Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 70 - Hemy (Tamat)

Helikopter medis mendarat mulus di helipad rumah sakit milik keluarga Adipramana. Suara baling-baling menurun pelan, seperti napas besar yang melepaskan ketegangan. Angin laut yang masih tersisa dari perjalanan panjang membawa aroma garam, namun di atas dek semua terasa hening. Hening yang berat, bukan karena sepi, melainkan karena semua orang tahu bahwa momen ini adalah titik balik.

Tandu medis yang menampung Cakra digeser perlahan dari kabin helikopter ke kendaraan pengangkut darat, dijaga ketat oleh tim medis yang sudah menunggu. Setiap gerakan tampak seperti ritual, bukan sekadar prosedur.

Beberapa menit kemudian, tubuh Cakra tiba di ICU. Lampu putih lembut memantul di dinding steril, membuat semuanya tampak terlalu bersih untuk sesuatu yang baru saja keluar dari kegelapan laut. Monitor tanda vital menampilkan angka-angka stabil yang hampir terlalu sempurna.

Dokter-dokter bergerak cepat namun hati-hati, memeriksa semua. Saturasi, nadi, tekanan darah, dan refleks ulang berkali-kali. Mereka masih sulit menerima kenyataan bahwa pasien yang hilang selama lebih dari dua belas jam di laut terbuka, yang seharusnya trauma dan kelelahan parah, kini tetap stabil, napasnya tenang, tubuhnya hangat.

Di sinilah mereka memastikan segala protokol darurat dijalankan, walaupun tubuh Cakra tampak seperti orang yang hanya tertidur sebentar, seolah ia baru saja pulang dari mimpi buruk yang pendek.

Tak lebih dari sejam setelah kondisi fisik dan tanda vital dianggap aman, Cakra dipindahkan ke ruang VVIP. Tirai berat di sekitar ranjangnya ditarik, membuka pemandangan luas kota dari jendela besar di lantai paling atas. Matahari menembus kaca, menyapu rambut hitamnya yang masih basah sedikit, dan membuatnya terlihat seperti bayangan yang baru saja keluar dari air. Wajahnya yang pucat kini tampak damai, seolah tubuhnya sedang menolak mengakui betapa dekat ia dengan kematian.

Di sisi ranjang, Bunda dan Ayahnya duduk berdampingan, menatap dengan tenang, menahan napas seolah satu detik terlalu cepat bisa memecah keajaiban yang baru saja mereka saksikan.

Cakra belum berbicara, masih dalam kesadaran perlahan. Matanya menatap langit-langit ruangan, bibirnya sedikit bergerak, mencoba mengingat kata-kata yang tepat. Tapi kedua orang tuanya tidak terburu-buru. Mereka hanya menunggu, membiarkan keheningan menenangkan detak jantung mereka sendiri.

Mereka menyadari bahwa setiap napas Cakra adalah jawaban atas ketakutan panjang yang selama ini menghantui malam mereka. Mereka berusaha tetap terjaga, padahal hampir tiga puluh dua jam mereka belum beristirahat sejak kemarin pagi. Mereka belum tidur, belum makan, belum bisa benar-benar bernapas dengan tenang. Semua karena anak semata wayang mereka dinyatakan hilang, saat Pak Adipramana dan istrinya baru saja beranjak tidur semalam.

Orang tua Cakra menatapnya dengan penuh harap. Mereka menunggu satu kata yang keluar dari mulutnya, satu kata yang bisa menghapus semua kecemasan. Tiba-tiba, suara lembut itu memecah keheningan.

“Buund…!” Cakra membuka mata perlahan.

Cahaya lembut masuk melalui jendela besar di sisi kamar, menembus tirai tipis, memantul di lantai dan dinding berlapis kayu hangat. Udara terasa segar, hangat, jauh dari dingin laut yang selama ini menahannya.

Ia terbaring di tempat tidur elektrik, tubuhnya masih terikat ringan untuk keamanan, kepala dan leher distabilkan dengan bantal khusus. Masker oksigen portabel menempel di wajahnya, namun alirannya pelan, cukup untuk menjaga ritme normalnya. Di matanya masih terlihat bingung, seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang dan tidak yakin apakah yang ia lihat itu nyata atau mimpi.

Di sisi kanan tempat tidur, Ayah dan Bunda Cakra berdiri seperti dua patung hidup, menahan napas, menatap anak mereka dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Wajah mereka memucat, namun ada kilau tak percaya yang sama sekali bukan ketakutan. Jarak aman tetap dijaga, seolah ada batas tak terlihat yang melarang mereka menyentuh.

Tangan Bunda hanya tergantung di sisi tubuh Cakra, gemetar halus, seperti menahan diri agar tidak menyentuh dan membuat semuanya lenyap lagi. Ayahnya lebih tegas dalam menahan diri. Ia menahan diri dari menyentuh, meski mata dan tangan itu sendiri seolah berusaha meraih putranya, memeluknya, memastikan ia benar-benar ada.

Dari ruang tamu luas kamar pasien VVIP itu, melalui kaca pintu geser tebal dan jernih, Victor, Dito, Beni, dan Tomi berdiri rapi. Mereka menunduk sedikit, menahan diri, seolah sadar bahwa satu gerakan salah bisa merusak momen yang baru saja ditemukan kembali.

Di belakang mereka, dokter dan perawat menatap monitor tanda vital dengan mata yang sama waspada dan lega. Di antara suara mesin dan napas yang teratur, suasana terasa seperti ruang doa, bukan ruang medis. Bunda Cakra menahan napas, air matanya jatuh perlahan, menelusuri pipi seperti jejak hujan pada kaca.

“Iya, sayang…” balas Bunda Cakra, suaranya pecah, namun ia berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh.

Senyum lebar terbentuk di bibirnya yang bergetar, rona kebahagiaan mengembang seolah ingin menutupi semua luka dan kecemasan. Ia menahan haru dengan sekuat tenaga, seakan sadar bahwa tangisnya bisa membuat dunia runtuh lagi.

Di ruang tamu, teman-temannya menahan senyum lega. Victor mengerling cepat, seperti memberi sinyal bahwa semuanya baik-baik saja. Dito menepuk bahu Beni, gestur sederhana yang membawa beban seribu kata. Tomi hanya diam, matanya menatap penuh haru, bibirnya sedikit mengeras menahan getaran perasaan.

Dokter di belakang mereka terus mengamati monitor, namun senyum tipis muncul saat detak jantung dan saturasi oksigen tetap stabil, seperti angka-angka itu juga ikut bernapas lega.

"Dia mulai sadar,” bisik salah satu dokter, tapi cukup keras untuk terdengar oleh semua yang ada di ruang tamu. Suara itu membuat udara seolah ikut berubah, dari tegang menjadi hangat.

Cakra menggerakkan tangan perlahan, mencoba duduk. Tubuhnya tampak lemah, namun matanya menyala, seperti seseorang yang baru saja kembali dari kegelapan. Ayahnya sigap, menahan lembut bahunya, memastikan ia tidak terlalu memaksakan diri.

“Tenang dulu, Dek. Jangan dulu bangun!” suara Ayahnya tegas tapi penuh kasih, seperti komando yang ditujukan pada sesuatu yang sangat rapuh.

Melalui intercom, dokter memberi instruksi

“Tetap tenang, Nak Cakra. Tarik napas perlahan. Semua baik-baik saja.” Suara dokter terdengar jauh namun jelas, seperti pengingat bahwa dunia masih aman untuk saat ini.

Cakra menatap kedua orang tuanya dengan mata yang masih setengah kosong, lalu memalingkan pandangannya ke arah kaca besar. Di balik kaca itu, teman-temannya berdiri menunggu di ruang tamu, wajah mereka penuh harap dan kecemasan.

Cakra mengerjap beberapa kali, seolah mencoba memastikan bahwa semua yang ia lihat benar-benar nyata. Setelah itu, ia kembali menatap Bundanya, menunggu jawaban yang terasa seperti jembatan ke dunia yang baru saja ia tinggalkan.

“Ini di mana?” tanya Cakra lemas. Suaranya terdengar serak, seperti sedang keluar dari kegelapan. Pusing yang menyakitkan merayap di kepalanya, membuat dunia terasa berputar-putar.

Bundanya segera mendekat, wajahnya berubah panik. “Di rumah sakit, sayang,” jawabnya, suaranya bergetar.

“Apa yang kamu rasain?” Ia menatap anaknya dengan cemas, melihat Cakra sesekali meringis karena sakit.

Cakra mengusap dahinya, mencoba menguasai dirinya.

“Pusing, Bund… Cakra kenapa ada di rumah sakit?” tanyanya, menahan napas sejenak. Ia berusaha fokus, dan perlahan pusing di kepalanya mulai mereda.

Pak Adipramana berdiri di sisi lain ranjang, menatap Cakra dengan mata yang masih merah.

“Kamu lupa? Habis main di Pantai Parangtritis semalam?” jawabnya.

Kata-kata itu seperti pemicu. Rasa sakit menyambar kepalanya, tajam dan tiba-tiba. Ingatan tentang Pantai Parangtritis datang menghantam tanpa urutan. Gelombang yang menggulung. Pasir yang menyeret. Kegelapan yang menelan. Sesuatu bergerak di balik air, terlalu besar untuk ia pahami. Dunia berputar, lalu runtuh.

Ia pingsan.

Dalam ketidaksadaran itu, Cakra terjatuh ke dalam tidur yang aneh. Terlalu dalam untuk disebut mimpi biasa, terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur. Ia merasa berpindah tempat, seolah tubuhnya melangkah masuk ke dunia lain tanpa pintu dan tanpa izin.

Dunia itu terasa asing namun memikat. Langitnya lebih jernih, warnanya lebih tajam. Udara, atau apa pun yang menggantikannya, terasa ringan di paru-parunya. Di sana, ia tidak berjalan. Ia melayang. Tidak berlari, tetapi bergerak secepat pikirannya sendiri. Dan anehnya, semua itu terasa wajar. Seolah begitulah seharusnya.

Di dunia itulah ia melihatnya.

Seorang gadis seusianya berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya mengingatkan Cakra pada film-film Eropa yang sering ia tonton, garis-garis lembut dengan sorot mata yang tajam dan berani. Cantik, iya. Namun yang membuat Cakra terpaku bukan itu. Ada keteguhan dalam caranya menatap dunia, kecerdasan yang terasa hidup, seakan gadis itu selalu selangkah lebih maju dari sekitarnya.

Mereka berbicara. Tentang hal-hal kecil, tentang dunia itu, tentang dirinya. Waktu terasa aneh. Mengalir tanpa hitungan. Bersamanya, Cakra merasa dunia itu bukan sekadar tempat singgah. Ia terasa seperti rumah.

Lalu semuanya berubah.

Tatapan-tatapan asing mulai mengikuti setiap langkahnya. Bisik-bisik terdengar, meski ia tidak tahu dari mana asalnya. Ia ditangkap tanpa perlawanan berarti. Diikat oleh sesuatu yang dingin dan tak kasatmata. Dunia yang semula mempesona menunjukkan wajah lain. Warga negeri itu memandangnya dengan ketakutan bercampur amarah, seolah kehadirannya adalah kesalahan besar yang harus diperbaiki.

Ia melarikan diri. Setidaknya, ia mencoba. Ada saat-saat ketika ia berhasil, bersembunyi, bergerak cepat, bahkan bertarung. Dalam mimpi itu, tubuhnya terasa kuat. Luka yang seharusnya melumpuhkan justru menutup sendiri. Tenaga mengalir deras, liar, membuatnya yakin ia bisa bertahan.

Namun mimpi tidak selalu berpihak.

Ia tertangkap kembali.

Kali ini, gadis itu ikut ditahan. Mereka dipisahkan. Cakra bisa merasakan keberadaannya, seperti benang tipis yang masih menghubungkan mereka, tetapi ia tidak bisa mencapainya. Ia berjuang sekuat tenaga, memaksa kekuatan dalam dirinya keluar, namun semuanya ditahan oleh sesuatu yang lebih besar, lebih dingin, dan lebih pasti.

Keputusan dijatuhkan.

Gadis itu dibawa lebih dulu. Cakra dipaksa menyaksikan dari kejauhan. Ia berteriak, meronta, memanggil namanya meski tidak yakin gadis itu bisa mendengarnya. Dunia terasa menyempit. Dadanya seperti diremas. Saat semuanya berakhir, ada sesuatu dalam dirinya yang ikut runtuh.

Giliran Cakra tiba.

Dan di sanalah mimpi itu retak.

Di antara kegelapan dan rasa hancur, ia mendengar suara itu. Lembut, panik, dan terlalu jelas untuk diabaikan.

“Cakra… tolong aku.”

Ia terbangun dengan napas tersengal.

“Hemy…” Nama itu terlepas begitu saja dari bibirnya, tanpa ia tahu dari mana asalnya.

Namun nama itu terasa nyata.

Seperti gema yang tertinggal dari mimpi yang terlalu dalam untuk benar-benar ditinggalkan.


Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Download Titik & Koma