Bab 2. Awal Kehancuran
Besok adalah hari dimana Maya mengumpulkan lukisan sekaligus penilaian dari lomba itu. Di malam hari Maya menambahkan sedikit detail dan sentuhan terakhir dalam lukisan itu. Semuanya sudah seperti tema dan arahan dari penyelenggaraan. Tidak terasa besok akan menjadi babak penentuan dari sang Maestro.
Seperti biasanya Maya bersiap-siap memulai harinya. Seorang mahasiswi dengan jurusan seni rupa. Memulai harinya sebagai seorang mahasiswa yang bersemangat. Hari itu Maya lebih semangat karena adanya perlombaan di kampus dia tercinta. Lomba melukis yang diikuti hampir semua mahasiswa di sana. Mereka berharap yang terbaik tidak terkecuali sang Maestro kita Maya.
“Eh itu si Maya datang. Kira-kira lomba kali ini gimana ya. Penasaran sih.” Kata Riri
“Benar, nggak sabar. Apa ini bakalan kemenangan dia yang ke 30 kali?” Kata Eva.
“Gila, keren banget nggak sih. Bisa menang berturut-turut.”
“Benar, kita nggak ada apa-apanya dibanding dia.”
Semua orang terkagum oleh sosok Maya yang berjalan menuju panitia perlombaan. Seseorang yang berpenampilan rapi, rambut yang tertata dan digerai, dan memakai ankle boots. Gayanya yang seperti itu membuat banyak mahasiswa dan mahasiswi di sana terpukau oleh sosoknya. Semua orang memandang sang Maestro bagaikan bertemu dengan artis.
“Halo, saya ingin mengumpulkan lukisan saya untuk perlombaan.” Kata Maya.
“Hai Maya, baik letakkan di sana saja ya.” Kata sang penyelenggara lomba sambil menunjukkan tempat pengumpulan.
“Baik, terima kasih kak.” Kata Maya sambil menaruh lukisannya.
“Kali ini kamu ikut juga ya. Aku menantikan hasilnya.” Kata penyelenggara lomba dengan semangat.
“Saya pun juga menunggu hasilnya. Semoga kali ini juga memuaskan.”
Itu adalah terakhir kali Maya melihat lukisan dia. Dia percaya kepada lukisannya itu kepada sang panitia.
“Mari kita sambut pemenang dari lomba melukis pemandangan alam.” Kata pembawa acara.
Bersorak-sorailah mereka, menyebutkan pelukis idola mereka. Dari sekian banyaknya orang disana, setengah dari mereka berteriak nama Maya Sang Maestro.
“Baik tenanglah, Kali ini hasilnya sangat unik loh. Apakah kalian penasaran!” Kata pembawa acara.
“PENASARAN!” Kata penonton dengan lantang.
Seperti biasa Maya menunggu nama dia disebutkan. Dia dengan pede mendengarkan dan memakan cemilan. Bagi sang Maestro itu hanyalah hal kecil. Maya yakin dirinya memenangkan kembali. Medali yang menumpuk, suara sorakan teman-teman, dan tepuk tangan dari mereka. Meskipun Maya selalu mendengar itu, tetapi hal itu tetap berkesan baginya.
Tetapi kali ini namanya tidak terdengar kembali. Hal ini membuat banyak pihak sangat syok. Terutama, Maya, dialah yang paling terguncang dalam lomba itu. Apa yang sedang terjadi? Bagaimana namanya tidak disebutkan?
Aku sang maestro ini kalah? Namaku tidak disebutkan?
Meskipun begitu banyak pula yang membela Maya. Mereka merasa dicurangi karena idola mereka tidak masuk juara. Kemarahan publik pun juga pecah. Orang-orang hampir bertindak anarkis. Para panitia pun mencoba menenangkan para fansnya. Mereka bernegosiasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Di sisi lain, Maya pun berlari dan mendekati para panitia.
“Kak, apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti ini?” Kata Maya sambil ngos-ngosan.
“Maya… kita nggak tahu nih. Bagaimana ya… kita menilai sesuai dengan yang kau beri.” Kata panitia dengan ragu.
“Apa maksudnya kak?” Kata Maya dengan heran.
Maya terkejut dengan apa yang terjadi pada lukisannya. Lukisannya yang sempurna itu terkena coretan cat berwarna merah. Semuanya menjadi amburadul, lukisan yang rusak. Bagi Maya ini adalah penghinaan dalam lukisannya. Maya hampir pingsan melihat apa yang terjadi pada lukisannya. Dia memikirkan banyak hal tentang hal ini. Apa yang harus dia lakukan pada kejadian ini?
Maya termenung, memikirkan, dan mencari tindakan yang bisa menutup hal ini.
“Baiklah, kak begini saja. Kita tunjukkan karya saya yang kali ini. Saya akan menjelaskan konsep dari lukisan kali ini saja.” Kata Maya.
“Eh? Tapi hanya orang-orang yang juara saja yang mendapatkan kesempatan itu.” Kata panitia.
“Apakah ada cara lain selain ini?”
“Y-yah… oke kali ini kita turuti tetapi nggak untuk selanjutnya.”
Begitulah kali ini mereka bisa menyelesaikan masalahnya. Meredam api kemarahan pada penggemar Maya. Walaupun Maya bisa menjelaskannya tetapi hal itu tidak bisa meredam kekecewaan dari mereka. Sebaliknya orang-orang yang iri dengannya melihat itu adalah kehancuran dari sang Maestro. Banyak yang senang akan hal ini dan berharap Maya akan jatuh lebih dalam lagi.
Maya hanya bisa termenung. Dia bertanya-tanya apa yang salah darinya. Dia bukanlah seseorang yang ingin menjatuhkan karya orang lain. Dia mengagumi seluruh karya dari mereka semua. Dia tidak mengerti mengapa ada seseorang yang akan menyakiti dia. Mereka dan Maya adalah seorang seniman. Mereka pasti mengerti bahwa lukisan bagaikan anaknya. Itulah idealis dari Maya. Meski begitu dia belum patah semangat. Dia mencari cara agar karyanya kembali bersinar terang diantara para kontestan.
Seperti biasanya Maya bersiap-siap memulai harinya. Seorang mahasiswi dengan jurusan seni rupa. Memulai harinya sebagai seorang mahasiswa yang bersemangat. Hari itu Maya lebih semangat karena adanya perlombaan di kampus dia tercinta. Lomba melukis yang diikuti hampir semua mahasiswa di sana. Mereka berharap yang terbaik tidak terkecuali sang Maestro kita Maya.
“Eh itu si Maya datang. Kira-kira lomba kali ini gimana ya. Penasaran sih.” Kata Riri
“Benar, nggak sabar. Apa ini bakalan kemenangan dia yang ke 30 kali?” Kata Eva.
“Gila, keren banget nggak sih. Bisa menang berturut-turut.”
“Benar, kita nggak ada apa-apanya dibanding dia.”
Semua orang terkagum oleh sosok Maya yang berjalan menuju panitia perlombaan. Seseorang yang berpenampilan rapi, rambut yang tertata dan digerai, dan memakai ankle boots. Gayanya yang seperti itu membuat banyak mahasiswa dan mahasiswi di sana terpukau oleh sosoknya. Semua orang memandang sang Maestro bagaikan bertemu dengan artis.
“Halo, saya ingin mengumpulkan lukisan saya untuk perlombaan.” Kata Maya.
“Hai Maya, baik letakkan di sana saja ya.” Kata sang penyelenggara lomba sambil menunjukkan tempat pengumpulan.
“Baik, terima kasih kak.” Kata Maya sambil menaruh lukisannya.
“Kali ini kamu ikut juga ya. Aku menantikan hasilnya.” Kata penyelenggara lomba dengan semangat.
“Saya pun juga menunggu hasilnya. Semoga kali ini juga memuaskan.”
Itu adalah terakhir kali Maya melihat lukisan dia. Dia percaya kepada lukisannya itu kepada sang panitia.
“Mari kita sambut pemenang dari lomba melukis pemandangan alam.” Kata pembawa acara.
Bersorak-sorailah mereka, menyebutkan pelukis idola mereka. Dari sekian banyaknya orang disana, setengah dari mereka berteriak nama Maya Sang Maestro.
“Baik tenanglah, Kali ini hasilnya sangat unik loh. Apakah kalian penasaran!” Kata pembawa acara.
“PENASARAN!” Kata penonton dengan lantang.
Seperti biasa Maya menunggu nama dia disebutkan. Dia dengan pede mendengarkan dan memakan cemilan. Bagi sang Maestro itu hanyalah hal kecil. Maya yakin dirinya memenangkan kembali. Medali yang menumpuk, suara sorakan teman-teman, dan tepuk tangan dari mereka. Meskipun Maya selalu mendengar itu, tetapi hal itu tetap berkesan baginya.
Tetapi kali ini namanya tidak terdengar kembali. Hal ini membuat banyak pihak sangat syok. Terutama, Maya, dialah yang paling terguncang dalam lomba itu. Apa yang sedang terjadi? Bagaimana namanya tidak disebutkan?
Aku sang maestro ini kalah? Namaku tidak disebutkan?
Meskipun begitu banyak pula yang membela Maya. Mereka merasa dicurangi karena idola mereka tidak masuk juara. Kemarahan publik pun juga pecah. Orang-orang hampir bertindak anarkis. Para panitia pun mencoba menenangkan para fansnya. Mereka bernegosiasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Di sisi lain, Maya pun berlari dan mendekati para panitia.
“Kak, apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti ini?” Kata Maya sambil ngos-ngosan.
“Maya… kita nggak tahu nih. Bagaimana ya… kita menilai sesuai dengan yang kau beri.” Kata panitia dengan ragu.
“Apa maksudnya kak?” Kata Maya dengan heran.
Maya terkejut dengan apa yang terjadi pada lukisannya. Lukisannya yang sempurna itu terkena coretan cat berwarna merah. Semuanya menjadi amburadul, lukisan yang rusak. Bagi Maya ini adalah penghinaan dalam lukisannya. Maya hampir pingsan melihat apa yang terjadi pada lukisannya. Dia memikirkan banyak hal tentang hal ini. Apa yang harus dia lakukan pada kejadian ini?
Maya termenung, memikirkan, dan mencari tindakan yang bisa menutup hal ini.
“Baiklah, kak begini saja. Kita tunjukkan karya saya yang kali ini. Saya akan menjelaskan konsep dari lukisan kali ini saja.” Kata Maya.
“Eh? Tapi hanya orang-orang yang juara saja yang mendapatkan kesempatan itu.” Kata panitia.
“Apakah ada cara lain selain ini?”
“Y-yah… oke kali ini kita turuti tetapi nggak untuk selanjutnya.”
Begitulah kali ini mereka bisa menyelesaikan masalahnya. Meredam api kemarahan pada penggemar Maya. Walaupun Maya bisa menjelaskannya tetapi hal itu tidak bisa meredam kekecewaan dari mereka. Sebaliknya orang-orang yang iri dengannya melihat itu adalah kehancuran dari sang Maestro. Banyak yang senang akan hal ini dan berharap Maya akan jatuh lebih dalam lagi.
Maya hanya bisa termenung. Dia bertanya-tanya apa yang salah darinya. Dia bukanlah seseorang yang ingin menjatuhkan karya orang lain. Dia mengagumi seluruh karya dari mereka semua. Dia tidak mengerti mengapa ada seseorang yang akan menyakiti dia. Mereka dan Maya adalah seorang seniman. Mereka pasti mengerti bahwa lukisan bagaikan anaknya. Itulah idealis dari Maya. Meski begitu dia belum patah semangat. Dia mencari cara agar karyanya kembali bersinar terang diantara para kontestan.
Other Stories
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Cahaya Dari Menara Camlica
Fatimah, seorang gadis sederhana asal Jakarta, tidak pernah menyangka bahwa sujud-sujud pa ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...