Cinta Dua Rasa

Reads
90
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Refleksi Yang Pecah

Beberapa hari kemudian, Saka harus pergi ke luar kota untuk survei lokasi. Aruna berencana menginap di rumah ibunya untuk menghindari Samudra, namun saat ia hendak mengemas tas, ia menemukan sesuatu di ruang kerja Saka yang pintunya sedikit terbuka.
Di atas meja, terdapat sebuah sketsa lama yang sudah menguning. Itu bukan sketsa bangunan. Itu adalah potret seorang wanita yang sangat mirip dengan Aruna, namun dengan tatapan yang jauh lebih sedih. Di sudut kertas itu tertulis satu nama: Elena.
\"Dia cantik, bukan? Dan dia alasan kenapa aku dikirim ke luar negeri sepuluh tahun lalu.\"
Aruna tersentak. Samudra sudah berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. Kali ini ia tidak memakai topeng kesopanan.
\"Saka tidak pernah memberitahumu tentang Elena?\" Samudra tertawa sinis. \"Saka selalu membangun rumah yang indah, Una. Tapi dia membangunnya di atas fondasi yang penuh bangkai. Dia tidak mencintaimu karena kau adalah Aruna. Dia mencintaimu karena kau adalah kesempatan keduanya untuk memperbaiki apa yang dia rusak pada Elena.\"
Dunia Aruna terasa berputar. \"Kau bohong,\" bisik Aruna.
Samudra melangkah mendekat, kali ini suaranya lembut, hampir terdengar tulus. \"Saka adalah arsitek yang hebat, dia tahu cara menyembunyikan retakan. Tapi aku? Aku adalah ombak, Una. Aku tidak menyembunyikan apa pun. Aku menghancurkan segalanya agar kau bisa melihat kenyataan.\"
Tepat saat itu, ponsel Aruna bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, berisi foto dokumen medis lama. Sebuah laporan psikiatri atas nama Saka, dengan catatan: Kecenderungan obsesif terhadap objek yang hilang.
Aruna menatap Samudra, lalu menatap foto di meja. Ia terjebak di antara dua pria yang memiliki wajah malaikat yang sama, namun ia tidak lagi tahu siapa di antara mereka yang sebenarnya memegang belati di balik punggung.
Laporan psikiatri itu jatuh dari tangan Aruna. Ia menatap Samudra, matanya mencari kebohongan, namun hanya menemukan kejujuran yang brutal. Selama ini, ia hidup dalam sebuah ilusi yang sempurna.
\"Kau... kau tahu semua ini?\" suara Aruna serak.
Samudra melangkah lebih dekat, menyingkirkan rambut Aruna yang menutupi wajahnya. Jari-jarinya menyapu pipi Aruna, mengirimkan gelombang panas yang aneh. \"Aku selalu tahu, Una. Aku dikirim pergi karena aku adalah cermin yang terlalu jujur bagi Saka. Aku melihat kerapuhan di balik kesempurnaannya.\"
Aruna mundur selangkah, namun Samudra sudah melingkarkan lengannya di pinggangnya, menariknya mendekat. \"Dia membuatmu nyaman, Aruna. Dia menjebakmu dalam kenyamanan. Tapi aku... aku bisa membuatmu merasa hidup.\"
Napas Samudra memburu di leher Aruna. Wangi tembakau dan maskulinnya yang kuat memabukkan indra Aruna, kontras dengan aroma cendana Saka yang menenangkan. Jantung Aruna berdebar kencang, antara ketakutan dan sesuatu yang asing, sesuatu yang berbahaya.
\"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan,\" bisik Aruna, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Samudra tersenyum miring, lalu menunduk, bibirnya menyentuh leher Aruna. Kecupan basah itu membakar kulitnya, mengirimkan getaran yang tak pernah ia rasakan bersama Saka. \"Kau ingin aku berhenti? Katakan padaku, Aruna.\"
Aruna menutup matanya, otaknya berteriak untuk mendorong Samudra menjauh, namun tubuhnya membeku, ditarik oleh daya tarik yang gelap dan memikat. Jemari Samudra mulai menjelajahi punggung Aruna, mengusap lembut kulitnya melalui kain blus. Sentuhannya adalah api yang membangunkan sesuatu yang terpendam dalam diri Aruna—hasrat yang tak berani ia akui.
\"Saka tidak akan pernah menyentuhmu seperti ini,\" bisik Samudra, suaranya dalam dan penuh janji. \"Dia terlalu takut untuk menghancurkan \'karya seninya\'.\"
Aruna terengah, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Samudra. Di tengah kebingungan dan kekecewaan atas Saka, sentuhan Samudra terasa seperti pelepasan, seperti gerbang menuju kebebasan yang berbahaya. Ia tahu ini salah, namun sensasi ini terlalu kuat untuk diabaikan.
Bab 6: Badai yang Menerjang
Aruna tidak tahu berapa lama mereka berdiri seperti itu, tenggelam dalam keheningan yang diisi oleh detak jantung yang membingungkan. Ketika Samudra akhirnya melepaskannya, ia melakukannya dengan tatapan yang mengatakan, \'Pilihan ada padamu.\'
Malam itu, Aruna tidak bisa tidur. Bayangan Elena, laporan psikiatri Saka, dan sentuhan membakar Samudra berputar-putar di benaknya. Ia merasa seperti seorang penipu, terperangkap di antara dua versi kebenaran yang kejam.
Keesokan paginya, telepon berdering. Itu Saka.
\"Aku akan pulang malam ini, Una,\" kata Saka, suaranya seperti biasa, menenangkan dan stabil. \"Ada sedikit masalah dengan proyek, tapi aku sudah menyelesaikannya.\"
\"Saka,\" panggil Aruna, suaranya bergetar. \"Ada yang harus kita bicarakan.\"
\"Nanti saja, sayang,\" potong Saka lembut. \"Aku sudah menyiapkan makan malam spesial untuk kita. Kita rayakan kepulanganku.\"
Namun, perayaan itu tidak pernah terjadi. Saat sore menjelang, langit menjadi gelap. Hujan badai tiba-tiba menerjang, jauh lebih dahsyat dari biasanya. Angin menderu, memecahkan jendela di ruang tamu, membuat pecahan kaca berhamburan. Listrik padam.
Aruna berteriak, melindungi wajahnya dengan tangan. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat di tengah kegelapan.
\"Una! Kau baik-baik saja?\"
Suara itu... suara itu adalah suara Saka. Namun, tubuh yang memeluknya erat, menuntunnya menjauh dari pecahan kaca, terasa lebih kokoh, lebih liar, dan aroma tubuhnya adalah aroma tembakau dan aspal—bukan cendana.
\"Samudra?\" bisik Aruna, meraba wajah pria itu dalam kegelapan.
\"Saka masih terjebak di jalan,\" jawab Samudra, suaranya nyaris tenggelam oleh raungan badai. \"Aku datang untuk melindungimu.\"
Di tengah kekacauan badai, Aruna tiba-tiba merasa Samudra adalah satu-satunya pelabuhan yang bisa diandalkan. Kehadirannya yang berbahaya kini terasa seperti satu-satunya perisai. Ia membiarkan Samudra menariknya ke pelukan, merasakan kekuatan dan kehangatan yang kontras dengan ancaman badai di luar. Sebuah pikiran menyeruak dalam benaknya: Apakah ia baru saja menemukan kebenaran di tengah kehancuran? Atau ia hanya melarikan diri dari satu ilusi ke ilusi lainnya yang lebih berbahaya?

Other Stories
Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Download Titik & Koma