuanya menjadi miliknya.
Di layar HP-nya yang kecil, ia sedang memutar ulang pertandingan terakhir lawan mereka besok. Ia tidak peduli pada skor akhir. Ia mencari pola. Matanya yang setajam elang memindai pergerakan peta, jeda waktu antar serangan, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak akan disadari oleh penonton biasa.
Rotasi mereka disiplin sekali, pikirnya dalam hati. Jungler-nya hampir tidak pernah membuat kesalahan. Selalu berada di tempat yang tepat.
Ia melihat bagaimana lawan mereka dengan sabar membangun keunggulan, sedikit demi sedikit, seperti air yang perlahan-lahan menenggelamkan. Gaya bermain mereka rapi, terstruktur, dan dingin. Sangat berbeda dengan gaya “Anak Singkong” yang kacau, penuh dengan insting dan gairah. Untuk pertama kalinya, Bayu merasa strategi yang membawanya sejauh ini terasa begitu naif dan amatir. Sebuah simpul terbentuk di perutnya. Suara ayahnya kembali terngiang, “Lha hasil strategimu itu apa, hm? Cuma tulisan ‘VICTORY’ di layar?”
Ia melirik ke arah teman-temannya. Gilang sudah merebahkan diri di samping buku catatannya, matanya menatap langit-langit dengan hampa. Adi sudah kembali berbaring, tapi kini ia diam. Rina masih melipat baju dengan gerakan yang pelan dan ragu.
Mereka semua mempercayainya. Mereka mengikutinya dari sawah di Klaten hingga ke kamar pengap di Jakarta ini. Beban itu terasa nyata, menekan dadanya hingga sesak. Bayu mematikan video, memijat pelipisnya. Besok, di atas panggung itu, ia tidak hanya mempertaruhkan sebuah pertandingan. Ia mempertaruhkan kepercayaan teman-temannya, donasi dari komunitasnya, uang simpanan ibunya, dan satu-satunya kesempatan untuk membuktikan pada ayahnya bahwa dunianya ini nyata.
Ia kembali menyalakan HP, membuka video itu lagi dari awal. Malam masih panjang, dan ia harus menemukan celah di dalam dinding pertahanan lawan yang tampak begitu sempurna.
Malam yang panjang itu akhirnya berakhir, namun pagi yang datang tidak membawa kelegaan, melainkan sebongkah batu besar di perut masing-masing. Sarapan pagi di warteg sebelah penginapan terasa hambar. Nasi uduk yang biasanya mereka lahap kini terasa seperti pasir. Adi hanya mengaduk-aduk tehnya, Gilang menatap kosong ke seberang jalan, sementara Bayu hanya berhasil menelan setengah potong tempe bacem. Kata-kata terasa mahal, hanya denting sendok dan garpu yang mengisi keheningan di antara mereka.
Perjalanan singkat dari penginapan ke arena terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Jika kemarin arena ini terasa seperti pesawat alien yang kosong, hari ini pesawat itu telah hidup, berdengung dengan energi ribuan orang. Musik menggelegar dari pengeras suara, para penonton dengan jersey tim-tim besar sudah mulai berdatangan. Mereka berlima berjalan melewati kerumunan, merasa semakin kecil dan tidak terlihat.
Di ruang tunggu pemain yang sempit di belakang panggung, mereka bisa mendengar gemuruh penonton dan suara para caster yang mulai memanaskan suasana. Udara terasa dingin dan berat. Untuk terakhir kalinya, mereka memeriksa ponsel, memastikan daya baterai penuh dan semua pembaruan sudah terpasang. Bayu mengumpulkan timnya dalam sebuah lingkaran kecil.
“Fokus,” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya, suaranya nyaris tak terdengar di antara kebisingan. “Main wae kayak di JayaNet. Nggak usah dipikir yang di luar sana, yo.”
Mereka saling pandang, sebuah anggukan tanpa kata, lalu berjalan keluar dari ruang tunggu menuju panggung yang menyilaukan. Mereka siap untuk bertarung. Mereka hanya tidak siap untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pertandingan pertama mereka melawan Nusantara Guardians adalah sebuah pembantaian.
Mereka duduk di dalam bilik pemain, merasakan dinginnya AC dan keheningan yang aneh. Di luar sana, suara penonton dan caster samar-samar terdengar. Tapi di dalam, hanya ada suara napas mereka sendiri dan detak jantung yang menggila. Lawan mereka, tim peringkat lima nasional, bermain dengan kecepatan dan agresi yang belum pernah mereka hadapi.
Komunikasi mereka yang biasanya cair kini terbata-bata. Adi yang mencoba melakukan gank justru terjebak. Rina yang mencoba melindungi diobrak-abrik. Bayu, untuk pertama kalinya, merasa petanya buta. Semua strategi yang ia siapkan terasa mentah dan lambat. Lima belas menit. Hanya itu waktu yang dibutuhkan lawan untuk menghancurkan markas mereka.
Mereka berjalan keluar dari bilik dengan kepala tertunduk, melewati koridor yang ramai. Saat itulah mereka melewati Leo dan timnya yang sedang bersiap untuk pertandingan berikutnya.
“Gue bilang juga apa, ‘Freya Roam’ itu strategi aneh,” salah satu anggota Celestial Knights berbisik, namun cukup keras untuk mereka dengar.
Leo tertawa kecil. “Anak warnet. Cuma modal nekat.”
Kata-kata itu menusuk, lebih sakit dari kekalahan telak barusan. Semangat persahabatan yang mereka bawa dari Klaten mulai retak, digantikan oleh frustrasi dan saling menyalahkan dalam diam. Dan seolah semesta belum selesai menghukum mereka, penghakiman itu kini ditampilkan dalam skala raksasa.
Di layar-layar raksasa yang tergantung di sepanjang koridor, statistik dari pertandingan mereka yang baru saja berakhir mulai ditampilkan, angka kill, death, assist, jumlah gold yang dikumpulkan. Bagi Bayu dan timnya, itu adalah rapor dari kegagalan mereka, dipajang untuk dilihat semua orang. Setiap kemenangan dan kekalahan di turnamen ini tidak pernah benar-benar berakhir saat markas hancur. Momen-momen itu dipecah menjadi ribuan titik data: efisiensi farming, persentase akurasi skill, pola rotasi. Dan di salah satu ruangan paling tenang di puncak arena, data-data mentah itu sedang menunggu untuk dibaca.
“Permisi, Bu,” kata Putra, seorang analis data muda berwajah serius, melangkah masuk. “Saya tahu Ibu sibuk, tapi data real-time dari pertandingan tim debutan Anak Singkong barusan menunjukkan sebuah anomali strategi yang menarik. Menurut saya perlu Ibu lihat.”
Ibu Astari mengangkat alis, tertarik. “Anomali?”
Putra menggeser sebuah tablet ke hadapan Ibu Astari. Di layar, tampak siaran ulang pertandingan antara “Anak Singkong” dan “Nusantara Guardians”. Putra langsung melompat ke sebuah momen team fight.
“Tim debutan, dari Klaten. Namanya 'Anak Singkong',” jelas Putra. “Para analis lain menandai mereka sebagai tim ceroboh. Terutama karena pilihan strategi mereka. Lihat ini, Bu.”
Jari Putra menunjuk ke layar. “Mereka menempatkan Freya, seorang Fighter, sebagai Roamer. Secara teori, ini strategi bunuh diri. Tidak ada dalam meta.”
Ibu Astari menonton dengan saksama, matanya yang tajam tidak berkedip. “Kecerobohan,” komentarnya datar.
“Awalnya saya kira juga begitu,” balas Putra cepat. “Tapi setelah saya analisis, kekacauan mereka... ada polanya. Sang Kapten, sepertinya sengaja menggunakan Roamer-nya sebagai umpan tak terduga. Lihat pergerakannya di detik ini... dia menarik tiga pemain lawan keluar dari posisi, memberi ruang untuk Jungler mereka.”
Ibu Astari mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke layar, kini benar-benar fokus. Ia melihat apa yang dimaksud Putra. Itu bukan kekacauan. Itu adalah improvisasi liar yang berbahaya, namun di baliknya ada perhitungan yang dingin.
“Menarik,” gumam Ibu Astari. “Cari tahu semua tentang kapten tim itu. Siapa namanya.”
Putra tersenyum tipis. “Bayu, Bu.”
Sementara di ruang VIP Ibu Astari mulai tertarik pada anomali bernama “Anak Singkong”, di lantai bawah, tim itu sendiri sedang berjuang untuk tidak tenggelam. Mereka berhasil memenangkan pertandingan kedua mereka melawan tim debutan lain, namun kemenangan itu terasa hampa. Permainan mereka kacau, penuh kesalahan individual, seolah cemoohan dari Celestial Knights dan kekalahan telak sebelumnya masih menghantui setiap gerakan mereka. Kemenangan itu tidak terasa seperti sebuah kebangkitan, melainkan hanya penundaan dari kegagalan yang tak terhindarkan.
Kini, nasib mereka di turnamen ini bergantung pada pertandingan terakhir di hari itu. Pertandingan penentuan melawan Apex Predators, tim papan tengah yang terkenal dengan permainan agresifnya itu. Di sini, mereka harus menang untuk bisa lolos ke babak selanjutnya. Permainan berjalan sengit. Kali ini, mereka berhasil mengimbangi. Hingga satu momen krusial tiba. Mereka melihat celah untuk menyerang Lord.
“Kita bisa dapat Lord!” teriak Gilang.
“Jangan! Itu jebakan!” balas Bayu, melihat posisi Apex Predators yang aneh di peta.
Tapi Adi, yang sejak kekalahan pertama merasa perlu membuktikan diri, tidak mendengarkan. “Tak bukak!” teriaknya, melompat sendirian ke arah Lord, mencoba mencuri.
Seperti yang Bayu duga, itu adalah jebakan. Tiga pemain Apex Predators muncul dari semak-semak, mengeroyok Adi dalam sekejap. Tanpa Jungler mereka, formasi “Anak Singkong” berantakan. Lawan dengan mudah melakukan serangan balik, menghancurkan markas mereka. Kekalahan.
Other Stories
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...