Back Door, Small Hunger
Vlog — pagi. Embun tipis, gerobak bubur ayam mengepul. Kamera handheld low-angle, sendok besar menyelam, kuah bening keemasan disiram, asap naik seperti tirai. Suara motor, sendok ketuk mangkuk, tawa kecil orang antre.
“Guten Morgen from the Bekasi–Jakarta border. Today’s breakfast is the city’s hug—bubur ayam. Soft? Ja. Busy? Auch. Hör zu, okay?” (berbisik antusias ke kamera)
SFX: klontang mangkuk, kres kerupuk dipatahkan, ssst kuah panas menyentuh nasi halus.
PENJUAL BUBUR (senyum jahil, tangan lincah): “Chef bule balik lagi! Hari ini mau level banjir sayang atau tsunami kuah, Mister?”
LUKAS (tertawa): “Sedang saja, Bang. Saya mau komentar ala chef—boleh ya, jangan diketawain.”
PENJUAL (gaya presenter): “Silakan, Tuan Bintang—tapi di sini bintang kami kerupuk, bukan bintang kejora!”
Kamera close-up mangkuk, bubur putih super lembut—bukan berair, tapi mengilap, topping mendarat bertingkat, suwiran ayam hangat, siram kuah kaldu kuning tipis, kecap manis, sambal merah titik kecil, bawang goreng garing, daun bawang, seledri, cakwe hangat, kacang kedelai goreng, sedikit minyak daun bawang. Kerupuk & emping di sisi. Sate ati-ampela dan usus berbaris seperti pengawal.
LUKAS (VO chef-mode, pelan, menggugah): “Texture first—velvety, the rice starch is properly gelatinized, not that “split-water” porridge. The broth is light—bones and chicken long-simmered—umami gentle, clean. Scallion oil lifts the aroma—your nose smiles first.
Contrast is non-negotiable, the porridge’s softness meets the kres of fried shallots and the light chew of cakwe (fried crullers). Sweet soy lays a caramel bassline; one dot of sambal is the bell—ting!—that wakes the palate without throwing a tantrum. No dead bites—every spoonful tells a story.”
MBAK-MBAK KANTOR (di antrean, nahan tawa): “Chef, racikan pas buat yang lagi healing habis lembur gimana?”
LUKAS: “Bubur dasar + kuah dobel, ayam agak banyak, bawang goreng ekstra. Sambal titik dulu—biar jantung damai. Kerupuk? Wajib, hidup perlu crunch.”
ABANG OJOL (angkat helm): “Kalau dompet lagi diet, Mister?”
LUKAS (senyum): “Naikkan rasa pakai kecap asin setitik dan bawang goreng lebih banyak. Cakwe setengah porsi—cukup buat kunyah, aman buat tanggal tua.”
PENJUAL (nyodor sate usus): “Chef, sate usus ini sum-sum kehidupan. Berkelok kelok dikit, tapi setia.”
LUKAS (icip kecil, mata berbinar): “Kenyal mantul, manis tipis, ada asap samar. Sidekick yang sopan—nggak rebut panggung bubur.”
Kamera naik ke wajah-wajah di antrean, satpam gedung dengan sepatu masih lembap, ibu-ibu bawa belanjaan, anak SMA dasi miring; semua tersenyum.
SATPAM (melambaikan mangkuk): “Chef, saya tsunami kuah. Biar masalah hidup larut.”
LUKAS (tertawa): “Disetujui. Kuah panas di atas 60°C—hangat, aman, dan halal bikin hati meleleh.”
Close-up: sendok Lukas masuk. Suapan pertama. Ia pejam mata, tahan napas setengah detik.
LUKAS (ke kamera, lembut): “Kalau kamu nonton dari jauh—andaikan bisa mencium aromanya: ayam hangat, bawang goreng, minyak daun bawang yang malu-malu—kamu tidak akan ingin melupakannya seumur hidup.”
PENJUAL (sodorkan kerupuk ekstra): “Buat Chef dan penontonnya—bonus kres-kres dari abang.”
LUKAS (angkat mangkuk seperti bersulang): “Untuk jam weker paling lembut di Jakarta—bubur ayam. Sampai ketemu setelah shift.”
Cut. Last shot, sendok tenggelam pelan; kres kecil kerupuk, uap naik, fade.
Lobi Restaurant— singkat. Rico memberi checklist.
RICO: “Reservasi ringan. Ada tamu hotel dua orang, satu no garlic. Hari ini kita crew meal ditambah porsi—hasil rapat kemarin.”
LUKAS: “Mantap.”
Dapur. Nyala kompor. Sari di pass, Nadia cek suhu.
SARI: “Order masuk! Dua starter, satu steak medium, satu salad GF.”
LINE: “Siap!”
LUKAS: “Bimo, aku siapkan glaze. Ani, talenan hijau.”
Ritme klik–sss–ting mengalir. Arman lewat, cicip titik kaldu—angguk pendek.
Pintu belakang — jeda singkat. Lukas menaruh kantong sampah di ruang limbah, lalu melihat tiga anak duduk di tangga beton: seragam kusut, tawa kecil yang cepat padam saat mata mereka bertemu.
ANAK 1: “Om… ada sisa makanan nggak?”
LUKAS (jongkok, lembut): “Sisa makanan bikin perut sakit. Kalian belum makan?”
Mereka saling pandang. Geleng pelan.
SATPAM AREA BELAKANG (muncul, canggung): “Mister, anak-anak ini sering nunggu di sini. Kita dilarang kasih makanan sembarangan.”
LUKAS: “Ngerti, Pak. Saya balik dulu ke dalam. Kalian tunggu di sini sebentar ya.”
Lukas mendekati Nadia.
LUKAS: “Di belakang ada anak-anak. Boleh nggak saya siapkan air hangat sekarang, terus nanti crew meal kalau ada lebih—legal, tercatat?”
NADIA: “Air hangat boleh. Untuk makanan, kita catat di log, porsi staff meal yang dibagikan di luar jam servis, tanpa mengganggu operasi dan bukan sisa piring tamu.”
SARI: “Aku bantu. Ani, bikin dua termos kecil dan potong buah. Lukas, bikin sup sayur mini dari prep—tulis di log.”
ARMAN (dengar, ringkas): “Pastikan alur higiene jelas. Porsi kecil. Komunikasi ke Rico.”
LUKAS: “Siap, Terimakasih Team, Chef.”
Gerak cepat tapi tenang, tumis bawang, wortel ujung, batang seledri, sedikit kaldu, garam secukupnya dan menggoreng ayam yang sudah dimarinasi. Ani mengisi termos air hangat. Sari menulis di log: ‘Crew meal—outreach (legal)’.
Pintu belakang — Lukas datang dengan ddua gelas teh hangat dan dua boks berisi nasi, sup, lauk, dan buah.
LUKAS: “Ini teh hangat dulu, ya. Supnya bawanya pelan-pelan—panas.”
ANAK 2: “Makasih, Om.”
Mereka berlari dengan wajah ceria, bahu turun sejenak, mata berbinar singkat.
Kembali ke ritme dapur.
SARI (di pass): “Main course jalan!”
LINE: “Siap!”
Bimo mengangkat steak, Lukas sapu glaze tipis, plating sunyi, rapi. Arman melihat satu detik lebih lama—tidak bilang apa-apa—lalu beralih. Itu sudah cukup.
Vlog — malam. Kamera handheld. Lukas duduk di kursi lobi apartemen, lampu langit-langit remang, pantulan hujan siang masih ada di kaca luar. Satpam shift malam di sudut melambaikan tangan singkat, lalu sibuk lagi. Lukas menyalakan kamera, tersenyum letih.
“Bekasi at night… quieter than the morning, but never really silent. The city hums—motorcycles still passing, elevators sighing, rain dripping from somewhere you can’t see.
Today, kids are waiting by the back door, hoping for warmth. And our crew, tired but still sharing what little we had.
The city's kindness doesn’t disappear after the market closes or the traffic cools. It just changes shape. Sometimes it’s a bowl of porridge at sunrise, sometimes a small cup of soup at night.”
Lukas mengangkat termos kecil sisa air hangat, bersulang ke kamera, senyum tipis tapi tulus.
“Goodnight from Bekasi. May your city be gentle tonight—and your table warm. See you tomorrow.”
Kamera turun perlahan, merekam lobi kosong, cahaya lampu temaram, lalu fade out.
Other Stories
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...