Bu Guru Dan Mantan Murid

Reads
4
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
bu guru dan mantan murid
Bu Guru Dan Mantan Murid
Penulis Adrian Corvus

Bab 4 – Keheningan Yang Menjawab

Langit telah berubah menjadi ungu gelap ketika Salsa berdiri mematung di depan cermin lemari jati yang besar di kamarnya.

Dia mengenakan gamis sutra berwarna hijau zamrud yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Kain itu dingin dan licin saat bersentuhan dengan kulit, namun justru memanaskan darahnya.

Meski potongannya tidak ketat, sifat kain sutra yang fluid seolah gagal menyembunyikan—malah mempertegas—bentuk tubuhnya yang indah.

Dadanya yang penuh menciptakan lekukan yang jelas di bagian depan, sementara pinggul dan pantatnya yang besar memberikan siluet jam pasir yang tetap menonjol setiap kali ia bergerak sedikit saja.

Wanita 32 tahun itu mengusap permukaan kain di area perutnya, merasakan kehangatan kulitnya sendiri menembus lapisan sutra.

Ada denyut halus di sana, sebuah antisipasi yang membuatnya tanpa sadar tersenyum pada pantulan dirinya di cermin.

Dia memulas gincu berwarna merah bata, lalu merapikan khimar ungunya yang menutupi dada. Penampilannya santun, namun matanya yang berkilat menunjukkan sesuatu yang jauh dari kata tenang.

\"Mau berangkat sekarang?\" suara Joko terdengar dari arah pintu kamar.

Salsa tersentak kecil, namun segera mengatur napasnya.

\"Iya, Mas. Kasihan anak-anak kalau kelamaan menunggu. Reuni kecil dengan beberapa mantan murid, sekalian silaturahmi.\" Suara Salsa terdengar stabil, normal, hampir terlalu sempurna.

Kalimat itu sudah dia latih berkali-kali di depan cermin.

Salsa memandang Joko, memberikan senyum yang paling tulus yang bisa dia buat.

Joko hanya mengangguk, matanya masih terpaku pada layar ponsel di tangannya.

Dia tidak memperhatikan bagaimana istrinya bersinar malam ini. Tidak juga mencium aroma parfum mawar yang sengaja Salsa semprotkan lebih banyak di titik-titik nadinya. \"Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam.\"

\"Iya, Mas. Assalamualaikum.\"

***

Mulut Anton terbuka tanpa sadar saat pertama kali melihat Salsa malam itu.

Dalam busana yang ia kenakan, Salsa tampak jauh lebih muda—seperti wanita single di awal dua puluhan, bukan seorang ibu beranak satu.

“Warna khimar sama lipstiknya cocok banget, Bu Salsa,” ucap Anton, nyaris refleks.

Salsa menunduk. Senyum kecil tertahan di sudut bibirnya. Jari-jarinya meremas ujung gamis, seolah pujian itu menyentuh sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.

Beberapa saat kemudian, mereka makan malam di tempat yang terang dan ramai.

Salsa hampir tidak menyentuh makanannya.

Anton memperhatikan—bukan dengan tatapan lapar, melainkan dengan kesabaran yang tenang.

Tatapan yang sentah kenapa membuat Salsa gelisah, seakan ia sedang dilihat tanpa dihakimi.

***

Salsa duduk di kursi penumpang SUV hitam milik Anton.

Kabin mobil dipenuhi aroma kulit jok yang mahal dan parfum maskulin yang tajam. AC disetel terlalu rendah; bulu kuduk Salsa berdiri.

Anton memarkir mobil di barisan paling belakang area drive-in cinema.

Layar raksasa di depan mereka mulai menampilkan adegan pembuka yang mencekam. Dentuman suara dari speaker mengisi kabin yang sempit.

Dalam kegelapan kabin yang hanya diterangi kilatan cahaya dari layar proyektor, bahu pria 25 tahun itu tampak luar biasa lebar.

\"Dingin?\" suara Anton berat, beresonansi dengan dentuman bas dari sound system mobil yang bergetar hingga ke tulang rusuk Salsa.

Salsa diam sebentar, lalu mengangguk.

Anton mengecilkan AC.

\"Kapan ya saya punya istri kayak Bu Salsa?\" gumam Anton tiba-tiba, matanya menatap lurus ke layar, seolah bicara pada film.

Salsa menoleh cepat, terkejut.

Anton menoleh perlahan, menatap tepat ke manik mata Salsa dalam keremangan. “Bu Salsa itu idaman.”

“Idaman apanya?” tanya Salsa.

\"Gaya berpakaiannya anggun. Berkelas. Nggak neko-neko, tapi ... bikin orang nggak bisa berhenti lihat.\"

Pujian itu menusuk tepat ke ulu hati Salsa—ia menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresi bahagianya.

Pujian itu menusuk tepat ke ulu hati Salsa, meruntuhkan pertahanan terakhirnya. Salsa menunduk dalam, berusaha menyembunyikan ekspresi bahagianya yang berlebihan.

Anton tahu persis cara menyentuh kebutuhan emosional seorang wanita—hal yang tak pernah lagi Salsa dapatkan dari Joko.

Joko tidak pernah memuji detail kecil. Joko hanya melihat fungsi: ibu dari anak-anaknya, pengurus rumahnya. Anton melihat Salsa.

Joko tidak pernah bicara seperti itu—tidak pernah memuji detail-detail kecil pada diri Salsa. Yang Joko lihat hanya fungsi: ibu dari anak-anaknya, pengurus rumahnya, dan guru SMA. Anton melihat Salsa.

BLAM!

Suara di layar menggelegar. Sosok hantu bermuka hancur muncul mendadak di layar.

\"Ah!\" Salsa memekik tertahan. Tubuhnya refleks melonjak ke samping dan memeluk lengan Anton yang kokoh, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu.

Itu adalah momen yang ditunggu Anton.

Dia tidak melepaskan Salsa. Sebaliknya, dia justru melingkarkan lengan kirinya yang kekar ke bahu Salsa, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga menempel penuh ke sisi tubuhnya.

Salsa bisa merasakan otot dada Anton yang keras di balik kemejanya, dan detak jantung pria itu yang stabil—sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar seperti drum yang dipukul gila-gilaan.

\"Nggak apa-apa, Bu. Saya di sini. Cuma film,\" bisik Anton. Bibirnya begitu dekat, napas hangatnya menyapu daun telinga Salsa di balik kain kerudung.

Napas Salsa tersengal. Dadanya yang naik-turun tertekan ke lengan Anton. Otaknya berteriak: Lepaskan. Mundur. Ini salah.

Tapi tubuhnya yang lapar akan sentuhan—yang semalam kembali tidak ia dapatkan dari Joko—membuatnya tetap diam, membeku dalam pelukan itu. Kehangatan tubuh Anton melarutkan rasa dingin AC yang menusuk tulang.

Anton tidak langsung bergerak lebih jauh.

Dia diam beberapa saat—cukup lama hingga keheningan itu terasa ganjil dan bermuatan listrik. Tangannya masih melingkar kokoh di bahu Salsa, tapi genggamannya sedikit mengendur, seolah memberi ruang bagi Salsa untuk mundur jika ia mau.

Salsa menyadarinya. Dia punya pilihan. Dia bisa menegakkan tubuh sekarang, tertawa canggung, dan kembali ke sisi kursinya.

Tapi, Salsa tidak bergerak. Dia tetap menyandarkan kepalanya di bahu mantan muridnya itu.

Anton menangkap sinyal itu. Dia menunduk sedikit, tatapannya singgah di wajah Salsa yang setengah tersembunyi di lehernya. Ia menunggu—tidak memaksa, membiarkan Salsa bergulat dengan pikirannya sendiri.

\"Kalau Ibu keberatan,\" katanya pelan, suaranya serak dan dalam, hampir tenggelam oleh suara teriakan dari film, \"bilang aja. Saya lepas.\"

Salsa tetap diam. Bibirnya terkatup rapat. Napasnya saja yang berubah—lebih pendek, lebih dangkal, lebih berat.

Keheningan itu adalah jawabannya.

Anton mengerti. Perlahan, dengan kelembutan yang mematikan, ia mencium puncak kepala Salsa yang tertutup kain. Ciuman yang lama, dalam, dan penuh kepemilikan.

Salsa memejamkan mata, membiarkan sensasi itu merasuki kepalanya.

Tangan Anton yang melingkar di bahu perlahan turun. Jemarinya yang besar dan panas merayap turun menyusuri lengan Salsa, lalu berpindah ke atas kain gamis sutra di pinggang, mengikuti lekukan tubuh Salsa yang ramping sebelum berhenti di paha Salsa.

Salsa menahan napas. Dia bisa merasakan panas tangan Anton membakar kulit pahanya meski terhalang lapisan kain dan pakaian dalam. Tangan itu diam di sana sejenak, berat dan menuntut, lalu mulai bergerak.

\"Ibu gemetar,\" gumam Anton, bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

Tangannya mulai bergerak lebih berani, mengusap permukaan paha Salsa dengan gerakan melingkar yang lambat, menekan sedikit demi sedikit, mendekat ke area terlarang. \"Karena takut sama filmnya ... atau karena saya?\"

Salsa tidak langsung menjawab—sensasi itu terlalu luar biasa bagi Salsa.

Setelah sekian lama disentuh Joko dengan terburu-buru, sentuhan Anton yang pelan, penuh intensi, dan mengintimidasi ini membuat lutut Salsa lemas.

Salsa menggigit bibir, merasakan cairan hangat membasahi kewanitaannya—karena antisipasi yang menyiksa.

Ia menenggelamkan wajahnya di leher Anton semakin dalam, menghirup aroma maskulin pria itu dalam-dalam untuk mengusir rasa bersalahnya.

Desahan kecil, nyaris tak terdengar, lolos dari bibirnya saat jari-jari Anton menekan lebih dalam di paha bagian dalam, mendekati pusat gairahnya.

\"Anton ... jangan ...,\" bisik Salsa lemah. Pada saat yang sama, kakinya justru terbuka sedikit lebih lebar, memberikan akses yang lebih dalam bagi tangan pria itu untuk menjajah. Sebuah protes yang tidak meyakinkan.


Other Stories
Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Download Titik & Koma