LEMARI PENYIMPANAN KENANGAN
Waktu berlalu.
Rani tumbuh, berubah, dan masuk SMA—dunia barunya penuh jadwal, tugas, dan kegiatan. Hari-harinya diisi kelas pagi, latihan, rapat, lomba, dan ekstrakurikuler yang membuat waktunya hampir tak pernah benar-benar kosong.
Ia belajar berlari mengikuti hidup.
Dan tanpa ia sadari, Cianjur pun perlahan menjauh dari langkahnya.
Bukan karena ia tak ingin kembali,
melainkan karena hidupnya sudah terlalu padat untuk memberi ruang pada satu kota kecil yang pernah begitu berarti.
Rani menyimpan rindunya di tempat yang paling sunyi.
Di dalam hati.
Dan di dalam lemari bajunya.
Di antara lipatan seragam, jaket, dan pakaian yang jarang ia pakai, terselip seuntai edelweis yang sudah kering. Rapuh, pucat, hampir tak berbau apa pun—tapi masih utuh.
Setiap kali ia menemukannya kembali, Rani tahu:
bukan bunganya yang ia jaga…
melainkan perasaan yang pernah tumbuh bersamanya.
Ia tak pernah tahu ke mana hidup membawa Kinkin setelah itu.
Apakah ia masih mendaki gunung.
Apakah ia masih memetik gitar di sore hari.
Atau apakah ia pernah menepati janji lain pada orang lain.
Namun satu hal tak pernah berubah:
Kinkin pernah mencintainya—
dengan cara paling sederhana yang pernah ia terima.
Tanpa banyak kata.
Tanpa janji panjang.
Hanya satu bunga.
Dan satu pagi.
Dan sejak itu, Rani tahu…
ada rindu yang tidak harus disampaikan,
cukup disimpan.
Seperti edelweis itu.
Di lemari bajunya.
Dan di dalam hatinya.
Rani tumbuh, berubah, dan masuk SMA—dunia barunya penuh jadwal, tugas, dan kegiatan. Hari-harinya diisi kelas pagi, latihan, rapat, lomba, dan ekstrakurikuler yang membuat waktunya hampir tak pernah benar-benar kosong.
Ia belajar berlari mengikuti hidup.
Dan tanpa ia sadari, Cianjur pun perlahan menjauh dari langkahnya.
Bukan karena ia tak ingin kembali,
melainkan karena hidupnya sudah terlalu padat untuk memberi ruang pada satu kota kecil yang pernah begitu berarti.
Rani menyimpan rindunya di tempat yang paling sunyi.
Di dalam hati.
Dan di dalam lemari bajunya.
Di antara lipatan seragam, jaket, dan pakaian yang jarang ia pakai, terselip seuntai edelweis yang sudah kering. Rapuh, pucat, hampir tak berbau apa pun—tapi masih utuh.
Setiap kali ia menemukannya kembali, Rani tahu:
bukan bunganya yang ia jaga…
melainkan perasaan yang pernah tumbuh bersamanya.
Ia tak pernah tahu ke mana hidup membawa Kinkin setelah itu.
Apakah ia masih mendaki gunung.
Apakah ia masih memetik gitar di sore hari.
Atau apakah ia pernah menepati janji lain pada orang lain.
Namun satu hal tak pernah berubah:
Kinkin pernah mencintainya—
dengan cara paling sederhana yang pernah ia terima.
Tanpa banyak kata.
Tanpa janji panjang.
Hanya satu bunga.
Dan satu pagi.
Dan sejak itu, Rani tahu…
ada rindu yang tidak harus disampaikan,
cukup disimpan.
Seperti edelweis itu.
Di lemari bajunya.
Dan di dalam hatinya.
Other Stories
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...