Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 43 - Bangsa Penolak Tua

Cakra justru tersenyum lepas. Senyum yang terlalu ringan untuk situasi seberat ini. Seolah beban yang sejak tadi menggantung di udara laut akhirnya runtuh begitu saja, larut bersama arus yang tenang di luar jet.

“Kenapa kamu malah tersenyum?” tegur Mynhemeni, nadanya naik, menahan kesal.

“Kita sedang berada dalam situasi yang sama sekali tidak memberi alasan untuk tersenyum.”

“Aku paham sekarang,” jawab Cakra santai. Senyumnya belum hilang, tapi matanya lebih jujur dari sebelumnya.

“Kalau itu yang kalian takutkan.... karena aku berbeda.” Ia mengangguk kecil, seakan sedang berdamai dengan pikirannya sendiri.

“Aku setuju bekerja sama. Kalian boleh meneliti aku. Seberapa pun kalian mau.”

“Apa?” Mynhemeni menegang.

“Aku juga ingin tahu,” lanjut Cakra cepat, sebelum Mynhemeni sempat menyela. “Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku. Kenapa aku bisa sekuat ini. Kenapa lukaku bisa sembuh terlalu cepat.”

Ia membungkuk sedikit, mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu mengangkat lengan kanannya untuk memperlihatkan bekas luka yang disebabkan oleh Mynhemeni beberapa waktu lalu. Luka yang seolah tidak pernah terjadi.

“Lihat. Nggak ada bekasnya, padahal tadi kamu menggoresnya cukup dalam dan panjang.” Belum puas, Cakra menggeser kaki kanannya.

“Ini juga. Harusnya bekas lukaku akibat jatuh dari motor terlihat jelas. Sekarang malah hilang!” Ia terkekeh pelan. Tangannya bergerak ke arah bajunya, berusaha menyibak kain di bagian perut kanannya.

Namun gerakannya terhenti. Ia menarik lagi. Kain itu tak bergeser sedikit pun. Ia mencoba lagi, kali ini lebih kuat. Tetap tidak bergerak, seolah bajunya melekat pada kulitnya.

“Kamu ngapain?” tanya Mynhemeni, bingung sekaligus waspada melihat tingkah Cakra yang mendadak kikuk.

“Aku mau lepasin bajuku,” keluh Cakra frustrasi. Ia menatap kain itu seolah sedang dikhianati benda mati.

“Tapi kenapa ini nggak mau lepas?”

“Kenapa kamu mau melepaskan bajumu?” tanya Mynhemeni, nadanya setengah waspada, setengah bingung.

“Aku mau nunjukin luka-luka lain,” jawab Cakra sambil tetap bergulat dengan bajunya yang keras kepala.

“Ada bekas operasi di perutku. Waktu aku usus buntu. Lukanya keren, kayak bekas luka tusukan gitu” Ia menarik lagi, lebih kuat, lalu mendesah putus asa.

Pemandangan itu terlalu kontras dengan situasi mereka. Seorang manusia darat superkuat yang baru saja membuat satu distrik siaga penuh, kini kalah telak oleh Sanvar tahanan yang membungkus dirinya. Sanvar yang tidak akan pernah dapat ia lepaskan sebelum dipasangkan kembali pada soketnya, Nivar tahanan Cakra yang ada di Alpam khusus, lantai bawah tanah tingkat lima Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor.

Mynhemeni tak tahan lagi.

Tawa kecilnya lolos begitu saja, ringan, nyaris seperti gelembung udara yang naik ke permukaan laut. Cakra berhenti bergerak. Ia menoleh, alisnya mengerut.

“Kok kamu malah ketawa sih?” protesnya, nadanya terdengar sedikit merajuk.

“Maaf,” kata Mynhemeni, masih tersenyum.

“Tingkahmu… menggemaskan.” Ia menggeleng pelan.

“Kamu mengingatkanku pada adikku. Waktu seusiamu, dia juga suka bersikeras pada hal-hal sepele, lalu kesal sendiri.” Untuk sesaat, Mynhemeni membiarkan dirinya berhenti berpikir. Ia memandang panel transparan jet, ke arah laut biru kehijauan yang terbentang seperti daratan luas tanpa langit. Mau diputar sekeras apa pun, rencananya tetap buntu. Ia tidak punya pilihan selain bersembunyi.

Biarlah pasukan itu mencari sampai lelah, pikirnya. Biarlah mereka menyerah.

Jika itu terjadi, ia bisa kembali ke ruang kerjanya. Kembali ke tempat aman. Dan di sanalah, jauh dari mata Rumsun dan intrik istana, ia akan menuntaskan satu hal yang sejak tadi menghantui pikirannya.

Meneliti Cakra.

“Oh ya? Kamu berapa bersaudara? Adikmu umur berapa?” tanya Cakra antusias. Raut wajahnya cerah, seolah percakapan ringan ini jauh lebih menarik daripada bekas luka atau baju bandel yang tadi ia kutuki. Pikirannya masih ringan, belum menangkap kejanggalan ucapan Mynhemeni tentang adik gadis itu saat seusinya. Di kepalanya, mereka jelas seumuran. Mynhemeni menarik napas kecil sebelum menjawab. Ia melirik ke luar jendela jet, ke arah siluet gerombolan paus yang berenang jauh, sejajar dengan jet mereka.

“Seluruh bangsa Porkah hanya boleh memiliki dua anak. Adikku sekarang berusia tiga puluh lima tahun. Dia baru saja memulai kehidupan dewasanya sebagai pasukan keamanan gedung pemerintahan, setelah menyelesaikan pendidikan kenegaraan selama tiga puluh tahun.” ucapnya ringan, seolah sedang menyebutkan hal paling biasa di dunia.

Kalimat itu melayang di antara mereka, berat dan ganjil. Di luar jendela transparan, air laut bergulung tenang, cahaya biru kehijauan menari seperti matahari sore di daratan. Beberapa ikan berlalu lalang, biota fantastis laut dalam lainnya berusaha mencuri perhatian Cakra.

Namun itu semua tidak lagi menarik baginya.

Cakra menatap Mynhemeni sambil mencoba mencerna setiap potong informasi. Tiga puluh tahun pendidikan. Bekerja sebagai tanda kedewasaan. Usia adik yang jauh melampaui usianya.

Di kepalanya, pertanyaan berdesakan. Pendidikan macam apa yang memakan waktu selama itu. Sejak kapan bekerja menjadi penanda resmi menjadi dewasa. Dan yang paling mengganggu, angka usia yang terasa tidak masuk akal jika dibandingkan dengan wajah Mynhemeni yang tampak seusianya.

Cakra terdiam sepersekian detik. Berkedip. Sekali. Lalu dua kali. Angka itu berputar-putar di kepalanya, menabrak logika.

“Sebentar,” katanya ragu, pelan, lalu lebih keras

“Adikmu tiga puluh lima tahun?” Ia mengerutkan kening kemudian mencondongkan tubuh.

“Kalau begitu… kamu umur berapa?” Baru saat itu potongan-potongan kalimat Mynhemeni sebelumnya, terasa janggal baginya. Padahal, menurut hitungannya, mereka terlihat sebaya. Atau paling jauh selisih satu atau dua tahun. Harusnya adiknya berumur sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. Sama seperti dirinya.

“Tahun ini, umurku empat puluh delapan,” jawab Mynhemeni datar.

“Apa?” Cakra spontan mencondongkan tubuh ke depan, hampir bangkit dari duduknya.

“Bohong!” Ia menggeleng cepat.

“Kamu kelihatan kayak gadis sembilan belas tahun. Atau dua puluh, maksimal. Aku pikir kita seumuran.”

Ia menatap Mynhemeni dengan mata membelalak, seperti sedang menatap teka-teki yang menolak masuk akal. Mencoba menemukan tanda usia senja di wajah gadis itu yang tampak terlalu halus. Dadanya terasa aneh. Gadis di hadapannya itu bukan hanya lebih tua darinya.

Mynhemeni bahkan lebih tua dari bundanya.

Bangsa Porkah memanglah berumur panjang. Rata-rata usia mereka mencapai seratus tujuh puluh tahun. Panjangnya hidup itu bukan semata anugerah alam, melainkan hasil teknologi yang menjaga tubuh mereka tetap berada dalam kondisi prima dan muda. Jauh melampaui batas wajar manusia darat.

“Sejak lahir sampai umur lima belas, pertumbuhan kami sama seperti manusia darat,” jelas Mynhemeni, suaranya tenang meski kelelahan mulai merayap.

“Cepat, padat, dan sulit dihindari.” Mynhemeni berhenti sejenak, seolah memberi ruang bagi pikirannya yang sempat terseret pada Rumsun, pada pelarian yang belum jelas arahnya, dan pada analisis tubuh Cakra yang masih menggantung. Sedangkan Cakra hanya mengernyit. Bocah manusia darat itu akhirnya menyerah pada bajunya yang tetap tak mau terbuka. Ia bersandar dan memilih mendengarkan.

“Setelah itu, segalanya melambat. Dari usia lima belas hingga sekitar seratus tiga puluh tahun, penuaan nyaris tak terasa. Tubuh seperti menolak bergerak maju bersama waktu. Baru setelah melewati titik itu, usia kembali bekerja cepat. Hingga di sekitar usia seratus lima puluh tahun, kondisi fisik kami berhenti di tahap yang setara dengan manusia darat berusia lima puluh.” Mynhemeni menarik napas panjang. Untuk saat ini, mungkin beristirahat sambil bertukar pikiran adalah pilihan terbaik. Kepalanya terlalu penuh untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Wooow… berarti kalian benar-benar panjang umur dan awet muda,” ucap Cakra takjub. Nada suaranya jujur, tanpa sedikit pun sarkasme. Dan untuk sesaat, di tengah kelelahan dan bahaya yang menunggu, percakapan itu memberi ruang kecil bagi keduanya untuk bernapas. Ia akhirnya menyerah pada bajunya yang membandel dan memilih mengalihkan perhatian. Duduknya kembali santai, seolah situasi genting barusan hanya gangguan kecil dalam percakapan aneh mereka. Mynhemeni menangkap perubahan itu dan ikut tersenyum tipis.

“Ah iya, maaf,” kata Cakra pelan.

“Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu lebih tua dariku. Bahkan… lebih tua dari ibuku.” Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada tulus.

“Sejak tadi sikapku pasti kurang sopan. Seharusnya aku memperlakukanmu dengan lebih hormat. Seperti orang tuaku sendiri.” Rasa bersalah itu jelas terpancar dari wajahnya, jujur dan tanpa dibuat-buat.

Mynhemeni terkekeh kecil. “Tidak apa-apa,” ujarnya lembut. “Aku justru lebih nyaman kalau kamu bersikap apa adanya. Lagipula, seperti yang kamu bilang, fisikku terlihat seumuran denganmu. Jadi perlakukan aku seperti orang-orang seusiamu di daratan.”

“Serius nggak masalah?” tanya Cakra, masih ragu.

Mynhemeni hanya tersenyum dan mengangguk pelan, seolah menutup keraguan itu tanpa perlu kata-kata tambahan.

Cakra akhirnya tersenyum lega. “Tapi sungguh,” katanya dengan nada antusias yang kembali muncul, “fisik kalian benar-benar jauh dari umur sebenarnya. Aku jadi penasaran. Kalau orang-orang yang sudah sangat tua di negerimu, mereka terlihat seperti apa, sih?” Ia mendongak sedikit, mengingat nenek buyutnya yang berusia delapan puluh tahun. Dalam benaknya, ia mencoba menebak, jika sang nenek adalah bangsa Porkah, kira-kira akan tampak seperti manusia usia berapa.

“Kamu ingat bapak-bapak yang mengirimkan kita jet ini?” tanyanya, kini terdengar lebih ringan. Ada ketertarikan tulus di matanya, seakan ia menikmati keheranan Cakra yang polos.

Cakra mengangguk. Saat ia mencondongkan tubuh, meja di depan mereka yang bentuknya mirip meja ruang tamu manusia darat bergetar perlahan, mengeluarkan sedikit bagia darinya. Membentuk seperti papan kokoh namun nyaman, lalu melayang naik hingga sejajar dengan dada Cakra. Gerakan serpihan meja itu terlalu alami.

Tanpa menoleh pada pembelahan meja itu, tangan kiri Cakra secata natural langsung mendarat di atas permukaan serpihan meja tersebut. Menopang pipi kirinya dengan santai, seolah papan meja melayang di udara adalah hal paling wajar di dunia.

“Menurutmu, kira-kira usianya berapa?” lanjut Mynhemeni.

Cakra mengernyit. Kepalanya miring ke kanan, sedikit mendongak, mencoba menarik kembali bayangan wajah itu dari ingatannya. Guratan di sekitar mata. Garis senyum yang menetap. Wajah yang matang, tapi tubuh yang tegap. Menampakkan usia fisik persis seperti ayahnya.

“Kalau dilihat sekilas,” katanya pelan, “bapak itu seperti seumuran dengan ayahku.” Ia berhenti sejenak, menghitung. “Sekitar empat puluh lima tahun.”

Ia menoleh lagi ke Mynhemeni, matanya membesar sedikit. “Tapi kalau kamu berumur empat puluh delapan…” Napasnya tertahan. “Berarti bapak itu seharusnya sudah mendekati usia tujuh puluh tahun?” simpulnya, mengernyit pada Mynhemeni.

“Hmmm... kurang lebih begitu,” jawab Mynhemeni pelan. Suaranya tenang, seolah sedang membicarakan alur film yang baru saja ia tonton.

“Fisik kalian manipulatif banget. Kelihatan muda, tapi kenyataannya umur kalian dua kali lipat.” Cakra tertawa kecil, lebih karena tak percaya. Meja di bawah tangannya bergetar halus, mengikuti arus laut yang mengalir lembut di luar dinding jet. Cakra tak menyadarinya.

“Bisa dibilang seperti itu. Tahun ini, bapak itu akan memasuki usia seratus lima tahun. Dan bagi kami, usia segitu masih sangat muda.” Ia berhenti sejenak, membiarkan informasi itu tenggelam seperti gelembung udara di air. Cakra hanya dapat melebarkan tatapannya. Tak pecaya Thungsiruv sudah berumur lebih dari seratus tahun.

“Usia kematian natural bangsa Porkah rata-rata seratus tujuh puluh tahun. Yang paling tua pernah tercatat mencapai dua ratus tujuh puluh sembilan tahun. Itu pun sudah lama sekali.” Cakra tertegun. Angka-angka itu berputar di kepalanya, terlalu besar untuk langsung diterima.

“Kalau begitu, usia bagi kalian benar-benar cuma angka,” gumamnya. Pikirannya terjebak pada satu kesimpulan sederhana namun mengguncang. Mynhemeni hanya mengangguk kemudian melanjutkan, nadanya sedikit merendah.

“Meski begitu, tidak semuanya mencapai usia maksimal. Banyak juga yang meninggal jauh di bawah rata-rata.” Jemarinya bergerak kecil, seperti sedang meraba kenangan yang tak kasatmata.

“Suamiku sendiri meninggal saat dia berusia tiga belas tahun.” Kata-kata itu menghantam Cakra lebih keras daripada pengakuan soal usia ratusan tahun. Ia tersentak, tubuhnya condong ke depan. Papan meja melayang di hadapannya ikut bergeser, bergetar pelan mengikuti gerak refleksnya.

“Tunggu,” potong Cakra, suaranya meninggi tanpa sadar.

“Tiga belas tahun?” Ia menggeleng, mencoba memastikan pendengarannya tidak salah.

“Kamu menikah di usia berapa, kalau suamimu saja meninggal di umur segitu?” Tatapan Cakra tertuju penuh pada Mynhemeni, campuran kaget dan kebingungan terpancar jelas di wajahnya. Bagi manusia darat sepertinya, angka itu terdengar mustahil.

Terlalu dini. Terlalu kejam.

Mynhemeni menatap balik, matanya tenang namun menyimpan lapisan emosi yang lebih dalam, seperti arus laut yang tak terlihat dari permukaan. Ia menarik napas perlahan, seolah sedang bersiap membuka pintu cerita yang tidak sederhana.

Other Stories
Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Menjelang Siang

Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...

Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Download Titik & Koma