The Light Of Soul
Langit sore merona, menyisakan sinar oranye tipis yang menempel di jendela kelas. Presentasi yang Mahesa kerjakan hampir selesai, jam dinding satu-satunya penanda waktu berjalan. Mahesa duduk di kursinya, buku yang sejak beberapa hari terakhir setia menemaninya kini terbuka di meja. Sampulnya lusuh, judulnya masih jelas: The Light of Soul.
“Lo beneran suka buku itu ya?” tanya Mahera yang sedang merapikan kertas coretan poin-poin presentasi. Nada suaranya setengah menggoda, setengah penasaran.
Mahesa mengangguk pelan. “Gue kayak nemuin cara lain buat liat dunia.”
Mahera hanya mendengus. Ia bukan tipe yang gampang percaya kata-kata bijak. Tapi kali ini, ia tak berkomentar ketus. Membiarkan Mahesa bercerita.
“Katanya, jiwa manusia itu bercahaya,” lanjut Mahesa.
Jemarinya menyusuri halaman buku, seakan takut kehilangan arah. “Ada tokoh utama di buku ini, dia buta. Tapi dia bisa ‘melihat’ orang lewat cerita mereka. Anak kecil yang kesepian karena orang tuanya sibuk. Seorang wanita yang hidupnya selalu sendiri walau nggak pernah ditinggalkan siapapun. Bahkan ada bapak paruh baya yang ditelantarkan anaknya sendiri.”
Mahesa berhenti sejenak, matanya menerawang. “Semua cerita itu… kayak cahaya. Dan cahaya itu yang buat dia bisa melihat. Bukan pake mata, tapi hati.”
Mahera mengamati wajah Mahesa, lalu menunduk. Ada sesuatu dalam suara itu—serius tapi hangat. Ia tidak membalas, hanya mendengarkan.
“Asal cahayanya masih terang, orang lain bisa bantu nyalain. Sesimpel lo cuman dengerin aja. Tapi kalau cahaya itu redup, kayak rumah tanpa lampu. Siapa juga yang berani masuk?” Mahesa menutup bukunya. “Kalau bumi tanpa matahari, semua berhenti. Jadi asal jiwa lo masih bercahaya… orang tahu, lo masih hidup dengan baik.”
Keheningan jatuh sebentar.
Mahera merapatkan kertasnya, lalu mengangkat alis. “Oke, dalem juga, sang filsuf ini.”
Mahesa terkekeh. “Mau lo buta, tuli, atau bisu sekalipun, ada cara manusia buat ngenalin manusia lain.”
“Caranya?” Mahera memiringkan kepala.
Mahesa tersenyum tipis. “Seribu cara, Mahera.”
“Kalau gue kayak gini, lo liat nya apa?” Mahera menantang, suaranya sedikit keras.
“Mahera,” jawab Mahesa singkat.
Mahera langsung manyun. “Tapi kan tadi lo bilang gara-gara parfum gue. Coba kalau gue nggak pake parfum, lo bisa tau?”
Mahesa menatapnya lebih lama. “Sekarang mau gimanapun penampilan lo, gue pasti tau itu lo. Gue yakin satu hal.”
Mahera berkedip. “Apa?”
Mahesa menutup laptop, memperbaiki duduknya hingga menghadap penuh ke Mahera. Ia menarik nafas dalam, lalu mengucapkan dengan mantap:
“Kalau orang itu bikin gue deg-degan… berarti itu lo.”
Deg!
Jantung Mahera seperti dipukul dari dalam. Panas merambat ke pipinya. Aneh, bukan seperti drama Amerika yang selalu heboh dengan pengakuan cinta di tengah lapangan. Tapi entah kenapa, kata-kata itu terasa lebih nyata. Hangat.
Mahera refleks menggebrak meja. “APAAN SIH? LO SUKA GUE YA?”
Mahesa terperangah sejenak, lalu tertawa terbahak. “Nah, ini baru lo. Mahera yang senggol bakar.”
Mahera mendengus sambil menyilangkan tangan. Wajahnya merah padam, tapi senyumnya sulit ditahan.
“Eh tapi serius, lo yakin tugas kita bisa lolos dari Ms. Anna? Guru killer gitu loh.” Mahera mencoba mengalihkan topik.
Mahesa mengangguk mantap. “Percaya sama gue.”
Waktu pulang tiba. Mahesa menawarkan diri.
“Mau gue anter pulang?” Mahera langsung menoleh, pipinya makin merah. Dalam pikirannya, itu terdengar seperti ajakan kencan pertama. Tapi mulutnya terlalu frontal untuk mengakuinya. Ia melepas ikat rambutnya, rambutnya tergerai lepas, kembali jadi dirinya yang nyentrik.
“Kalau pulang doang, gue bisa jaga diri gue sendiri.” katanya ketus.
Mahesa tersenyum. “Yaudah. Gimana kalau mampir dulu lihat sunset?”
B Sunset. Kata itu saja sudah cukup melembutkan hati Mahera. Ia mengangguk kecil, pura-pura tak peduli.
Di pinggir pantai, mereka berdiri bersisian, bersandar pada pembatas kayu. Laut tenang, langit terbakar warna orange keemasan. Tak ada kata-kata, hanya bunyi ombak.
“Berat banget ya?” Mahesa tiba-tiba memecah hening.
Mahera tertawa kecil. “Lo tau apa?”
Mahesa hanya mengangkat bahu.
“Kelebihan gue cuma satu…” Mahera menatap langit. “Gue tau apa yang harus gue lakuin.”
“Apa itu?”
“Jadi cahaya semua orang.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tapi Mahesa bisa merasakan ketulusan di baliknya. Bukan Mahera yang keras kepala dan penuh gaya, tapi Mahera yang ingin berarti untuk orang lain.
Drrt!
Getaran ponsel memotong suasana. Mahera mengangkatnya.
“ANAK SIALAN! Pulang atau gue seret lo, anj*ng!”
Suara itu meledak begitu keras, bahkan Mahesa bisa mendengarnya jelas. Ia menoleh kaget. Wajah Mahera pucat, tapi bibirnya tersenyum kecil. Ia menutup ponselnya, lalu berkata ringan:
“Gue cabut duluan ya. Sampai ketemu besok.”
Mahesa hanya terdiam, dadanya sesak. Mahera… lo kuat banget.
Bruk! Prang! Bugh!
Kesadaran Mahera hampir terenggut. Tubuhnya dipukul, dibanting, dihina. Suara ibunya, Christie, menusuk lebih dalam daripada rasa sakit fisik.
“Ngapain sih lo harus nyamperin anak pembawa sial ini, Gio?! Dia udah bukan anak kita! Jangan sampai anak sialan ini anggap kita keluarga. Biarkan dia hidup semau dia! Toh nenek tua itu udah mati!”
Mahera menggigit bibir. Air matanya pecah. Nek, kenapa nggak ajak Hera?
Matanya menangkap wajah sang papa, Gio. Tatapan itu kosong. Entah jijik, entah apa. Padahal beberapa jam yang lalu dirinya masih layak disebut ‘manusia’.
Christie melanjutkan, “Wendy udah jadi trainee idol, jangan sampai rusak karirnya gara-gara dia!”
Samar, semua menghilang. Tubuh Mahera ambruk. Kesadarannya padam. Wendy, nama itu yang dia ingat. Entah siapapun itu.
Pagi.
Ia masih terbangun masih di bawah tangga, tubuh penuh memar. Dengan tertatih, ia bangkit. Ia harus sekolah. Harus menepati janji dengan Mahesa. Berbeda suasana di kelas yang mulai menegang. Giliran presentasi terakhir dipanggil.
“Mahesa, Mahera. Silahkan.” Ms. Anna menatap ke arah mereka.
Mahesa maju dengan gugup. Ia mengulur waktu, berharap Mahera datang.
Dimana dia? Astaga…
“MAAF! SAYA HABIS JATUH!” suara lantang itu tiba-tiba terdengar memasuki ruangan dengan heboh.
Seluruh kelas menoleh. Mahera masuk dengan pakaian sedikit kotor, langkah pincang, tapi senyumnya kuat. Ia naik ke podium, menepuk pundak Mahesa singkat. “Santai, kita lanjut.”
Dan mereka mulai. Judul presentasi muncul di layar: 1001 Cara Mengenal Kalian.
Mahera membuka dengan suara lantang, puitis sekaligus menusuk.
“Andai mata tak bisa berfungsi, kita masih bisa tau… suara tawa kayak lumba-lumba itu pasti Dimas. Andai telinga tak mendengar, kita tetap bisa tau… paras cantik yang mematikan adalah Ms. Anna. Dan kalau suara hilang sekalipun, kita bisa mengenali seseorang dari sikapnya.”
Mahesa menambahkan, “Kita nggak perlu jadi cahaya untuk bercahaya. Kadang cukup dengan memperkenalkan diri, atau tersenyum… itu sudah cukup buatku mengingatmu.”
Mahera menutup, suaranya merendah, tapi menusuk:
“Walaupun kamu menghilang. Saat degup ku tak karuan… aku tau, itulah kamu.”
Hening. Semua kelas terdiam. Lalu gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Mereka mampu membuat Pohon Sosial William National Academy menjadi sangat unik. Ide Mahesa begitu kreatif, ia membuat seolah presentasi itu adalah cara dia memandang teman-temannya.
Ms. Anna tersenyum lebar. “Sempurna. Nilai A untuk kalian.”
Mahesa menoleh ke Mahera. Dan untuk pertama kalinya, ia yakin: cahaya itu nyata. Dan Mahera—dengan segala luka dan keberaniannya—dia sudah menjadi cahaya itu.
“Lo beneran suka buku itu ya?” tanya Mahera yang sedang merapikan kertas coretan poin-poin presentasi. Nada suaranya setengah menggoda, setengah penasaran.
Mahesa mengangguk pelan. “Gue kayak nemuin cara lain buat liat dunia.”
Mahera hanya mendengus. Ia bukan tipe yang gampang percaya kata-kata bijak. Tapi kali ini, ia tak berkomentar ketus. Membiarkan Mahesa bercerita.
“Katanya, jiwa manusia itu bercahaya,” lanjut Mahesa.
Jemarinya menyusuri halaman buku, seakan takut kehilangan arah. “Ada tokoh utama di buku ini, dia buta. Tapi dia bisa ‘melihat’ orang lewat cerita mereka. Anak kecil yang kesepian karena orang tuanya sibuk. Seorang wanita yang hidupnya selalu sendiri walau nggak pernah ditinggalkan siapapun. Bahkan ada bapak paruh baya yang ditelantarkan anaknya sendiri.”
Mahesa berhenti sejenak, matanya menerawang. “Semua cerita itu… kayak cahaya. Dan cahaya itu yang buat dia bisa melihat. Bukan pake mata, tapi hati.”
Mahera mengamati wajah Mahesa, lalu menunduk. Ada sesuatu dalam suara itu—serius tapi hangat. Ia tidak membalas, hanya mendengarkan.
“Asal cahayanya masih terang, orang lain bisa bantu nyalain. Sesimpel lo cuman dengerin aja. Tapi kalau cahaya itu redup, kayak rumah tanpa lampu. Siapa juga yang berani masuk?” Mahesa menutup bukunya. “Kalau bumi tanpa matahari, semua berhenti. Jadi asal jiwa lo masih bercahaya… orang tahu, lo masih hidup dengan baik.”
Keheningan jatuh sebentar.
Mahera merapatkan kertasnya, lalu mengangkat alis. “Oke, dalem juga, sang filsuf ini.”
Mahesa terkekeh. “Mau lo buta, tuli, atau bisu sekalipun, ada cara manusia buat ngenalin manusia lain.”
“Caranya?” Mahera memiringkan kepala.
Mahesa tersenyum tipis. “Seribu cara, Mahera.”
“Kalau gue kayak gini, lo liat nya apa?” Mahera menantang, suaranya sedikit keras.
“Mahera,” jawab Mahesa singkat.
Mahera langsung manyun. “Tapi kan tadi lo bilang gara-gara parfum gue. Coba kalau gue nggak pake parfum, lo bisa tau?”
Mahesa menatapnya lebih lama. “Sekarang mau gimanapun penampilan lo, gue pasti tau itu lo. Gue yakin satu hal.”
Mahera berkedip. “Apa?”
Mahesa menutup laptop, memperbaiki duduknya hingga menghadap penuh ke Mahera. Ia menarik nafas dalam, lalu mengucapkan dengan mantap:
“Kalau orang itu bikin gue deg-degan… berarti itu lo.”
Deg!
Jantung Mahera seperti dipukul dari dalam. Panas merambat ke pipinya. Aneh, bukan seperti drama Amerika yang selalu heboh dengan pengakuan cinta di tengah lapangan. Tapi entah kenapa, kata-kata itu terasa lebih nyata. Hangat.
Mahera refleks menggebrak meja. “APAAN SIH? LO SUKA GUE YA?”
Mahesa terperangah sejenak, lalu tertawa terbahak. “Nah, ini baru lo. Mahera yang senggol bakar.”
Mahera mendengus sambil menyilangkan tangan. Wajahnya merah padam, tapi senyumnya sulit ditahan.
“Eh tapi serius, lo yakin tugas kita bisa lolos dari Ms. Anna? Guru killer gitu loh.” Mahera mencoba mengalihkan topik.
Mahesa mengangguk mantap. “Percaya sama gue.”
Waktu pulang tiba. Mahesa menawarkan diri.
“Mau gue anter pulang?” Mahera langsung menoleh, pipinya makin merah. Dalam pikirannya, itu terdengar seperti ajakan kencan pertama. Tapi mulutnya terlalu frontal untuk mengakuinya. Ia melepas ikat rambutnya, rambutnya tergerai lepas, kembali jadi dirinya yang nyentrik.
“Kalau pulang doang, gue bisa jaga diri gue sendiri.” katanya ketus.
Mahesa tersenyum. “Yaudah. Gimana kalau mampir dulu lihat sunset?”
B Sunset. Kata itu saja sudah cukup melembutkan hati Mahera. Ia mengangguk kecil, pura-pura tak peduli.
Di pinggir pantai, mereka berdiri bersisian, bersandar pada pembatas kayu. Laut tenang, langit terbakar warna orange keemasan. Tak ada kata-kata, hanya bunyi ombak.
“Berat banget ya?” Mahesa tiba-tiba memecah hening.
Mahera tertawa kecil. “Lo tau apa?”
Mahesa hanya mengangkat bahu.
“Kelebihan gue cuma satu…” Mahera menatap langit. “Gue tau apa yang harus gue lakuin.”
“Apa itu?”
“Jadi cahaya semua orang.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tapi Mahesa bisa merasakan ketulusan di baliknya. Bukan Mahera yang keras kepala dan penuh gaya, tapi Mahera yang ingin berarti untuk orang lain.
Drrt!
Getaran ponsel memotong suasana. Mahera mengangkatnya.
“ANAK SIALAN! Pulang atau gue seret lo, anj*ng!”
Suara itu meledak begitu keras, bahkan Mahesa bisa mendengarnya jelas. Ia menoleh kaget. Wajah Mahera pucat, tapi bibirnya tersenyum kecil. Ia menutup ponselnya, lalu berkata ringan:
“Gue cabut duluan ya. Sampai ketemu besok.”
Mahesa hanya terdiam, dadanya sesak. Mahera… lo kuat banget.
Bruk! Prang! Bugh!
Kesadaran Mahera hampir terenggut. Tubuhnya dipukul, dibanting, dihina. Suara ibunya, Christie, menusuk lebih dalam daripada rasa sakit fisik.
“Ngapain sih lo harus nyamperin anak pembawa sial ini, Gio?! Dia udah bukan anak kita! Jangan sampai anak sialan ini anggap kita keluarga. Biarkan dia hidup semau dia! Toh nenek tua itu udah mati!”
Mahera menggigit bibir. Air matanya pecah. Nek, kenapa nggak ajak Hera?
Matanya menangkap wajah sang papa, Gio. Tatapan itu kosong. Entah jijik, entah apa. Padahal beberapa jam yang lalu dirinya masih layak disebut ‘manusia’.
Christie melanjutkan, “Wendy udah jadi trainee idol, jangan sampai rusak karirnya gara-gara dia!”
Samar, semua menghilang. Tubuh Mahera ambruk. Kesadarannya padam. Wendy, nama itu yang dia ingat. Entah siapapun itu.
Pagi.
Ia masih terbangun masih di bawah tangga, tubuh penuh memar. Dengan tertatih, ia bangkit. Ia harus sekolah. Harus menepati janji dengan Mahesa. Berbeda suasana di kelas yang mulai menegang. Giliran presentasi terakhir dipanggil.
“Mahesa, Mahera. Silahkan.” Ms. Anna menatap ke arah mereka.
Mahesa maju dengan gugup. Ia mengulur waktu, berharap Mahera datang.
Dimana dia? Astaga…
“MAAF! SAYA HABIS JATUH!” suara lantang itu tiba-tiba terdengar memasuki ruangan dengan heboh.
Seluruh kelas menoleh. Mahera masuk dengan pakaian sedikit kotor, langkah pincang, tapi senyumnya kuat. Ia naik ke podium, menepuk pundak Mahesa singkat. “Santai, kita lanjut.”
Dan mereka mulai. Judul presentasi muncul di layar: 1001 Cara Mengenal Kalian.
Mahera membuka dengan suara lantang, puitis sekaligus menusuk.
“Andai mata tak bisa berfungsi, kita masih bisa tau… suara tawa kayak lumba-lumba itu pasti Dimas. Andai telinga tak mendengar, kita tetap bisa tau… paras cantik yang mematikan adalah Ms. Anna. Dan kalau suara hilang sekalipun, kita bisa mengenali seseorang dari sikapnya.”
Mahesa menambahkan, “Kita nggak perlu jadi cahaya untuk bercahaya. Kadang cukup dengan memperkenalkan diri, atau tersenyum… itu sudah cukup buatku mengingatmu.”
Mahera menutup, suaranya merendah, tapi menusuk:
“Walaupun kamu menghilang. Saat degup ku tak karuan… aku tau, itulah kamu.”
Hening. Semua kelas terdiam. Lalu gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Mereka mampu membuat Pohon Sosial William National Academy menjadi sangat unik. Ide Mahesa begitu kreatif, ia membuat seolah presentasi itu adalah cara dia memandang teman-temannya.
Ms. Anna tersenyum lebar. “Sempurna. Nilai A untuk kalian.”
Mahesa menoleh ke Mahera. Dan untuk pertama kalinya, ia yakin: cahaya itu nyata. Dan Mahera—dengan segala luka dan keberaniannya—dia sudah menjadi cahaya itu.
Other Stories
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Mimi & Peri
Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...