Aruna Yang Terus Bertanya

Reads
1.1K
Votes
1
Parts
9
Vote
Report
Aruna yang terus bertanya
Aruna Yang Terus Bertanya
Penulis Juwita Septy Ardini Nasution

Bab 6 : Kalian Semua Tersesat!

2024

Aruna mengetikkan kata-kata penuh sindiran tajam di sosial medianya. Lubang kelinci yang digalinya menyadarkannya tentang definisi surga dan neraka yang nyata.

Tentang hidup yang ternyata diatur oleh sekelompok orang di dunia untuk keuntungan kelompok mereka saja. Sumber akar penderitaan manusia dan mengharuskan manusia membanting tulang hidup demi ilusi bernama uang.

Belum lagi rahasia agama-agama besar yang digalinya dengan seksama. Mengapa manusia dibuat tunduk dan takut selama hidupnya dalam mengejar surga setelah kematian.

Padahal semua manusia mengalami alur hidup dan kebutuhan hidup yang sama, lahir, dirawat diasuh, bersekolah, bekerja, menikah, beranak-cucu, lalu mati. Dan dengan kebutuhan pokok yang sama, Makan, minum, buang air, tidur, bernafas, bergerak. Sekat apa yang membuat manusia menderita dan merasa terasing dari sesamanya?

Tentang industri makanan dan obat-obatan yang diatur sedemikian rupa untuk membuat manusia semakin sakit dan hidup jauh dari alam.

Tentang sistem Pendidikan yang membuat manusia dididik menjadi pekerja yang hanya menurut dan tidak berpikir kritis.

Tentang dunia yang mengagungkan siapa yang paling handal menjilat dan memanipulasi.

Dan dia mengecam keras orang-orang yang belum ‘terbangun’. Apalagi mereka yang beratribut agama namun masih mencibir dan menggurui atribut orang lain.

Sejak saat itu Aruna sangat sendirian. Tidak ada lagi teman menemaninya di kotanya. Dia hanya sesekali berbincang dengan teman-teman di kota lain yang berpemikiran serupa. Hari-harinya diisi dengan banyak belajar ilmu-ilmu tersembunyi. Dia sadar banyak orang yang melabelinya gila dan tersesat, tapi dia tidak perduli. Dia terus bertekad untuk menyuarakan pengetahuannya ini. Mereka hanya menonton aruna yang berkicau di laman media sosialnya.

Aruna semakin membuat jarak dengan agamanya, selain kebenciannya dengan orang-orang munafik beratribut agama. Ada rasa putus asa tidak akan diterima oleh Tuhan versi agama bawaannya. Belum lagi rasa kesal nya pada Ibunya yang mengajarkan disiplin agama dengan keras padanya.

-

2004

“Solaaaaatttttt!!!”

Dia mendengar teriakan menggelegar Ibunya sambil membasahi wajah Aruna dengan air dingin di pagi buta saat dia tertidur lelap. Benar-benar cara membangunkan yang sangat tidak pantas, Aruna mengamuk dan berpura-pura shalat. Dia sangat muak disalahkan dan di cap anak durhaka. Dimarahi, dipaksa dan dibuat merasa bersalah. Benar-benar kombo orang tua yang tak pernah bisa disalahkan.

Aruna tumbuh menjadi sebagai anak yang cerdas. Dia sudah bisa membaca kitab suci di usia 5 tahun. Belum lagi segudang pelajaran agama yang di bekali sejak kecil. Dia selalu mendengar ibunya mengaji. Namun rumah tangga ibunya sangat buruk, aruna mengamati ternyata rajin beribadah pun ibunya masih menderita dan marah-marah saja. Ayahnya juga tak kunjung pulang.

Tahun ini Aruna didaftarkan pada sebuah camp spiritual remaja. Disitu ada pemaparan kebesaran Tuhan dalam alam semesta. Lalu ditutup dengan sesi pengakuan dosa di akhir acara. Ruangan dibuat gelap, sebuah video ilustrasi tentang situasi alam kubur diputar di layar. Nuansa gelap dan merah, sebentuk kain seperti pocong terbaring dalam lubang tanah, bergetar menjerit-jerit menyesali perbuatannya selama hidup. Musik mencekam dengan pertanyaan-pertanyaan siapa Tuhan bersuara menggelegar bertanya pada pocong yang bergetar itu. Aruna dan semua orang di ruangan itu menangis menjerit-jerit menyesali semua perbuatannya.

Beberapa minggu kemudian dan minggu-minggu sesudahnya, nenek Aruna berkunjung kerumahnya. Dan setiap datang kerumah memaksa semua cucunya duduk bersama-sama menonton video siksa kubur yang sama seperti camp spiritual Aruna dulu. Awal-awalnya takut, tapi karena terlalu sering, rasanya jadi biasa saja. Teriakan-teriakan pocong itu juga lama-lama berisik mengganggu. Neneknya terus menonton video itu sambil menggurui cucunya tentang akhirat dan patuh pada orang tua, padahal sebelumnya masih mencibir anak dan saudaranya sendiri. Aruna berpikir, ternyata mulut yang senantiasa melantunkan ayat-ayat suci masih bisa melontarkan omongan yang menyakiti orang lain begini.

-

2024

Aruna menyalakan dupa dan menarik nafas panjang, dia duduk bersila di lantai memejamkan mata. Dalam setiap nafas dia dapat mendengarkan pikirannya seutuhnya. Namun tak lama kemudian tertidur.

Hari ini dia rajin berjemur tanpa alas kaki di depan rumahnya, bergerak dan melakukan berbagai pose, dia sadar alam memang benar-benar menjernihkan pikirannya. Setiap sinar matahari menerpa kulitnya rasanya hangat dan segar. Berada di alam yang hijau juga sangat tenang.

Keesokan harinya dia malas dan hanya main HP seharian, mengetik bahasan-bahasan kesadaran di laman media sosialnya. Dia merasa ada yang salah dalam dirinya, trauma mana lagi yang belum diurainya. Dia mengambil jurnal dan menuliskan kembali surat-surat yang ingin diberikan pada dirinya di masa kecil. Namun lama-lama kata-katanya terasa kosong karena dia hanya mengulang-ngulang cerita yang sama.

Dia merasa healingnya tidak kemana-mana dan tidak pernah sembuh seutuhnya. Dia frustasi saat merasakan emosi-emosi gelap dalam dirinya tumbuh. Rasa iri, rasa pongah dan sombong, tamak dan pelit, amarah dan kebencian yang tak kunjung usai. Tubuhnya yang terus menangis tanpa tahu apa sebabnya. Semakin dia ‘healing’ semakin dia tidak menemukan tenang yang dicarinya.


Other Stories
Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Download Titik & Koma