Bab 39 - Ruang Diskusi
“Siap! Maafkan kelancangan kami!”
Suara Olhuioruik menggelegar, memantul di lorong megah gedung pusat pemerintahan distrik Nor. Gaungnya berlapis, seolah dinding berlapis karang dan logam itu ikut mengamini. Sesaat kemudian, koor serempak dari pasukannya menyusul, rapi dan nyaris tanpa jeda.
Di dunia Porkah, ketaatan bukanlah pilihan. Ia adalah algoritma sosial yang tertanam sejak lahir, mengalir di antara nadi dan pikiran. Olhuioruik menerimanya tanpa perlawanan, dadanya naik turun perlahan. Perintah Atuyju masih berada di dalam koridor hukum, dan itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada ruang bagi keberatan, tidak ada celah bagi ego.
Di tempat ini, setiap penyimpangan tugas yang merugikan orang lain berujung pada hukuman paling mengerikan, Pelepasan Jiwa. Sebuah akhir yang membuat banyak orang memilih patuh bahkan sebelum berpikir untuk membangkang. Tidak peduli apakah oran tersebut hanyalah seorang pembersih saluran energi atau penguasa tertinggi distrik, hukum berdiri di atas segalanya. Ia mutlak, dingin, dan buta, seperti laut dalam yang tenang di permukaan namun tak memberi ampun pada siapa pun yang berani melawan arusnya.
Itulah sebabnya Rumsun, Wakil Ketua Distrik Nor, tak pernah memilih belati dalam gelap untuk menyingkirkan Thungsiruv. Ambisinya memang membara, menggerogoti pikirannya tiap detik, namun ia cukup cerdas untuk tahu bahwa cara licik hanya akan menyeretnya ke meja peradilan. Selama bertahun-tahun, Rumsun memilih menjadi bayangan yang sabar. Ia mengumpulkan serpihan kesalahan, menelusuri setiap keputusan Thungsiruv, menunggu satu noda yang cukup besar untuk meretakkan reputasi sang Ketua. Sayangnya, Thungsiruv terlalu bersih. Terlalu rapi. Ia seperti dinding kristal yang memantulkan setiap tuduhan, dan itu membuat frustrasi Rumsun merayap hingga ke tulang.
Lalu Cakra muncul. Hadiah yang terasa jatuh langsung dari langit.
Kabar tentang manusia darat berkekuatan monster segera menjelma menjadi kartu emas. Rumsun bergerak cepat, mengambil alih komando dengan dalih stabilitas keamanan distrik. Sementara Thungsiruv tenggelam dalam urusan logistik rakyat dan diplomasi dengan kerajaan, Rumsun menempatkan dirinya di garis depan. Ia membangun citra sebagai perisai Distrik Nor. Di setiap rapat, di setiap laporan, ia menekankan satu hal bahwa Cakra adalah ancaman eksistensial, dan hanya dirinya yang cukup tegas untuk menghadapinya. Dalam kepalanya, bidak-bidak politik sudah tersusun rapi, menunggu satu langkah terakhir.
Ia tak menyia-nyiakan waktu. Seluruh elemen militer Distrik Nor dikumpulkan. Pasukan Keamanan Distrik, Pasukan Pertahanan Nasional, hingga Pasukan Keamanan Gedung Pemerintahan, semuanya diarahkan ke satu titik.
Balai Pertemuan Utama menjulang sebagai mahakarya arsitektur bawah laut. Luasnya setara lapangan sepak bola piala dunia, dengan dinding transparan yang membuka pandangan ke arus laut biru tua yang mengalir tenang di luar sana. Pilar-pilar energi menopang langit-langit setinggi seratus empat puluh meter, menciptakan ilusi seolah mereka berdiri di aula raksasa di daratan, bukan di dasar samudra.
Di tengah balai, panggung utama berbentuk lingkaran sempurna bergerak perlahan ke depan saat Rumsun sedikit memiringkan kepalanya. Dalam hitungan detik, panggung itu memanjang dan berubah menjadi setengah lingkaran, lalu menyatu dengan dinding transparan di belakangnya. Cahaya memudar, dan permukaan transparan berubah menjadi baja kokoh berlapis elemen dekoratif yang anggun. Simbol-simbol kuno, ukiran sejarah bangsa Porkah, serta siluet para raja terdahulu muncul silih berganti. Ornamen itu terus bergerak dan berubah, seolah dinding tersebut menolak untuk membeku pada satu kisah. Sedangkan tiga sisi lainnya, masih transparan, menyuguhkan segala macam pesona yang dimiliki Distrik Nor.
Rumsun melayang ke sayap kiri panggung dan berdiri tegak. Posturnya kaku, namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Tak lama kemudian, empat sosok berbaris di belakangnya. Oprang, Komandan Kantor Keamanan Manusia Darat, bersama tiga anggotanya, para pengawal yang membawa Cakra ke Distrik Nor. Setelah itu, gelombang pasukan militer mengisi balai. Pertahanan nasional, keamanan distrik, hingga unit keamanan manusia darat berkumpul, jumlah mereka hampir mencapai sepuluh ribu prajurit.
Mereka berdiri berbaris rapi menghadap Rumsun dalam dua puluh lima tumpukan. Meski demikian, ruang luas masih tersisa di atas kepala barisan teratas, menegaskan betapa masifnya balai itu menelan sepuluh ribu pasukan tanpa terasa sesak.
“Saya mengumpulkan kalian agar kalian merasakan tayangan ini sendiri secara langsung,” seru Rumsun ketika barisan telah terisi sempurna.
Cahaya pun meledak dari tubuhnya. Ribuan butiran kebiruan seukuran kutu kucing memancar serempak, melesat tajam menuju kening setiap prajurit. Dalam sekejap, hujan cahaya itu menghantam mereka tanpa suara, tanpa celah untuk menghindar.
Sesaat kemudian, tubuh para pasukan membeku di tempat. Namun kesadaran mereka justru meluncur jatuh ke dalam casvet internal masing-masing. Di sana, di ruang virtual itu, rangkaian rekaman diputar tanpa jeda, bukan sekadar untuk ditonton, melainkan untuk dialami.
Mereka tidak lagi berdiri sebagai penonton. Mereka menjadi Cakra.
Mereka merasakan dinginnya arus Parangtritis saat tubuh itu pertama kali ditemukan hanyut. Napas yang tersengal kembali merebut hidup dari ambang kematian. Lalu segalanya berubah dengan cepat. Kini mereka tidak lagi menjadi Cakra. Mereka adalah pasukan yang berusaha menghadangnya.
Mereka merasakan sendiri dahsyatnya setiap pukulan. Takjub pada akar gerakannya yang presisi, nyaris sempurna. Serangan datang tanpa suara, tanpa ragu. Satu per satu, pasukan keamanan gedung tumbang, bahkan sebelum sempat memahami apa yang terjadi. Adegan kembali bergeser. Mereka menjadi Mynhemeni, merasakan ketegangan yang menjerat dada saat tubuhnya disandera dan diculik oleh anak itu. Ketakutan mengaburkan nalar. Detik-detik terasa terlalu panjang.
Lalu segalanya terputus.
Ruang virtual casvet kembali kosong dalam sekejap, tak lagi menampilkan apa pun, tepat setelah Cakra lenyap dari jangkauan seluruh sistem radar mereka.
Reaksi muncul berlapis-lapis. Ada yang menahan napas. Ada yang mengepalkan tangan, merasakan ulang ketakutan yang belum sempat mereka alami secara langsung. Bisikan samar menyusup di antara barisan, bercampur dengan dengung energi aula yang terasa seperti tanah bergetar pelan di bawah kaki, meski mereka berada jauh di bawah laut.
Keributan itu baru benar-benar pecah saat pintu utama aula terbuka. Atuyju, Komandan Pasukan Pertahanan Nasional, melangkah masuk lebih dulu. Disusul Huplok, Komandan Pasukan Keamanan Distrik, lalu Bzarrmu, Komandan Pasukan Keamanan Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor. Di belakang mereka, arus petugas keamanan gedung pusat pemerintahan Distrik Nor mengalir masuk, memenuhi ruang dengan tekanan yang tak kasatmata.
“Nah, itu mereka datang,” ucap Rumsun. Senyumnya terukir rapi, dingin, dan berhenti tepat sebelum menyentuh matanya.
Pasukan yang baru tiba disambut oleh beragam tatapan. Kekaguman yang bercampur ngeri. Keraguan yang belum sempat diucapkan. Iri hati dari mereka yang merasa tertinggal, serta pandangan meremehkan dari unit tempur yang belum pernah merasakan sendiri kepalan tangan Cakra. Bagi mereka, rekaman itu tak lebih dari simulasi yang dibesar-besarkan.
Rumsun mengangkat tangan.
“Kalian semua,” katanya tenang. “Naik ke sini dan berdiri di belakang saya.”
Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. Namun perintah itu mengalir melalui sistem audio saraf, masuk langsung ke telinga setiap orang, menghantam kesadaran mereka dengan bobot yang tak bisa diabaikan. Secara serempak, mereka melayang menuju panggung dan mengambil posisi rapi di belakang Rumsun. Ia sendiri telah berdiri tegak di depan podium, menanti dengan sikap yang tenang namun penuh wibawa.
Mereka berdiri berbaris sesuai pangkat. Lomuy dan Georu menempati barisan paling belakang di tumpukan paling atas. Plitannya langsung menyatu dengan panggung utama balai. Wajar saja mereka harus berada di sana, karena pangkat mereka yang terendah, tingkat lima. Keduanya baru saja memasuki kehidupan nyata sebagai bangsa Porkah. Seluruh rangkaian pendidikan selama tiga puluh tahun akhirnya mereka tuntaskan.
Seperti warga Porkah lainnya, Georu diberi kebebasan memilih jalur profesi sesuai minat dan kemampuannya, bahkan bila itu berarti berpindah distrik. Pilihannya jatuh pada Hokuiol, distrik pertahanan nasional. Di sanalah seluruh pasukan keamanan ditempa, mulai dari pertahanan nasional, keamanan distrik, hingga penjaga gedung pemerintahan.
Kerajaan Porkah memiliki sembilan distrik dan satu ibu kota. Nalpora menjadi pusat pemerintahan, kediaman raja, sekaligus jantung administrasi dan pembangunan. Distrik Nor mengatur teknologi pangan dan material biologis. Distrik Lguih menjadi rumah bagi teknologi dasar dan riset kebutuhan primer. Distrik Anap mengelola hubungan antar spesies dan menyimpan data seluruh makhluk di galaksi mereka. Distrik Belnu menjamin kesehatan warganya melalui teknologi medis dan penunjang hidup. Distrik Kuton mengendalikan transportasi dan distribusi, tempat lahirnya sistem kendaraan dan gerbang antar distrik. Distrik Chulok menjadi pusat hiburan, seni, budaya, serta dunia virtual yang terhubung dengan Sanvar. Distrik Palbarek menyuplai energi dan sumber daya mineral, termasuk rekayasa unsur dan elemen. Sementara Distrik Janrugkou berdiri sebagai distrik pendidikan dan formasi bangsa. Siapa pun yang memilih menjadi pengajar atau pembimbing akan menghabiskan hidupnya di sana.
Seluruh warga Porkah menghabiskan usia lima hingga dua puluh enam tahun di Janrugkou. Dua puluh satu tahun pendidikan utama membentuk fondasi yang tak kasatmata. Disiplin kolektif, pemahaman teknologi, sejarah kehancuran planet mereka, serta kebiasaan menimbang konsekuensi sebelum bertindak ditanamkan sejak awal. Pada fase ini, Sanvar hadir secara pasif. Ia mengamati, mencatat, dan membiarkan pemiliknya tumbuh tanpa campur tangan penuh.
Setelah itu, pendidikan kurikulum profesi pun dimulai. Tidak semua warga menempuh sembilan tahun penuh. Ada yang sejak awal menemukan kecocokan dan memilih bertahan hingga akhir. Ada pula yang menunjukkan bakat luar biasa bahkan sebelum sistem kurikulum profesi berjalan, sehingga diizinkan langsung mengabdi pada sektor tertentu.
Mynhemeni adalah salah satunya. Ia langsung bekerja sebagai analis tingkat lima di Divisi Analis Distrik Nor, memangkas seluruh sembilan tahun pendidikan kurikulum profesi. Keputusan itu terbukti tepat. Setelah dua puluh dua tahun pengabdian, ia melesat hingga menduduki posisi Komandan Divisi Analis. Atuyju menapaki jalur yang serupa, melampaui tahapan pendidikan yang seharusnya ia jalani.
Namun bagi sebagian besar warga, usia tiga puluh lima tetap menjadi garis sunyi. Di sanalah pendidikan berakhir dan kehidupan kerja dimulai.
Bukan sebagai pemula yang rapuh, melainkan sebagai individu yang telah mengenal ragu, pernah salah memilih, dan berani berbalik arah. Bagi bangsa Porkah, kesiapan bekerja tidak diukur dari seberapa banyak kemampuan yang dimiliki, melainkan dari kesadaran akan kesalahan yang tak ingin diulang.
Georu termasuk di dalamnya. Keputusannya bulat untuk mengabdikan diri sebagai pasukan keamanan gedung pusat pemerintahan Distrik Nor, tempat ayahnya bertugas. Memasuki bulan kedua sebagai petugas keamanan tingkat lima, beban tugas terasa lebih berat dari yang ia bayangkan. Kini ia berdiri di barisan paling belakang bersama rekan-rekannya, menahan gelisah yang merayap perlahan. Lomuy berdiri di sampingnya, dan tepat ketika Georu mulai mengatur napas, nama rekannya itu dipanggil oleh Rumsun.
“Lomuy,” panggil Rumsun, suaranya tenang namun menusuk. Tatapannya mengunci keponakan jauhnya itu.
“Apa kamu tahu soal misi rahasia ini?”
Lomuy menarik bibirnya kaku. Tekanan aula terasa seperti tanah berat yang menekan telapak kakinya, meski air laut biru tua mengalir tenang di balik dinding transparan. “Ada manusia darat yang dibawa Letnan Rihum ke Distrik Nor,” jawabnya akhirnya.
“Dia ditahan di kantor ini karena bisa hidup di dalam air dan kekuatannya… tidak wajar. Ketua meminta kami menangkapnya diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun.”
Rumsun menyipitkan mata. “Termasuk saya?”
“Iya, Wakil Ketua.” Suara Lomuy mengecil, seolah takut gema ucapannya sendiri akan mengkhianatinya.
Hening sesaat. Dengung energi aula terdengar jelas. Rumsun tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip keputusan daripada keramahan.
“Tapi sekarang saya sudah tahu... Ketua sudah menjelaskan semuanya. Dan mulai saat ini, saya yang mengambil alih kasus ini.” kata Rumsun, ia melangkah setengah langkah ke depan. Pandangannya berkeliling, menyapu pasukan yang berdiri tegak di hadapannya. Cahaya biru laut yang menembus dinding transparan memantul di wajah-wajah tegang itu.
Kemudian ia kembali bersuara, “Dengarkan baik-baik, Semua hal tentang anak manusia darat itu dilaporkan langsung ke saya.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya meresap. “Ada pertanyaan?”
Keheningan retak.
“Apakah tim analis sudah mengetahui makhluk seperti apa dia, Wakil Ketua?” suara itu muncul dari barisan bawah panggung memecah dengung aula.
Rasa penasaran menyebar cepat, seperti arus dingin yang merambat di dasar laut. Bisik-bisik langsung bergulir. Sejak casvet mereka memutar ulang seluruh rekaman ingatan Cakra, kepala para pasukan dipenuhi pertanyaan. Mereka melihat potongan hidup anak itu, dari hari-harinya di Jakarta, hingga tubuhnya yang hanyut dan akhirnya ditemukan oleh Letnan Rihum lalu dibawa ke Distrik Nor. Setelah itu, ingatannya seperti terputus paksa. Alpam gagal menembus lapisan berikutnya. Sebuah kegagalan yang tak pernah tercatat sebelumnya.
Seharusnya, saat Alpam bekerja, seluruh riwayat sebuah makhluk akan terkuak, dari tarikan napas pertama hingga ingatan terakhir sebelum Alpam mengambil akses. Namun pada Cakra, ingatan itu seperti dinding padat yang menolak disentuh. Tidak retak. Tidak bergeser. Kegagalan yang belum pernah tercatat dalam arsip mana pun. Dan justru itulah yang membuat ketakutan mereka tumbuh. Jika ia bukan sekadar manusia darat, lalu apa sebenarnya yang berdiri di hadapan mereka?
Rumsun tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, melainkan isyarat kendali.
“Untuk pertanyaan itu, saya serahkan kepada tim yang bertugas.” katanya akhirnya.
Ia menggeser tubuh sedikit, memberi ruang di belakangnya.
“Di belakang saya, ada Tim Keamanan Manusia Darat, Tim Divisi Analis, dan pasukan yang berhadapan langsung dengannya.” Suaranya kembali tenang, nyaris dingin.
“Silakan bertanya pada mereka.”
“Jadi, apakah tim analis sudah mengetahui makhluk seperti apa dia?” pertanyaan itu kembali terdengar dari sumber suara yang sama.
“Belum,” jawab Idurzbi, Wakil Komandan Divisi Analis Distrik Nor, suaranya mantap meski sorot matanya waspada. Ia melangkah sedikit ke depan setelah Rumsun menyerahkan kendali penjelasan kepadanya.
“Karena itu kita butuh anak itu hidup-hidup. Kita harus memastikan siapa dia. Dan yang lebih penting, apakah dia ancaman atau tidak.” Bisik-bisik kembali terdengar. Seorang pasukan lain mengangkat suara. “Lalu kenapa Letnan Rihum membawanya ke sini? Bukankah lebih aman kalau dia dibiarkan saja?”
Pertanyaan itu menggantung di udara aula, seolah ikut melayang bersama arus laut di balik dinding transparan.
Suara Olhuioruik menggelegar, memantul di lorong megah gedung pusat pemerintahan distrik Nor. Gaungnya berlapis, seolah dinding berlapis karang dan logam itu ikut mengamini. Sesaat kemudian, koor serempak dari pasukannya menyusul, rapi dan nyaris tanpa jeda.
Di dunia Porkah, ketaatan bukanlah pilihan. Ia adalah algoritma sosial yang tertanam sejak lahir, mengalir di antara nadi dan pikiran. Olhuioruik menerimanya tanpa perlawanan, dadanya naik turun perlahan. Perintah Atuyju masih berada di dalam koridor hukum, dan itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada ruang bagi keberatan, tidak ada celah bagi ego.
Di tempat ini, setiap penyimpangan tugas yang merugikan orang lain berujung pada hukuman paling mengerikan, Pelepasan Jiwa. Sebuah akhir yang membuat banyak orang memilih patuh bahkan sebelum berpikir untuk membangkang. Tidak peduli apakah oran tersebut hanyalah seorang pembersih saluran energi atau penguasa tertinggi distrik, hukum berdiri di atas segalanya. Ia mutlak, dingin, dan buta, seperti laut dalam yang tenang di permukaan namun tak memberi ampun pada siapa pun yang berani melawan arusnya.
Itulah sebabnya Rumsun, Wakil Ketua Distrik Nor, tak pernah memilih belati dalam gelap untuk menyingkirkan Thungsiruv. Ambisinya memang membara, menggerogoti pikirannya tiap detik, namun ia cukup cerdas untuk tahu bahwa cara licik hanya akan menyeretnya ke meja peradilan. Selama bertahun-tahun, Rumsun memilih menjadi bayangan yang sabar. Ia mengumpulkan serpihan kesalahan, menelusuri setiap keputusan Thungsiruv, menunggu satu noda yang cukup besar untuk meretakkan reputasi sang Ketua. Sayangnya, Thungsiruv terlalu bersih. Terlalu rapi. Ia seperti dinding kristal yang memantulkan setiap tuduhan, dan itu membuat frustrasi Rumsun merayap hingga ke tulang.
Lalu Cakra muncul. Hadiah yang terasa jatuh langsung dari langit.
Kabar tentang manusia darat berkekuatan monster segera menjelma menjadi kartu emas. Rumsun bergerak cepat, mengambil alih komando dengan dalih stabilitas keamanan distrik. Sementara Thungsiruv tenggelam dalam urusan logistik rakyat dan diplomasi dengan kerajaan, Rumsun menempatkan dirinya di garis depan. Ia membangun citra sebagai perisai Distrik Nor. Di setiap rapat, di setiap laporan, ia menekankan satu hal bahwa Cakra adalah ancaman eksistensial, dan hanya dirinya yang cukup tegas untuk menghadapinya. Dalam kepalanya, bidak-bidak politik sudah tersusun rapi, menunggu satu langkah terakhir.
Ia tak menyia-nyiakan waktu. Seluruh elemen militer Distrik Nor dikumpulkan. Pasukan Keamanan Distrik, Pasukan Pertahanan Nasional, hingga Pasukan Keamanan Gedung Pemerintahan, semuanya diarahkan ke satu titik.
Balai Pertemuan Utama menjulang sebagai mahakarya arsitektur bawah laut. Luasnya setara lapangan sepak bola piala dunia, dengan dinding transparan yang membuka pandangan ke arus laut biru tua yang mengalir tenang di luar sana. Pilar-pilar energi menopang langit-langit setinggi seratus empat puluh meter, menciptakan ilusi seolah mereka berdiri di aula raksasa di daratan, bukan di dasar samudra.
Di tengah balai, panggung utama berbentuk lingkaran sempurna bergerak perlahan ke depan saat Rumsun sedikit memiringkan kepalanya. Dalam hitungan detik, panggung itu memanjang dan berubah menjadi setengah lingkaran, lalu menyatu dengan dinding transparan di belakangnya. Cahaya memudar, dan permukaan transparan berubah menjadi baja kokoh berlapis elemen dekoratif yang anggun. Simbol-simbol kuno, ukiran sejarah bangsa Porkah, serta siluet para raja terdahulu muncul silih berganti. Ornamen itu terus bergerak dan berubah, seolah dinding tersebut menolak untuk membeku pada satu kisah. Sedangkan tiga sisi lainnya, masih transparan, menyuguhkan segala macam pesona yang dimiliki Distrik Nor.
Rumsun melayang ke sayap kiri panggung dan berdiri tegak. Posturnya kaku, namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Tak lama kemudian, empat sosok berbaris di belakangnya. Oprang, Komandan Kantor Keamanan Manusia Darat, bersama tiga anggotanya, para pengawal yang membawa Cakra ke Distrik Nor. Setelah itu, gelombang pasukan militer mengisi balai. Pertahanan nasional, keamanan distrik, hingga unit keamanan manusia darat berkumpul, jumlah mereka hampir mencapai sepuluh ribu prajurit.
Mereka berdiri berbaris rapi menghadap Rumsun dalam dua puluh lima tumpukan. Meski demikian, ruang luas masih tersisa di atas kepala barisan teratas, menegaskan betapa masifnya balai itu menelan sepuluh ribu pasukan tanpa terasa sesak.
“Saya mengumpulkan kalian agar kalian merasakan tayangan ini sendiri secara langsung,” seru Rumsun ketika barisan telah terisi sempurna.
Cahaya pun meledak dari tubuhnya. Ribuan butiran kebiruan seukuran kutu kucing memancar serempak, melesat tajam menuju kening setiap prajurit. Dalam sekejap, hujan cahaya itu menghantam mereka tanpa suara, tanpa celah untuk menghindar.
Sesaat kemudian, tubuh para pasukan membeku di tempat. Namun kesadaran mereka justru meluncur jatuh ke dalam casvet internal masing-masing. Di sana, di ruang virtual itu, rangkaian rekaman diputar tanpa jeda, bukan sekadar untuk ditonton, melainkan untuk dialami.
Mereka tidak lagi berdiri sebagai penonton. Mereka menjadi Cakra.
Mereka merasakan dinginnya arus Parangtritis saat tubuh itu pertama kali ditemukan hanyut. Napas yang tersengal kembali merebut hidup dari ambang kematian. Lalu segalanya berubah dengan cepat. Kini mereka tidak lagi menjadi Cakra. Mereka adalah pasukan yang berusaha menghadangnya.
Mereka merasakan sendiri dahsyatnya setiap pukulan. Takjub pada akar gerakannya yang presisi, nyaris sempurna. Serangan datang tanpa suara, tanpa ragu. Satu per satu, pasukan keamanan gedung tumbang, bahkan sebelum sempat memahami apa yang terjadi. Adegan kembali bergeser. Mereka menjadi Mynhemeni, merasakan ketegangan yang menjerat dada saat tubuhnya disandera dan diculik oleh anak itu. Ketakutan mengaburkan nalar. Detik-detik terasa terlalu panjang.
Lalu segalanya terputus.
Ruang virtual casvet kembali kosong dalam sekejap, tak lagi menampilkan apa pun, tepat setelah Cakra lenyap dari jangkauan seluruh sistem radar mereka.
Reaksi muncul berlapis-lapis. Ada yang menahan napas. Ada yang mengepalkan tangan, merasakan ulang ketakutan yang belum sempat mereka alami secara langsung. Bisikan samar menyusup di antara barisan, bercampur dengan dengung energi aula yang terasa seperti tanah bergetar pelan di bawah kaki, meski mereka berada jauh di bawah laut.
Keributan itu baru benar-benar pecah saat pintu utama aula terbuka. Atuyju, Komandan Pasukan Pertahanan Nasional, melangkah masuk lebih dulu. Disusul Huplok, Komandan Pasukan Keamanan Distrik, lalu Bzarrmu, Komandan Pasukan Keamanan Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor. Di belakang mereka, arus petugas keamanan gedung pusat pemerintahan Distrik Nor mengalir masuk, memenuhi ruang dengan tekanan yang tak kasatmata.
“Nah, itu mereka datang,” ucap Rumsun. Senyumnya terukir rapi, dingin, dan berhenti tepat sebelum menyentuh matanya.
Pasukan yang baru tiba disambut oleh beragam tatapan. Kekaguman yang bercampur ngeri. Keraguan yang belum sempat diucapkan. Iri hati dari mereka yang merasa tertinggal, serta pandangan meremehkan dari unit tempur yang belum pernah merasakan sendiri kepalan tangan Cakra. Bagi mereka, rekaman itu tak lebih dari simulasi yang dibesar-besarkan.
Rumsun mengangkat tangan.
“Kalian semua,” katanya tenang. “Naik ke sini dan berdiri di belakang saya.”
Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. Namun perintah itu mengalir melalui sistem audio saraf, masuk langsung ke telinga setiap orang, menghantam kesadaran mereka dengan bobot yang tak bisa diabaikan. Secara serempak, mereka melayang menuju panggung dan mengambil posisi rapi di belakang Rumsun. Ia sendiri telah berdiri tegak di depan podium, menanti dengan sikap yang tenang namun penuh wibawa.
Mereka berdiri berbaris sesuai pangkat. Lomuy dan Georu menempati barisan paling belakang di tumpukan paling atas. Plitannya langsung menyatu dengan panggung utama balai. Wajar saja mereka harus berada di sana, karena pangkat mereka yang terendah, tingkat lima. Keduanya baru saja memasuki kehidupan nyata sebagai bangsa Porkah. Seluruh rangkaian pendidikan selama tiga puluh tahun akhirnya mereka tuntaskan.
Seperti warga Porkah lainnya, Georu diberi kebebasan memilih jalur profesi sesuai minat dan kemampuannya, bahkan bila itu berarti berpindah distrik. Pilihannya jatuh pada Hokuiol, distrik pertahanan nasional. Di sanalah seluruh pasukan keamanan ditempa, mulai dari pertahanan nasional, keamanan distrik, hingga penjaga gedung pemerintahan.
Kerajaan Porkah memiliki sembilan distrik dan satu ibu kota. Nalpora menjadi pusat pemerintahan, kediaman raja, sekaligus jantung administrasi dan pembangunan. Distrik Nor mengatur teknologi pangan dan material biologis. Distrik Lguih menjadi rumah bagi teknologi dasar dan riset kebutuhan primer. Distrik Anap mengelola hubungan antar spesies dan menyimpan data seluruh makhluk di galaksi mereka. Distrik Belnu menjamin kesehatan warganya melalui teknologi medis dan penunjang hidup. Distrik Kuton mengendalikan transportasi dan distribusi, tempat lahirnya sistem kendaraan dan gerbang antar distrik. Distrik Chulok menjadi pusat hiburan, seni, budaya, serta dunia virtual yang terhubung dengan Sanvar. Distrik Palbarek menyuplai energi dan sumber daya mineral, termasuk rekayasa unsur dan elemen. Sementara Distrik Janrugkou berdiri sebagai distrik pendidikan dan formasi bangsa. Siapa pun yang memilih menjadi pengajar atau pembimbing akan menghabiskan hidupnya di sana.
Seluruh warga Porkah menghabiskan usia lima hingga dua puluh enam tahun di Janrugkou. Dua puluh satu tahun pendidikan utama membentuk fondasi yang tak kasatmata. Disiplin kolektif, pemahaman teknologi, sejarah kehancuran planet mereka, serta kebiasaan menimbang konsekuensi sebelum bertindak ditanamkan sejak awal. Pada fase ini, Sanvar hadir secara pasif. Ia mengamati, mencatat, dan membiarkan pemiliknya tumbuh tanpa campur tangan penuh.
Setelah itu, pendidikan kurikulum profesi pun dimulai. Tidak semua warga menempuh sembilan tahun penuh. Ada yang sejak awal menemukan kecocokan dan memilih bertahan hingga akhir. Ada pula yang menunjukkan bakat luar biasa bahkan sebelum sistem kurikulum profesi berjalan, sehingga diizinkan langsung mengabdi pada sektor tertentu.
Mynhemeni adalah salah satunya. Ia langsung bekerja sebagai analis tingkat lima di Divisi Analis Distrik Nor, memangkas seluruh sembilan tahun pendidikan kurikulum profesi. Keputusan itu terbukti tepat. Setelah dua puluh dua tahun pengabdian, ia melesat hingga menduduki posisi Komandan Divisi Analis. Atuyju menapaki jalur yang serupa, melampaui tahapan pendidikan yang seharusnya ia jalani.
Namun bagi sebagian besar warga, usia tiga puluh lima tetap menjadi garis sunyi. Di sanalah pendidikan berakhir dan kehidupan kerja dimulai.
Bukan sebagai pemula yang rapuh, melainkan sebagai individu yang telah mengenal ragu, pernah salah memilih, dan berani berbalik arah. Bagi bangsa Porkah, kesiapan bekerja tidak diukur dari seberapa banyak kemampuan yang dimiliki, melainkan dari kesadaran akan kesalahan yang tak ingin diulang.
Georu termasuk di dalamnya. Keputusannya bulat untuk mengabdikan diri sebagai pasukan keamanan gedung pusat pemerintahan Distrik Nor, tempat ayahnya bertugas. Memasuki bulan kedua sebagai petugas keamanan tingkat lima, beban tugas terasa lebih berat dari yang ia bayangkan. Kini ia berdiri di barisan paling belakang bersama rekan-rekannya, menahan gelisah yang merayap perlahan. Lomuy berdiri di sampingnya, dan tepat ketika Georu mulai mengatur napas, nama rekannya itu dipanggil oleh Rumsun.
“Lomuy,” panggil Rumsun, suaranya tenang namun menusuk. Tatapannya mengunci keponakan jauhnya itu.
“Apa kamu tahu soal misi rahasia ini?”
Lomuy menarik bibirnya kaku. Tekanan aula terasa seperti tanah berat yang menekan telapak kakinya, meski air laut biru tua mengalir tenang di balik dinding transparan. “Ada manusia darat yang dibawa Letnan Rihum ke Distrik Nor,” jawabnya akhirnya.
“Dia ditahan di kantor ini karena bisa hidup di dalam air dan kekuatannya… tidak wajar. Ketua meminta kami menangkapnya diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun.”
Rumsun menyipitkan mata. “Termasuk saya?”
“Iya, Wakil Ketua.” Suara Lomuy mengecil, seolah takut gema ucapannya sendiri akan mengkhianatinya.
Hening sesaat. Dengung energi aula terdengar jelas. Rumsun tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip keputusan daripada keramahan.
“Tapi sekarang saya sudah tahu... Ketua sudah menjelaskan semuanya. Dan mulai saat ini, saya yang mengambil alih kasus ini.” kata Rumsun, ia melangkah setengah langkah ke depan. Pandangannya berkeliling, menyapu pasukan yang berdiri tegak di hadapannya. Cahaya biru laut yang menembus dinding transparan memantul di wajah-wajah tegang itu.
Kemudian ia kembali bersuara, “Dengarkan baik-baik, Semua hal tentang anak manusia darat itu dilaporkan langsung ke saya.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya meresap. “Ada pertanyaan?”
Keheningan retak.
“Apakah tim analis sudah mengetahui makhluk seperti apa dia, Wakil Ketua?” suara itu muncul dari barisan bawah panggung memecah dengung aula.
Rasa penasaran menyebar cepat, seperti arus dingin yang merambat di dasar laut. Bisik-bisik langsung bergulir. Sejak casvet mereka memutar ulang seluruh rekaman ingatan Cakra, kepala para pasukan dipenuhi pertanyaan. Mereka melihat potongan hidup anak itu, dari hari-harinya di Jakarta, hingga tubuhnya yang hanyut dan akhirnya ditemukan oleh Letnan Rihum lalu dibawa ke Distrik Nor. Setelah itu, ingatannya seperti terputus paksa. Alpam gagal menembus lapisan berikutnya. Sebuah kegagalan yang tak pernah tercatat sebelumnya.
Seharusnya, saat Alpam bekerja, seluruh riwayat sebuah makhluk akan terkuak, dari tarikan napas pertama hingga ingatan terakhir sebelum Alpam mengambil akses. Namun pada Cakra, ingatan itu seperti dinding padat yang menolak disentuh. Tidak retak. Tidak bergeser. Kegagalan yang belum pernah tercatat dalam arsip mana pun. Dan justru itulah yang membuat ketakutan mereka tumbuh. Jika ia bukan sekadar manusia darat, lalu apa sebenarnya yang berdiri di hadapan mereka?
Rumsun tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, melainkan isyarat kendali.
“Untuk pertanyaan itu, saya serahkan kepada tim yang bertugas.” katanya akhirnya.
Ia menggeser tubuh sedikit, memberi ruang di belakangnya.
“Di belakang saya, ada Tim Keamanan Manusia Darat, Tim Divisi Analis, dan pasukan yang berhadapan langsung dengannya.” Suaranya kembali tenang, nyaris dingin.
“Silakan bertanya pada mereka.”
“Jadi, apakah tim analis sudah mengetahui makhluk seperti apa dia?” pertanyaan itu kembali terdengar dari sumber suara yang sama.
“Belum,” jawab Idurzbi, Wakil Komandan Divisi Analis Distrik Nor, suaranya mantap meski sorot matanya waspada. Ia melangkah sedikit ke depan setelah Rumsun menyerahkan kendali penjelasan kepadanya.
“Karena itu kita butuh anak itu hidup-hidup. Kita harus memastikan siapa dia. Dan yang lebih penting, apakah dia ancaman atau tidak.” Bisik-bisik kembali terdengar. Seorang pasukan lain mengangkat suara. “Lalu kenapa Letnan Rihum membawanya ke sini? Bukankah lebih aman kalau dia dibiarkan saja?”
Pertanyaan itu menggantung di udara aula, seolah ikut melayang bersama arus laut di balik dinding transparan.
Other Stories
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...
O
o ...