Mereka Yang Tak Terlihat

Reads
531
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
mereka yang tak terlihat
Mereka Yang Tak Terlihat
Penulis Ariny Nh

Bab 5

Saras masuk ke toilet perempuan dan bertemu Dinda yang sedang menunggu di depan sebuah bilik ketiga paling ujung. Seorang siswi keluar dari bilik pertama dan mencuci tangan di westafel sebelum keluar. Saras menoleh ke Dinda meminta gadis enam belas tahun itu untuk masuk lebih dulu. Karena Dinda tetap diam, Saras memutuskan untuk masuk ke dalam bilik.
Di dalam bilik dia berniat menguncir rambutnya, namun karet ikat rambutnya terjatuh. Pada saat Sara mau mengambilnya, dia tidak sengaja menendang karet ikat rambutnya hingga masuk ke bilik sebelah.
Saras duduk di atas kloset memegang HP, HP itu tidak sengaja terjatuh dan menggelinding masuk ke bilik sebelah. Dia terdiam sejenak, tiba-tiba dari bawah bilik perlahan muncul karet ikat rambutnya yang dipegang sebuah tangan berdarah. Saras kaget dan segera meninggalkan toilet.
Sara berlari kembali ke kantin, ke tempat teman-temannya masih duduk dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya di kamar mandi.
“Mampus gue! Gue enggak bakalan kencing di toilet itu lagi!” Yova ketakutan.
“Terus kalau dia muncul di semua toilet gimana?” tanya Irina.
“Ya gu enggak bakal kencing di sekolahlah,”
“Enggak salah lagi, itu pasti hantu anak kelas satu yang mati bunuh diri gara-gara dibully. Legend banget tuh.”
Saras terdiam.
Saras mencari buku di rak buku bagian psikologi di perpustakaan. Saras menyadari ada seorang siswi memperhatikan dirinya. Saras menghindar pergi ke sisi lain, namun sisi itu suda ada di sana.
“Aku tahu kamu bisa melihat aku.” kata siswi itu.
Sars tidak menghiraukan siswi yang ditemuinya tadi di toilet, Dinda. Dia berjalan di koridor antar buku-buku, masih mencari buku dan Dinda terus mengikuti Saras.
Satu persatu buku di rak dijatuhkan, Saras berhenti, menghela napas. Dia berbicara dengan Dinda dalam hati.
“Oke, kamu mau apa? Kamu bisa enggak, sih, jadi hantu itu biasa aja munculnya.” kesal Saras seraya memunguti buku yang dijatuhkan.
“Maaf, aku hanya mau minta tolong. Namaku Dinda.”
Saras berhenti memungut buku, “Jadi kamu yang meninggal bunuh diri di kamar mandi?”
Dinda mengangguk.
Yova dan Irina tiba-tiba datang menghampiri Saras.
“Gimana, ketemu bukunya?” tanya Irina.
“Kayaknya kalian duluan, deh.”
“Ada hantu yang mau curhat lagi, ya?” tanya Yova.
Saras tersenyum paksa.
“Ganteng enggak?” tanya Yova lagi.
Saras menggeleng.
“Genderuwo? Kunti? Kolor ijo? Tuyul?” Yova masih terus bertanya.
Saras menggeleng. “Hantu itu namanya Dinda. Hantu yang tadi siang kita bicarain.”
“Oh hantu cewek yang ada di toilet itu?” Yova tidak berhenti bertanya.
Saras mengangguk, kedua temannya ketakutan.
“Terus-terus sekarang dia ada di mana?” Irina waswas.
Saras melihat ke arah Yova. “Di belakang lo.”
“Tiba-tiba gue mau pipis, yuk anterin.” Irina mengajak Yova pergi.
Saras tersenyum jahil, padahal Dinda ada disampingnya.
“Oke, tadi sampai mana?”
Pertanyaan itu membuka pintu cerita kehidupan Dinda.
Dinda saat itu baru berusia lima tahun dan Dayu, ibu Dinda, sedang bermain puzzle berukuran besar di meja depan di ruang tamu. Mereka terlihat akrab.
“Ibu selalu ada disampingku sejak kecil,”
Ibunya menyuapi Dinda kecil di ruang makan.
“Dia memberikan semua yang terbaik untuk aku,”
Dinda kecil jatuh sakit dan ibunya merawat Dinda dengan telaten. Mengompres Dinda dengan handuk kecil dan mengecek suhu termometer dari mulut Dinda.
“Merawatku tanpa kenal Lelah,”
Ibunya memangku Dinda sambil membacakan buku cerita bergambar.
“Menjadi teman setiaku,”
Dinda kecil terjatuh di teras depan membuat lututnya terluka dan menangis, ibunya mengobati luka Dinda.
“Mendidik aku agar mejadi orang yang kuat,”
Dinda mulai beranjak dewasa, namun kebiasaannya bermain puzzle berdua dengan ibunya tidak berubah, mereka ceria.
“Hingga aku bertumbuh, dia tidak pernah berubah.”
Keduanya sedang sarapan bersama. Dinda menikmati makanan yang dibuat ibunya.
“Tidak ada masakan yang enak selain masakan ibu,”
Keduanya menonton televisi di ruang menonton. Dinda tiduran dipangkuan ibunya. Mereka tertawa menyaksikan acara televisi.
“Kami banyak menghabiskan waktu bersama,”
Saat itu Dinda masih dengan kebiasaanya bermain puzzle, kemudian ibunya datang membawa kue ulang tahun. Dinda terkejut dan memeluk ibunya. Sebuah kado kecil diberikan ibunya sebagai hadiah, sepasang anting. Dia memeluk ibunya lagi.
“Kasih sayang ibu, segalanya bagiku,”
Dinda sudah memakai seragam sekolah, tidak lupa memakai anting pemberian ibunya. Dinda tersenyum. Dinda memakai tas sport besar dengan gantungan kunci boeneka berjalan di koridor. Sepatu sport berwarna pink spotlight, rambut dikuncir ke belakang di tambah bandana motif dalmatian, dia adalah contoh fashion disaster versi anak sekolah.
“Tapi, kehidupanku di sekolah seakan bertolak belakang dengan kebahagiaanku di rumah. Citra adalah siswi yang popular di sekolah, semua orang ingin menjadi teman Citra. Aku ingin menjadi seperti Citra.”
Di toilet Perempuan Citra dan kedua temannya sedang mencobai beberapa lipstick di bibir Dinda, dia diam saja.
“Apapun kulakukan demi menjadi seperti mereka.”
Citra menghapus lipstik di bibir Dinda dengan tissue, lalu memakaikan warna berbeda. Saat itu dua orang siswi masuk ke toilet dan menyaksikan apa yang Citra lakukan. Mereka hanya terpaku, kemudian keluar lagi dari toilet. Citra kembali pada kegiatannya.
Di hari lain Dinda membawakan tas Citra dan gengnya berjalan di koridor sekolah. Ketika istirahat, Dinda membereskan sisa makanan dan piring kotor di meja kemudian mengelapnya hanya agar Citra dan gengnya bisa duduk nyaman di kantin.
“Aku ingin dipandang seperti mereka,”
Bahkan untuk urusan PR, Citra dan kedua temannya menyerahkan buku mereka ke Dinda di perpustakaan untuk dia kerjakan, sedangkan mereka cekikikan membaca majalah.
“Aku enggak keberatan untuk mengerjakan PR mereka,”
Pada hari lain, Dinda datang membawa tiga minuman dan memberikannya ke Citra dan kedua temannya. Citra menatap jus jeruk yang masih di tangan Dinda.
“Kok jus jeruk, sih? ‘kan tadi gue pesennya alpuket.”
“Tapi tadi kata kamu, kalo enggak ada jus alpuket-“
Ucapannya dipotong Citra. Gadis itu mengambil kasar jus dari tangan Dinda dan melemparkannya pada Dinda.
“Nyebelin.”
Dinda tertunduk begitu Citra pergi dan disusul dua temannya.
“Aku … enggak keberatan.”
Dinda pulang dengan baju yang kotor terkena tumpahan jus, Dinda mau masuk ke dalam rumah.
Ibunya yang berada di ruang tengah mendapati baju Dinda kotor bertanya, “Baju kamu kenapa?”
“Tadi enggak sengaja kepleset, Bu.” Dinda segera masuk.
“Ibu tidak perlu tahu, apa yang terjadi di sekolah.”
Dinda yang sudah mengganti baju duduk merenung di tempat tidur, air matanya mulai menetes. Karena terlalu fokus, dia tidak ada ibunya sudah duduk berhadapan.
“Kamu enggak mau cerita sama ibu?” tanya ibunya lembut, memegang wajah Dinda dan menyatukan dahi keduanya. “Enggak semua orang bisa melihat keunikan kita dibandingkan orang yang lain. Dunia hanya melihat rupa, namun Ibu tahu apa yang ada di dalam hati kamu.”
Dinda mengangguk.
“Ibu tidak pernah gagal, membuatku merasa tenang.”
Dinda sedang membaca buku di perpustakaan, tidak lama Citra dan kedua temannya datang, mereka berdiri di depan Dinda, spontan Dinda mengelap kursi menggunakan sapu tangannya agar Citra bisa duduk.
“Setelah menjalani proses pertimbangan yang cukup lama dan dilematis, maka gue memutuskan untuk meluluskan elo dari masa percobaan untuk gabung bersama kita.”
Dinda yang tertunduk menatap Citra tidak percaya, lalu melihat kedua teman Citra, mereka mengangguk, Dinda tersenyum.
Citra kemudian mengeluarkan sebuah tiara yang terbuat dari plastik lalu meletakkan di kepala Dinda ala Miss Universe. Dinda malu, tetapi Bahagia.
“Selamat, elo udah official jadi bagian dari grup ini,” Citra tersenyum, “tapi eits, tunggu dulu,” Citra menahan tiara itu. “Pertama-tama elo harus copot dulu anting jelek lo ini.”
“Tapi itu anting pemberian ibu aku.”
“Please deh, jangan bilang kacamata elo juga punya nenek elo. Elo mau gabung sama kita, lo harus nurut apa yang gue bilangin.”
Dinda kemudian mencopot antingnya. Citra dan kedua temannya tersenyum, lalu meletakkan tiara itu di kepala Dinda. Dinda tersenyum. Citra dan kedua temannya memeluk Dinda dengan senyuman palsu.
Citra dan dua temannya menggandeng Dinda pulang bareng. Dinda kaget melihat semua orang memandangnya kagum.
“Aku telah mendapatkan segala yang kuinginkan saat itu.”
Dinda menatap dirinya di depan cermin di kamar pada malam harinya. Dia tersenyum. Suara ketukan pintu terdengar. Dinda mengunci pintu kamarnya.
“Dinda?” Ibunya mengetuk pintu.
Dinda segera menyembunyikan tiara itu dan membuka pintu.
“Makan yuk!”
“Uhm, aku enggak makan malam, Bu. Aku masih kenyang.” Dinda menutup pintu.
“Ibu tidak perlu tahu.”
Pagi harinya ibunya menyiapkan sarapan kesukaan Dinda, tapi dia tidak makan dan segera bergegas meninggalkan ruang makan. Ibunya memanggil Dinda dan memberikan kotak makan Hello Kitty. Dinda mengambilnya dan segera pergi.
“Semakin aku akrab dengan Citra, semakin jauh hubungan aku dengan ibuku,”
Citra dan kedua temannya juga Dinda sedang berada di kafe. Mereka tertawa-tawa, sedangkan Dinda tampak canggung. Mereka memanggil pelayan untuk minta tolong difotokan, hanya bertiga, Dinda tidak diajak.
“Aku tidak khawatir dengan Ibu, sudah saatnya aku mendapatkan kebahagiaanku sendiri bersama teman-teman baruku,”
Dinda dan ibunya sedang makan malam. Dinda sibuk mendengarkan musik dengan headphone dan hanya menyentuh sedikit makanannya. Ibu memperhatikan Dinda.
“Aku mulai mendengarkan musi-musik yang Citra dengarkan,”
Ketika Citra dan dua temannya berbelanja, Dinda yang membawakan barang mereka.
“Shopping dengan Citra adalah kebanggaan bagi aku,”
Dayu membuka kotak makan Dinda yang berisi nasi, sosis goreng dan telur yang ditata menarik, sayangnya Dinda tidak menyentuh makanannya. Dayu merasa sedih.
Dinda membawakan 3 mangkuk bakmi ke meja Citra dan dua temannya, lalu membelikan mereka minum. Citra memberikan selembar uang dua puluh ribuan ke Dinda. Dia ambil uang itu dan pergi.
Dinda datang membawa segelas minuman kemudian terjatuh. Citra dan dua temannya menertawai Dinda, murid lain ikut tertawa dan Dinda hanya diam saja.
Malam hari Dayu menonton televisi sendirian. Dinda muncul dengan handuk di kepala, habis mandi. Dia masuk ke kamar dan menutup kamarnya. Dinda sedang Bersiap-siap ke rumah Citra memakai jaket dan mengambil tas.
Dayu masuk ke kamar Dinda, “Kamu mau ke mana malam-malam begini?”
“Mau nginep di rumah Citra,”
“Loh, bukannya mereka….”
“Udah enggak, Dinda berangkat ya, Bu.”
“Kamu enggak boleh pergi.”
“Maksud Ibu?”
“Ibu enggak mau ngeliat kamu nangis lagi.”
“Ibu enggak suka kalo Dinda punya temen? Ibu mau Dinda selalu sendirian? Ibu takut kalo Dinda punya temen Ibu enggak akan punya waktu yang banyak lagi sama Dinda? Dinda udah gede, Bu. Dinda tau apa yang Dinda lakuin.”
Dayu terdiam.
Kamar Citra sangat girly dan fancy dengan dominasi warna pink dan ungu. Citra dan dua temannya mengenakan lingerie yang tampak seksi lengkap dengan sayap-sayapan kecil. Salah seorang teman Citra mengambil foto Citra yang sedang berpose memakai kamera digital.
“Okey sekarang giliran member baru kita, Miss Dinda Riani Putri.”
Dinda tampak malu-malu.
“Ayo buka bajunya!” suruh Citra.
Seorang teman Citra membantu Dinda buka baju. Kemudian temannya yang lain membantu membuka ikatan rambut Dinda, membuatnya tergerai dan mencopot kacamata Dinda.
“Aku malu,”
“Elo ‘kan udah bagian dari kita, elo harus kayak kita.” kata salah seorang teman Citra.
“Iya, tapi aku malu….”
Salah seorang teman Citra berhasil membuka baju Dinda dan terkejut melihat Dinda masih memakai miniset.
“Oh… my… god….”
Citra terkejut melihat Dinda, dia berusaha menahan tawa, “Dinda sayang … this is just for fun. Just between kamu dan kita berempat aja. Elo enggak percaya sama kita?”
Dinda terdiam. Kemudian Dinda perlahan melepaskan kedua tangannya dari dadanya.
Pagi harinya di kamar Dinda, dia sedang bercermin hendak memakai anting pemberian ibunya lagi untuk ke sekolah, namun tidak jadi. Dia meletakkan anting itu disebuah kotak kecil dan menyimpannya di laci lemari baju. Dinda memakai tiara pemberian Citra dan tersenyum.
Namun karena terburu-buru, Dinda tidak sengaja menyenggol tempat alat tulisnya hingga terjatuh dan berserakan di lantai. Dinda tidak sempat merapihkan dan pergi.
“Akhirnya aku menuai jerih payahku. Aku menyiapkan hari besarku. Aku sudah menjadi bagian dari geng Citra.”
Murid-murid melihat Dinda dengan tatapan aneh ketika Dinda berjalan di koridor. Beberapa orang siswa tertawa di depan mading, Dinda melihat ke arah mading. Foto seksi Dinda semalam sudah dipajang di mading yang tertutup kaca. Dinda syok.
Citra dan teman-temannya menertawai Dinda. Dinda menatap mereka dengan penuh rasa marah, air matanya mengalir.
“Aku salah. Mereka menjebak aku,”
Dinda meluapkan emosinya di dalam toilet Perempuan. Darah mengalir dari tangannya yang terluka.
“Bilik ini menjadi tempat aku bersembunyi dari mereka dan tempat aku menghembuskan napas terakhir,” Dinda menahan sakit.
“ Aku meninggalkan Ibu….”
Dayu duduk menatap puzzle yang tidak selesai, mengambil satu kepingan puzzle dan menangis.
Di ruang makan Dayu duduk seorang diri, tetapi tetap menyediakan piring dan gelas di sampingnya seolah menanti Dinda pulang. Dayu menangis.
“Ibu tenggelam dalam kesedihan.”
Televisi menyala, Dayu menonton sendirian. Acaranya lucu, tapi Dayu menangis.
“Tidak ada lagi tawa yang terdengar ketika televisi memutar acara favorit kami,”
Dayu masuk ke dalam kamar Dinda, posisinya masih sama seperti terakhi kali Dinda tinggalkan. Tempat alat tulis Dinda masih tergeletak di lantai. Dayu termenung sedih.
“Ibu membiarkan begitu saja segala sesuatunya disaat aku terakhir kali di rumah. Ibu tidak ingin merubah apapun.”
Saras menatap Dinda kasihan.
Lidya dan Laras sedang makan malam ketika Saras baru datang. Lidya sedikit marah.
“Jam tangan kamu enggak rusak, kan?”
Saras diam saja, kemudian duduk. Laras tampak takut dengan Lidya. Makan malam berlangsung begitu dingin.
“Laras, kamu sudah mengerjakan PR-mu?” tanya Lidya.
“Udah, Ma.”
“Besok kamu selesai les, jam 3 harus ada di rumah, ya.”
“Tapi besok aku ada….” Lidya menatap Laras. Dia tidak jadi membantah hanya berdeham.
“Saras, kamu juga, jangan keluyuran terus.”
“Besok aku ada perlu, Ma.”
“Ada perlu apa? Pelajar kok banyak urusan. Tugasmu itu belajar.”
Saras berhenti makan dan pergi begitu saja. Lidya tidak menghiraukannya.
Di kamar Saras membuka internet, mencari beasiswa sekolah di luar negeri dan mencatat beberapa nama universitas.
Saras mendatangi rumah Dinda sepulang sekolah. Rumahnya tidak terlalu besar. Dia mengetuk pintu rumah. Tidak lama seorang Wanita berusia sekitar lima puluh tahun membukakan pintu, Ibunya Dinda, Dayu.
“Selamat sore, Bu, nama saya Saras. Saya ingin mendengar cerita tentang,”
“Maaf saya sibuk,” potong Dayu. Dia segera menutup pintu, namun Saras menahannya.
“Anting! Anting Dinda!”
Dayu terhenti dari niatnya menutup pintu, tersentak mendengar apa yang dikatakan Saras.
“Dinda menyimpan anting pemberian Ibu di laci lemari pakaian.”
Dayu menutup pintu.
Saya terus berusaha memberitahu hal yang diketahuinya pada Dayu.
“Saya bertemu Dinda, dia mengatakan semuanya kepada saya.”
Dayu mendengarkan Saras dari balik pintu, wajahnya sedih. Tidak ada lagi suara, Saras pergi.
Setelahnya dia pergi ke kamar Dinda mencari anting itu. Dia membuka lemari kamar Dinda dan membuka lacinya. Dayu menemukan anting pemberiannya. Dia menangis berlutut di kasur, kemudian membenamkan mukanya di Kasur.
Arwah Dinda memperhatikan Dayu dan bersedih.
Bukan cuma mendatangi rumah Dinda, Saras juga mendatangi rumah Citra, mengetuk rumah tersebut dan kebetulan Citra yang membukakan pintu.
Ruang tamu rumah Citra berantakan dipenuhi mainan anak-anak dan bayi. Citra meletakkan secangkir teh di depan Saras.
“Jadi kamu panitia buku tahunan?” tanya Citra.
“Iya, tahun ini kita mau bikin video testimoni alumni dari tiap Angkatan. Aku ditugasin untuk nanganin angkatan Kakak.”
Suara anak kecil terdengar dari salah satu kamar, Citra permisi ke dalam, “Sebentar,” Citra masuk ke dalam.
Saras melihat sekitar ruang tamu. Ada foto-foto Citra semasa SMA bersama gengnya. Tidak ada Dinda di foto itu.
Citra datang kembali sambil membawa anak kecil berusia satu tahun yang menangis.
“Sebelum ke sini aku ke rumah alumni yang namanya kak Dinda.”
“Dinda?”
“Iya, Kakak kenal sama Dinda?”
Citra terlihat tidak nyaman, “Kenal.”
“Kenal dekat?”
Citra terdiam. “Enggak, cuma tau aja, sih.”
Kemudian datang anak Citra yang lain baru pulang sekolah. Seorang anak usia tujuh tahun yang tampak kurus dan lusuh, Riko.
“Kenapa? Kenapa kamu nangis? Mereka ngerjain kamu lagi? Kamu diapain? Ceritain sama mama.” Tanya Citra berturut-turut.
Riko hanya diam.
“Riko, certain sama mama, kamu diapain sama mereka? Ya udah besok mama akan laporin lagi sama guru kamu. Kamu masuk ke dalam ganti baju.” Citra terlihat stress.
Saras menatap Citra kasihan.
“Saras, kamu percaya dengan karma?”
Saras terdiam.
Saras baru pulang dan mendapati Laras sedang menonton TV.
“Kak Saras,” Saras duduk di samping Laras. “Tadi mama nanyain Kakak udah pulang atau belum, dia marah banget.”
Saras menghela napasnya.
“Saras?” Lidya memanggil.
Saras buru-buru masuk ke kamarnya.
Lidya muncul, “Mana Saras?”
“Di kamar tuh, udah.”
Lidya kesal setelah melihat jam.
Keesokan harinya Saras datang kembali ke rumah Dinda, kali ini bersama Citra. Dayu membuka pintu, menatap Saras lalu Citra.
“Mau apa kamu ke sini? Kamu enggak akan bisa ngembaliin anak saya.”
Dayu menutup pintu, menangis di balik pintu.
“Tante,” panggil Citra lirih.
“Pergi!”
“Tante, Citra datang agar Tante mau maafin dia,” Saras mencoba membantu.
“Tahu apa kamu?”
“Ini kemauan Dinda. Dinda yang bilang ke aku.”
“Pergi!”
“Tante mungkin enggak percaya, tapi aku bertemu Dinda.”
“Cukup.”
“Dinda bilang semuanya ke saya, kalau Tante suka memasakkan nasi goreng kesukaan Dinda untuk sarapan, menonton TV bersama, bermain puzzle bersama,”
Dayu tampak terpaku.
“Dinda….”
“Dinda ingin melihat ibunya bahagia, merelakan kepergiannya dan menjalan kehidupan dengan baik.”
Dayu membukakan pintu, duduk di kursi depan, menangis.
Saras mengangkat kedua tagannya memegang wajah Dayu. “Bu,”
Dayu mendongak menatap Saras.
“Aku bahagia memiliki orang tua seperti Ibu,”
Dayu menyadari gestur Saras mirip Dinda dan cara Dinda memegang wajahnya sama seperti cara Dayu menenangkan Dinda yang bersedih.
“Dinda?” Saras tersenyum, kemudian mempertemukan dahi mereka. “Maafin Ibu, Ibu enggak bisa memahami apa yang kamu hadapi saat itu.” Ingatannya pada masa paling Bahagia, kemudian masa paling menyedihkan berlalu-lalang di kepala. “Sehingga membuatmu mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri. Ibu gagal, Nak.”
Saras yang tubuhnya dirasuki Dinda berkata, “Bu, enggak pernah sekalipun ada dalam pikiranku untuk meninggalkan Ibu sendirian. Karena aku ingin tumbuh dewasa seperti Ibu. Apa yang terjadi kepada aku adalah sebuah kecelakaan, bukan kesalahan siapapun.”
Saat Dinda melihat fotonya di mading dan Citra juga gengnya menertawai Dinda, dia berusaha membuka mading tersebut, namun terkunci. Dinda segera memecahkan kaca mading dengan tangan kosong. Kaca mading pecah, Dinda kemudian mengambil foto itu dengan buru-buru hingga pergelangan tangannya terluka terkena nadinya. Dinda menahan luka di nadinya, lalu berlari meninggalkan mading.
Dinda masuk ke dalam toilet memegangi lukanya, dia masuk ke dalam bilik dan darah terus mengucur.
Dinda jauhkan kembali dahinya dan menurunkan tangannya. Dinda memegang tangan Dayu, keduanya saling berpandangan.
“Aku sayang Ibu,”
Citra segera bersujud di bawah kaki Dayu. Dayu memegang kepala Citra.
Dinda tidak lagi merasuki Saras, dia berdiri di samping Saras, tersenyum.
Malamnya, Saras merapikan toples-toples kue pesanan di meja makan dan kertas-kertas serta kalkulator. Ibu ketiduran di sofa masih mengenakan kacamata. Saras membuka kacamata Lidya serta menyelimuti Lidya.
Dia masuk ke kamar Laras, Laras sedang tidur, Saras ikut tidur disampingnya. Dia sempatkan diri menatap adiknya yang sedang tidur.
“Kekuatan dari memaafkan terletak dari kerelaan kita membuka hati kita terhadap orang lain dan melepaskan benci yang ada.”

Other Stories
Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Download Titik & Koma