Bab 9
Malam sunyi. Tak ada kegaduhan apapun seperti biasanya. Semua ruangan terasa lengang. Mariatin baru kembali dari dapur. Sosok jubah merah melihat Mariatin dari sudut ruang tengah. Mariatin tidak menyadari jubah merah memerhatikannya. Ia terus berjalan menuju kamarnya.
Mariatin menutup pintu kamarnya dengan cepat. Menguncinya dengan kunci double. Kemudian ia menggeser kursi ke arah pintu kamar guna menahan pintu kamar agar tidak terbuka. Kursinya ia masukkan ke bawah knop pintu.
Asti terlihat sudah tidur lelap di kasur. Mariatin tidak ingin Asti terbangun dengan kegaduhan yang baru saja dibuatnya. Mariatin memerhatikan dengan lekat pintu kamarnya. Lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki di depan pintu kamar Mariatin.
Mariatin memasang telinga. Mencoba mencuri dengar. Kemudian terdengar suara pintu kamar di sebelah dibuka. Mariatin tahu kamar gudang itu yang dibuka oleh seseorang.
Mariatin menunggu sesuatu yang akan ia dengar selanjutnya. Namun setelah berlama-lama berdiam di dekat pintu kamar, ia tak mendengar apa pun. Lama kemudian. Mariatin tertidur di pintu karena kelelahan.
***
Pukul 04.30
Mariatin seperti bangun dari tidurnya. Ia masih tidur dalam posisi yang sama. Di dekat pintu kamarnya.
Asti masih tidur. Jam menunjukkan pukul 4.30. Mariatin merasa gelisah. Ia bangkit dari lantai dan menemukan mugnya sudah tidak berisi air. Mariatin keluar kamar untuk mengambil air minum.
Mariatin berjalan menuju dapur sambil membawa mug untuk mengisi air minum. Ia berjalan perlahan dan takut. Seluruh ruangan gelap dan sepi. Saat tiba di lorong menuju dapur, Mariatin melihat pintu kamar Sulasemi terbuka sedikit. Ia mengintip dan terlihat Sulasemi dan Sundari berbicara tidak terdengar. Ia diam-diam memerhatikan gerak bibir mereka.
Sulasemi menyadari kehadiran Mariatin.
Mariatin juga menyadari keberadaannya diketahui. Kemudian Mariatin kembali ke kamarnya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
***
Setelah Mariatin pergi. Sundari dan Sulasemi melanjutkan obrolan mereka yang tertunda.
“Sudah waktunya, Mbakyu. Jangan terlalu lama. Saya khawatir Mariatin akan coba kabur lagi.”
“Langsung habisi saja malam ini.”
“Tidak Mbakyu. Seperti biasa... Mbakyu kan suka dengan permainan kecil sebelum merenggut nyawa para babu.”
Sulasemi tersenyum menyeringai.
“Besok malam. Waktu yang tepat buat saya dan Mbakyu bersenang-senang.”
Sundari mengelus-elus bahu Sulasemi.
Sulasemi memejamkan matanya. Menikmati imajinasi membunuh yang akan segera ia lakukan besok untuk Mariatin.
***
Sundari mengunci semua akses pintu keluar di semua ruangan. Tanpa sepengetahuan Mariatin. Sundari duduk santai di atas kursi. Sementara Mariatin sedang memijat bahu Sundari.
“Ndro tinggal di rumah ini sejak masih kecil?”
Sundari mengangguk. “Benar. Kenapa? Kok tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Kalau boleh saya tahu. Apa benar dulu Ndoro punya pembantu yang ...“
Sundari mengerti maksud Mariatin. Ia menoleh ke arah Mariatin.
Mariatin tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia takut Sundari marah dan tersinggung. “...Saya mimpi, Ndoro.”
Mariatin menunggu reaksi Sundari.
“Untuk hal itu, kamu jangan banyak tanya.”
Mariatin terlihat tidak puas.
Sundari menepuk tangan Mariatin yang memijatnya. Kode untuk Mariatin untuk menyudahi memijat.
“Sudah... Kamu pergi sana.”
***
Sulasemi sedang duduk di atas kursi goyangnya. Sundari masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri Sulasemi.
“Mbakyu... Persiapkan diri untuk berpesta malam ini.” Sundari tarik napas sejenak. “Mariatin sudah banyak tanya. Dan Mbakyu sudah sepantasnya mengganti mainan lama dengan yang baru,” lanjutnya melanjutkan kalimat.
Sulasemi menatap Sundari tanda setuju. Sundari tersenyum dingin.
***
Suasana dapur sepi. Lengang. Mariatin mencuci gelas dan piring. Tak ada suara selain gemericik air yang digunakan Mariatin untuk mencuci. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan yang dirasakannya. Ia berdiri menghadap kompor gas dan menyalakan apinya.
Tiba-tiba--
Tanpa sepengetahuan Mariatin, sebuah kantong plastik besar sejenis trash bag menutup kepala Mariatin sampai dengan setengah badan.
Mariatin kaget dan gelagapan. Ia meronta dan mencoba melepas trash bag itu. Teriakan Mariatin teredam di dalam trash bag. Tubuh Mariatin di dalam trash bag meronta dan terus terbentur benda-benda yang ada di dapur. Sampai akhirnya setelah sekian lama bergumul di dalam trash bag, Mariatin berhasil membuka trash bag.
Napas Mariatin tersengal, ia berusaha mencari tahu siapa yang menutup kepalanya dengan trash bag dari belakang.
Suasana hening, Mariatin tidak melihat seorang pun di sekitarnya. Mariatin melangkah di lorong yang terlihat sedikit gelap. Ia melangkah menuju pintu kamar Sundari dengan sangat hati-hati. Perlahan Mariatin mulai mendekat. Tiba-tiba ia mendengar suara rantai yang bergerak seperti diseret dari arah pintu yang berada di ujung lorong. Perhatian Mariatin teralihkan ke pintu yang berada di ujung lorong.
Suasana lorong terasa hening dan mencekam. Mariatin memberanikan diri tetap melangkah menuju pintu di ujung lorong. Suara rantai yang berada di dalam pintu tersebut semakin jelas terdengar. Semakin berisik.
Mariatin mendengar jelas suara rantai dan kali ini dibarengi dengan suara perempuan yang merintih kesakitan. Mariatin semakin mendekat ke arah pintu.
Perlahan Mariatin menggapai handle pintu. Pintu dibuka Mariatin. Dari sini, ia bisa melihat tangga turun yang menuju ruang bawah tanah.
Mariatin melongok dari tempatnya berdiri. Gelap. Ia tidak bisa melihat sesuatu dari sini. Kemudian ia memberanikan diri melangkah ke dalam pintu yang terlihat sedikit gelap. Mariatin meraba-raba dinding untuk menemukan sakelar lampu dan langsung menyalakannya.
Terlihat ruangan yang kotor dan berdebu. Hanya ada satu lampu penerangan untuk tangga turun ke bawah. Mariatin kemudian melangkah menuju dasar tangga. Mariatin baru melangkahkan kakinya satu anak tangga. Tiba-tiba sebuah tangan keriput mendorong tubuh Mariatin dari belakang. Mariatin terjatuh dan menggelinding hingga ke dasar basement.
Tubuh Mariatin menggelinding keras dari anak tangga atas hingga mencapai lantai basement. Mariatin mencoba berdiri. Ia merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Ia memegangi bagian tubuhnya yang sakit itu. Kemudian Mariatin melihat ke arah pintu atas tangga basement. Pintu tiba-tiba ditutup dari luar dan terdengar seperti dikunci.
Mariatin melihat ke arah kiri dan kanannya. Hanya terlihat sudut gelap dan tumpukan drum minyak yang sudah dibelah menjadi dua. Mariatin penasaran dan mendekat. Terlihat setiap potongan drum tersebut sudah diisi dengan semen dan sudah mengeras.
Mariatin meraba permukaan semennya. Lalu, ia melangkah menuju sudut lain. Ia sangat terkejut saat menemukan seorang perempuan yang terduduk di sebuah kursi penyiksaan. Kondisi perempuan itu terlihat lemah dan berantakan. Mariatin tidak berani mendekat ke arahnya. Perempuan tersebut tidak bereaksi melihat kehadiran Mariatin.
Mariatin mendengar pintu tangga atas dibuka seseorang. Mariatin dengan cepat bersembunyi di sebuah sudut dekat potongan drum minyak. Sambil mengira-ngira siapa yang akan masuk ke basement ini.
Tak lama, ia melihat Sulasemi sudah berdiri di tangga atas. Sulasemi memanggil-manggil namanya.
“Mariatin. Mariatin di mana kamu?”
Mariatin terhenyak.
Sulasemi menuruni tangga basement sambil memegang kapak. Terdengar kapak yang diseret dan membentur-bentur anak tangga yang dituruni Sulasemi. Mata Sulasemi menjelajah ruangan mencari Mariatin.
Mariatin menahan napasnya agar tidak terdengar oleh Sulasemi. Ia sangat ketakutan melihat Sulasemi dengan kapak itu.
“Mariatin. Mariatin. Jangan sembunyi, Mar. Keluar.”
Perlahan Sulasemi bergerak ke tempat di mana Mariatin sedang bersembunyi. Langkah Sulasemi sangat santai, tapi teror.
Mariatin merasa semakin terpojok. Posisi Mariatin sudah tidak akan selamat.
Dengan cepat Sulasemi mengayunkan kapaknya ke arah persembunyian Mariatin di balik drum. Mariatin menghindar. Ayunan kapak Sulasemi meleset dan malah mengenai permukaan semen yang mengisi drum minyak di sudut itu. Semen di atasnya retak dan hancur berantakan.
Dari pecahan dan retakan semen di dalam drum tersebut. Mariatin bisa melihat ada beberapa potongan tubuh manusia yang keluar dari dalamnya. Mariatin terkejut melihat semua itu.
Sulasemi semakin membabi buta mengayunkan kapaknya ke arah Mariatin. Mariatin menghindar dan kemudian dengan nekat berlari menabrakkan tubuhnya ke arah tubuh Sulasemi yang sedang mengayunkan kapak.
Sulasemi terjengkang dan tubuhnya terduduk menabrak drum semen lainnya. Mariatin yang ikut terjatuh kemudian berdiri dengan cepat mengambil kesempatan untuk berlari ke arah tangga naik dan mengunci pintu tangga atas dari luar.
Napas Mariatin tersengal-sengal.
Mariatin mengunci pintu basement. Lalu ia berlari di sepanjang lorong menuju kamar Sundari. Mariatin menggedor-gedor kamar Sundari.
“Ndoro. Ndoro buka pintunya Ndoro.”
Tidak berapa lama Sundari membuka pintu. Melihat Mariatin yang kacau.
Mariatin menerobos masuk ke dalam kamar Sundari. Ia sangat ketakutan dengan apa yang terjadi di bawah basement bersama Sulasemi.
“Ndoro. Ndoro Sundari. Tolong saya.”
“Kenapa, Mar?”
Mariatin masih bergetar hebat. “Ndoro Sulasemi mengamuk di ruang sana Ndoro. Di bawah tanah... Euu.. Eh..”
Sundari mengelus pundak Mariatin. “Mar. Tenang.”
“Seram Ndoro. Ndoro Sulasemi kayak setan. Ndoro... Sebaiknya kita pergi. Sebelum Ndoro Sulasemi bangun.”
Ekspresi Sundari menjadi bengis saat mendengar kata \'bangun\' dari Mariatin.
Mariatin terkejut saat matanya teralihkan ke Asti yang terlihat terbujur di atas ranjang Sundari. Asti terlihat lemah akibat ramuan Sundari. Mariatin bingung melihat Asti kini ada di kamar Sundari. Ia menoleh sebentar ke Sundari.
Mariatin menghampiri tempat tidur dan menggoyang-goyangkan tubug Asti. “Asti ... bangun, Nak. Ayo kita pergi, Nak.”
“Tenang, Mar. Jangan buru-buru.”
Mariatin menoleh. Tanpa disengaja, Mariatin melihat jubah merah yang diletakkan di sebuah meja lengkap dengan topengnya. Sundari tahu bahwa Mariatin sudah melihat jubah dan topengnya. Mariatin menjauh dari jangkauan Sundari.
Sundari kemudian mengambil gergaji besi di tempat tersembunyi dan menyerang Mariatin dengan gergaji besi yang sudah dipegangnya. Mariatin menghindar dan berlari ke arah pintu kamar. Sundari semakin bernafsu untuk menyerang Mariatin. Mariatin dengan cepat memukul jatuh Sundari dengan pajangan di kamar. Sundari jatuh. Mariatin mengambil Asti dan melarikan diri keluar kamar dengan menggendong Asti.
Mariatin sambil menggendong Asti berlari menuju ruang tengah. Ia mencoba menggerak-gerakkan handle pintu keluar berkali-kali. Namun, pintu tidak bisa dibuka karena sudah dikunci oleh Sundari.
Mariatin kembali berlari menuju pintu kamarnya. Ia masuk terburu-buru ke dalam kamarnya. Ia langsung mengunci pintu dan mendorong meja di kamarnya untuk mengganjal belakang pintu. Kemudian Mariatin merebahkan Asti di atas tempat tidur. Nafas Mariatin memburu. Mariatin lalu membuka lemari dan mencari handphone-nya.
Handphone Mariatin ditemukan sudah pecah belah tidak bisa digunakan. Akhirnya, setelah berpikir sejenak. Mariatin mencari-cari benda yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk melawan Sundari dan Sulasemi. Mariatin mengambil sebilah kayu dari bawah ranjangnya. Lalu, ia mendekati Asti dan membelai rambutnya.
“Asti diam di sini dulu yah. Ibu mau cari kunci biar kita berdua bisa keluar dari sini.”
Asti hanya bisa mengangguk. Badannya sangat lemah. Mariatin mencium kening Asti.
Other Stories
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...