BABAK III RELASI SEBABAI ARENA KUASA
Cinta yang Diam-diam Menindas
Kesadaran tidak selalu datang sebagai kilatan terang. Kadang ia hadir sebagai kelelahan yang menumpuk, sebagai rasa berat yang tidak tahu harus ditaruh di mana. Pada Irna, kesadaran itu datang lewat kilas balik—fragmen-fragmen relasi masa lalu yang tiba-tiba menyusun dirinya sendiri menjadi pola yang tak bisa lagi diingkari.
Ia tidak duduk untuk mengingat. Ingatan itu yang mendatanginya.
Ada wajah-wajah yang dulu ia sebut cinta: orang-orang yang pernah ia bela di hadapan keraguannya sendiri, yang pernah ia tunggu dengan sabar yang nyaris religius. Dalam setiap relasi itu, Irna selalu hadir sebagai versi dirinya yang paling mengerti. Ia mengalah sebelum diminta. Memahami sebelum dijelaskan. Menunggu bahkan ketika tak ada kepastian akan datang.
Ia dulu menyebut semua itu cinta.
Kini, dengan jarak batin yang mulai terbentuk, Irna melihatnya dengan mata yang berbeda. Ia melihat bagaimana, pelan-pelan, ia menghapus dirinya sendiri agar hubungan itu tetap hidup. Ia mengurangi pertanyaan agar tidak dianggap merepotkan. Ia menunda kebutuhan agar tidak dicap egois. Ia menelan kekecewaan dengan harapan suatu hari akan diganti dengan pengakuan.
Namun pengakuan itu tidak pernah datang.
Irna menyadari sesuatu yang menyakitkan: dalam banyak relasinya, cinta tidak pernah dinegosiasikan secara setara. Ada yang memberi, ada yang menerima. Ada yang menyesuaikan diri, ada yang menjadi standar. Dan hampir selalu, Irna berada di sisi yang menyesuaikan.
Ia tidak menyalahkan siapa pun. Tidak sepenuhnya. Sebab tidak ada yang secara eksplisit memintanya mengecil. Tidak ada ultimatum. Tidak ada paksaan. Semua berlangsung halus, seperti arus yang membawa seseorang menjauh dari dirinya sendiri tanpa pernah terasa sebagai kekerasan.
Di situlah kekuasaan bekerja paling efektif—ketika ia tidak dikenali sebagai kuasa.
Irna mulai membaca ulang relasi-relasinya sebagai struktur, bukan sekadar perasaan. Ia melihat bagaimana cinta bisa membentuk hierarki: siapa yang lebih ditunggu, siapa yang lebih menentukan arah, siapa yang lebih sering menahan diri. Ia mulai memahami bahwa cinta tidak selalu setara, meski sering dibungkus dengan bahasa kehangatan.
Dalam diamnya, ia bertanya: Sejak kapan cinta menjadi ruang di mana satu pihak harus terus membuktikan kelayakannya untuk dicintai?
Di perpustakaan, pengamatannya terhadap pasangan-pasangan menjadi semakin tajam. Ia melihat seorang perempuan muda yang terus-menerus menoleh ke pasangannya sebelum berbicara, seolah membutuhkan izin untuk bersuara. Ia melihat seorang pria yang berbicara panjang lebar sementara pasangannya mengangguk, mengamini, menghilang sedikit demi sedikit di balik persetujuan.
Namun ia juga melihat hal lain: pasangan tua yang duduk berdampingan tanpa saling menguasai keheningan. Mereka tidak saling menunggu dengan cemas, tidak saling mengalah dengan terpaksa. Keberadaan mereka berdampingan, bukan saling menekan.
Irna merasa iri—bukan pada kebersamaan mereka, tetapi pada keutuhan yang tampak tenang itu.
Buku Sejati kembali mengganggunya. Ia membuka halaman acak dan menemukan kalimat yang membuat dadanya sesak:
Dalam cinta yang timpang, yang paling lelah bukan yang paling banyak mencinta,
melainkan yang paling sering meniadakan diri.
Irna menutup buku itu, merasa seolah baru saja ditelanjangi oleh kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani ucapkan. Ia teringat bagaimana dalam relasi-relasi sebelumnya, ia selalu bangga disebut “dewasa”. Padahal, kedewasaan itu sering kali berarti kesediaan untuk menanggung beban sendirian.
Ia mulai mempertanyakan konsep pengorbanan yang selama ini ia agungkan. Bukankah pengorbanan yang terus-menerus, tanpa timbal balik, bukan lagi cinta, melainkan penundukan yang disepakati diam-diam?
Dalam analisis batinnya, Irna menyadari bahwa cinta bukan hanya emosi, melainkan arena negosiasi identitas. Dalam relasi, seseorang bisa tumbuh, tetapi juga bisa menyusut. Dan sering kali, yang menyusut adalah mereka yang terlalu takut kehilangan.
Ia mengingat satu relasi yang paling membekas.
Seseorang yang sering berkata bahwa Irna adalah “rumah”. Dulu, kata itu membuatnya merasa istimewa. Kini, ia melihatnya dari sudut yang lebih gelap: rumah adalah tempat kembali, tetapi juga tempat di mana seseorang bisa meletakkan lelah tanpa bertanya apakah rumah itu sendiri baik-baik saja.
Irna adalah rumah bagi banyak orang. Tetapi siapa yang menjadi rumah baginya?
Pertanyaan itu menggema lama.
Ia menyadari pola yang sebelumnya luput dari perhatiannya: ia sering jatuh cinta pada orang-orang yang rapuh dengan cara tertentu. Orang-orang yang membutuhkan pengertian, kesabaran, ruang untuk disembuhkan. Dan dalam proses mencintai mereka, Irna menemukan peran—peran sebagai penopang, penjaga, penyelamat.
Peran itu memberinya makna. Memberinya rasa dibutuhkan.
Namun peran itu juga menahannya di tempat yang sama: selalu memberi, jarang menerima; selalu hadir, jarang diperhatikan. Ia jatuh cinta pada kebutuhan orang lain, bukan pada keberadaan mereka yang utuh.
Kesadaran itu datang seperti tamparan pelan—tidak keras, tetapi cukup untuk membuatnya terdiam lama.
Apakah aku mencintai, pikir Irna, atau sedang berusaha layak dicintai?
Pertanyaan itu mengandung kebenaran yang tidak nyaman. Sebab jika selama ini ia mencintai untuk merasa layak, maka cinta itu bukan ruang kebebasan, melainkan ujian yang tak pernah selesai. Ia harus terus membuktikan bahwa ia cukup sabar, cukup mengerti, cukup rendah hati untuk tetap dipilih.
Dan dalam ujian itu, tidak ada kelulusan. Hanya penundaan luka.
Irna mulai melihat bahwa banyak relasinya berakhir bukan karena kurang cinta, melainkan karena ketimpangan yang tak pernah dibicarakan. Ia terlalu sibuk menjaga hubungan tetap hidup, sampai lupa bertanya apakah hubungan itu membuatnya hidup.
Di babak ini, sesuatu dalam diri Irna berubah arah. Bukan menjadi marah, bukan menjadi sinis. Ia justru menjadi lebih sunyi—sunyi yang penuh kewaspadaan. Ia mulai memahami bahwa cinta yang sehat tidak menuntut penghapusan diri. Bahwa keintiman tidak seharusnya dibangun di atas ketakutan kehilangan.
Namun kesadaran itu juga membawa duka. Duka karena menyadari betapa sering ia rela mengecil demi diterima. Duka karena menyadari bahwa ia sendiri telah berulang kali menempatkan dirinya dalam posisi yang mudah dikuasai—bukan karena lemah, melainkan karena terlalu ingin dicintai.
Twist terbesar dalam batin Irna bukanlah pengakuan bahwa orang-orang tertentu telah melukainya. Melainkan pengakuan bahwa ia tertarik pada pola yang sama, berulang kali. Bahwa ia jatuh cinta bukan pada mereka yang melihatnya sebagai setara, melainkan pada mereka yang membutuhkan pengorbanannya.
Dan kini, dengan kesadaran yang mulai terbentuk itu, Irna berdiri di ambang perubahan yang tidak nyaman: jika ia berhenti mengecil, jika ia berhenti menjadi penopang, jika ia berhenti mencintai dari posisi kekurangan—apakah masih ada cinta yang akan datang padanya?
Pertanyaan itu tidak ia jawab.
Namun untuk pertama kalinya, Irna membiarkan pertanyaan itu tinggal—tanpa buru-buru menenangkannya dengan kehadiran orang lain.
Kesadaran tidak selalu datang sebagai kilatan terang. Kadang ia hadir sebagai kelelahan yang menumpuk, sebagai rasa berat yang tidak tahu harus ditaruh di mana. Pada Irna, kesadaran itu datang lewat kilas balik—fragmen-fragmen relasi masa lalu yang tiba-tiba menyusun dirinya sendiri menjadi pola yang tak bisa lagi diingkari.
Ia tidak duduk untuk mengingat. Ingatan itu yang mendatanginya.
Ada wajah-wajah yang dulu ia sebut cinta: orang-orang yang pernah ia bela di hadapan keraguannya sendiri, yang pernah ia tunggu dengan sabar yang nyaris religius. Dalam setiap relasi itu, Irna selalu hadir sebagai versi dirinya yang paling mengerti. Ia mengalah sebelum diminta. Memahami sebelum dijelaskan. Menunggu bahkan ketika tak ada kepastian akan datang.
Ia dulu menyebut semua itu cinta.
Kini, dengan jarak batin yang mulai terbentuk, Irna melihatnya dengan mata yang berbeda. Ia melihat bagaimana, pelan-pelan, ia menghapus dirinya sendiri agar hubungan itu tetap hidup. Ia mengurangi pertanyaan agar tidak dianggap merepotkan. Ia menunda kebutuhan agar tidak dicap egois. Ia menelan kekecewaan dengan harapan suatu hari akan diganti dengan pengakuan.
Namun pengakuan itu tidak pernah datang.
Irna menyadari sesuatu yang menyakitkan: dalam banyak relasinya, cinta tidak pernah dinegosiasikan secara setara. Ada yang memberi, ada yang menerima. Ada yang menyesuaikan diri, ada yang menjadi standar. Dan hampir selalu, Irna berada di sisi yang menyesuaikan.
Ia tidak menyalahkan siapa pun. Tidak sepenuhnya. Sebab tidak ada yang secara eksplisit memintanya mengecil. Tidak ada ultimatum. Tidak ada paksaan. Semua berlangsung halus, seperti arus yang membawa seseorang menjauh dari dirinya sendiri tanpa pernah terasa sebagai kekerasan.
Di situlah kekuasaan bekerja paling efektif—ketika ia tidak dikenali sebagai kuasa.
Irna mulai membaca ulang relasi-relasinya sebagai struktur, bukan sekadar perasaan. Ia melihat bagaimana cinta bisa membentuk hierarki: siapa yang lebih ditunggu, siapa yang lebih menentukan arah, siapa yang lebih sering menahan diri. Ia mulai memahami bahwa cinta tidak selalu setara, meski sering dibungkus dengan bahasa kehangatan.
Dalam diamnya, ia bertanya: Sejak kapan cinta menjadi ruang di mana satu pihak harus terus membuktikan kelayakannya untuk dicintai?
Di perpustakaan, pengamatannya terhadap pasangan-pasangan menjadi semakin tajam. Ia melihat seorang perempuan muda yang terus-menerus menoleh ke pasangannya sebelum berbicara, seolah membutuhkan izin untuk bersuara. Ia melihat seorang pria yang berbicara panjang lebar sementara pasangannya mengangguk, mengamini, menghilang sedikit demi sedikit di balik persetujuan.
Namun ia juga melihat hal lain: pasangan tua yang duduk berdampingan tanpa saling menguasai keheningan. Mereka tidak saling menunggu dengan cemas, tidak saling mengalah dengan terpaksa. Keberadaan mereka berdampingan, bukan saling menekan.
Irna merasa iri—bukan pada kebersamaan mereka, tetapi pada keutuhan yang tampak tenang itu.
Buku Sejati kembali mengganggunya. Ia membuka halaman acak dan menemukan kalimat yang membuat dadanya sesak:
Dalam cinta yang timpang, yang paling lelah bukan yang paling banyak mencinta,
melainkan yang paling sering meniadakan diri.
Irna menutup buku itu, merasa seolah baru saja ditelanjangi oleh kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani ucapkan. Ia teringat bagaimana dalam relasi-relasi sebelumnya, ia selalu bangga disebut “dewasa”. Padahal, kedewasaan itu sering kali berarti kesediaan untuk menanggung beban sendirian.
Ia mulai mempertanyakan konsep pengorbanan yang selama ini ia agungkan. Bukankah pengorbanan yang terus-menerus, tanpa timbal balik, bukan lagi cinta, melainkan penundukan yang disepakati diam-diam?
Dalam analisis batinnya, Irna menyadari bahwa cinta bukan hanya emosi, melainkan arena negosiasi identitas. Dalam relasi, seseorang bisa tumbuh, tetapi juga bisa menyusut. Dan sering kali, yang menyusut adalah mereka yang terlalu takut kehilangan.
Ia mengingat satu relasi yang paling membekas.
Seseorang yang sering berkata bahwa Irna adalah “rumah”. Dulu, kata itu membuatnya merasa istimewa. Kini, ia melihatnya dari sudut yang lebih gelap: rumah adalah tempat kembali, tetapi juga tempat di mana seseorang bisa meletakkan lelah tanpa bertanya apakah rumah itu sendiri baik-baik saja.
Irna adalah rumah bagi banyak orang. Tetapi siapa yang menjadi rumah baginya?
Pertanyaan itu menggema lama.
Ia menyadari pola yang sebelumnya luput dari perhatiannya: ia sering jatuh cinta pada orang-orang yang rapuh dengan cara tertentu. Orang-orang yang membutuhkan pengertian, kesabaran, ruang untuk disembuhkan. Dan dalam proses mencintai mereka, Irna menemukan peran—peran sebagai penopang, penjaga, penyelamat.
Peran itu memberinya makna. Memberinya rasa dibutuhkan.
Namun peran itu juga menahannya di tempat yang sama: selalu memberi, jarang menerima; selalu hadir, jarang diperhatikan. Ia jatuh cinta pada kebutuhan orang lain, bukan pada keberadaan mereka yang utuh.
Kesadaran itu datang seperti tamparan pelan—tidak keras, tetapi cukup untuk membuatnya terdiam lama.
Apakah aku mencintai, pikir Irna, atau sedang berusaha layak dicintai?
Pertanyaan itu mengandung kebenaran yang tidak nyaman. Sebab jika selama ini ia mencintai untuk merasa layak, maka cinta itu bukan ruang kebebasan, melainkan ujian yang tak pernah selesai. Ia harus terus membuktikan bahwa ia cukup sabar, cukup mengerti, cukup rendah hati untuk tetap dipilih.
Dan dalam ujian itu, tidak ada kelulusan. Hanya penundaan luka.
Irna mulai melihat bahwa banyak relasinya berakhir bukan karena kurang cinta, melainkan karena ketimpangan yang tak pernah dibicarakan. Ia terlalu sibuk menjaga hubungan tetap hidup, sampai lupa bertanya apakah hubungan itu membuatnya hidup.
Di babak ini, sesuatu dalam diri Irna berubah arah. Bukan menjadi marah, bukan menjadi sinis. Ia justru menjadi lebih sunyi—sunyi yang penuh kewaspadaan. Ia mulai memahami bahwa cinta yang sehat tidak menuntut penghapusan diri. Bahwa keintiman tidak seharusnya dibangun di atas ketakutan kehilangan.
Namun kesadaran itu juga membawa duka. Duka karena menyadari betapa sering ia rela mengecil demi diterima. Duka karena menyadari bahwa ia sendiri telah berulang kali menempatkan dirinya dalam posisi yang mudah dikuasai—bukan karena lemah, melainkan karena terlalu ingin dicintai.
Twist terbesar dalam batin Irna bukanlah pengakuan bahwa orang-orang tertentu telah melukainya. Melainkan pengakuan bahwa ia tertarik pada pola yang sama, berulang kali. Bahwa ia jatuh cinta bukan pada mereka yang melihatnya sebagai setara, melainkan pada mereka yang membutuhkan pengorbanannya.
Dan kini, dengan kesadaran yang mulai terbentuk itu, Irna berdiri di ambang perubahan yang tidak nyaman: jika ia berhenti mengecil, jika ia berhenti menjadi penopang, jika ia berhenti mencintai dari posisi kekurangan—apakah masih ada cinta yang akan datang padanya?
Pertanyaan itu tidak ia jawab.
Namun untuk pertama kalinya, Irna membiarkan pertanyaan itu tinggal—tanpa buru-buru menenangkannya dengan kehadiran orang lain.
Other Stories
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...