Diary Anak Pertama

Reads
716
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Penulis Cell

Bab 2 – Datangnya Kabar

Beberapa minggu terakhir rumah nenek terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Di ruang tamu, tumpukan undangan pernikahan bertumpuk di atas meja tua yang dulu hanya dipakai nenek untuk menaruh teh.

Bau kertas undangan bercampur dengan aroma kayu jati yang sudah tua. Kabar yang dulu tak pernah Alisa bayangkan akhirnya benar-benar datang: ayahnya akan menikah lagi.

Waktu pertama kali mendengar kabar itu, Alisa hanya diam. Tidak ada sorak bahagia, tidak juga air mata. Hatinya seperti laut yang tenang dan datar di permukaan. Padahal di bawahnya, badai perasaan yang tak pernah reda berputar kencang.

Sudah lama ia berhenti memimpikan sosok “ibu” dalam hidupnya. Yang tersisa hanya rasa lega melihat ayahnya kembali tersenyum setelah bertahun-tahun sendiri.

Alira justru yang paling bersemangat. Di kamar mereka, gadis kecil itu menggoyang-goyangkan kaki di tepi kasur, wajahnya berbinar.

“Kak, nanti kita punya ibu baru, ya?” tanyanya polos. Alisa menoleh sebentar, bibirnya berusaha membentuk senyum.

“Iya Ra… buat Ayah,” jawabnya lirih sambil mengelap debu di meja belajar.

Namun di dalam kepalanya, pertanyaan-pertanyaan kecil berbisik, "kenapa baru sekarang? Kenapa bukan dulu saat mereka masih kecil, saat pelukan seorang ibu terasa seperti kebutuhan mendesak?" Tapi Alisa menahan semua itu. Ia tahu kebahagiaan ayahnya bukan sesuatu yang bisa ia tolak.

Hari-hari menjelang pernikahan terasa seperti arus deras. Ayah datang membawa kain kebaya berwarna lembut, Alisa yang lelah tetap membantu memilihkan warna kebaya untuk dirinya dan Alira. Jemarinya yang letih tetap menyentuh kain satu per satu, mencoba tersenyum meski hatinya kosong.

Suatu malam, Alisa dan ayahnya dalam perjalanan pulang. Motor melaju pelan di jalan yang sepi. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat seperti garis-garis yang memotong kegelapan. Suara mesin samar-samar menjadi latar percakapan mereka.

“Alisa, kamu senang kan nanti kita punya keluarga baru?” tanya ayah, suaranya pelan, seolah takut merusak udara malam.
Alisa menatap keluar jendela. Bayangan wajahnya sendiri terlihat samar di kaca spion, bercampur dengan kilau lampu jalan.

“Senang, Yah. Semoga Ayah bahagia,” jawabnya. Tidak ada kata lain yang bisa ia tambahkan. Di dadanya, kata-kata yang lebih jujur menggumpal tapi tak pernah sampai ke bibir.

Hari pernikahan pun tiba. Udara pagi itu terasa berbeda, hangat dan penuh aroma bunga. Rumah tempat acara berlangsung disulap menjadi lautan warna. Bunga melati, mawar, dan anggrek menggantung di setiap sudut.

Kursi-kursi tertata rapi seperti barisan putih kecil, dan aroma masakan dapur merambat ke halaman. Suara musik gamelan bercampur dengan tawa para tamu, menciptakan irama yang asing bagi Alisa.

Ia menggandeng tangan Alira yang tampak begitu cantik dengan dress sederhana berwarna biru muda. Tangan kecil itu berkeringat, mungkin karena gugup atau bahagia.

Di kejauhan, ayahnya berdiri tegap di pelaminan bersama seorang perempuan yang kini resmi menjadi istrinya. Wajah ayahnya bercahaya, senyum yang jarang ia lihat sejak lama.

Alisa menarik napas panjang. Inilah awal yang baru, pikirnya. Mungkin akhirnya ia akan punya kakak, seperti yang dulu ia tulis di buku harian. Bayangan itu membuat dadanya hangat sesaat.

Namun setelah prosesi usai dan perkenalan keluarga dimulai, kenyataan pelan-pelan membuka wajahnya. Perempuan itu memperkenalkan dua anak perempuannya yang lebih muda dari Alisa. Bukan kakak yang ia harapkan, melainkan dua adik lagi yang akan masuk ke dalam hidupnya.

“Ini Kak Alisa dan Alira,” ucap ayah dengan bangga, “dan ini adik-adik kalian, Kirana dan Arina.” Dua gadis kecil itu tersenyum malu-malu sambil memegangi gaun ibunya.

Alisa tercekat. Senyum yang tadi ia tahan kini berubah jadi kaku. Hatinya seolah jatuh ke dasar sumur yang dalam, dingin dan sunyi. Tapi wajahnya tetap lembut. Ia membungkuk sedikit, mencoba menutupi rasa kecewa yang kembali muncul.

Suara musik pesta mengiringi bisikan itu, menyelimuti getar hatinya yang masih bergemuruh dengan rasa yang sulit ia ungkapkan.




Other Stories
Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Download Titik & Koma